Hari-hari berlalu dengan cepat.
Ajeng sedari tadi gelisah melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 14.20 WIB, tapi ia masih dalam taksi terjebak macet. Tak lama ponselnya berdering, lantas ia segera mengangkatnya. "Assalamualaikum, ya Bu? Aku masih di jalan kena macet," terangnya langsung.
"Oh pantas saja kalau begitu."
"Ibu langsung daftar dulu aja, biar cepat, gimana?" tanyanya memberi ide.
"Ya sudah kalau gitu, hati-hati yah Nak!"
"Nggih Bu!" sambungan telepon terputus.
Hari ini adalah hari Ibunya untuk kontrol jantung. Ya, ibu menderita penyakit jantung koroner dan 4 tahun yang lalu telah melakukan operasi bypass jantung. Itu adalah tindakan untuk mengatasi penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah arteri koroner pada pasien penyakit jantung koroner. Prosedur ini dilakukan untuk mengalihkan fungsi arteri koroner yang rusak, menggunakan cangkokan pembuluh darah baru dari organ tubuh lain.
Maka dari itu ibu masih harus rutin kontrol 3 bulan sekali ke poli jantung, untuk memastikan jantungnya baik. Ajeng setelah tadi praktek langsung segera menuju RSUD karena mereka sudah janjian langsung di sana.
Setelah sampai, Ajeng bergegas masuk ke dalam rumah sakit, ia langsung berjalan menuju lift untuk naik ke lantai 3 tempat poli jantung berada. Ya tadi ibunya mengabari sedang menunggu di poli.
Ajeng sudah menekan tombol lift dan sedang menunggu lift datang, untungnya tak lama pintu lift terbuka dan ia segera masuk ke dalam lift yang kosong itu. Setelah itu dia segera menekan tombol 3, lalu pintu pun perlahan menutup. Namun, saat hendak menutup sempurna, ada tangan yang menghalangi pintu lift, Ajeng segera menekan tombol aga pintu membuka kembali.
Kemudian, terdengar helaan napas lega dari orang yang baru datang itu, "Terima kasih!" serunya, lalu mereka saling pandang dan berkata. "Kamu?" tanya bersamaan kedua orang yang berada dalam lift itu. Lalu tanpa mereka sadari bibir mereka sama-sama berkembang membentuk sebuah senyuman.
"Kok kamu sedang apa di rumah sakit?" tanya Ajeng heran.
Pria itu lagi-lagi masih memamerkan senyumnya karena wanita di hadapannya ini selalu menanyakan hal yang sama jika bertemu. "Aku sedang menemani Mamaku kontrol!" jawabnya kemudian sambil menaikkan satu alis melihat ekspresi wanita yang tak terbaca itu.
"Oh!" kata Ajeng lalu memalingkan wajahnya ketika mendengar suara lift berdentang, disusul lift itu berhenti. "Ya sudah kalau begitu aku duluan!" pamitnya segera keluar saat pintu lift sudah terbuka dan seketika mengerutkan keningnya heran ketika merasa pria itu juga keluar dari lift. Ia segera menoleh ke belakang untuk memastikan dan benar saja pria itu ada di belakangnya dengan senyuman lebar di wajahnya.
"Aku juga sama kok di lantai 3!" Abisatya segera menjelaskan meskipun tak ditanya karena wajah wanita itu sedang menatapnya penuh tanya.
Ajeng menganggukkan kepalanya mengerti dan tersenyum tipis. “Ya sudah saya duluan kalau begitu, permisi!” pamitnya lalu segera bergegas berjalan menuju poli jantung. Lalu sampailah ia di poli jantung dan mencari ibunya di ruang tunggu yang sedang banyak orang menunggu itu.
Bibirnya langsung tersenyum ketika menemukan sang ibu sedang duduk di sofa panjang dengan wanita seumurannya, Ajeng segera menghampirinya. “Maaf yah Bu, Ajeng telat!” serunya menyesal saat sudah duduk di samping ibunya.
Sekar segera menoleh dan tersenyum ke arah putrinya yang baru datang itu. “Nggak apa-apa Nak, lagi pula ibu juga di sini lagi ngobrol sama temen baru ibu!” serunya sambil melirik pada seorang wanita yang berada di sampingnya itu.
Ajeng segera tersenyum pada ibu lain yang di sebelah ibunya itu. Lalu tiba-tiba keningnya berkerut karena ditunjuk oleh beliau.
“Ah Dokter Ajeng kan?” serunya.
Ajeng dengan ragu menganggukkan kepalanya dan menatap heran ibunya sendiri. Pasti ibunya ini membicarakan dirinya hingga teman baru ibunya ini mengenal dia.
“Saya pernah jadi pasiennya Dokter Ajeng loh!” lanjutnya.
Ajeng langsung menatap kembali teman baru ibunya itu sambil mengingat-ingat.
“Oalah? Jadi, ibu pernah jadi pasien anak saya, pantesan langsung tau nama anak saya!” seru Sekar semangat. Teman barunya itu langsung tersenyum lebar.
“Kamu ingat nggak Jeng?” tanya Sekar pada putrinya.
Ajeng masih mencoba mengingatnya sambil menatap teman baru ibunya itu, namun tiba-tiba matanya membulat sempurna ketika melihat Abisatya tiba-tiba duduk di sebelah ibu itu.
“Itu loh pasien yang nawarin putranya ke kamu!” timpalnya dan lalu mendapatkan pukulan kecil di paha oleh Mamanya itu.
Ajeng langsung teringat dan tersenyum. Sedangkan Arumi langsung merasa malu apalagi ternyata ia baru tahu kalau sedari tadi mengobrol dengan ibunya dokter itu.
“Kamu kok nggak cerita ke ibu?” tanya Sekar kecewa karena ia tentu baru mendengar hal itu barusan.
Ajeng hanya tersenyum saja tak ingin menjawab. Karena baginya sudah tak aneh ada beberapa pasien ibu-ibu yang selalu menawarkan putra mereka padanya. Lagipula ia merasa ibunya tak perlu tentang hal itu.
“Ah lagian dokter Ajeng kan sudah mau menikah kan yah Bu, selamat Yah!” timpal Arumi sambil memegang tangan ibunya Ajeng.
Sekar langsung tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya, “Oh iyah Jeng ini Bu Arumi dan putranya Abisatya! Mereka yang menemani ibu mengobrol sedari tadi sambil menunggu kamu!” terang Sekar pada putrinya.
“Kita udah saling kenal kok Bu!” timpal Abisatya sambil tersenyum lebar. Karena ia benar-benar tak bisa menutupi rasa bahagianya ini, karena ternyata ibu yang sedari tadi mengobrol dengannya itu adalahnya ibunya Ajeng. Jadi, secara tidak langsung ia sudah mengenal kedua orang tua wanita itu.
Sekar lalu menatap putrinya heran, “Kenal di mana?”
“Dia fotografer pernikahanku nanti Bu!” Ajeng menjawab.
“Oalah, ternyata begitu. Bisa kebetulan gitu yah!” seru Sekar.
Ajeng dan Abisatya saling pandang lalu tersenyum mereka juga aneh kenapa selalu dipertemukan tidak sengaja begini. Lalu tak lama para Ibu asyik mengobrol lagi, sedangkan Ajeng memilih mengeluarkan ponselnya karena terdengar deringan telepon. Seketika ia mengerutkan keningnya heran ketika ternyata Kama yang menelepon. “Bu sebentar yah, Kama telepon!” pamitnya lalu segera beranjak dari kursinya dan agak menjauh untuk menerima teleponnya.
“Hallo?” sapanya setelah mengangkat telepon.
Hening sejenak di sana, Ajeng menjadi heran karena tumben juga calon suaminya itu meneleponnya. “Kama?” panggilnya lagi.
“Kamu di mana? Sudah selesai praktekkan? Aku sudah di depan RSGM!”
Ajeng mengerutkan keningnya heran mendengar itu, “Kenapa menunggu di sana?”
“Ya tentu saja menjemput kamu, kamu sudah selesai prakteknya kan?” tanyanya dengan nada ketus.
Tapi, Ajeng malah tersenyum karena mendengar niat calon suaminya itu yang tak biasa. “Ya aku memang sudah selesai, tapi saat ini aku ada di RSUD lagi nemenin Ibu kontrol!” terangnya hati-hati berharap pria itu tak marah.
Terdengar helaan napas panjang di ujung telepon sana dan Ajeng sudah menyiapkan dirinya untuk mendapat kemarahan dari calon suaminya itu.
“Kenapa tak bilang?” tanyanya “Ya sudah aku nanti jemput kalian di sana, aku tunggu nanti di depan rumah sakit saja tak masuk!”
Ajeng mengerjapkan matanya tak percaya mendengar itu ia bahkan memindahkan ponselnya ke telinga yang sebelahnya takut ia salah dengar. “Kamu serius? Kamu nggak sibuk?” tanyanya heran.
“Udah jangan banyak tanya, aku tutup!” Sambungan telepon benar tertutup.
Bibir Ajeng tak bisa berhenti tersenyum karena Kama tiba-tiba bersikap seperti itu ia masih tak menyangka, tapi meskipun begitu ia tetap tak boleh berharap banyak pada calon suaminya itu. Lalu Ajeng segera kembali menuju ibunya yang masih duduk di sofa bersama Abisatya dan Mamanya itu.
“Ada apa Kama?” tanya Sekar antusias.
Ajeng semakin tersenyum lebar, “Dia nanti jemput kita di depan Bu!” serunya.
Sekar tak kalah bahagianya ia ikutan tersenyum lebar juga mendengarnya. Sementara Abisatya dan Mamanya hanya saling pandang saja dan tersenyum tipis.
“Ibu Sekar!” seru perawat memanggil pasien untuk masuk ruang pemeriksaan.
“Ya!” jawab Ibu lalu beranjak dari duduk begitupun dengan Ajeng. “Kalau begitu kami duluan masuk yah Bu!” pamitnya lalu tersenyum, begitu pun dengan Ajeng tersenyum pada ibu dan putranya itu. Lalu mereka segera masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
Sementara Abisatya masih duduk bersama Mamanya memandang dua orang yang sudah hilang dari pandangan mereka. “Dunia kok sempit sekali yah Nak!” seru Arumi.
Abisatya menganggukkan kepalanya cepat. “Benar banget Mah, apa itu juga alasannya aku dan dia selalu dipertemukan, karena dunia sempit? Padahal rumah sakit itu ada banyak sekali kan Mah. Atau ada alasan lainnya kita terus dipertemukan seperti ini?” bibirnya tersenyum tipis setelah mengatakan itu.
Arumi malah menghela napas berat mendengar itu karena ia tahu pikiran putranya itu, “Nak, ingat dia akan segera menikah!” tegasnya.
Abisatya hanya tersenyum saja menanggapinya, hatinya merasa perih diingatkan seperti itu tapi tentu saja rasa itu kalah, karena rasa bahagianya lebih besar ketika mereka dipertemukan terus tanpa sengaja seperti ini.