Hari sabtu pun datang, artinya mereka akan bertemu mendiskusikan soal pernikahan bersama staff EO pun tiba.
Surya menyuruh mereka menggunakan salah satu EO langganannya yang sudah terkenal dan profesional menangani sebuah acara termasuk pernikahan. Surya sangat yakin acara pernikahan putranya yang sangat dinantinya itu akan sangat sukses jika dibantu oleh EO pilihannya itu.
Setelah selesai praktek Ajeng segera bergegas menuju cafe Ayu. Ya, ia sengaja mengadakan pertemuan di sana. Karena sekalian ingin memberitahu saudaranya itu tentang rencana pernikahannya yang sangat tiba-tiba itu.
Ajeng sampai di sana pukul 14.20 dan ia segera masuk ke dalam menghampiri saudaranya yang sedang di meja Bar, “Hai!” sapanya.
Ayu mengerjapkan matanya melihat saudaranya tiba-tiba ada di hadapannya. "Kok nggak ngabarin dulu sih?" tanyanya heran karena biasanya Ajeng itu selalu kirim chat dulu sebelum datang.
Ajeng hanya tersenyum saja. "Lagi sibuk nggak?"
"Selalu ada kalau waktu buat kamu!" seru Ayu menaik turunkan alisnya lalu keluar dari meja bar dan mengajak Ajeng duduk di salah satu meja yang kosong. "Jadi, kamu mau curhat apa?" tanyanya lalu duduk dengan nyaman siap mendengarkan semua cerita saudaranya itu.
Ajeng malah mengulum senyumnya membuat Ayu semakin penasaran.
"Aku akan segera menikah!" bisiknya lalu mengulum senyum, rasanya aneh mengatakan hal seperti itu.
Ayu memasang wajah melongo dengan mulut terbuka beberapa saat. "Apa? Kamu serius?" tanyanya tak percaya.
"Ya tentu saja!" tegas Ajeng.
Ayu lagi-lagi menggelengkan kepalanya tak percaya sampai dia bingung harus berkata apa. Meskipun ia belum bertemu langsung pria bernama Kama itu dan selama ini hanya mendengar ceritanya saja, tapi ia langsung tak suka pada pria itu dan sangat yakin kalau Ajeng yang baik itu tak cocok dengannya.
Ajeng malah tertawa kecil melihat saudaranya yang sedang kaget mendengar berita itu. Karena Ayu diam saja ia pun memutuskan untuk terus bicara saja. "Kedatangan aku ke sini juga karena akan bertemu dengan EO membahas konsep pernikahan."
Lagi-lagi Ayu menggelengkan kepalanya tak percaya. "Jadi, serius menikah dengan tunanganmu itu?" tanyanya sambil mengerutkan alisnya heran.
Ajeng menganggukkan kepalanya cepat, "Ya aku akan menikah dengan Kama, tunanganku!” tegasnya lagi lalu meringis.
Ayu malah menghela napas berat, karena ia merasa kasihan melihat saudaranya itu. Tapi, yang lebih menyebalkan lagi ia tak bisa membantu apa-apa. Lalu ia mengelus tangan saudaranya yang ada di atas meja itu.
Ajeng malah tertawa kecil, lalu tersenyum agar Ayu tak khawatir. “Tenang aja, aku baik-baik aja kok!” terangnya.
Ayu malah berdecak pelan mendengarnya karena saudaranya itu selalu berkata begitu, sedangkan ia yakin betul dia tidak mungkin baik-baik saja menerima semua ini.
Tapi, hari ini rasanya tak tepat jika mereka akan mendebat persoalan itu, maka Ayu memutuskan untuk mengalihkannya saja. “Ya sudahlah, oh ya aku tuh jadi penasaran siapa sih cowok yang kemarin kamu maksud itu? Perasaan kamu nggak punya teman cowok deh!" Ayu menatap penuh selidik saudaranya itu.
Ajeng tau maksud pertanyaan itu adalah pria yang disuruhnya untuk makan ke sini saat itu. "Emang bukan teman."
"Terus?" Ayu mulai mengerutkan alisnya.
Ajeng lalu menceritakan kejadian pertemuan keduanya bersama pria bernama Abisatya itu. Sepanjang cerita Ayu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Jadi, cowok yang tertukar ponsel waktu itu sama kamu dan yang nolongin bapakmu itu orang yang sama?" pekiknya tak percaya.
Ajeng menjawabnya hanya dengan anggukan kepalanya.
Ayu lalu bertepuk tangan, "Wow aku nggak nyangka kamu ngalamin hal yang kayak di drama-drama itu!" ejeknya sambil menahan tawanya.
Ajeng lantas memasang wajah bete. "Serius dong Yu! Ini bukan drama, aku memang ngalamin semua itu dan ya sama aku pun tak mengerti mengapa hidupku menjadi penuh drama seperti ini." Helaan napas panjang keluar dari mulutnya.
"Eh kok aku jadi penasaran loh sama cowoknya, emang kayak gimana sih?" Ayu dibuat penasaran karena mendengar cerita itu.
Ajeng mencoba mengingatnya tapi ya dia tidak begitu memperhatikan dengan benar wajah pria itu. "Ya cowok lah yang jelas dan yang pasti aku nggak mau ketemu dia lagi!" terangnya lalu berdecak pelan, karena ia takut jika bertemu dengannya lagi malah membuat sial terus.
"Idih, awas jangan terlalu membenci sesuatu loh, tidak baik!!" Ayu mengejek saudaranya lagi. "Eh tapi menurut kamu dia ganteng nggak?"
Ajeng malah tersenyum sinis, “Aku nggak ada waktu buat merhatiin dia ganteng atau nggak!" tegasnya lalu tiba-tiba matanya membulat dan mengerjap beberapa kali saat melihat seorang pria masuk ke dalam cafe sambil memainkan ponselnya, ia sangat berharap kalau penglihatannya salah.
Tapi, ternyata saat pria itu mengangkat kepalanya dan kini terlihat jelas wajahnya, dengan refleks Ajeng segera menundukkan kepalanya dan menutupi sebagian wajahnya dengan rambut panjangnya itu.
Ayu memandang heran wanita di hadapannya itu. "Kamu kenapa sih?" tanyanya bingung ikut menundukkan wajahnya.
Ajeng merasa sangat cemas saat ini, “Itu ada cowok yang aku ceritain tadi!” bisiknya takut, berharap pria itu tak melihatnya.
“Mana-mana?” tanya Ayu antusias lalu mengamati seisi cafenya itu dan tiba-tiba matanya berbinar ketika melihat seorang pria disukainya datang ke cafenya hari ini. "Jeng, ada cowok yang gue suka juga. Inget nggak cowok yang gue ceritain waktu itu!" bisiknya senang.
“Hah, mana orangnya?” Ajeng penasaran juga, tapi ia belum berani mengangkat wajahnya.
"Nih, nih dia sebentar lagi lewat, gue mau sapa dia dulu!" bisik Ayu sambil merapikan rambut pendeknya itu, jantungnya pun semakin berdetak tak karuan ketika melihat pria itu terus berjalan mendekati mejanya.
Ajeng semakin dibuat penasaran siapa cowok yang membuat mata Ayu berbinar seperti itu.
"Eh hai, mau order Mas!" sapa Ayu saat pria itu melewati mejanya.
Pria yang merasa disapa itu menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada wanita yang menyapanya itu. "Eh Mbak owner, ya nih saya mau order!" serunya sambil tersenyum.
Ayu mengulum senyumnya, “Ah pasti peppermint mocca latte kan?” tebaknya.
Pria itu langsung memberikan jempol tangannya pada wanita itu, “Betul sekali!” lalu ia melirik sebentar pada wanita yang sedang duduk dengan owner cafe itu, kenapa wanita itu menunduk terus dari tadi, tanyanya dalam hati.
Ayu langsung tersipu mendapatkan senyuman lebar dari pria itu, tentu saja ia tahu minuman favorit customer-nya itu.
Sementara Ajeng mengerutkan alisnya heran mendengar suara itu, nampaknya ia mengenal suara itu tapi di mana. Belum lagi Ayu terus mencolek tangannya, menyuruhnya untuk melihat pria yang katanya disukainya itu.
Lantas Ajeng perlahan mengangkat wajahnya sambil menyibakkan rambutnya agar tak menghalangi penglihatannya dan alangkah terkejutnya ia saat matanya dan mata pria yang sedang berdiri itu bertemu.
"Kamu?" refleks kedua orang itu bersamaan sambil menunjuk, tapi dengan perasaan yang berbeda.
Abisatya dengan senyuman lebar di bibirnya serta hati yang sangat gembira, ketika bisa bertemu lagi dengan wanita yang selalu dipikirkannya.
Sementara Ajeng merasa was-was bertemu dengannya lagi karena tiba-tiba saja terlintas, hal sial apalagi yang akan menimpanya hari ini? batinnya meringis.
Dan, Ayu bergantian melihat 2 orang yang sedang terkejut itu. "Kalian saling kenal?" tanyanya memecah keheningan itu.
"Ya!" Abisatya menjawab cepat
"Tidak!" Tolak Ajeng cepat.
Mendengar jawaban berbeda itu membuat kerutan di keningnya Ayu menambah, lalu ia segera menatap saudaranya yang terlihat sangat cemas.
"Dia orang yang ku maksud!" bisik Ajeng memberitahu.
Kini giliran Ayu yang terkejut. "Jadi, ini cowok yang kamu ceritain barusan?" Pekiknya tak percaya dengan lantang dan Ajeng menghela napas panjang karena Ayu berbicara terlalu keras di depan orangnya.
Saat ini Abisatya yang menatap penasaran pada dua orang wanita yang sedang duduk itu. "Jadi, kalian sedang membicarakan aku?" tanyanya memastikan dengan nada senang.
Ajeng langsung memberi isyarat pada Ayu untuk tak menjawabnya dan wanita berambut pendek itu hanya memasang wajah bingung saja.
Abisatya malah mengulum senyumnya karena tanpa menjawab pun ia sudah tahu dari ekspresi wajah wanita di hadapannya ini. Sekarang ia menjadi penasaran apa yang dibicarakan mereka.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Ajeng heran.
Bibir Abisatya malah tertarik membentuk senyuman lagi, karena akhirnya wanita itu bertanya padanya. "Ini kan cafe, jadi bebas dong!"
Ajeng berdecak pelan, "Tapi, kenapa dari sebanyak cafe kamu memilih di sini? Kamu sengaja yah ngincar ketemu saya? Karena saya pernah ngasih tau kalau cafe ini milik saudara saya!" tebaknya memasang wajah tak suka.
Ayu segera mencolek lengan saudaranya itu. "Dia memang sudah menjadi pelanggan di sini, Jeng!" desisnya lalu tersenyum manis ke arah pria yang memang sudah menjadi pelanggannya itu.
Ajeng menutup wajahnya malu, karena tuduhannya ternyata tak benar, rasanya ia ingin segera pergi dari sini.
Sementara Abisatya mengulum senyumnya karena lucu melihat wajah dokter yang awalnya menuduh dengan tatapan tak suka itu, kini sedang menunduk malu. "Ya sudah Mbak, saya permisi mau pesan minuman dulu!" serunya sambil melirik pada Ajeng yang masih memalingkan wajahnya.
"Ya silahkan-silakan!" ujar Ayu dan menghela napas lega ketika pria itu sudah meninggalkan meja mereka.
Ayu menahan tawanya. “Jeng kok tumben sih kamu nuduh orang seperti itu?” tanyanya heran karena biasanya saudaranya itu akan bersikap baik dan sopan.
Ajeng meringis karena diingatkan kalau apa yang dilakukannya barusan itu salah. “Aku juga nggak tau, habis aneh banget aku dan dia jadi sering bertemu tanpa sengaja. Kan aku jadi curiga!” keluhnya, kemudian menghela napas berat.
"Jadi, serius itu orang yang kamu ceritakan tadi?" pekik Ayu tak percaya.
Ajeng menganggukkan kepalanya cepat.
"Ya dan saat ini aku sangat was-was hal sial apalagi yang menanti ku di sana.!" keluhnya sedih sambil menggelengkan kepalanya tak percaya karena harus bertemu lagi dengannya.
Ayu malah menahan tawanya. "Dan, kamu tau itu jugalah pria yang kuceritakan padamu!" bisiknya.
"Jadi, itu pria yang kamu suka?" tanya Ajeng tak percaya.
Ayu manggut-manggut kepala dengan semangat. "Ya, ganteng kan!" serunya dengan sumringah.
Decakan keluar dari mulut Ajeng. "Bagimu ganteng, bagiku pembawa sial!" bisiknya kesal.
Ayu menatap tajam saudaranya itu. "Eh sttt…" bisik Ayu dan segera memasang senyuman di wajahnya karena melihat Abisatya akan melewati mejanya lagi dan pria itu balik tersenyum padanya.
Abisatya malah mengulum senyumnya ketika melihat Ajeng masih memalingkan wajahnya. Lalu ia segera kembali duduk di kursinya.
Tentu saja saat ini Ajeng tak berani melihat pria itu dan ia berharap pria itu segera pergi karena dia takut Kama akan bertemu dengannya juga di cafe ini.
Saat ini Ajeng tak bisa duduk tenang, ia merasa sangat gelisah.
"Dia masih di sini?" bisiknya pada Ayu.
"Ya, dia memang sering ke sini Jeng!" serunya memberitahu dan diam diam memperhatikan pria bernama Abisatya itu.
. "Suka lama dia di sini?" tanyanya lagi penasaran.
Ayu mengangkat kedua bahunya, "Tergantung!"
Ajeng menghela napas panjang dan melihat jam sudah pukul 14.55 kemudian ia menatap ponselnya menunggu kabar dari calon suaminya yang belum datang, tapi tiba-tiba Ayu mencolek tangannya. "Tuh calon suami mu datang!" seru Ayu lalu beranjak dari kursinya.
"Mereka belum datang?" tanya Kama langsung tanpa basi-basi dan duduk di sebelah Ajeng.
"Belum, masih di jalan kayaknya." jawab Ajeng mencoba tenang tapi ia benar-benar sangat tak tenang, karena saat ini mereka satu ruangan dengan Abisatya.
"Kamu udah kasih tau jam 3 tepat kan?" tanya Kama memastikan dan menatap heran wanita di sampingnya itu.
"Ya tentu saja!" jawabnya cepat sambil terpaksa tersenyum agar tak mencurigakan.
"Harusnya mereka jangan telat dong, gimana sih!" ketusnya lalu berdecak melihat jam yang melingkar di tangannya.
Ajeng menarik napas dalam melihat sikap menyebalkan calon suaminya itu, "Kena macet di jalan paling!"
"Ya tetap saja harusnya kan mereka sudah bisa mengatur itu. Jadi, prepare pergi lebih awal. Seperti aku tadi dan liat aku sampai dengan tepat waktu," terangnya panjang lebar, karena ia memang tak suka dengan orang yang suka telat.
Ayu yang sedari tadi memperhatikan pria yang terlihat angkuh itu pun, berdecak pelan dan kesan pertamanya melihat pria itu memang menyebalkan sekali.
"Terus dia siapa?" tanya Kama menunjuk wanita berambut pendek hanya berdiri di meja mereka dengan mukanya yang masam.
"Ah iyah, dia saudaraku yang punya cafe ini!" serunya lalu menyuruh Ayu berkenalan.
Ayu memutar matanya malas. "Ayu!" ujarnya sambil mengulurkan tangannya
"Kama!" jawabnya tanpa mengulurkan tangan lalu memalingkan wajahnya menatap kembali pada Ajeng.
Ayu tersenyum sinis diperlakukan begitu, ia segera menarik tangannya kembali dan mengepal kesal sekali melihat tingkah pria bernama Kama itu.
"Ajeng, coba telepon mereka masih dimana?" ketusnya.
"Ini baru juga telat 5 menit. Jadi, kita tunggu saja, aku yakin mereka sebentar lagi datang!" timpalnya.
Ayu mengamati sepasang orang yang katanya akan menikah itu dan menurutnya mereka sangat tak cocok sama sekali. Dan, Ayu sudah tak kuat melihat muka Kama yang masam sok galak itu. "Kama mau minum apa? Biar sekalian ku ambilkan!" tawarnya agar bisa segera pergi dari sini.
"Ice Americano!" jawabnya singkat.
"Ya udah aku ke belakang dulu Jeng!" pamitnya lalu meninggal kan meja yang terasa panas itu.
Ayu sampai heran kenapa orang tua Ajeng mau menikahkan putrinya dengan pria macam itu.
Sedangkan saat ini, Ajeng duduk semakin cemas karena staff EO itu belum datang juga, yang sudah dipastikan calon suaminya itu pasti akan tak suka jika ada yang telat seperti ini.
Sementara Kama sedari tadi hanya duduk dengan mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja sambil terus melirik ke jam yang melingkar di tangannya. "Sudah coba tanya mereka masih di mana?" tanyanya tak sabar.
"Sudah, tapi belum dibalas. Berarti mereka sedang di jalan." Ajeng melihat terus ke arah pintu.
Kama malah menghembuskan napas kesal.
"Kamu ada janji lain setelah pertemuan ini?" tanya Ajeng.
"Tidak, emang kenapa?" jawab pria itu cepat.
"Ya hanya tanya saja," sahut Ajeng.
Kama menghela napas lega. "Aku kira Papa menyuruh kita dinner lagi,"
Ajeng tersenyum sinis. "Emang kamu ngak mau dinner bareng calon istri mu lagi?"
Kama hendak menjawab, namun terdengar deringan telepon masuk dan ternyata itu dari ponsel Ajeng.
"Staff EO!" serunya pada Kama lalu mengangkat telepon itu.
"Ya kita sudah di dalam!" Tak lama Ajeng melambaikan tangannya saat melihat beberapa orang masuk ke dalam cafe dan menyuruh mereka untuk gabung duduk bersama.
"Aduh maaf yah Pak, Bu kita telat!" seru seorang wanita mewakili semuanya meminta maaf.
"Lain kali jangan telat, karena saya tak suka dengan orang yang tak bisa tepat waktu!" tegasnya dengan wajah serius membuat semua orang tampak segan dalam duduknya. Sedangkan Ajeng bingung harus berbuat apa.
"Baik Pak!" jawab seorang wanita tadi lagi.
Ya sudah ayo kita mulai saja!" seru Ajeng.
"Baik, sebelumnya saya akan mengenalkan diri dulu. Perkenalkan saya Winda yang akan menjadi penanggung jawab acara pernikahan Ibu dan Bapak nanti."
Wanita bernama Winda itu menarik napas dalam dahulu, sebelum melanjutkan perkataannya. Dia benar-benar sangat gugup depan clientnya ini, apalagi dengan tatapan Pak Kama yang tajam itu.
"Baiklah, Pak Bu, saya kesini bersama para vendor yang sudah dipilih langsung oleh Bapak Surya Mahendra untuk mewujudkan pernikahan sempurna yang bapak dan ibu idamkan."
Kama dan Ajeng sama-sama memperhatikan wanita bernama Winda itu terus berbicara dan memperkenalkan para staff dari vendor bridal, gedung, dan catering itu.
Sampai akhirnya wanita bernama Winda itu melambaikan tangannya seperti menyuruh seseorang untuk bergabung dengannya.