“MASYAALLAH, Viraaa…!” seru Mama saat melihat Vira berlari buru-buru dari kamarnya. “Kamu ini anak gadis! Pagi-pagi sudah lari gedebukan di dalam rumah! Sana, kalau mau lari-lari, di halaman!”
Vira berhenti dan bergegas memeluk mamanya. “Itu Maaa… hantunya ada lagi di kamar Vira. Vira nggak bohong, Ma. Tadi malam dia muncul. Hari ini dia datang lagi…!” lapor Vira masih menyimpan ketakutannya.
Mama melepaskankan pelukan Vira. Berdiri menatap lurus pada putri sulungnya. Vira hanya diam seperti terbengong. “Niy anak kenapa siy?” tanya mamanya sambil meraba dahi Vira. “Nggak panas kok!”
“Ya jelas nggak panas lah, Ma. Kan Vira nggak demam!” seru Vira menyingkirkan tangan Mama dari dahinya.
“Makanya… kamu tuh sadar, nggak ngigau. Jangan ngomongin yang aneh-aneh. Wes sana, cepetan Shubuh. Keburu dipatok ayam pahalanya!” Mamanya meninggalkan Vira begitu saja.
“Halooo, Cantik… Udah deh, kamu nggak bakalan menang debat sama Mama. Dia kan nggak bisa lihat aku…,” tiba-tiba suara Jason terdengar di telinga Vira.
“Ya ampun, itu hantu datang lagi,” batin Vira sambil pergi buru-buru. Bahu gadis itu terlihat beberapa kali mengedik, antara takut dan tidak percaya.
MAMA dan papa sudah bersiap dengan pakaian kerjanya. Keduanya bersiap untuk ke kantor. Papa masih memeriksa beberapa berkas di meja ruang keluarga. Vina dan Vino sekolah dari rumah. Vira tidak ada jadwal kuliah tatap muka. Masa pandemi, sebagian sekolah dan kampus masih memberlakukan belajar secara daring atau online. Belajar dari rumah masih-masih menggunakan fasilitas online.
Mama sudah menyiapkan tas kerjanya. Menatap pada anak-anaknya yang masih gegoleran nonton teve di ruang keluarga. Mereka tidak mengetahui kalau Jason ada duduk di ruang tersebut dengan bertopang dagu. Pandangannya terus menerus menatap pada Vira yang duduk menonton sambil berulang menengok handphonenya.
“Selama belum dapat pembantu baru, mama usahain masak. Hari ini Mama hanya bisa bikinin sarapan. Nanti siang, kalian order makanan online aja. Malam kita masak bersama,” kata Mama kepada ketiga anaknya.
“Yes, Pizzaaa...!” seru Vino berbisik sambil mengangkat kepalan tangannya.
“Makan sehat, Vino! Jangan pizza terus!” tegur Mama. “Kalian, Vira dan Vini, jangan turuti adikmu. Makan siang tuh nasi, bukan pizza!”
Jason tampak terkejut mendengar kata pizza. “Pizzaaa…? Makanan jenis apa itu? Pisang baja?” pikirnya.
“Beres, Ma. Makan nasi. Udah, Mama Papa berangkat aja deh!” sahut Vini yang tidak mau ambil pusing.
Vino menoleh kesal pada Vini. “Kak Viniii…!”
“Cincai lah… Tenang, Bro!” seru Vini memberi kode oke dengan bulatan telunjuk dan jempol kanannya pada Vino.
Kembali Jason terkejut. “Cincai….? Makanan apa pula itu? Kenapa dua bocah ini omongannya sulit kumengerti!” pikir Jason sambil memperhatikan Vino dan Vini bergantian.
“Viniii…!” hardik Mama.
“Apaan sih, Ma! Iya, iya! Ntar tanya Kak Vira deh. Kita pesan makan nasi. Mama siy kebangetan. Hari gini makan kudu nasi. Pizza juga karbohidrat dan protein. Enak lagi,” keluh Vini.
Jason masih terlihat berpikir. “Pizzaaa… Cincai… Nasi… yach, kenapa aku hanya paham nasi? Ini bocah manusia atau jenis makhluk planet ya? Kenapa suka makan pizza dan cincai?”
“Sudah Ma, ayo kita berangkat! Kalian baik-baik jaga diri. Rumah kita agak jauh dari tetangga kiri kanan. Kalau ada orang nggak jelas, nggak usah dikasih masuk.”
“Ashiaap…! Jenderal Vino akan jaga Princess-Princess kesayangan Papa deh. Delapan enam empat belas! Aman terkendali empat belas jam!!!” seru Vino sambil memberi hormat.
Vira tertawa pelan. “Sejak kapan jenderal perlu melapor, Vino?!” seru Vira.
“Sejak Vino jadi adik Kakak lah. Sungguh mati tugas Vino tuh jauh lebih berat dari jenderal, Kak! Jagain Princess-princess. Cantik-cantik siy, cuman ya bawel-bawel, ceriwis pula,” balas Vino.
“Vinoooo…!” teriak Vini tidak terima, sambil mengejar adiknya hendak menggebuknya.
Namun Vino lebih gesit untuk pindah meloncat dari kursinya. Kemudian memeletkan lidahnya pada sang Kakak. “Weeek, weeek… ayo sini Kak Vini, kejar gue sampai kena!”
Keduanya pun berlari bekejaran sampai keluar rumah. Mama Papa hanya bisa geleng-geleng. “Jagain adik-adikmu, Vir!” seru Papa.
“Iya. Sama jangan ngomong aneh-aneh soal hantu lagi,” sahut Mama.
“Lha memang ada hantu lagi?” usik papanya.
Vira yang tidak mau membahas hantu lagi, bangkit dan mendorong mama papanya agar segera berangkat. “Sudah deh, Papa Mama berangkat. Ntar telat. Ini masih pembatasan jarak, tapi ke Jakarta tuh macet. Beres deh kita di rumah. Kayak baru sekali ditinggal kerja aja,” balas Vira.
Orang tuanya pun tertawa dan segera menuju mobil. Vira menutup gerbang, ketika mobil mereka sudah tidak tampak dari rumah.
Vira hendak melanjutkan nonton teve, tapi ia mendengar keriuhan Vini dan Vino di kolam renang. Keduanya beradu balap renang bolak-balik. Vira pun memutuskan ikut turun dan menambah keriuhan kolam renang.
Sementara Jason di kursi berjemur, memanyunkan bibirnya. Ia hantu anti air. Paling tidak demen berurusan dengan kolam renang. Kulitnya bisa gatal-gatal alergi kalau terlalu lama kena air. Apalagi air sekolam renang. Tiba-tiba ia tersenyum dan terbang begitu saja. Jason segera mencari tempat pembuangan air kolam. Dan dia terkikik-kikik setelah membuka salurannya. Air kolam renang pun perlahan mulai berkurang.
Vino yang menyadari air kolam renang berkurang segera menepi. “Eh, Kak Vini, Kak Vira… niy kolam bocor kali ya?! Lihat, airnya berkurang!”
Vini ikut menepi. “Nggak mungkin lah bocor. Dari semalam sampai tadi kita mulai renang air masih penuh. Masa iya, bocor dadakan?” seru Vini sambil naik dan mengambil handuknya. Ia menoleh ke kiri kanan. “Eh iya, Vino… lha itu airnya mengalir ke sana. Waduuuh…. Siapa yang ngebuka saluran pembuangan air!” teriak Vini sambil bergegas menuju sisi ujung kolam. Vino pun keluar dari kolam renang untuk membantu kakaknya.
Sementara itu, Jason tertawa terbahak-bahak sambil berkacak pinggang melihat Vini dan Vino kebingungan. “Bagus juga! Nanti kalau diisi penuh, ya aku kosongkan lagi deh! Biar nggak ada yang renang. Bikin aku sirik aja!”
Vira yang bisa melihat Jason dan mendengar suaranya, terlangsung teriak marah. “Jasooon… kurang ajar lo! Nggak abis-abisnya dari kemarin gangguin gue! Awas lo gue gebuk!” seru Vira keluar dari kolam renang dan menuju tempat Jason berdiri. Seketika ia melayangkan tinju ke perut Jason. Tinjunya seperti melawan angin. Jason tertawa-tawa sambil menghindar.
“Ayo Cantik, ke sini! Gak apa-apa siy aku ditinju! Nggak sakit kok. Geli aja, dikit!”
“Jasooon….!” Teriak Vira sambil melotot.
Tentu saja Vini dan Vino saling pandang. “Tuh Kak Vira apaan siy? Jason mana yang diteriakin? Nggak ada orang gitu?” tanya Vino sambil menutup saluran pembuangan air kolam.
“Ntar gue lihat deh, Vin. Kali aja Kak Vira tahu yang bikin ulah,” kata Vini meninggalkan adiknya. Ia mendekati kakaknya.
“Jason, lo boleh aja tinggal di rumah gue. Awas kalau macem-macem terus, gue tendang. Gue panggil…,” kata Vira belum selesai, tersela kehadiran Vini.
“Kak… Kakak ngomong sama siapa siy? Jason mana yang Kakak ajak bicara? Nggak ada orang di sini!” seru Vini heran. Ia melihat ke kiri kanannya dan ke sekeliling. Tidak ada orang lain lagi, kecuali mereka bertiga.
“Itu… gue… eh, lo salah dengar kali, Vin. Gue nggak ngomong sama siapa-siapa,” kata Vira bingung hendak menjelaskan. Saat itulah ia sadar, di rumahnya hanya dirinya yang bisa melihat Jason. Mama, Papa, Vini, dan Vino tidak bisa melihatnya.
“Ya ampun, Kak. Kuping Vini tuh nggak b***k. Kakak teriak-teriak panggil Jason. Orangnya mana? Tetangga kita sebelah mana?” usut Vini.
Jason tertawa keras. Lalu mengangguk-angguk. “Gue itu ternyata aku. Aku itu gue. Lo itu ternyata kamu. Kamu itu lo. Oh, I see. I know, I know. Aku ngerti sekarang,” katanya.
“Diem lo Jason!” seru Vira tanpa sadar karena kesal.
“Nah itu, Kak Vira ngomong lagi sama Jason,” kata Vini. Tahu-tahu Vini membelalakkan mata. “Jangan-jangan Kakak lihat hantu ya? Beneran rumah ini ada hantunya? Yang dibilang Pak Joyo itu bener?! Hiii… Kakak serem iiiih…!” Vini segera berlari meninggalkan kakaknya.
Vino yang sudah mengatur pengisian kembali air kolam, heran melihat Vini terbirit-b***t. “Kenapa, Kak? Kebelet mo be-a-be?”
“Enggak. Itu Kak Vira geje, nggak jelas. Ngomong sama hantu!” kata Vini terus masuk rumah. Kemudian terhenti di depan pintu belakang. “Kalau ntar hantunya malah gangguin gue pas sendirian gimana?” Vini pun balik mengikuti Vino yang mendekati Vira.
“Jasooon, inget ya pesen gue! Gue nggak takut sama elo. Elo itu hantu. Hantu itu bukan manusia! Kalau gangguin terus, gue panggilin tukang usir hantu! Biar mampus lo dibuang ke Laut Utara!” seru Vira sambil berkacak pinggang.
Sementara Jason kalem saja memandang Vira.
“Oh Cantikkuuu…, Cintakuuu…, Maniskuuu… ke Laut Utara pun aku mau asal sama kamuuu…. Oh betapa indahnya duniakuuu…!” kata Jason sambil menangkupkan kedua tangannya di depan d**a.
“Nenek lo sinting!” seru Vira. “Emangnya gue putri duyung! Sana lo pergi! Awas, kalau gangguin adik-adik gue!”
Vino di belakang Vira langsung tertawa ngakak. “Lagi latihan drama, Kak? Kenapa nggak panggil Mas Zacky aja?! Biar seru latihannya! Kan pentasnya ntar sama dia,” kata Vino.
Vira berbalik arah. “Oh iya, lo bener. Ntar deh gue tanya Zacky. Cuman kan kemarin dia baru ke sini. Rumah kita tuh sekarang jauh dari rumah dia, Vin. Ujung ke ujung,” kata Vira.
“Gimana, Vin? Lo udah lihat Kak Vira ngomong geje?” tanya Vini.
Vino tertawa. “Itu Kak Vin, latihan drama. Eeheee… heheh… ya udah deh, gue mandi dulu! Tolong ya Kak Vini, ntar kalau airnya sudah penuh, dimatiin pompa airnya!” pesan Vino meninggalkan kedua kakaknya.
“Jadi Kak Vira dari tadi tuh latihan drama?!”
“Iya lah…. Lo pikir gue ngapain?”
“Ah… sutralah! Sampe gue jiper, tahunya latihan pentas!” seru Vini yang kesal pada kakaknya langsung pergi begitu saja.
Jason kembali tertawa. Vira melotot, lalu mengepalkan tinjunya. “Awas lo kalau bikin ulah lagi!” seru Vira yang ikut meninggalkan kolam renang. Jason mengikuti dari belakangnya.
“Ting tong… ting tong.…”
Suara bel gerbang depan terdengar sangat nyaring. Vira yang sedang mengerjakan disain cover buku pesanan orang, meneriaki adiknya. “Vinooo… lo udah order pizza sepagi ini? Belum jam sepuluh ini!”
Vino keluar dari kamarnya. “Enggak, Kak. Belum lah. Kan mo pesen pizza kudu setujuan sama Kak Vira dan Kak Vini.”
“Ting tong… ting tong.…”
“Nha terus, itu siapa yang dateng? Liatin deh, kakak lagi nanggung niy bikin disainnya!” seru Vira.
“Yee, kakak bilang kek nyuruh bukain gerbang!” seru Vino sambil ngeloyor ke depan.
Vira yang melihat Jason di dekatnya melotot, “Sana, lihatin adik gue! Siapa yang datang!” serunya mengusir Jason. Jason terlihat tidak senang, tapi pergi juga mengikuti Vino.
Vino membuka gerbang dan ada sesosok cowok tinggi jangkung. Berkulit sawo matang. Berambut lurus. Dia mengenakan T-Shirt putih polos dan blue jeans selutut. Wajahnya biasa saja, tapi terlihat sangat ramah. Di depan rumah Vino ada satu mobil pick up yang menurunkan rak-rak dan beberapa dus ke rumah di seberang.
“Oh, hai… aku Roni! Anak depan rumah. Kudengar di sini sudah ada penghuninya. Kenalan dong!” serunya sambil mengulurkan tangan kepada Vino.
Jason di dekat Vino dan Roni berjalan berputar, mengelilingi mereka berdua. Wajahnya tanpa ekspresi. Hanya sesekali mengangguk-angguk.
“Oh, hai Mas Roni. Gue Vino. Iya, baru kemarin kok pindah ke sini,” kata Vino. “Kami berlima. Papa, Mama, gue, Kak Vira, dan Kak Vini.”
“Oh, kalian seru ya. Banyak orang. Aku cuman bertiga. Seringnya sendiri karena bapak ibu kerja.”
“Nggak pa-pa, Mas. Ayuk masuk aja! Kenalan sama Kak Vini dan Kak Vira!” seru Vino ramah.
“Ehm, tapi aku kudu beresin barang-barang, Vin. Mereka nurunin kan cuma naruh di depan gitu. Ntar deh, kenalannya disambung.”
“Gue bantuin, Mas. Tugas belajar gue udah beres kok. Bentar gue bilang Kakak dulu,” kata Vino sudah hendak berbalik.
Seketika Roni menarik tangan Vino. “Eh, eh, Vin…”
“Ya, Mas…?”
“Pas awal lihat-lihat rumah, ibuku kan pinginnya beli rumah ini. Ada kolam renang dan gazebo-gazebo di taman. Lebih luas dan asri. Cuman nggak jadi. Katanya ada hantunya. Suka iseng gitu. Kalian semalem di sini ada hantu yang gangguin? Bilangnya suka nyolongin makanan tetangga sama berwujud serem juga, Vin,” usut Roni.
Jason yang mendengar perkataan Roni langsung geram. Ia merasa tidak pernah mencuri makanan tetangga, apalagi berwujud seram. Jason segera mengambil kerikil sebesar kelereng. “Biar tahu rasa kamu!” seru Jason sambil melemparkan kerikil itu pada kepala Roni.
Vino tertawa. “Ya enggaklah, Mas. Ada siy kemarin siapa itu… oh Pak Joyo yang bilang gitu. Cuman kami baik-baik aja kok! Semalem malah gue langsung pules sampai pagi.”
“Adooow… siapa niy yang nyambit aku?” Roni membalikkan badan sambil memegangi kepalanya yang sakit ketimpuk batu. Tidak ada siapa-siapa. Ia berbalik lagi, dan menatap Vino curiga.
Saat itulah terlihat Vira menghampiri mereka. "Siapa, Vin? Lama amat lo di depan?” teriaknya dari teras sambil mendekat.
Roni menatap Vira yang cantik dengan senyum manis. Lupa sama kepalanya yang disambit batu.
“Ini Kak Vira, tetangga baru kita. Mas Roni, depan rumah. Kita jadi ada tetangga dekat.”
Roni sudah menggerak-gerakkan tangannya. Vira mendekat pada keduanya. Vira tersenyum melihat Roni.
“Haiii… gue Vira. Kakak Vino. Baru pindah juga?” tanya Vira sambil mengulurkan tangannya, mengajak salaman.
“He’eh… eh, itu aku… ehm, namaku Roni…,” kata Roni rada grogi, bersalaman sambil menepuk-nepuk tangan Vira.
Jason kesal melihatnya. Ia langsung memukul tangan Roni.
“Adoooww…!” teriak Roni buru-buru melepaskan tangan Vira. “Kenapa kamu pukul aku? Kalau nggak mau salaman, jangan pukul!”
Vira melotot pada Jason. Vino heran dan menegur Roni. “Lah, kakak gue nggak mukul Mas Roni. Heran, dari tadi Mas Roni adow-adow terus. Padahal nggak ada yang ngerjain,” usik Vino.
Roni menatap Vira dan Vino bergantian. Matanya melotot syok. “Itu… jangan-jangan kalian bukan manusia… tapi han… tuuuu rumah ini,” Roni mundur-mundur dan langsung ngibrit ke rumahnya. “Kamu Vin, nggak usah bantuin. Aku takut kalau kamu hantu!” serunya.
Tinggal Vino dan Vira yang saling pandang. “Tahu tuh, Kak! Tadinya ramah ngajak kenalan. Gue mo bantuin nata barangnya. Eh, aneh malah bilang adow sambil megangin kepalanya. Kayak ada yang nimpuk. Lah gue diam aja padahal. Terus barusan. Jelas-jelas kakak cuma salaman dibilang mukul tangan. Cowok aneh! Udah Kak, masuk aja kita!” Vino kembali menutup gerbang.
Vira menarik telinga Jason. “Kalau terus-terusan bikin ulah, gue beneran usir elo!” seru Vira.
Melihat Vira seperti menarik telinga seseorang, Vino jadi heran. "Kak, latihan drama ya latihan. Cuman nggak di sembarang tempat. Ntar dikira kakak nggak waras,” kata Vino.
“Eh iya,” Vira melepaskan tangannya dari telinga Jason.
Jason mengelus-elus kupingnya. “Cantik, kamu jangan galak-galak deh!” seru Jason dengan nada memelas. Vira menoleh ke belakang dan memeletkan lidahnya.
SUARA jam dinding berdentang sebelas kali. Vino langsung keluar dari kamar dan menghampiri Vira yang bermalas-malasan nonton drama Korea. “Kak, wes wayahe. Order pizza kita.”
“Yooo…”
Vino langsung mengambil hape Vira yang tergeletak di meja. Mulai mencari menu pesan pizza online. “Kak Vira seperti biasa? Deluxe Cheese sama Strawberry Milkshake?”
“Iyo. Lo udah nanya Vini belom?”
“Ahaaa, sudah dong. Dia mo chicken wings sama garlic bread. Mo makan nasi pake sayap. Biar bisa terbang kali, hihihi… Tiap kita pesan pizza pasti nambahnya sayap teruuuz…,” kata Vino masih terus sibuk mencari sesuatu.
Vira tertawa. “Elo tuh, nggak boleh ngeledekin kesukaan orang. Lah elo pesen pizza nambahnya salad mulu. Kenapa nggak bikin sendiri aja?”
“Salad buahnya beda, Kak. Lebih enak. Bikinan Mama sausnya kurang nendang, hihi.… Jangan bilang Mama lho!”
Keduanya lalu tertawa bersama. “Rahasia kita, Bro!” seru Vira.
“Beres, Kak. Kali sejam lagi wes nyampe ya… Gue mo masukin baju-baju ke lemari. Banyak juga lho baju gue. Ntar mau gue pilih-pilih mana yang mo gue sumbangin.”
“Ntar gue teriakin deh kalau gerbangnya udah tingtong delivery pizza,” balas Vira.
Jason yang mendengarkan pembicaraan Vira dan Vino di dekat teve, mengangguk-angguk. “Jadi ada yang antar pizza? Aku tungguin aja deh!” seru Jason sambil meninggalkan Vira.
Namun Jason kembali lagi duduk di samping Vira, tanpa memperlihatkan dirinya kepada Vira. “Nanti aja. Kan gerbangnya bunyi, aku bisa terbang ke depan,” pikirnya.
Lalu Jason berdiri lagi. Dia mondar-mandir sejenak. Kemudian setengah berlari meninggalkan Vira.
Jason kembali areal kolam renang. Ia melihat kolam renang yang penuh itu dengan pandangan kurang suka. Lalu dengan segera ia mendekati saluran pembuangan air dan membukanya. Membiarkan air satu kolam renang kembali mengalir terbuang.
Jason tersenyum-senyum dan mengangguk-angguk. “Nggak akan ada yang bisa renang mendadak lagi, hehe… Kadang-kadang aku memang rada cerdas!” seru Jason sambil menepuk-nepuk dadanya.
Setelah itu Jason pun segera melompat-lompat setengah terbang menuju depan. Sekarang dia duduk manis di atas tembok di dekat pintu gerbang.
Vini menghampiri kakaknya. “Kak, kata Vino ada tetangga baru? Cakep nggak?”
“Biasa. Ngapain lo nanya-nanya? Naksir?”
Vini tertawa. “Ketemu juga belom, gimana naksir?” Tangannya mencomot brownies di meja. Dia lalu mengambil naskah drama milik Vira yang tergeletak begitu saja. Segera ia membaca tokoh-tokoh cerita dan sinopsisnya. Keningnya seketika berkerut dan memandang kakaknya.
“Kaaak…!” seru Vini keras.
“Iya. Gue nggak b***k. Deket gini ngapain teriak siy?”
“Ini naskah dramanya nggak ada tokoh Jason. Kenapa latihan tadi Kakak panggil-panggil Jason!”
“Ituuu… oh, gue lupa! Ya pentas dua jam. Maklum lah kalau ada yang kelupaan. Ntar gue apalin lagi deh,” Vira berusaha menyembunyikan kekagetannya. Vini terlihat tidak percaya, dan hendak membantah, tetapi…..
“Tingtong… tingtong….”
Terdengar bel gerbang yang sangat keras.
“Tuh, Vin. Elo aja yang ke depan. Nggak usah teriakin Vino! Elo terbang aja ke depan, kan tiap kali makan sayap,” goda Vira pada adiknya.
Vini langsung saja beranjak keluar. Dia tidak menghiraukan candaan kakaknya.
Sementara itu, Jason yang sudah duduk di tembok segera turun. Ia mendekati pengantar pizza.
Pengantar pizza bertanya. “Pesan pizza, Mas? Atas nama Vira…”
“Iya, aku.”
“Oke,” pengantar pizza menyerahkan bungkusan plastik besar kepada Jason.
Setelah pengantar pizza berlalu, Jason segera mengubah tampilannya seperti pengantar pizza. Dia menggerakkan tangannya dengan arah melingkar ke dalam di depan dadanya. Seketika tampilan Jason menjadi berseragam seperti pengantar pizza.
Jason membuka box yang bertuliskan pizza. “Ini yang namanya pizza? Huuh, ini siy ropang… roti panggang bulet doang!” omel Jason dan menutup kembali box pizza. Ia terus membuka-buka kotak plastik besar itu.
“Yang mana namanya cincai? Kenapa nggak ada tulisan cincai di makanan ini?” pikir Jason.
Saat itulah terdengar pintu gerbang dibuka. Jason segera menggerakkan tangannya pada kotak makanan. Semua box kembali utuh seperti semula dan berada dalam tas plastic besar. Jason sebagai pengantar pizza tersenyum manis pada Vini.
Vini melihat pengantar pizza dengan takjub. “Mas beneran yang antar pizza?”
“Iya, Kak. Aku antar pizza. Kenapa, Kak?”
“Astajim… ada ya tukang antar pizza seganteng Lee Min Ho gini?! Jadi artis aja, Mas. Pasti laris manis!” seru Vini ramai.
“Lee Min Ho? Siapa itu?” tanya Jason tidak mengerti.
“Itu Mas… ya ampun, masa Mas nggak tahu siy? Artis Korea yang lagi hits. Seluruh dunia kenal deh, Mas. Ganteng banget kayak Mas ini.”
“Artis itu apa? Korea? Kuda Troya maksudnya?” tanya Jason tampak bingung.
“Bukan, Mas. Korsel, Korea Selatan! Artis itu pemeran, aktor film.”
“Semacam korek api?”
Vini ngakak. “Bukan lah, Mas,” Vini mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan pada Jason. “Ini lho Mas, lihat!” Vini menunjukkan foto-foto Lee Min Ho dan view-view cantik Pulau Jeju, Korea.
“Nah, ini yang namanya Lee Min Ho. Ganteng kan? Kalau ini salah satu pulau di Korea.”
“Oh, Korea itu negara. Seperti Indonesia.”
“Nah, itu baru bener. Memangnya Mas dari udik mana sampai nggak tahu Korea?”
“Aku dari Nederland,” kata Jason.
Vini ngakak. “Nederland? Belanda?”
“Iyo, aku wong Londo!” seru Jason dengan suara lebih baritone.
Vini tambah lebar tertawanya. “Ada-ada aja Mas ini! Wong Londo bule, kok matane ora biru! Boso Jowo lagi!” seru Vini.
Jason tertawa. “Nggak semua orang bule matanya biru, Kak. Ada juga yang cokelat kayak aku. Aku bisa boso Jowo karena lama di Jawa. Eh, tapi serius, aku ganteng ya, Kak?!” tegas Jason.
“Iya. Sini selfie dulu deh! Ntar gue pamerin sama Kak Vira yang ngefans Lee Min Ho!” seru Vini sambil berulang mengambil gambar-gambar dirinya dengan Jason.
“Oke. Sudah beres!” Vini puas dengan hasil selfie-selfienya.
“Ini pizzanya, Kak. Selamat makan ya!” seru Jason menyerahkan plastik pizza.
“Iya, Mas. Makasih ya!” Vini menerima kantong plastik besar dari Jason dengan gembira.
Saat masuk rumah, Vira meneriaki Vini. “Lama amat terima pizza. Pake kencan sama yang antar?”
“Iya, Kak. Subhanallah, Kak! Pengantarnya ganteng banget! Mirip Lee Min Ho. Gue selfie-selfie dulu deh.”
“Lee Min Ho?!” seru Vira kaget.
“Iya, Kak. Lihat deh, foto-fotonya! Ada banyak kok yang gue ambil.” Vini meletakkan pizza di atas meja. Dia membuka-buka handphonenya dan melihat pada rekam gambar kamera. Foto-foto terbarunya dengan si pengantar pizza.
“Lhoh… lhoooh… kok nggak ada ya, Kak? Adanya kok cuman foto gue doang?” Vini panik dan heran.
“Lo selfie sendiri kali! Lagian mana ada tukang antar pizza ganteng. Kalau ganteng paling enggak jadi model lah!”
“Seriusan, Kak. Gue selfie-selfie kok,” kata Vini terdengar bingung.
Mata Vira melotot. Ia teringat sesuatu. “Jasooon…! Nggak bisa gue peringatin lo ya!” seru Vira dalam hati.
BERSAMBUNG