Arumi tersenyum pada putranya itu. “Mama tau itu Nak, yang Mama khawatirkan adalah, umur kamu sekarang sudah 30 tahun tapi kamu belum menikah, bahkan pacar pun tak punya!” keluhnya pada sang putra.
Abisatya malah tertawa mendengar hal itu keluar dari mulut Mamanya. “Tenang aja Mah, nanti juga kan ada waktunya! Lagian teman aku juga masih banyak kok yang belum menikah!”
Arumi menggelengkan kepalanya. “Teman-teman Mama sudah pada mempunyai cucu, sedangkan Mama entah bisa atau tidak merasakan memiliki cucu. Apalagi sekarang Mama ternyata punya penyakit ini.”
Abisatya menghela napas berat mendengar perkataan Mamanya itu, ia bahkan tak menyangka kalau itu yang selama ini mamanya cemaskan. “Mah, Abisatya akan merawat Mama dengan baik, jadi sudah pasti Mama akan sehat dan bisa melihat cucu-cucu Mamah nanti!” serunya meyakinkan.
“Umur nggak ada yang tau Nak! Mama juga tahu penyakit Mama ini cukup beresiko kematian mendadak!” lanjutnya, karena Arumi pernah mendengar hal seperti itu dari temannya.
“Sttt udah deh Mah, lagian Mama sekarang sudah boleh pulang oleh dokter. Dan,ingat jangan banyak pikiran, cemas, dan jaga pola makan ya Mah!” timpal Abisatya tak ingin Mamanya semakin melantur berbicara.
Helaan napas panjang keluar dari mulut Arumi. “Ada satu hal lagi Bi, yang Mama pikirkan, kamu mau dengar?” tanyanya sambil menaikkan satu alisnya.
Abisatya dengan cepat menganggukkan kepalanya.
“Mama tuh sempat kepikiran ingin menjodohkan kamu, tapi Mama takut bilang ke kamu karena yakin kamu pasti nggak akan mau kan dan menolak itu mentah-mentah. Ya kan?” terang Mama dengan nada sedih kemudian menunduk.
Abisatya saat ini entah harus bagaimana, tertawa atau bersedih mendengar itu. Karena ternyata yang Mama cemaskan perihal dirinya dan jodohnya. Padahal selama ini ia santai saja perihal itu. Kemudian ia cepat menggenggam tangan ibunya itu.”Mah, percaya deh jodoh akan datang di waktu yang tepat kok!” terangnya
Lagi-lagi Arumi menghela napas panjang, ia kecewa ternyata benar putranya menolak ide itu dengan sangat halus. “Tolong panggilkan suster Nak, infusan Mama sudah habis!” serunya kemudian tak ingin menanggapi tolokan putranya itu.
Abisatya segera bergegas memanggil suster dan suster segera datang hendak membuka infusan karena Mama akan segera pulang.
"Mah tunggu sini bentar yah, aku mau urus administrasi dulu!" pamitnya karena barusan suster sekalian menjelaskan saat memanggilnya.
Arumi hanya menganggukkan kepalanya saja, sedangkan Abisatya bergegas membereskan administrasi dulu sebelum pulang dan malam semakin larut.
Setelah selesai ia pun segera menuju tempat Mamanya lagi dan membantunya berjalan ke tempat duduk yang berada di dekat pintu keluar. "Kita tunggu sini yah Mah, aku udah pesankan Taxi online, lagi jalan ke sini!"
Lagi-lagi Arumi hanya menganggukkan kepalanya saja dan melihat ke arah lain, sedangkan Abisatya tau sekali saat ini Mamanya sedang bete karena obrolan mereka tadi di dalam.
Abisatya segera meraih tangan wanita yang sangat disayanginya itu. lalu digenggamnya tangan yang terasa dingin itu. Lalu ia mengamati Mamanya ternyata hanya memakai baju rumah berlengan pendek saja, lantas ia segera memberikan sweater yang sedari tadi hanya menggantung di tas selempangnya itu.
“Pakai yah Mah, biar nggak kedinginan!!" serunya lembut dan tersenyum.
Arumi menoleh lalu menerima baju hangat itu dan segera memakainya, tapi keningnya tiba-tiba berkerut heran karena hidungnya mencium sesuatu yang asing. "Nak!" panggil Arumi ingin menanyakan langsung.
"Nah Taxinya sudah datang, ayo Mah, Bi!"
Abisatya malah beranjak dari duduknya lalu segera menggandeng Mamanya untuk berjalan keluar menuju taxi. Alhasil Arumi pun tak jadi bertanya dan segera masuk ke dalam taxi.
Setelah memastikan Mamanya duduk dengan nyaman bersama Bi Ningsih ia tersenyum lega. "Ya sudah hati-hati yah! Aku ikutin mobil di belakang!" serunya.
"Ya hati-hati Nak!" Timpal Arumi.
“Pak alamatnya sesuai aplikasi yah!” ujarnya pada baak supir, kemudian Abisatya segera menutup pintu mobil itu. Lalu mobil pun mulai berjalan dan Abisatya segera menuju motornya dan mengendarainya menyusul mobil yang membawa mamanya tadi.
Setelah melewati jalan malam yang sudah sangat dingin itu, kini sampailah mereka di rumah dan Abisatya langsung membantu Mamanya berjalan ke kamar untuk beristirahat.
Abisatya menghela napas lega ketika melihat Mamanya sudah duduk nyaman menyandar di atas kasurnya. “Mama mau ganti baju? Abisatya ambilkan yah!”
Arumi menggelengkan kepalanya, “Tidak, Mama nyaman sekali pakai sweater kamu ini hangat!” serunya sambil tersenyum.
Kening Abisatya berkerut seketika tapi ia lalu tersenyum lega karena rupanya sang Mama sudah tidak bete lagi seperti tadi. "Ya sudah Mama istirahat, tidur yah! Abisatya mau bersih-bersih badan dulu!" pamitnya lalu beranjak dari duduknya.
"Nak, tunggu sebentar! Mama mau tanya sesuatu!" cegah Arumi cepat.
Pria yang baru beranjak itu mendaratkan bokongnya lagi di kasur. "Tanya apa mah?" tanyanya dengan lembut.
"Parfum kamu ganti? kok wanginya wangi perempuan? Apa kamu sudah punya pacar ya ?" Arumi seegra mencecar banyak pertanyaan dengan antusias pada putranya itu. Karena sedari tadi sepanjang jalan ia sudah tak sabar ingin menanyakan itu, bahkan ia berpikir apa itu alasan putranya tadi menolak secara halus tentang perjodohan karena ternyata sedang dekat dengan seorang wanita. Memikirkan itu tadi di mobil membuatnya senyum-senyum dan sekarang ia menanti kejujuran sang putra, semoga dia menjawab sesuai dengan apa yg dipikirkannya tadi di mobil.
Abisatya terdiam, ia lupa kalau tadi sweater-nya sempat dipakai oleh Ajeng yang memang meninggalkan harum parfum wanita itu dan ia tak menyangka kalau Mamanya menciumnya juga. "Oh ya itu tadi sempat dipakai sebentar oleh temanku Mah, tadi dia kasian di motor gak paket jaket,” jawabnya sengaja tak menyebutkan nama Ajeng karena ia ingat betul Mamanya sudah melarang dirinya dekat dengan wanita yang sudah berstatus tunangan orang itu.
“Temannya wanita kan?” Arumi menarik alisnya satu.
Abisatya bingung karena memang wangi parfum itu khas perempuan sekali. Jadi, ia hanya meringis saja tak menjawab.
Mulut Arumi malah semakin berseri karena tebakannya benar meskipun sang putra tak menjawab. "Pacarmu? Calon pacarmu?" tanyanya antusias.
Abisatya malah tersenyum lebar mendengar itu kenapa pikiran Mamanya sudah jauh tapi, sebenarnya tak aneh juga karena ternyata memang Mama selalu memikirkan tentang jodohnya. "Bukan Mah!" jawabnya.
Arumi malah berdecak pelan. "Kenapa tak jadikan dia pacarmu? Mama yakin kamu sudah menyukainya. Karena Kamu kan nggak akan sembarangan beri tumpangan pada wanita, Mamah tau betul itu!"
Lagi-lagi Abisatya tersenyum lebar mendengar perkataan Mamanya itu karena benar apa yg dikatakannya itu. Dia tak sembarangan mengajak wanita jalan atau menaiki motornya, jika dia tak mempunyai rasa pada wanita yang diajaknya itu.
Arumi memasang wajah kecewa, "Ayolah kamu juga biasanya terbuka sama Mama kan, jadi siapa?" tanyanya keukeuh terus mencoba.
"Tapi Mamah jangan marah!" pintanya, karena awalnya ia tak ingin menceritakan soal ia jalan hari ini dengan Ajeng.
Kening Arumi berkerut mendengar perkataan putranya itu. "Kenapa juga Mamah marah? Mamah justru senang kalau kamu lagi suka atau lagi PDKT sama wanita. Mama dukung!"
"Dia Dokter Ajeng mah!" ujarnya cepat.
"Apa?" tanya arumi takut salah dengar.
"Dia dokter Ajeng." Abisatya mengulang perkataannya lagi.
Helaan napas panjang keluar dari mulut Arumi, setelah mendengar itu, pantas saja tadi anaknya sangat lama untuk mengatakannya tak seperti biasanya. "Kan mamah sudah bilang kamu jangan berusaha mendapatkan dia nak!"
Abisatya malah tersenyum karena ia sudah bisa menebak perkataan tadi itu. “Tapi, takdir mempertemukan kita terus Mah, lantas aku harus bagaimana?"
"Ya menghindar, kamu jaga jarak sama dia, kamu pokoknya nggak boleh Nak!" Arumi terus memperingatkan putranya itu.
"Dia sekarang jadi client aku mah!" ungkapnya dengan cepat.
"maksudnya?" tanya Arumi tak mengerti.
"Ya, dia akan menikah dan aku sebagai fotografer prewedding serta acara pernikahannya Dokter itu. Tadi siang aku habis pertemuan dengan mereka juga,” terangnya lalu menghela napas panjang.
Arumi menatap kasihan putranya itu, pasti ia sangat patah hati sekarang. "Tapi kenapa tadi kamu membonceng dia? Memang dia tidak pulang dengan calon suaminya?" tanyanya heran.
"Calon suaminya orang sibuk Mah, jadi pulang duluan. Dia anak sulungnya Bapak Surya Mahendra,” ungkapnya lagi.
"Wow konglomerat itu toh!" seru Arumi lalu tersenyum lega, karena ternyata dokter itu sudah mau menikah. Baguslah pikirnya agar Abisatya segera bisa sadar juga kalau putranya itu tak mempunyai kesempatan dengan dokter itu.
"Ya sudah Mah ah, aku mau mandi, ibu juga istirahat tidur yah!" pamitnya lalu segera mencium kening Mamanya itu dan pergi keluar kamar. Setelah keluar dari kamar ia menghela napas panjang, entah kenapa rasanya sesak setelah bercerita tadi perasaannya malah sesak, mungkin lebih ke kecewa karena ia ditarik kembali ke kenyataan bahwa wanita yang disukainya itu akan benar-benar segera menikah. Perasaannya semakin tak nyaman, lantas ia segera berlari ke kamar mandi dan berdiri di bawah shower kemudian menyalakannya membiarkan air dingin itu membasahi seluruh badannya dari kepala sampai bawah.