Surya mengenal napas berat, lalu mengusap wajahnya dengan tangannya itu, setelah kepergian putra pertamanya yang terlihat marah itu. Tentu saja ia sadar betul itu salahnya, karena sepertinya ia terlalu cepat memaksa Kama untuk melakukan hal yang selama ini tak disukai atau pun dihindarinya. Bahkan, dirinya jelas tahu betul alasan putranya tak bisa mempercayai ataupun mencintai seseorang karena kesalahan dirinya juga. Maka dari itu ia ingin membantu Kama untuk bisa melawan rasa itu.
Di tengah sibuk memikirkan banyak hal, tiba-tiba Surya merasakan ada yang mengelus punggungnya dan ia segera menoleh pada orang yang melakukan itu, ternyata putra keduanya. Ia segera tersenyum tipis padanya.
"Jangan menyalahkan diri sendiri Pah!" Dava berkata demikian karena ia tahu betul apa yang dipikirkan papanya sekarang.
"Tapi, ini semua memang salah Papa Dav!" lirih Surya penuh penyesalan.
"Tak apa, semua orang pernah berbuat kesalahan Pah!" Dava berkata bijak.
Surya menatap takjub kembali putra keduanya itu. "Anak Papa sudah dewasa!" Ia segera mengelus kepala putranya itu. "Andai saja Kama juga dulu ikut denganmu tinggal bersama nenek, mungkin kepribadiannya akan sangat baik sepertimu Dav!" ujarnya sambil tersenyum simpul. Karena ia tahu betul kepribadian kedua putranya itu memang berbanding terbalik sekali.
Dava hanya tersenyum mendengar itu karena ia pun berpikiran sama, kalau saja Kakaknya itu mempunyai kepribadian sama dengannya, tentu itu akan sangat menyenangkan bukan.
“Pah kita ke taman belakang aja yuk, menghirup udara segar!” ajak Dava agar papanya tak berlarut murung terus.
Surya segera menganggukkan kepalanya setuju dan kedua pria itu berjalan menuju taman belakang lalu duduk di ayunan besar yang ada di sana. Akan tetapi, duduk di tempat ini malah mengingatkannya kembali pada kenangan masa lalunya.
“Dava, ini adalah tempat favorit Mama kamu saat hamil. Setiap weekend kita akan menghabiskan waktu bermain di sini." Surya menarik napas panjang, matanya menatap lurus ke depan membayangkan kejadian waktu itu. "Papa bermain bola bersama Kama sedangkan Mama kamu hanya duduk menonton kita sambil mengelus-ngelus perutnya tempat di mana kamu berada.” Lanjutnya sambil tersenyum mengatakan itu sambil mengusap-usap punggung putranya yang sudah tumbuh besar dan duduk di sebelahnya itu. Dava tentu sudah mendengar puluhan kali tentang hal itu dari Papanya, tapi ia tetap senang mendengarnya dan tak pernah bosan. Hanya saja ia suka merasa sedih ketika melihat mata Papanya yang suka berair setiap menceritakannya. “Papa pasti rindu Mama yah? Kita semua pun rindu Pah!” lirihnya sambil ikut mengusap punggung papanya juga, mereka seperti saling menguatkan karena rindu ada seseorang yang sudah taka ad di dunia ini lagi.
Surya menarik napasnya dalam, tiba-tiba hatinya merasa sesak. Meskipun sudah 27 tahun yang lalu tapi rasanya luka itu masih menganga lebar di hatinya. Ia tak bisa melupakan istrinya itu dan setiap harinya rindu itu terus menumpuk.
Bukan hanya rasa sedih yang masih terasa, tapi rasa bersalah pada putra pertamanya itu pun kian hari makin terasa. Apalagi setiap melihat kepribadian Kama yang buruk, ia merasa dihukum karena telah mengabaikan putranya saat itu.
***
Jadi, semua dimulai saat istrinya sekaligus mama Kama meninggal. Pada saat itu umurnya masih 5 tahun. Hari itu Kama tahunya sang Mama sedang pergi dan tak kembali. Kama kecil pun bertanya padanya mengenai mamanya yang tak kunjung pulang. Namun, bibirnya terasa kelu untuk menjawab, ia tak sanggup untuk mengatakan kalau mamanya sudah meninggalkan mereka untuk selamanya.
Maka dari itu, Surya malah memberi jawaban pada putranya, kalau sang mama sedang pergi ke luar kota untuk suatu pekerjaan dan putra kecilnya itu mengerti membuat Surya lega, dan setelah itu Kama tak pernah bertanya kembali lalu Surya pikir anaknya mungkin sudah melupakan ibunya.
Hingga akhirnya Surya menyuruh Kama untuk ikut tinggal dengan neneknya bersama adiknya, Dava. Tapi Kama kecil sudah bisa menolak, ia tak ingin ikut tinggal bersama enneknya dengan alasan dia menunggu mamanya pulang dahulu, karena Kama kecil takut jika pergi tak akan bisa bertemu dengan mamanya yang sangat dirindukannya itu.
Alhasil Kama pun hanya tinggal berdua dengan papanya dan juga seorang pembantu sekaligus pengasuh yang mengurus kebutuhannya. Tapi, Kama merasa sangat kesepian setiap harinya karena sang ayah malah sibuk dengan pekerjaannya membuatnya merasa diabaikan.
Setiap hari ia selalu menunggu duduk di taman depan sambil menatap gerbang menunggu kedatangan mamanya itu. Tak lupa juga setiap ada kesempatan Kama selalu menanyakan pada papanya kapan mamaya akan pulang. Surya tak menyangka kalau ternyata putranya itu masih setia menunggu mama-nya pulang. Dan lagi-lagi surya selalu berbohong soal alasan mamanya yang tak kunjung pulang itu.
Sebenarnya ia sangat ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi ia rasa putranya belum siap untuk mendengar hal menyakitkan itu. Karena sampai saat ini pun dirinya masih belum menerima kenyataan pahit itu, apalagi dengan Kama hanya anak berumur 5 tahun. Surya saat itu sedang sibuk-sibuknya merintis usaha miliknya, sekalian mengalihkan kesedihannya dengan bekerja. Hingga akhirnya ia tak sempat memperhatikan putranya sendiri yang masih butuh perhatiannya.
Waktu terus berlalu, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun ke tahun, tapi Kama tak lelah menunggu mamanya pulang. Hingga akhirnya, saat Kama kelas 3 SD putranya itu menemukan sebuah buku yasin dengan foto wanita yang selalu dirindukannya, bertuliskan nama mamanya dan tanggal wafatnya. Tentu di umur 10 tahun ia sudah mengerti apa maksud buku itu di buat dan kata wafat itu, tapi ia langsung bertanya padanya mengenai itu dan akhirnya Surya mengungkapkan yang sebenarnya.
Kama tentu sangat kecewa karena selama ini dibohongi oleh papanya sendiri. Makanya semenjak itu ia membentengi dirinya untuk tidak percaya pada siapapun itu dan mungkin karena ia tumbuh tanpa kasih ibu serta perhatian orang tua, jadilah ia tumbuh menkadi anak dengan kepribadian buruk. Meskipun begitu, tapi Kama memiliki kelebihan yaitu pintar, cepat belajar, dan pekerja keras.
***
Setelah insiden makan siang tadi, Kama memilih diam di ruangan gym-nya. Saat ini ia merasa kesal pada Pada Papanya yang selalu saja begitu seenaknya mengambil keputusan tanpa persetujuannya. Bahkan, dari ia kecil sampai sebesar ini ternyata papanya tetap egois selalu memikirkan dirinya sendiri dan mengabaikan perasaan anaknya. Mengingat itu ia mendengus kesal dan menepuk dadanya yang terasa tak nyaman.
Saat ini, dia masih beradaptasi dengan hubungannya dengan Ajeng dan sekarang sudah disuruh beradaptasi dengan adiknya juga. Padahal Papa sangat tahu betul kalau dirinya dan Kama tidak pernah dekat, tapi sekarang malah membuat keputusan harus bekerja dengannya. Satu rumah dengan adiknya saja sudah membuatnya tak betah di tambah sekraang mereka harus satu tempat kerja juga.
Rasanya hari-harinya sudah tak seindah dulu lagi, makin umurnya bertambah sang Papa malah memberikannya banyak tekanan membuat dia kesal sendiri karena tak bisa marah pada Papanya yang mempunyai kuasa banyak dalam hidupnya. Setiap papanya membuat keputusan yang baginya tak adil, ia semakin rindu poda mamanya. Karena andai saja jika mamanya masih hidup, sudah dipastikan ia akan dibela oleh mamanya dan hidupnya akan terasa bahagia serta sempurna. Namun, itu hanyalah angannya saja.
Dalam keheningan itu, tiba-tiba terdengar notif masuk ke dalam ponselnya. Tapi, Kama menghiraukannya karena ia sedang membayangkan saat ini mamanya sedang duduk di sampingnya. Tapi tak lama ponselnya berdering tanda panggilan masuk, Kama berdecak kesal dan segera menyambar ponsel yang tergeletak itum lalu segera menempelkannya di telinga setelah di geser dahulu.
"Danar, saya berharap kamu memberikan berita bagus untukku. Karena jika buruk kau akan habis!" Hardiknya langsung.
"Maaf Bos, saya hanya mau mengabari kalau saya sudah mendapatkan apa yang bos sudah nanti selama ini dan saya sudah kirimkan lewat email!"
Tanpa berpikir lama Kama lamgsung mematikan telepon itu dan segera membuka email masuknya dengan perasaan yang tak sabar. Kama tentu tahu maksud dari Danar karena ia memang memerintahkan bawahannya itu untuk mencari sesuatu yang sangat ia tunggu selama ini. Semoga saja isinya tak mengecawakannya karena ia sudah menanti sangat lama untuk mendapatkan dokumen itu.
Tanpa ragu ia segera membuka email itu dan membacanya. Seketika mulutnya menganga lebar tak percaya, matanya berubah menjadi berbinar, dan mulut yang terperangah itu berubah menjadi sebuah senyuman lebar, dan hatinya benar-benar meledak bahagia membacanya.
"Yesss!" soraknya bahagia, sambil mengepalkan tangannya. Ya karena tenryata isinya jauh lebih baik dari yang diharapkannya. Ia benar-benar tak menyangka dan satu hal yang terlintas di benaknya saat ini setelah membaca itu, yaitu mendatangi Papanya. Ia segera berlari ke ruangan kerja Papanya tapi ternyata tak ada di sana.
"Bi, Papa di mana?" tanyanya pada seorang pembantu yang sedang membersihkan ruangan kerja itu.
"Di taman belakang, Den!" jawabnya cepat.
Kama secepat mungkin berlari menuju taman belakang dan benar saja ia menemukan papa sedang mengobrol dengan putra ke duanya, Dava. "Papa!" panggil Kama sambil agak terengah karena berlari ke sini.
Surya tentu heran melihat putranya dengan napas yang memburu itu.
"Ini mas minum dulu!" seru Dava menyodorkan minuman pada kakanya itu.
"Gue nggak butuh!" Tolaknya mentah tanpa melihat sedikit pun pada adiknya itu. "Pah. Ada waktu sebentar?" tanyanya menatap sang ayah.
Surya mengerutkan keningnya heran. "Ya tentu saja, ada apa? Kenapa kamu sampai lari-lari begitu?"
"Ada yang ingin aku bicarakan!" terangnya sambil tersenyum.
"Ya silakan langsung saja!"
Tapi Kama malah melirik pada Dava.
Surya berdecak pelan, "Tak apa, ayo bicara saj! Dava itu adik kandungmu, jadi ia berhak ada di sini!"
Kama malah berdecak karena ia tak ingin ada Dava saat ia membicarakn hal ini. Lagi pula tak ada gunanya juga adiknya itu mendengarkan.
Dava yang sedari tadi memerhatikan pun segera beranjak dari kursinya. "Nggak apa-apa Pah, biar Dava saja yang pergi!" serunya lalu pergi dari taman itu, karena ia jelas tahu kakaknya itu sangat tak menginginkan kehadirannya. Jadi, lebih baik kalau ia pergi saja kan.
Helaan napas panjang keluar dari mulut Surya. "Ya sudah, ayo cepat bicara!" seru Surya tak sabar.