"Hallo kenalkan saya Abisatya, akan membantu dokumentasi." Pria itu segera duduk di kursi kosong dan ia segera tersenyum pada dua orang client-nya yang sedang menatapnya dengan tatapan kaget itu.
Kama menatapnya dengan kerutan di keningnya, karena ia jelas tahu betul siapa pria itu.
Sementara Ajeng masih terpaku, ia masih mencerna perkataan yang dilontarkan pria yang sedang duduk santai di kursinya itu.
Ia sangat berharap kalau Kama dan Abisatya tak bertemu meskipun dalam satu ruangan, tapi ternyata mereka semua sekarang sudah duduk dalam satu meja dan tentu saja itu membuat Ajeng bingung dan cemas bersamaan.
"Kamu tahu sebelumnya kalau dia akan menjadi fotografer kita?" bisik Kama.
Ajeng menggelengkan kepalanya, "Aku baru mengetahuinya sekarang," jawabnya semakin cemas mendengar pertanyaan itu.
Kama berdecak pelan, lalu tersenyum sinis karena lagi-lagi ia bertemu dengan pria itu, bahkan lebih jelas, dan mungkin lebih intens.
Ajeng semakin cemas melihat ekspresi Kama barusan. "Bagaimana jika kita menggantinya?" bisiknya pada Kama.
"Tak mungkin, kamu dengar sendiri ini semua pilihan Papa dan kamu ingat Papa berpesan jangan mengganti orang-orang pilihannya!" balasnya berbisik mengingatkan sambil menatap tajam pria yang sedari tadi memperhatikan mereka.
Ajeng seketika menutup matanya sekejap, ia tentu ingat betul ucapan itu. Padahal ia sangat ingin menggantinya karena entah kenapa perasaannya menjadi tak nyaman ketika mengetahui pria itu akan terlibat di pernikahannya.
Sementara Abisatya hanya tersenyum saja melihat mereka yang tampaknya tak menyukainya menjadi bagian dari acara besar mereka ini.
Kama berdehem lalu menegakkan duduknya. "Baik, kalau begitu giliran kami yang memperkenalkan diri. Saya Kama dan ini calon istri saya Ajeng!" serunya segera merangkul dan menatap wanita di sampingnya ini.
Ajeng terpaku di tempatnya karena ini pertama kalinya Kama melakukan seperti ini jadi dia hanya bisa diam menatap calon suaminya itu.
"Kami mohon bantuan kalian semua demi mewujudkan acara pernikahan kami nanti!" lanjutnya lalu tersenyum pada semua orang dan berakhir memberi tatapan tajam pada pria yang sedari tadi menatap ke arah Ajeng, siapa lagi kalau bukan Abisatya itu.
Sementara Abisatya hanya tersenyum saja mendapatkan tatapan itu, lagi pula ia tak takut yang ada ia malah semakin bersemangat sengaja menatap wanita yang ada di samping pria yang berambut panjang itu.
Tak lama dua waiters menyimpan minuman untuk semua orang dan beberapa jenis cemilan untuk menemani mereka berdiskusi. "Terima kasih!" seru Ajeng pada waiters itu. "Ayo silakan diminum dulu!" lanjutnya mempersilakan semua orang di mejanya meminum minuman yang sudah tersedia dan,semua orang pun segera meneguk minumannya itu.
"Baiklah kalau begitu, mari kita mulai berdiskusi. Pak Surya bilang menginginkan konsep pernikahannya elegan dan mewah. Maka dari itu kami sudah membawa beberapa referensi yang bisa Bapak dan Ibu pilih!" terangnya sambil memberikan berkas untuk calon pasangan menikah itu.
Kama dan Ajeng saling pandang lalu segera melihat-lihat isi berkas itu. Mereka mengamati satu persatu lembar isi berkas yang sudah disiapkan oleh para staff EO itu.
"Jadi, kamu memilih yang mana?" tanya Kama pada wanita yang sedari tadi fokus membolak-balik berkas itu.
Ajeng bergumam lalu menunjukkan berharap konsep pilihannya. Yaitu, konsep serba putih, lalu tema outdoor taman yang didominasi warna tanaman, dan yang terakhir ia menunjuk tema classic romance yang menggunakan dekorasi full bunga hidup berwarna putih yang dikombinasikan dengan ornamen warna senada seperti kuning atau coklat muda, ditambah lampu-lampu warm untuk menambah kesan hangat.
Kama langsung menggelengkan kepalanya, "Ternyata selera kita jelas jauh berbeda!" bisiknya. Lalu ia menunjukkan konsep bertema glamour. "Kita pilih yang ini saja!" seru Kama sambil melirik pada calon istrinya yang terlihat kesal padanya.
Ajeng menghela napas panjang karena untuk apa pria itu bertanya pendapatnya, jika akhirnya hanya memakai pilihannya itu, ocehnya dalam hati.
"Ah baik Pak, bagus sekali itu sangat sesuai dengan keinginannya Pak Surya. Jadi, nanti dekorasi pernikahan Bapak dan Ibu akan didominasi oleh warna emas dan putih. Kedua perpaduan warna ini menciptakan kesan pernikahan yang mewah. Karena bisa dikatakan, emas identik dengan kemewahan dan simbol kemapanan. Sementara putih adalah lambang kesucian dan sakral,” terang Winda menjelaskan dengan detail.
Kama tersenyum puas karena pilihannya dan seleranya memang tak salah.
"Oh ya untuk foto pra-wedding saya ingin tema out door. Jadi, tolong berikan saya referensi tempat out door yang paling bagus di sekitar Jogja. Bisa?" Kama menatap tajam pada pria yang akan menjadi fotografer-nya itu.
Tanpa ragu Abisatya menganggukkan kepalanya, "Baik!" jawabnya santai lalu tersenyum tipis dan menatap balik tatapan itu.
Kama kemudian tersenyum sinis karena ternyata pria itu tak merasa terintimidasi dengan tatapan tajam yang dimilikinya itu. Padahal biasanya semua orang akan ketakutan saat mendapatkan tatapan itu darinya.
Setelah itu mereka pun melanjutkan diskusi tentang hal-hal lainnya dan tentu saja semua itu adalah pilihannya Kama. Pendapatnya Ajeng benar-benar sangat diabaikan calon suaminya itu. Padahal Ajeng sebenarnya ingin sekali salah satu pilihannya dipakai di pernikahannya sendiri, tapi ternyata itu hanya angannya saja.
Disaat mereka masih berdiskusi tiba-tiba terdengar deringan telepon. Kama langsung beranjak dari kursinya, "Maaf, sebentar!" pamitnya lalu berjalan menjauh dari meja itu.
Ajeng duduk diam memperhatikan calon suaminya yang sedang menelepon itu, sebenarnya ia ingin ikut beranjak juga karena ia tak tenang dalam duduknya, ia merasa ada yang terus memperhatikan gerak-geriknya, dan sepertinya ia tahu siapa yang melakukan itu. Makanya ia tak berani sedikit pun melihat ke arah pria bernama Abisatya itu.
Tak lama Kama kembali ke mejanya. "Aku harus segera pergi!" bisiknya lalu duduk kembali di kursinya.
"Kenapa?" Ajeng bertanya.
"Ada pekerjaan mendesak di kantor. Jadi, aku harus kembali kesana!" terangnya. "Apakah sudah selesai diskusinya?" tanyanya pada Winda, penanggung jawab acaranya itu.
"Sudah Pak, kami hanya tinggal merekap pilihan anda tadi dan memastikan fix. Setelah itu sekitar 2 minggu lagi kami akan kirimkan drive perencanaannya serta anggarannya," jelas Winda.
"Ya sudah kalau begitu saya sudah beres, sisanya biar calon istri saya yang di sini. Karena saya harus segera pergi ada urusan pekerjaan!" pamitnya pada semua orang sambil beranjak.
"Kamu hanya tinggal mengecek pilihanku tadi, pastikan semua sesuai dengan yang tadi dan tak ada yang terlewat! Mudahkan?" bisiknya menunduk pada Ajeng. "Kalau begitu aku pergi dulu, bye!" pamitnya lalu mengecup sekilas kening wanitanya itu, kemudian melirik pada pria yang terus melihat ke arahnya itu.
Ajeng benar-benar membatu di tempatnya, karena ini pertama kalinya Kama menciumnya seperti itu di depan umum pula.
Kama hanya tersenyum tipis melihat Ajeng lalu segera pergi keluar cafe karena ia harus kembali ke hotelnya.
"Bu Ajeng!"
Panggilan itu membuatnya segera menoleh pada orang yang memanggilnya barusan itu.
Winda tersenyum lalu mulai menjelaskan secara rinci pilihan yang sudah ditentukan tadi itu pada client-nya dan Ajeng hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Kalau begitu seperti yang saya jelaskan tadi 2 minggu lagi saya akan membuat drive rincian acaranya beserta anggarannya!"
Ajeng lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya.
"Oh ya ini juga ada daftar kontak untuk para vendor kami yang hadir hari ini. Jika ada pertanyaan atau perubahan apapun itu, ibu tinggal kontak kami saja, ataupun kita yang akan mengabari ibu!" Winda menyerahkan beberapa kartu nama di hadapan client-nya itu.
Ajeng menerima semua kartu itu, "Baik, terima kasih!"
Winda tersenyum lega karena setidaknya calon mempelai wanitanya tidak seribet Pak Kama tadi. "Ya sudah Bu kalau begitu kami pamit!"
Ajeng lalu ikut beranjak ketika semua orang beranjak dalam duduknya. "Terima kasih banyak yah, Bu Winda!" serunya sambil menyodorkan tangannya.
"Sama-sama Bu!"
Winda bersalaman dengan Ajeng, setelah itu Ajeng menyalami yang lainnya termasuk Abisatya yang tersenyum penuh arti padanya. Tapi, ia mengacuhkannya saja.
Ketika semuanya sudah pergi, Ajeng kembali duduk di kursinya dengan menghela napas panjang sambil melihat-lihat kartu nama yang masih tergeletak di atas meja.
Harusnya kartu nama ini diberikan pada Kama tadi, karena yang menentukan semuanya adalah Kama. Jadi, seharusnya Kama yang mendapatkan semua kartu nama ini.
Padahal ia ingat betul Om Surya saat itu bilang mereka harus mendiskusikannya sama-sama. Tapi, nyatanya pria bernama Kama itu sangat mandiri sampai tak memperdulikan pilihannya. Tapi, kenapa perasaannya begini yah padahal Ajeng sudah terbiasa jika pilihannya tak didengar atau dihiraukan oleh orang.
Tiba-tiba saja Ajeng mengangkat wajahnya ketika melihat seseorang berdiri di sampingnya, helaan napas berat keluar dari mulutnya ketika melihat pria yang tidak ingin ditemuinya itu sedang tersenyum ke arahnya.