Ya, Abisatya mengajak Ajeng ke tempat favoritnya pantai. "Ayo kita ke sana!"
Ajeng segera mengikuti pria yang jalan duluan di depannya itu. Kini Ajeng menginjak pasir berwarna putih itu dan berjalan mendekat ke pinggir pantai. Lalu mereka duduk di atas pasir. Wanita itu mengamati sekitarnya dan ternyata pantai ini sangat sepi hanya ada mereka saja di pantai seluas ini.
"Pantai di sini memang masih sepi pengunjung, makanya tempat yang cocok untuk ingin menyendiri atau pun mencari ketenangan!" Abisatya menjelaskan meskipun wanita yang bersamanya tak bertanya.
Ajeng hanya diam lalu menatap lurus ke arah pantai dengan ombak-ombak kecil di sana. Untuk beberapa saat kedua orang itu menikmati keheningan dan ketenangan ini ditemani oleh suara deburan ombak dan angin. Suasana begini saja sudah membuat Abisatya sangat bahagia.
"Apa kamu suka pantai?" tanya Abisatya memecah keheningan mereka.
Ajeng bergumam, "Biasa saja!" jawabnya singkat, tapi matanya tak ingin berpaling dari pemandangan laut berwarna biru di hadapannya itu.
Abisatya mengerutkan keningnya heran. "Apa kamu sering datang ke pantai?" tanyanya lagi.
Ajeng menggelengkan kepalanya saja. Sudah 30 tahun ia hidup di dunia ini, dia hanya 2x mengunjungi pantai, yaitu sekarang dan saat TK itu pun karena karya wisata dari sekolahnya.
“Kenapa?” tanyanya penasaran.
Ajeng menarik napasnya panjang, “Tidak ada waktu untuk mengunjungi pantai.”
Kerutan di kening Abisatya terus bertambah mendengar jawaban itu. “Memangnya kamu tidak punya hari libur?”
“Punya dong, minggu jadwal liburku!” jawabnya cepat.
“Lalu, kalau libur suka ke mana?” Abisatya bertanya lagi.
“Di kamar atau paling ke cafe-nya Ayu.” Ajeng masih fokus melihat pemandangan indah di depannya.
Abisatya menggelengkan kepalanya tak percaya, “Kenapa tidak jalan-jalan keluar, seperti pantai misalnya?”
Ajeng terdiam berpikir dan tentu saja ada alasan yang membuatnya lebih memilih berdiam di kamar daripada keluar, sudah jelas karena ia tak mempunyai teman. Selama ini temannya hanya Ayu, sedangkan Ayu tentu sibuk di cafenya, alhasil jika ingin keluar ya dia diam di cafenya Ayu. Tapi tentu saja ia tak bisa mengatakan alasan menyedihkan itu.
“Aku terlalu lelah untuk pergi jauh seperti ini, jadi mending beristirahat di dalam rumah,” jawabnya lugas dan tentu saja itu juga salah satu alasan lain ia malas keluar karena ingin mengistirahatkan tubuhnya yang sudah 6 hari bekerja dari pagi - sore itu.
Abisatya malah tersenyum mendengar jawaban itu, “Memang tidak penat selalu dalam ruangan? Setiap hari kan kamu praktek dalam ruangan, lalu di hari minggu pun masih juga diam dalam ruangan?”
“Tentu saja penat,” jawabnya cepat lalu mengulum bibirnya harusnya ia tak usah mengatakan itu, karena lagi-lagi ia akan terlihat menyedihkan.
Abisatya malah tersenyum, “Justru saat kita sedang penat, lelah dengan pekerjaan kamu bisa datang ke pantai. Suara debur ombak akan memicu ketenangan. Intinya pantai adalah tempat yang sempurna untuk menjernihkan pikiran dan melepas penat. Hingga membuat kita lebih rileks, setelah menjalani hari-hari yang penuh tekanan,” terangnya panjang lebar sambil menikmati keindahan yang terhampar di hadapannya, bahkan berlipat lebih indah dari biasanya karena di sampingnya ada seorang wanita yang disukainya.
Ajeng melirik sebentar pada pria di sampingnya yang juga sedang menikmati keindahan pantai yang sepi ini. Lantas ia pun segera melihat ke hadapannya juga, mencoba menikmatinya dengan mengulang perkataan yang diucapkan pria itu barusan.
Saat ini terhampar laut luas berwarna biru, serta langit yang mulai berubah menjadi warna orange membuat matanya tiba-tiba berbinar, ia merasakan kehangatan dan ketenangan di sana di tambah suara deburan ombak yang ternyata benar bisa menenangkannya. Padahal akhir-akhir ini perasaannya sungguh tak menentu akibat banyak kejadian yang harus dilewatinya, beban dalam pundaknya terasa terus menumpuk, serta pikirannya yang riuh memikirkan banyak hal dan kemungkinan.
Tapi, saat ini saat ia duduk di sini dengan pemandangan indah ini membuatnya lebih rileks dan tenang. Helaan napas panjang lega pun keluar dari mulutnya. Lalu ia menutup matanya sejenak merasakan angin pantai bertiup mengenai badan dan rambutnya yang terurai panjang itu. ‘Menyegarkan!’ bisiknya lirih lalu tersenyum lebar.
Bibir Abisatya merekah melihat pemandangan di sampingnya saat ini. Ia benar-benar senang bisa melihat wanita yang terlihat lesu itu kini tersenyum menampakkan lesung pipi yang dimilikinya itu.
Namun, dalam menutup matanya itu tiba-tiba saja otak Ajeng terbayang kejadian yang pernah dilaluinya belakangan ini. Dari mulai hari dimana ia dijodohkan, pertunangan, dan persiapan pernikahan hari ini bergantian muncul berjalan begitu cepat membuat hatinya merasa sesak. Lalu ia segera membuka matanya dan menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
Abisatya pun kaget melihat wanita itu barusan, “Kenapa?” tanyanya khawatir.
Ajeng mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, lalu tersenyum ke arah pria yang terdengar sangat khawatir itu. “Tidak apa-apa!” jawabnya.
Abisatya justru menangkap sebaliknya, “Kamu sedang banyak pikiran yah?”
Wanita itu hanya tersenyum mendapatkan pertanyaan itu.
“Saat kamu berbagi masalahmu dengan orang yang tak kau kenal, misalnya orang sepertiku, itu akan membantu mengangkat bebanmu!” ujar Abisatya sambil menunjuk dirinya sendiri.
Lagi-lagi Ajeng hanya tersenyum mendengar itu, lalu ia menghela napas panjang. “Boleh aku tanya sesuatu?”
“Silakan!” Abisatya sangat antusias.
“Apa yang kamu lakukan saat frustasi?”
Abisatya mengerutkan keningnya heran, sebenarnya ia tentu ingin mengetahui kenapa bisa wanita ini frustasi, tapi tentu saja ia tahu betul wanita ini tak akan memberitahunya maka ia segera menjawab. “Berlari!”
“Berlari?” ulang Ajeng heran.
Abisatya menganggukkan kepalanya semangat, “Ya berlarilah!” serunya lalu tersenyum karena saat ini wanita itu sedang menatapnya tak percaya. “Hei, berlari itu banyak manfaatnya loh. Ayo kita coba! Dan buka dulu sepatunya agar nyaman!” ajaknya lalu melepas sepatu yang dipakainya dan beranjak dari duduknya, lalu mengulurkan tangannya agar bisa membantu wanita itu berdiri.
Ajeng beranjak dari duduknya sendiri, namun ia ragu apakah harus lari atau tidak. Tapi, tiba-tiba saja tangannya ditarik lembut olehnya, hingga akhirnya ia mengikuti pria itu berlari di atas pasir putih tanpa alas kaki.
Awalnya ia berlari pelan, tapi tiba-tiba saja ia merasa ingin berlari cepat ketika mengingat kejadian-kejadian yang membuatnya tertekan akhir-akhir ini.
Ya ia tak bisa lari dari kenyataan ini tapi setidaknya ia akan terus berlari untuk menumpahkan rasa kesal yang selama ini dirasakannya.
Abisatya menatap tak percaya wanita ini ternyata bisa berlari kencang, dia pun terus mengimbanginya berlari di sampingnya. Sepertinya masalah Ajeng lebih besar dari dugaannya.
Hingga akhirnya tiba-tiba wanita itu mengurangi kecepatan larinya dan berhenti.
Saat ini kedua orang itu sedang terengah-engah karena baru selesai berlarian di atas pasir. Akan tetapi, mata Abisatya terbuka lebar karena ternyata Ajeng melanjutkan kembali larinya ke arah berlawanan menuju tempat sepatu mereka ditinggalkan tadi, ia pun segera menyusulnya.
Saat sudah sampai, Ajeng segera duduk kembali di pasir sambil meluruskan kakinya dan mengatur napasnya yang masih terengah-engah itu.
“Bagaimana? Sudah lumayan lega?” tanay Abisatya masih terengah-engah juga.
Ajeng menatap sekilas pria yang duduk di sampingnya itu lalu tersenyum, ya hatinya sudah membaik sekarang tak separah tadi. “Rasanya tidak enak, kakiku banyak pasir!” ujarnya lalu tersenyum dan melihat ke arah kakinya yang penuh pasir.
Abisatya ikut tersenyum lebar, karena raut wajah wanita di sampingnya itu sudah terlihat membaik dan senyumannya terlihat tulus. “Ajeng, liat deh ombak-ombak itu!” serunya sambil menunjuk ke arah laut.
Ajeng menurut melihat ke arah laut dan langit yang sudah semakin gelap.
“Masalah hidup itu seperti ombak di tepi pantai, ia akan datang tapi pada saatnya ia akan pergi, betulkan?” Abisatya menatap wanita di sampingnya itu dengan alis terangkat.
Perlahan Ajeng menganggukkan kepalanya mengerti dan paham akan perkataan yang dilontarkan pria yang baru dikenalnya ini. Kemudian ia pun tersenyum ke arahnya. “Apa kamu sangat menyukai pantai?”
“Tentu saja, aku sangat suka pantai!” jawabnya semangat dan senang karena wanita itu mulai bertanya-tanya padanya.
“Boleh aku mendengar alasannya?” Ajeng bertanya lagi.
Dengan senang hati Abisatya segera menjawab. “Bagiku tidak ada yang lebih indah, daripada melihat kegigihan laut yang menolak berhenti mencumbui bibir pantai. Meski berkali-kali harus menjauh terbawa arus". Setelah mengatakan itu ia tersenyum lebar dan menatap penuh makna pada wanita yang sedang menatapnya juga.
Ajeng mencoba mencerna perkataan itu dan tiba-tiba ia tersenyum. Lalu memalingkan wajahnya. “Sudah semakin gelap, ayo pulang!” ajaknya sambil membersihkan kakinya dengan tisu untuk menghilangkan pasir di kakinya itu, kemudian memakai kembali flat shoes-nya.
Abisatya pun ikut memakai sepatunya kembali dan lalu mereka segera pergi menuju motor. Pria itu menyodorkan helm dan juga sweater pada wanita di hadapannya.
“Helm saja! Jaket tidak usah!” serunya hanya mengambil helm-nya saja.
Tapi, Abisatya keukeuh menyodorkan kembali sweater miliknya itu. “Pakai, ini sudah malam, dingin loh!”
“Kamu saja yang pakai karena di depan, aku kan di belakang tidak akan terasa dingin!” kilahnya terus menolak.
Abisatya menghela napas berat, lalu memasangkan kancing kemeja yang dipakainya karena tadi ia memakainya tanpa dikancingkan. “Lihat aku memakai kaos dan juga kemeja, double kan, lagian kemeja ini cukup tebal jadi lumayan hangat!” serunya lalu menunjukkan pakaiannya yang sudah terkancing rapih.
Ajeng masih ragu, tapi ia pun mengambil jaket yang disodorkan kembali padanya itu, lalu memakainya. “Sudah ayo!” serunya ingin segera pulang.
Abisatya mengulum senyumnya melihat Ajeng memakai sweater kebesaran miliknya itu. Tapi, kemudian ia segera naik ke atas motornya begitu pun dengan Ajeng. Lalu mereka segera meninggalkan pantai dan melakukan perjalanan pulang. Sepanjang pulang sangat hening, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing tapi dengan perasaan yang sama yaitu bahagia.
“Rumah kamu di mana?” tanya Abisatya saat mereka sedang di lampu merah.
“Di Grand kuantan!”
“Ok, aku antarkan sampai rumah!” serunya semangat.
“Jangan!” cegahnya cepat. “Cukup sampai gerbang gapura saja!” lanjut Ajeng.
Abisatya mendesah kecewa pelan, tapi ia cobamemahami itu, karena wanita ini sudah mau jalan dengannya saja ia sudah sangat bersyukur. Lampu pun sudah berubah hijau dan dia segera mengendarai motor itu menuju rumah Ajeng.
Setelah melalui perjalan yang cukup lama, akhirnya mereka sampai di gerbang depan perumahan rumah Ajeng.
“Ya di sini saja!” serunya. Lalu motor itu pun berhenti dan Ajeng segera turun. “Terima kasih banyak!” ujarnya sangat tulus sambil tersenyum.
“Aku juga mau bilang terima kasih karena sudah mau jalan denganku hari ini!” Abisatya tersenyum lebar setelah mengatakan itu.
Ajeng hanya menganggukkan kepalanya, lalu memberikan helm itu, “Sweater-nya, mau aku cucikan dulu?” tanyanya bingung karena pertama kalinya diperlakukan seperti ini oleh seorang pria.
Abisatya malah tertawa kecil mendapatkan pertanyaan itu, sebetulnya tentu saja ia ingin Ajeng membawa itu agar ada alasan mereka bertemu lagi atau mungkin dia kan mengirimkannya lewat paket lagi. Jadi, Abisatya akan memberikan jawaban. “Tergantung, jika dibawa olehmu kamu harus menyiapkan jawaban pertanyaan dari orang tuamu, karena mereka pasti heran kan putrinya membawa jaket seorang pria. Atau, jika kamu sudah tahu akan menjawab apa, ya silahkan bawa saja ke rumah.”
Ajeng menatap tak percaya jawaban itu, lantas ia segera membukanya sweater kebesaran itu. “Maaf aku tidak bisa mencucinya lebih dahulu!” sesalnya sambil memberikan sweater itu karena tentu ia tak punya jawaban untuk orang tuanya jika ditanya seperti tadi.
Abisatya segera menerima jaket itu sambil tersenyum melihat ekspresi cemas wanita itu.
“Ya sudah kalau begitu aku duluan pergi yah!” pamitnya.
Abisatya memperhatikan wanita yang terus berjalan masuk ke dalam perumahan tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Setelah sudah tak terlihat sosok wanita itu, barulah ia menghidupkan kembali motornya dan segera meninggalkan kawasan itu , melanjutkan perjalanannya pulang ke studio seperti biasa, karena dia harus melaporkan hasil diskusi tentang project yang akan mereka tangani bersama teman-temannya.
Sesampai di rumah Ajeng langsung disambut pertanyaan oleh kedua orang tuanya, tapi tentu saja pertanyaan tentang bagaimana tadi hasil diskusi dengan pihak EO, bukan bertanya soal bagaimana ia membalas budi pada pria yang membantu bapaknya itu.
Ajeng segera memberitahu dengan detail hasil diskusi dengan EO tadi itu dan kedua orang tuanya langsung terlihat sangat gembira.
“Ibu jadi tak sabar menanti hari itu!” ujarnya sambil berkaca-kaca.
“Bapak juga Bu, semoga saja kita semua diberi kesehatan agar bisa menghadiri acara pernikahan anak kita satu-satunya ini, aamiin!”
Semua mengamini doanya bapak itu. Lalu Sekar mengamati putrinya yang terlihat berbeda. “Nak mempersiapkan pernikahan tak sesulit yang kamu pikirkan kan?"
Ajeng bingung mendapatkan pertanyaan dari ibunya itu.
Sekar langsung mengelus punggung putrinya. "Ibu itu sempat cemas karena setelah keputusan pernikahan itu sampai tadi kamu pergi dari rumah itu kamu terlihat sangat pucat, cemas, dan terlihat sekali banyak pikiran. Jadi, ibu pikir kamu mungkin sedang gelisah mengenai persiapan pernikahan karena ini pengalaman baru untukmu. Tapi, nampaknya setelah pertemuan dengan EO hari ini, sekarang kamu terlihat membaik dan lebih ceria saja!"
Ajeng ikutan tersenyum saja. Ia bahkan tak menyangka kalau ternyata ibunya memperhatikannya, tapi ia pun tak menyangka atas perkataan yang dilontarkan oleh ibunya juga.
"Ya sudah Bu, Pak, aku ke kamar dulu yah!" pamitnya.
"Ya, Ya istirahat Jeng, kamu pasti lelah!" seru Sekar.
Ajeng segera masuk ke dalam kamarnya dan sampai kamar ia langsung duduk di meja riasnya, memperhatikan wajahnya yang katanya nampak berbeda itu.
Ajeng menggerakkan kepalanya, melihat dengan seksama raut wajahnya itu, tapi ia merasa biasa saja. Hanya saja hatinya memang terasa ringan dan pikirannya lebih tenang tidak riuh seperti biasanya.
Kemudian, ia mengingat kembali perkataan ibunya yang mengira dirinya terlihat membaik karena semangat mempersiapkan pernikahannya. Ajeng langsung meringis mengingat itu.
Karena kalau ibunya tadi melihat ia pasti tak akan berkata seperti itu, karena kenyataannya tadi ia sangat kesal saat merencanakan pernikahannya tadi itu. Ajeng merasa tak dihargai oleh calon suaminya itu. Padahal jika tidak akan menghargai pilihannya lebih baik tak usah menanyakan pendapatnya bukan.
Lalu Ajeng menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dan ia merasakan perubahan, kini hatinya tak se-gundah sebelumnya, mungkin karena efek suasana pantai dan juga dari lari itu.
Ajeng tak menyangka kalau omongan pria itu benar semua dan ia merasakannya sendiri langsung saat ini.
Ia baru sadar kalau lari ternyata bisa mengurangi rasa cemas dan depresinya. Itu terjadi karena saat berlari, sirkulasi darah ke otak meningkat dan bagian otak dapat merespons stres sehingga memperbaiki suasana hati.
Ajeng menyesal baru menyadari itu sekarang dan baiklah ia sepertinya mempunyai hobi baru yaitu berlari. Lalu ia melihat kembali wajahnya di cermin dan merasa heran kenapa bibirnya ini terus tersenyum tidak seperti biasanya. Tapi, tentu ini hal bagus kan dan rupanya ini semua berkat pria itu. Apakah benar karena pria itu? Tanyanya tak percaya.
Sebentar, ia kemudian mengingat kembali soal kenapa dia bisa ikut dengan pria itu karena ingin membalas budi kan yang artinya ia akan membuat pria itu bahagia.
Tapi, nyatanya sekarang dirinya yang terlampau bahagia? Jadi, sebenarnya apa maksud pria itu mengajaknya pergi tadi, apa dia pun sama seperti ibu yang bisa melihat dirinya tampak cemas, pucat, dan banyak pikiran itu? Tapi pria itu kan baru mengenalnya jelas beda dengan ibunya. Ya tentu saja pria itu tak akan berpikiran begitu, lagian ia yakin pria itu tak akan peduli dengannya, orang mereka baru kenal dan ia sangat yakin pria itu memang murni ingin diberi imbalan atas perbuatan baik yang telah dilakukannya saat itu.
Ajeng menatap lagi wajahnya yang terus berseri itu di cermin, lalu ia segera beranjak dari duduknya dan segera pergi membersihkan diri ke kamar mandi sebelum tidur. Sepertinya malam ini ia akan tidur dengan nyenyak, ya semoga saja.