Abisatya malah melebarkan senyumnya, meskipun ia tahu arti tatapan wanita yang tak mengharapkan kedatangannya ini. Tapi, ia segera menarik menduduki kursi kosong tepat di sebelah Ajeng, lalu memberikan sebuah kartu. “Ini, aku belum memberikan kartu nama, karena aku ingin memberikannya langsung padamu!”
Ajeng menatap bergantian kartu nama dan orang yang berada bersamanya itu. Tanpa kata ia mengambil kartu itu dan menumpukkan bersama kartu nama yang sebelumnya ia terima.
“Kamu bisa simpan sendiri kartu namaku!”
Ajeng menatap pria itu heran dengan perkataan yang dilontarkannya.
Tapi, Abisatya malah tersenyum. “Harusnya calon suamimu itu yang menyimpan semua kartu itu karena hanya dia sendiri yang memutuskan semuanya bukan?”
Ajeng terdiam karena pria itu mengetahui semuanya dan berpikiran sama dengannya.
“Kamu, hanya perlu menyimpan kartu namaku saja karena aku akan mendengarkan semua usulan darimu. Jadi, kamu hanya tinggal bilang saja padaku apa yang kamu inginkan!” Abisatya tersenyum manis karena sekarang wanita itu menatapnya dengan tatapan berbeda tak seperti yang sebelumnya.
Ajeng sempat terlena mendengar itu karena ini pertama kalinya seseorang berkata begitu padanya. Tapi, kemudian ia menggelengkan kepalanya mengingatkan pada realita sesungguhnya. “Tidak usah, kamu hanya perlu mendengarkan calon suami saya!” serunya penuh penekanan.
Abisatya malah tertawa kecil mendengar itu. “Apa beneran kalian akan menikah?” tanyanya menatap intens wanita yang sedang menatapnya dengan tatapan waspada itu.
“Tentu saja! Kamu lihat sendiri kami sudah merencanakan sebuah acara pernikahan kami!” tegas Ajeng.
“Kami?” ulang Abisatya lalu tersenyum sinis. “Yang aku lihat tadi ia bahkan mengabaikan pilihanmu dan langsung memutuskan sepihak, alih-alih berdiskusi!” sindirnya lalu mengangkat satu alisnya.
Ajeng meringis mendengar itu, karena ternyata benar pria ini memperhatikan mereka sedari tadi. “Kenapa kamu memperhatikan sedari tadi?” tanyanya heran.
“Aku bahkan memperhatikan kalian sejak dia datang dan mengoceh soal tepat waktu!” terangnya masih dengan senyuman di wajahnya. Ya bagaimana ia tak memperhatikan karena ia sangat penasaran pada pria yang akan menjadi calon suami wanita yang disukainya itu.
Ajeng menundukkan kepalanya malu, ia benar-benar tak tahu harus berkata apalagi.
Abisatya terus memperhatikan wanita di dekatnya itu. “Apa kamu yakin akan menikah dengannya?”
Kepala Ajeng langsung terangkat ketika mendengar pertanyaan itu dan menatap pria yang sedang bersamanya itu. Dia orang kedua yang bertanya setelah Ayu. “Bukan urusanmu!” ujarnya dingin lalu memalingkan wajahnya kembali.
Lagi-lagi Abisatya malah tersenyum. “Menurut penglihatanku, dia tidak cocok denganmu!” terangnya mengeluarkan pendapatnya.
Ajeng hanya menggelengkan kepalanya saja, mengabaikan ocehan pria itu.
“Apa kalian saling mencintai?” tanya Abisatya lagi.
Ajeng menutup matanya sejenak, ia lama-lama kesal juga pada pria yang terus bertanya padanya itu. “Sudah ku bilang itu bukan urusanmu!”
Kini pria itu hanya tersenyum tipis, karena nampaknya Ajeng tak ingin membahas itu. Lalu ia akan mencoba pertanyaan lain. Kenapa ya, tiba-tiba takdir mempertemukan kita terus?”
Ajeng melirik sebentar pada pria yang berbicara terus dari tadi itu, karena ia pun punya pertanyaan yang sama seperti itu.
“Aku kira hanya akan bertemu sekilas denganmu hari ini, tapi nyatanya kamu adalah client-ku yang artinya kita akan jadi lebih sering bertemu!” seru Abisatya sambil melebarkan senyumannya.
Helaan napas panjang keluar dari mulut Ajeng karena tentu ia tak mengharapkan ini semua.
“Sepertinya kamu butuh udara segar, mau ikut jalan keluar denganku?” tawar Abisatya karena sangat terlihat jelas wanita itu sedang banyak pikiran. Dari tadi dia memperhatikan wanita itu banyak melamun dan menghela napas panjang seperti sedang menanggung beban yang sangat berat.
Ajeng otomatis menggelengkan kepalanya, karena tentu saja itu bukan ide yang bagus.
Abisatya langsung berpikir apa yang harus dilakukan untuk berhasil membawa wanita ini ikut jalan bersamanya. Tiba-tiba ia menyeringai. “Ingat aku telah membantumu 2x, kamu ingatkan?” tanyanya sambil mengangkat satu alisnya.
Kening Ajeng berhasil berkerut mendengar itu, “Apa maksud kamu?”
“Aku ingat betul, katanya kamu tak suka berhutang budi pada orang lain. Dan aku sudah membantumu 2x dan kamu belum membalas kebaikanku!” terangnya memasang wajah serius.
Ajeng berdecak pelan mendengar itu karena tak menduga pria itu akan menagihnya seperti ini. “Aku tak menyangka kamu orang yang seperti itu.”
Abisatya hanya tersenyum padahal dalam hati meringis karena wanita itu menilainya buruk. Padahal ia benar-benar menolong tulus saat itu tak mengharapkan imbalan sedikitpun.
Tapi, biarlah ia terpaksa membuat reputasinya buruk karena ia ingin mengajak wanita yang terlihat sedang banyak pikiran itu untuk jalan-jalan melepaskan penatnya. Dan hanya itu alasan yang bisa dipakainya saat ini, dengan menagihnya tentang balas budi. “Jadi? Aku udah pernah menolongmu 2x loh. Yang pertama mengantarkanmu ke tempat acara calon suamimu itu dan yang kedua menolong bapakmu. Lalu Bapakmu menyuruh kamu untuk mengajakku makan tapi saat itu kamu malah pergi dengan calon suami kamu!” terangnya panjang lebar.
Helaan napas panjang keluar dari mulut Ajeng mendengar semua itu dengan detail. Padahal tanpa ocehan itu pun tentu saja ia ingat betul semua. “Ya aku ingat semua kau menolongku 2x dan 2x itu juga tepat setelah bertemu denganmu aku bertengkar dengan calon suamiku!’ terangnya tiba-tiba sangat kesal.
Abisatya hanya tersenyum mendengar disalahkan. “Tanpaku juga calon suamimu memang suka marah-marah saja!” timpalnya sambil mengangkat bahu.
Ajeng menatap tajam pria yang sudah menjelekkan calon suaminya itu.
“Eh sorry!” sesalnya.
“Jadi, aku harus membalas semua kebaikanmu dengan apa? Makan?” tanya Ajeng.
“Kamu bisa membayarku dengan waktu!” jawab Abisatya.
Kening Ajeng berkerut heran, "Waktu?" ulangnya.
"Ya, aku hanya ingin kamu menemaniku ke suatu tempat!" terangnya sambil tersenyum.
"Kemana?"
"Nanti juga kamu akan tahu," jawabnya cepat.
Ajeng menimbang-nimbang dan melihat jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul 16.50 wib. "Ok, tapi aku tak punya waktu banyak!" ucapnya kemudian.
"Yes!" Abisatya langsung mengembangkan senyumnya dan segera beranjak dari duduknya dengan semangat. "Ayo kita pergi sekarang!"
"Sebentar, aku akan membayar minuman ini dulu dan menelpon bapakku dulu agar dia tak khawatir!" terangnya lalu beranjak dari kursi dan berjalan menuju kasir.
Raut wajah bahagia tercetak jelas di wajah Abisatya, karena usahanya berhasil mengajak wanita itu pergi dengannya dan ia tentu saja sangat senang serta akan memanfaatkan waktunya sangat baik, tekadnya dalam hati.
Sedangkan Ajeng menghampiri Ayu dan membayar tagihannya.
"Udah beres? Kamu langsung pulang?" Ayu bertanya.
"Nggak, aku mau jalan dulu!"
"Kemana?" tanyanya lagi penasaran karena tumben Ajeng akan jalan.
"Aku ditagih hutang budi oleh pria yang kamu suka itu! Katanya karena dia telah membantuku sebanyak 2x jadi aku harus membalas kebaikannya itu katanya," terangnya agak kesal.
"Kamu serius?" tanya Ayu heran.
Ajeng menganggukkan kepalanya dan memasang wajah lelah. "Kamu bisa ikut nggak Yu?" tanyanya karena ia ingin ada yang menemani, lagi pula saudaranya itu menyukai pria itu kan.
Ayu seketika merasa bersalah karena tak bisa membantu. "Sorry, bartender ku ngak masuk 1. Jadi, aku nggak bisa ninggalin cafe!" sesalnya.
Ajeng menghela napas berat, "Ya sudah kalau begitu, aku pergi dulu!" pamitnya lemas.
"Hati-hati Jeng! Jangan lupa kabari ibu atau bapakmu agar tak khawatir!" seru Ayu.
Ajeng menganggukkan kepalanya mengerti, ia meninggalkan saudaranya, lalu mengeluarkan ponselnya segera mengabari bapaknya. Dan di luar dugaannya bapaknya itu malah senang mendengar ceritanya dan mengijinkannya pergi karena bisa membalas kebaikan pria yang pernah membantunya itu katanya.
Setelah selesai ia pun segera keluar cafe dan menemukan pria itu sudah di parkiran sedang duduk di atas motor vespanya. Ajeng segera menghampirinya.
"Nggak apa-apa kan pakai motor lagi?" tanya Abisatya sambil memberikan helm, untung saja dia memang selalu membawa helm cadangan dalam motornya.
Ajeng menjawab itu dengan memakai helm pemberiannya itu.
Abisatya pun mengulum senyumnya dan segera menghidupkan motor miliknya itu. "Ayo!" ajaknya.
Ajeng segera duduk di jok belakang dan Abisatya langsung mengendarai motornya masuk ke area jalan bergabung dengan kendaraan lainnya. Pria itu mengendarai motor vespanya itu dengan santai sambil menikmati suasana sore kota jogja di temani wanita yang disukainya itu. Hatinya tentu bahagia sekali tak pernah terpikirkan hari ini akan seperti ini.
Saat bertemu dengannya tadi di cafe ia sudah sangat senang sekali, tapi ia tak menduga kalau Ajeng akan menjadi client-nya. Di satu sisi ia senang karena artinya akan sering bertemu, sedangkan di sisi lain ia sedih karena wanita itu akan beneran menikah dan ia menjadi bagian dalam acara besarnya itu.
Mau bagaimana lagi ia tetap harus bersikap profesional karena sudah ditunjuk menjadi bagian penting acara yang akan digelar oleh salah satu konglomerat di Jogja. Ya tentu saja ia tahu siapa Bapak Surya Mahendra, apalagi EO yang bekerja sama dengannya ini mewanti-wanti untuk mengutamakan dan memfokuskan untuk acara besar ini.
Sementara wanita yang duduk di belakang sedang cemas karena ternyata motor ini tak kunjung berhenti terus saja melaju, ia bahkan tak tahu akan dibawa kemana oleh pria yang baru dikenalnya ini.
30 menit pun berlalu, motor vespa itu berhenti dan Ajeng menghela napas lega karena ternyata mereka sudah sampai dan matanya langsung mengamati sekitarnya dan bibirnya tersenyum tipis karena ternyata pria ini membawanya ke tempat yang jarang ia kunjungi, yaitu pantai.