Seorang pria dewasa masih terlelap dalam tidurnya meskipun matahari sudah sangat tinggi di luar sana. Dia mendengus kesal kembali ketika merasa badannya digoyang-goyangkan lagi oleh seseorang untuk ke-3 kalinya.
"Mas, ayo cepat bangun kita makan siang bareng kata Papa!" Dava sebenarnya sudah malas untuk membangunkan kakak-nya itu, tapi kalau bukan dirinya siapa lagi yang akan membangunkannya.
"Gue bisa makan siang sendiri kalian makan aja sendiri!" geram pria dalam selimut dengan mata yang masih tertutup rapat.
Dava menggigit bibirnya kesal. "Tapi Mas …!"
"Keluar!” sela Kama cepat tak mau mendengar ceramah adiknya lagi. “Gue minta lo keluar sekarang!" tegas Kama cepat dengan nada yang mulai tinggi..
Helaan napas panjang keluar dari mulut Dava dan ia segera mundur menjauhi tempat tidur itu. Sebenarnya ia sudah biasa mendapatkan perlakuan tidak baik dari kakaknya itu. Jadi, dia sudah sangat kebal tak merasa sakit hati sama sekali.
"Kamadaka!" panggil seseorang dengan tegas membuat Kama berdecak pelan karena jelas ia tahu betul kalau itu suara Papanya. Lantas ia segera menyibakkan selimut yang dipakainya itu dan segera mengubah posisinya menjadi duduk. Ia menatap datar Papanya yang sedang bertolak pinggang di pintu sedangkan Dava, adiknya itu segera keluar dari kamar.
Surya menggelengkan kepalanya heran menatap putranya. “Bangun! ini sudah siang! Cepat kita makan siang bersama!" geramnya sambil mengangkat satu alisnya.
Kama menganggukkan kepalanya mengerti meskipun dalam hatinya sangat kesal.
"Papa tak meminta hal lebih Kama, hanya ingin makan siang bersama di hari minggu, tidak setiap hari. Mudahkan?" Oceh Surya.
Kama lagi-lagi menganggukkan kepalanya saja. Ia tentu ingat betul permintaan papanya itu. Tapi, saat ini mood-nya sedang tak baik ia hanya ingin tiduran di atas kasurnya saja.
"Papa tunggu di bawah, cepat!" seru Surya lagi mengabaikan raut wajah malas yang ditunjukan putranya itu, lalu ia keluar dari kamar.
Kama berdecak sebal setelah kepergian papanya itu, lalu ia terpaksa beranjak dari kasurnya dan segera menyeret kakinya ke dalam kamar mandi. Setelah selesai mandi dan memakai baju, Kama segera turun dan bergabung di meja makan bersama papa dan adiknya itu.
Surya tersenyum lebar melihat pemandangan di meja makan siang ini. "Nah berasa punya keluarga jika begini," gumamnya senang karena ia memang senang kebersamaan tapi anak pertamanya itu memang agak susah diajak berkumpul seperti ini padahal mereka hanya tinggal bertiga.
"Moment makan siang bersama di hari minggu adalah hal yang paling dinantikan oleh Papa! Kita bisa makan bersama dan mengobrol banyak hal!" Surya mengatakan itu dengan mata yang berbinar dan penuh syukur menatap kedua putranya yang sudah beranjak menjadi pria dewasa.
"Sama Pah, Dava juga begitu," timpal Dava tersenyum ke arah papanya itu. "Saat di rumah nenek dulu juga aku paling suka makan bersama. Kata Nenek makan bersama itu banyak manfaatnya dan mempererat rasa kekeluargaan."
Surya menatap dengan mata berbinar dan penuh syukur pada putra keduanya itu. Memang makan bersama keluarga banyak manfaatnya dan bisa terlihat Dava yang selama ini tinggal bersama neneknya sering melakukan itu tumbuh menjadi anak yang kepribadian baik dan hangat. Jauh berbeda dengan Kama, yang tak menyukai makan bersama ataupun kebersamaan dengan keluarga itu.
Sementara Kama yang sedang memindahkan beberapa hidangan ke piringnya itu hanya berdecak pelan mendengarnya karena ia merasakan biasa saja tak seperti dua pria lainnya itu. Karena pada dasarnya ia lebih suka makan sendiri daripada bersama seperti ini dan membicarakan hal-hal yang tak berguna.
"Jadi, bagaimana pekerjaanmu Dava?" Surya bertanya lalu mulai menyantap makan siangnya.
"Baik Pah, Pak Andy mengajarkanku sangat baik dan telaten." Dava menjawab dengan antusias.
Saat ini Dava sedang bekerja menjadi manager divisi human capital di salah satu hotel Mahendra Grup.
Ya meskipun mereka anak presdir dan pemilik Mahendra Grup. Tapi, surya tak semena-mena memberi jabatan pada anak-anaknya. Ia mendidik anaknya untuk berkerja dari bawah dan naik sendiri ke tempat teratas, agar mereka bisa menghargai proses serta banyak belajar dari pengalaman yang mereka lalui.
Dava yang satu tahun lalu lulus S2 itu langsung terjun di hotel mencoba menjadi staff biasa hingga akhirnya sekarang ia sudah menjadi manager divisi HC yang mengurus staff HC juga mengurus recruitment.
"Baguslah, kalau begitu. Papa pun sudah mendapatkan laporan hasil kerjamu dari Pak Andy dan Papa sangat salut dan bangga sama kamu karena kamu cepat belajar dan tanggap! Dan satu lagi para staff bawahan kamu mereka sangat memuji-mu karena katanya kamu sangat sopan dan memperlakukan mereka dengan baik. Papa benar-benar bangga sama kamu, lanjutkan Dava!" Surya menatap takjub putra keduanya itu.
Dava tersenyum lebar, ia tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya itu. Karena ia sangat suka ketika melihat sang papa bangga padanya. "Terima kasih Pah!"
Sementara Kama sedari tadi hanya asik saja makan sendiri tak ikut menimpali obrolan papa dan adiknya itu. Lagian ia tak tertarik terhadap kehidupan adiknya yang selalu dipuji oleh papanya itu.
"Kalau kamu, bagaimana pekerjaanmu Kama?" Surya saat ini beralih menatap putra pertamanya yang sedari tadi hanya sibuk makan saja.
Kama langsung menegakkan badannya. "Ya Papa sendiri tau, hotel berjalan sangat lancar dan target tahunan kita sudah tercapai bahkan lebih!" serunya lalu menyeringai.
Surya menganggukan kepalanya. “Bagus! Kalau begitu mulai minggu sekarang Dava akan menjadi wakil GM di hotel kamu!"
Kama dan Dava menatap tak percaya pada papanya yang sedang menyuapkan makanan ke dalam mulutnya itu. Tapi, dengan tatapan berbeda. Dava yang tak menyangka bisa cepat naik menjadi wakil GM, sedangkan Kama dengan tatapan tak terima ia tak suka dengan keputusan itu.
"Kenapa harus di hotel-ku?" protes Kama menatap heran papanya itu. Karena artinya adiknya itu akan menjadi bawahannya langsung, serta mereka akan terus berdekatan, dan ia tak suka itu.
"Ya, agar kalian bisa belajar satu sama lain!" Surya menunjuk bergantian kedua putranya itu.
"Maksud Papa?" tanya mereka bersamaan tak mengerti perkataan yang barusan terlontar dari papanya itu.
"Ya Dava bisa belajar banyak jadi GM dari kakakmu! Dan, Kama bisa belajar tentang bagaimana memperlakukan bawahan dengan baik dari Dava! Bagus kan!" Surya menatap bergantian putranya yang terlihat sangat kebingungan dengan keputusannya itu.
Kama kini paham maksud papanya itu dan ia langsung tersenyum sinis. "Ini sudah karakter aku Pah, dan aku berhasil membuat mereka segan, takut, dan patuh padaku!” terangnya dengan angkuh.
Surya malah berdecak. "Tidak seperti itu memperlakukan bawahan Kama! Pokoknya Papa nggak mau tau, Dava mulai bekerja jadi wakil GM di hotel kamu!” tegasnya dengan mengacungkan telunjuknya, artinya tak boleh ada yang membantah keputusan final itu.
"Baik Pah!" seru Dava menurut, meskipun ia tahu bahwa kakak satu-satu nya itu tak menginginkannya. Tapi, ia akan berusaha sebaik mungkin dan berharap dengan itu hubungannya bisa baik, bahkan dekat bagaikan kakak adik pada umumnya. Karena jujur saja saat ini mereka seperti orang asing padahal sudah tinggal satu rumah.
Kama menghela napas panjang, ia sangat kesal tentunya, dan memilih menyantap makanannya kembali karena percuma ia mau menolak bagaimanapun papanya akan bersikukuh dengan keputusan anehnya itu.
Surya tersenyum lega, semoga saja misinya menyatukan kedua putranya itu berjalan baik. Sebenarnya wajar jika mereka tidak dekat, karena selama ini mereka hidup terpisah. Dava yang dari bayi sampai besar diurus oleh neneknya di Jawa Timur dan baru setahun belakang ini semenjak ia bekerja mereka tinggal bersama bertiga di rumah ini. Sepertinya keputusannya barusan membuat aura di meja makanini menjadi tak enak. Kemudian Surya akan mencoba membuka topik lain saja. "Jadi, bagaimana dinner kamu semalam dengan Ajeng?" tanyanya antusias pada Kama.
"Ya begitu saja!" jawab Kama sambil mengangkat bahunya.
Surya berdecak mendengar jawaban malas itu. "Begitu bagaimana? Apakah kalian sudah mengobrol banyak? Lalu bagaimana menurutmu Ajeng?" cecarnya mencoba menggali informasi.
Kama melirik sekilas papanya itu. "Ya begitu saja, setidaknya aku mengerti alasan Papa keukeuh ingin menjodohkanku dengannya," terangnya lalu menyeringai.
Surya malah tersenyum lebar karena putranya mengerti dengan cepat. "Kama, kamu bisa mulai terbuka dan percaya dengannya karena Papa yakin, Ajeng orang yang bisa dipercaya dan mulailah buka hatimu untuknya karena ia pantas mendapatkan itu!"
Kama malah mendengus kesal mendengar itu, lalu menatap papanya dengan lekat. "Tidak! Papa sendiri tau kan, aku tidak akan percaya pada siapapun dan aku tak akan pernah membuka hati untuk siapapun. Dan, Papa tahu betul alasan aku melakukan semua itu!" serunya penuh penekanan dan menahan amarah lalu beranjak dari kursinya karena ia tak mau amarahnya semakin meledak di hadapan papanya itu.