Benar saja keesokan harinya Ajeng mendapatkan chat dari Om Surya memberikan kontak telepon orang EO dan saat siang hari setelah ia selesai makan siang orang dari EO itu menelepon. Menanyakan kapan bisa bertemu untuk membahas semuanya.
Dan, Kejadian itu semakin menegaskannya kalau ia akan benar-benar menikah 6 bulan lagi.
Ya, pikirannya, perasaannya, dan tubuhnya masih tak percaya akan kejadian yang dialaminya hari kemarin itu.
Karena tiba-tiba saja tak ada angin tiada hujan mereka membahas soal pernikahan dan sudah menentukan tanggal. Lalu barusan ia sudah menerima telepon dari EO yang mulai mengajak mereka untuk menentukan konsep. Semua itu membuatnya tiba-tiba pusing karena semua kejadian berderet dengan cepat, tak ada waktu untuk dirinya jeda menenangkan diri atau berjalan perlahan memahami perasaannya atas semua yang terjadi.
Tapi, ia tak bisa melakukan itu karena dituntut untuk terus bergerak dan mengikuti ritme kehidupan yang cepat ini. Dia hanya bisa bilang pada dirinya sendiri, kalau semua akan baik-baik saja, ya semoga selalu begitu.
Sebenarnya Ajeng ingin sekali mengatakan stop, break, jeda apapun itu istilahnya untuk kepentingan dirinya sendiri. Karena saat ini ia benar-benar bingung harus seperti apa.
Akan tetapi lagi-lagi dia tak mempunyai kemampuan untuk mengutarakan apa yang dirasakan saat ini pada orang tuanya. Ya dan berakhir dirinya menyulitkan diri sendiri.
Belum lagi Kama yang sangat sulit dihubungi, padahal pihak EO sudah menanyakan kembali kapan bisa bertemu untuk membicarakan semuanya.
Dari tadi siang Ajeng sudah mencoba chat calon suaminya itu tapi tak kunjung dibaca sampai sudah sore seperti ini.
Kemudian Ajeng mencoba menelpon kembali untuk yang ke 5 kalinya hari ini dan ia menunggu dengan tak sabar. Lalu kepalanya langsung tegak ketika tahu teleponnya akhirnya di angkat.
"Hallo, ada apa Mbak ajeng?"
Mendengar itu ajeng tentu mengernyitkan keningnya heran. "Dava? Kok kamu yang angkat?" tebaknya heran karena tentu saja ia mengenali suara pria itu.
"Iyah Mbak, ini Dava. Mas Kama-nya lagi rapat Mbak," terang Dava tak ingin menjawab kenapa dirinya yang mengangkat telepon, karena ia pun tak tahu apa yang dilakukannya. Sebenarnya ini hari pertamanya bekerja sebagai wakil GM tapi malah disuruh melakukan tugas yang tak seperti ini.
"Oh gitu, ya sudah tolong sampaikan ke Mas Kama, kalau sudah selesai tolong telpon Mbak atau baca chat Mbak yah!" pesan Ajeng.
"Iyah siap Mbak!"
"Ya sudah terima kasih Dav!"
"Sama-sama Mbak!"
Ajeng segera menutup sambungan teleponnya dan helaan napas panjang keluar dari mulutnya ketika melihat jam yang menggantung di ruangan prakteknya sudah pukul 6 sore.
Ya sehabis praktek tadi ia masih diam di ruangannya untuk beristirahat sejenak dan rasanya dia tak ingin pulang karena pasti kedua orang tuanya membahas soal pernikahan kembali seperti tadi pagi.
Sedangkan Kama masih tak berubah ternyata, ia kira setelah mengajaknya menikah pria itu akan memperbaiki komunikasi di antara mereka, tapi nyatanya tidak. Dari semalam sampai sore ini tak ada kabar darinya sama sekali, bahkan saat ia mengirim soal EO itu pun ia tetap belum membacanya dan ternyata sudah sore begini calon suaminya itu masih sibuk rapat juga.
Wanita yang sedang banyak pikiran itu pun menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, lalu menutup matanya, sambil menghela napas panjang.
Namun, baru saja ia menutup matanya sekejap, tiba-tiba terdengar deringan ponselnya. Otomatis matanya terbuka dan segera mengambil ponselnya itu. Ternyata itu dari ibunya, lantas ia langsung mengangkatnya dan menegakkan duduknya.
"Ajeng, kamu masih di RS? Kok belum pulang?"
"Iyah Bu ini baru mau pulang." Ajeng menjawab lirih.
“Ya sudah hati-hati yah, Nak!”
Helaan napas panjang terdengar lagi saat sambungan telepon sudah terputus. Ya begitulah ibunya akan langsung menelepon jika ia pulang tak tepat waktu.
Ajeng tadi lupa tak mengabarinya karena sibuk menghubungi Kama juga dengan EO itu. Sebenarnya ia masih ingin berdiam lama dulu di ruangannya ini, tapi nyatanya tak bisa karena barusan ia bilang akan segera pulang.
Kemudian Ajeng segera beranjak dari kursinya dan segera keluar untuk pulang ke rumahnya menggunakan taksi.
Sesampai di rumah benar saja dugaannya, ia langsung ditanyai oleh ibunya soal persiapan pernikahan itu.
“Jadi, bagaimana Om Surya sudah memberitahu kamu memakai EO yang mana?” tanya Sekar
Ajeng menganggukkan kepalanya, “Ya sudah Bu.” lirihnya merasa kecewa, karena alih-alih bertanya perasaannya sang ibu malah menanyakan hal begitu.
“Terus, jadi kapan kalian akan mulai bertemu orang EO itu?” Sekar bertanya antusias lagi.
Ajeng menggelengkan kepalanya, “Belum tau Bu, soalnya aku belum berdiskusi dengan Kama!”
Sekar mengerutkan keningnya heran. “Kenapa belum?”
“Dia sedang sibuk rapat."
“Ah ya, ibu paham Kama kan emang orang sibuk.” Sekar manggut-manggut kepalanya mengerti.
Tak lama terdengar deringan ponsel, sang ibu langsung menatap putrinya berbinar. “Ibu yakin Kama!” serunya menyuruh Ajeng segera mengeluarkan ponsel dalam tasnya.
Wanita itu pun menurut dan ja segera menatap ibunya ketika sudah melihat layar ponselnya sekilas, benar saja dugaan ibunya itu.
“Sudah ayo sana angkat!” seru Sekar tak sabar.
Ajeng segera menggeser layar ponsel itu dan menempelkannya di telinga.
“Ada apa?” tanya orang di ujang sana.
Ajeng meringis mendengar nada ketus di sana. Tapi, ia pun segera tersenyum karena sang ibu sedang memperhatikannya dengan kerutan di keningnya.
“Ya Papamu sudah mengabari tentang EO juga kan? Atau kamu sudah membaca pesan dariku?” Ajeng mulai bertanya pada orang di telepon itu.
“Belum, aku belum sempat membuka chat dari siapapun. Terus kenapa kamu dari tadi meneleponku, sudah tau aku sedang rapat!” terang Kama masih dengan nada ketusnya itu.
Ajeng paham betul pasti mood Kama sedang tak baik sekarang, jadi ia segera memberi isyarat pada ibunya pamit masuk ke kamar karena ia tak ingin ibunya terus memperhatikannya begini.
Sekar menganggukkan kepalanya mengerti dan tersenyum melihat kepergian putrinya ke kamar, mungkin ia malu dilihat sedang pacaran dalam telepon, pikirnya sambil mengulum senyum.
Sesampai di kamar Ajeng segera meminta maaf pada calon suaminya yang terlihat sedang badmood itu. “Ya maaf aku tidak tahu, baru tahu saat Dava yang memberitahu," terangnya menyesal.
Hening, tak ada tanggapan apapun dari orang di ujung telepon sana. Ajeng menghela napas panjang, kemudian memutuskan langsung soal EO saja karena sudah dipastikan chat-nya tidak akan dibaca.
“Ya tadi aku sudah mengobrol lewat telepon dengan EO terus katanya mereka tanya kapan kita bisa bertemu langsung untuk membahas konsep pernikahannya.”
Setelah mengatakan itu masih saja hening di ujung telepon sana.
“Kama?” panggil Ajeng memastikan kalau pria itu masih mendengarnya.
“Ya!” sahut Kama singkat.
“Jadi, kamu ada waktu luang kapan?” Ajeng bertanya.
“Entahlah aku harus tanya asistenku dulu untuk melihat schedule!” jawab Kama.
“Ya sudah kalau begitu nanti tolong kabarin yah, karena orang EO-nya menanyakan terus!" terang Ajeng.
“Sudah kan?”
“Ya sudah!” Ajeng mengerutkan keningnya heran dan tak lama ia berdecak pelan saat sambungan langsung terputus.
Ajeng kira pria itu akan berubah setelah mengajaknya menikah, tapi ternyata tidak atau dia sedang kelelahan? Ah entahlah yang jelas Ajeng pun sama lelah dan memilih berhenti memikirkan calon suaminya itu karena ia pun harus beristirahat.
Kemudian ia menyimpan ponselnya itu di atas meja rias dan berniat pergi ke kamar mandi utuk mandi, agar bisa segera merebahkan dirinya di atas kasur.
Namun, baru juga ia akan membuka pintu kamar terdengar suara notifikasi tanda chat masuk.
Wanita yang sudah membawa handuk di tangannya itu pun segera memutar badannya kembali dan berjalan mengambil ponsel itu karena ia sangat penasaran ada chat masuk dari siapa.
Seketika bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman, ketika melihat chat yang masuk itu.
Hari sabtu, pukul 15.00
tempat kamu yang menentukan!
Entah kenapa Ajeng merasa senang, karena sebelumnya ia pikir Kama akan mengabari soal schedule-nya itu nanti, mungkin 3 hari kemudian karena pria itu pasti melupakannya saking banyak kerjaan. Tapi, ternyata tidak! Pria itu langsung mengabarinya hari ini juga, membuat Ajeng berpikir setidaknya ternyata pria itu peduli.
Bibir Ajeng entah kenapa tak berhenti tersenyum padahal Kama hanya seperti itu saja. Dan sepertinya ia senang akhirnya mengerti untuk tidak berekspektasi lebih pada calon suaminya itu karena hanya akan membuatnya kecewa jika itu tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Maka lebih baik biasa saja tak usah berharap banyak, biarkan mengalir saja, agar saat pria itu melakukan hal baik diluar dugaannya ia akan merasa senang seperti ini.