"Ada perkataan Ajeng yang merubah jalan pikiran saya, yaitu katanya ia yakin kalau orang tua selalu tau yang terbaik untuk anaknya dan tak mungkin menjerumuskan anaknya pada hal yang tak baik." Lanjutnya dengan lugas lalu menatap wanita yang sedari tadi diam terpaku di tempatnya tak mengeluarkan sedikitpun suara.
Ajeng sedari tadi memang hanya duduk, diam, dan bernapas di tempatnya. Pikirannya terbang kemana-mana, terlebih ia benar-benar sangat syok mendengar percakapan semua orang yang ada di satu ruangan ini.
Otaknya mencoba mencerna semua pembahasan itu, tapi ia masih tak mengerti mengapa semua terjadi secepat ini. Ajeng terlalu bingung menghadapi semua ini, sampai ia tidak bisa berkata-kata, dan ia juga tidak tahu apa yang harus dikatakan. Maka dia hanya bisa diam di tempatnya sambil menggerakkan jari-jari kedua tangan dipangkuannya.
Tapi, kemudian ada yang memegang tangannya membuat ia berhenti melakukan itu dan Ajeng langsung melihat pada tangannya, kemudian beralih pada pemilik tangan, dan itu ternyata ibunya yang sedang tersenyum ke arahnya, seolah berkata semua akan baik-baik saja. Akan tetapi, Ajeng hanya menghela napas panjang seraya menatap ibunya itu.
“Sepertinya Ajeng butuh menghirup udara segar di luar, boleh aku membawanya ke halaman rumah?” tawar Kama menatap bergiliran para orang tuanya itu.
“Ya tentu, bagus silakan!” seru Prasetya semangat melihat inisiatif calon mantunya itu.
“Jeng! Tuh Kama katanya mengajak kamu ke luar rumah!" seru Sekar, sambil mengelus lengan putrinya.
Ajeng langsung menoleh pada Kama, ternyata pria itu sedang menatapnya dengan alis mengangkat "Ya udah kita ke luar dulu!" pamitnya lalu beranjak dari duduknya dan berjalan keluar rumah. Semua orang memasang wajah bahagia apalagi melihat perubahan sikap Kama yang terlihat drastis itu, ia menjadi lebih peka dan mengerti apa yang dibutuhkan calon istrinya itu. Melihat perubahan itu membuat Surya lega, bahagia, dan bangga pada putranya itu.
Kama segera mengikutinya keluar dan saat ini pasangan itu sedang duduk di halaman depan rumah Ajeng. Untuk beberapa menit mereka saling diam, tapi Kama sedang tak sabar ingin menuntaskan hari ini. Maka ia segera mengubah posisi duduknya menjadi miring, menatap wanita yang sedari tadi hanya duduk dan hanya terdengar helaan napas panjang di sampingnya itu.
"Kamu kaget banget dengan keputusan barusan?" Kama memulai obrolan dengannya.
Ajeng menoleh sebentar pada pria itu, lalu memalingkan kembali wajahnya ke tempat semula. "Ya kamu pikir saja, baru semalam kita membahas hubungan kita dan kamu tampak tak peduli. Tapi, kenapa tiba-tiba sekarang kamu ingin kita cepat menikah? Dan, bahkan mengutip perkataanku seperti tadi." Wanita itu menghela napas panjang terlebih dahulu, kemudian melanjutkan perkataannya. "Hubungan pertunangan kita saja belum ada kemajuan dan sekarang kamu ingin kita menikah? Apa tidak salah?" Ajeng langsung mengubah posisi duduknya agar bisa menatap intens pria yang duduk di sampingnya itu, ia mencoba mengutarakan apa yang dipikirkannya saat ini dan ternyata itu menguras tenaganya juga.
Kama malah tersenyum tipis mendengar ocehan panjang itu, padahal tadi di dalam wanita ini diam seribu bahasa. "Kamu kemarin tanyakan apa aku serius dalam hubungan ini? Lalu maukah kamu bekerja sama menjaga hubungan ini? Dan aku sadar kamu tak puas dengan jawabanku. Jadi, ya inilah jawabanku, bukan hanya sekedar bicara tapi aku langsung bertindak. Bagus kan?" terangnya menatap balik calon istrinya itu.
Kening Ajeng semakin berkerut mendengar penjelasan itu. Pikiran maupun tingkah laku Kama memang sangat tak bisa ditebak dan selalu sukses mengejutkannya.
Tapi, tentu saja ia tak percaya akan semua ini. Masa dalam semalam pikiran pria di sampingnya ini bisa berubah secepat itu. Padahal kemarin mereka pulang dalam keadaan tak baik. Makanya ia masih tak mengerti jalan pikir calon suaminya itu. Atau ada sesuatu yang pria itu sembunyikan? Karena ia ingat betul perkataannya yang bilang, tak ada yang diuntungkan untuknya dari hubungan ini. Tiba-tiba saja otaknya memikirkan satu hal. "Kamu beneran serius akan menikahiku dan menghabiskan hidupmu bersamaku?" tanyanya penuh penekanan.
Tanpa ragu Kama menganggukkan kepalanya. "Ya aku serius, Ajeng!" balasnya penuh penekanan juga.
Ajeng menggelengkan kepalanya tak percaya. "Lalu apa kita akan menandatangani sebuah kontrak pernikahan? Yang isinya menguntungkan dirimu sendiri? Serta beberapa aturan pernikahan lainnya, seperti kamu boleh berpacaran dengan orang lain atau kamu akan menceraikan aku setelah satu tahun pernikahan, apakah begitu?" tebaknya kemudian dengan menggebu-gebu karena entah pikiran itu terlintas begitu saja di kepalanya, mungkin karena dia masih merasa aneh saja pada perubahan tunangannya ini.
Kama malah dibuat tertawa lagi mendengar ocehan itu. Sebenarnya, ide itu tak buruk. Namun, tentu ia tak akan bisa melakukan itu karena jelas itu terlalu beresiko. "Kamu kebanyakan nonton film dan sinetron," ejeknya sambil tertawa kecil. "Aku benar-benar akan menikahi tanpa kontrak apapun Ajeng!" tegasnya dengan menatap intens wanita yang sedang bersamanya itu.
Ajeng sempat terpaku dan ia jelas tahu kalau pria itu tak berbohong dari matanya, tapi ia segera menggelengkan kepalanya. "Tapi, kenapa? Kenapa harus dipercepat?" tanyanya tak mengerti.
"Mau sekarang ataupun nanti kita tetap akan menikah. Maka lebih cepat lebih baik bukan? Lagi pula rasanya lebih gampang kita saling mengenal saat sudah satu rumah, saat ini kita kesusahan mencari waktu karena kita sama sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing, paham kan?" Kama menaikkan satu alisnya setelah mengatakan itu.
Ajeng memalingkan wajahnya, lalu mengusap wajahnya itu. Kepalanya benar benar sakit untuk memahami jalan pikir calon suaminya itu. Tapi, jika dipikir mendengar alasan yang terakhir itu memang ada benarnya, akan tetapi itu langkah yang terlalu besar baginya.
Tapi, lagi-lagi dia tak bisa menolak bukan, mau seberapa besar keraguan dengan pernikahan ini, ataupun perasaannya belum bisa menerima semua kenyataan ini, tetap saja tidak akan ada yang mengertinya ataupun bisa mengubah keputusan yang sudah diputuskan oleh semua orang itu.
Helaan napas panjang keluar dari mulut Ajeng, lagi-lagi dia hanya akan menyimpan semua perasaan kecewa, sedih, dan tak suka itu sendiri. Lalu berlaku baik-baik saja di depan semua orang. Ya, hanya itu yang bisa dilakukannya. "Apa mereka sudah menentukan tanggal?" tanya Ajeng kemudian
Kama malah tersenyum simpul karena artinya wanita itu sudah menerima kenyataan pahit itu dengan membahas soal pernikahan.
Kama mengangkat bahunya, "Entahlah, tapi kita bisa mendiskusikan itu sekarang berdua disini! Bagaimana kalau 3 bulan lagi?"
Ajeng otomatis menggelengkan kepalanya karena tentu saja itu terlalu cepat. "6 bulan?" tawarnya sambil mengangkat satu alisnya.
Kama bergumam memikirkan itu tapi nampaknya cukup bagus juga. "Deal!" ujarnya sambil mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.
Ajeng malah merasa ragu, "10 bulan deh?" tawarnya dengan meringis.
Seketika Kama berdecak dan mulai menatapnya tajam. "10 bulan? Kalau begitu aku akan biarkan orang tua kita memilih antara 10 atau 2 bulan lagi!” serunya lalu menyeringai.
Ajeng otomatis menggelengkan kepalanya, karena jika bertanya seperti itu sudah dipastikan orang tua mereka akan memilih yang 2 bulan. "Ok 6 bulan, deal!" serunya cepat sambil bersalaman dengan calon suaminya itu.
Kama menyeringai setelah mendapatkan kesepakatan itu, karena akhirnya semua berjalan lancar. “Lebih tepatnya tanggal 28 desember, bagaimana?”
Ajeng menganggukkan kepalanya setuju saja.
Kama semakin menyeringai puas, “Ya sudah ayo kita bawa kabar gembira ini ke dalam!” ajaknya sambil beranjak dari tempatnya dan mereka pun masuk kembali ke dalam rumah.
Saat mereka masuk rumah langsung disambut raut bahagia semua orang yang tengah duduk itu. Surya segera pindah ke sofa single agar dua calon pengantin itu duduk di satu sofa yang sama.
"Bagaimana?" tanya Surya sudah tak sabar.
"Ya,kita sudah sepakat akan menikah 6 bulan lagi, lebih tepatnya 28 desember!" Kama tersenyum lebar setelah mengatakan kabar baik itu.
Orang tua mereka dengan kompak mengucap syukur mendengar jawaban yang sudah pasti itu dan saling menatap dengan penuh bahagia.
"Alhamdulillah, akhirnya mimpi kita sebentar lagi tercapai Pras!" seru Surya segera berpelukan dengan sahabatnya itu.
Sedangkan Kama dan Ajeng saling menatap dan tersenyum tipis saja. Perasaan Ajeng sangat campur aduk saat ini. Ada perasaan senang dalam hatinya karena melihat kedua orang tuanya dan om surya begitu bahagia. Sedangkan dirinya sendiri masih merasa ini tak nyata.
“Ok kalau begitu karena kalian sudah menentukan tanggal seperti itu. Jadi, biarkan Papa yang akan memilihkan EO yang paling bagus untuk pernikahan kalian dan kalian tak boleh mengubahnya karena Papa ingin pergelaran pernikahan kalian ini sempurna,” terang Surya dengan serius.
Ajeng dan Kama saling pandang lalu menganggukkan kepalanya mengerti. “Baik!”
Surya tersenyum lebar, “Papa akan mulai urus semuanya besok! Tapi Papa hanya mengenalkan pada EO itu, selebihnya kalian yang urus dan diskusikan bersama mereka. Pokoknya Papa ingin kalian terlibat bersama mengambil keputusan bersama dan coba luangkan waktu disela kesibukan kalian untuk mengurus acara pernikahan kalian!” serunya semangat.
Ya Surya sengaja melakukan itu agar Kama dan Ajeng sering bertemu, menghabiskan waktu bersama, serta membiarkan mereka belajar mengambil keputusan perihal acara pernikahan mereka sendiri dan ia hanya kan mengawasinya saja di belakang.
Orang tua Ajeng saling pandang dan menganggukkan kepalanya setuju, “Ya itu rencana yang bagus Surya, mereka harus belajar bekerja sama memutuskan sesuatu untuk modal dalam hidup pernikahan mereka kelak.”
Surya segera tersenyum lebar pada sahabatnya itu karena mereka mempunyai pemikiran yang sama seperti biasanya. “Jadi, sekarang kita hanya tinggal duduk tenang menunggu hari bahagia kita semua itu!” lalu mereka saling tukar pandang dan tersenyum bahagia, serta memulai obrolan seputar pernikahan kembali.
Sementara Kama hanya sesekali tersenyum, memasang wajah bahagia juga. Berbeda dengan Ajeng yang masih tampak bingung dalam duduknya. Sedari tadi ia hanya mendengarkan percakapan orang-orang itu mencoba untuk ikut turut bahagia tapi rasanya kali ini susah.
Dia benar-benar tak mengerti kenapa setelah mengenal Kama hidupnya menjadi banyak kejutan seperti ini. Membuatnya dirinya dipaksa terus berjalan mengikuti alur yang cepat ini. Padahal ia tipe yang sangat susah beradaptasi. Baru saja dia mulai ingin membenahi hubungan pertunangannya dan kini ia benar-benar dihadapkan dengan sesuatu hal yang lebih besar, yaitu pernikahan.
Saat ini Ajeng hanya bisa berdoa semoga saja ada sebuah skenario bahagia yang sedang berjalan perlahan mendekatinya. Serta yang bisa dilakukannya sekarang adalah jangan menyerah dan terus lakukan yang terbaik, karena ia yakin semua yang melelahkan pasti akan berlalu.