VIRA mengunci pintu kamarnya dan meneriaki Jason. “Jasooon… Keluar lo! Sudah kelewatan ngerjain adik gue! Buruan, keluaar…!” seru Vira.
Jason yang sedang malas menampakkan diri, hanya duduk di atas lemari pakaian Vira. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan tidak bersuara.
“JASOOON…!” Vira berteriak lebih keras dan membuka-buka lemari, serta memeriksa semua sudut di kamarnya.
Toh Jason hanya santai, tidak menghiraukan kemarahan Vira. “Bukan salahku kalau aku nggak bisa dipotret!” pikir Jason. “Lagipula, siapa yang gangguin adik kamu? Aku cuman jadi pengantar pizza sebentar.”
“Jason, di mana lo! Keluaaar…!” seru Vira berteriak lebih keras. Muka Vira terlihat sangat kesal dan gemas. Ia berulang melihat cermin untuk mencari Jason, toh Jason sama sekali tidak terlihat. Vira tidak bisa menemukan Jason.
“Doook… doook… doook….”
“Kaaak… Kak Vira, kenapa? Jangan teriak-teriak! Berisiik tahu!” seru Vino dari luar kamar Vira sambil menggedor pintu kamar kakaknya.
“Nggak pa-pa, Vin. Masih latihan teriak-teriak!” seru Vira. Mau tidak mau ia membuka pintu kamarnya. “Ada apa?”
“Latihan teriaknya suara sedang aja, Kak. Ntar kalau di panggung aja teriak yang kenceng. Sumpah, gue pake headseat aja suara Kakak masih kedengaran,” kata Vino. Wajahnya merasa terganggu.
“Sorry deh. Nggak lagi ya!”
“Oke, Kak!” Vino berlalu.
Vira menutup kembali pintu kamarnya dengan kesal. Ia meneliti seluruh sudut kamarnya. Namun ia tetap tidak bisa menemukan sosok Jason.
RUANG pimpinan di kantor Papa Vira. Suasana hening dan tegang. Hanya terdengar suara desir hembusan AC yang sangat perlahan. Toh, ruangan itu tetap terasa panas bagi Papa Vira. Di ruangan itu ada Pak Adam ---bos Papa Vira, Pak Bagas ---Papa Vira, Pak Rudi ---Kepala Keuangan, dan Pak Bayu ---Kepala Pengadaan Barang.
“Menurut bukti-bukti yang ditemukan, Pak Bagas,” kata Pak Adam, bos Papa Vira memulai pembicaraan. “Ditemukan transfer uang sepuluh milyar ke rekening Bapak. Tetap dengan tidak menuduh, Bapak terindikasi menggelapkan dana pengembangan infrastruktur pabrik. Bapak melakukan markup harga atas semua komponen pekerjaan proyek.”
Papa Vira merasakan seluruh badannya dingin. Keringat terasa membasahi punggungnya, meskipun udara ruangan itu sangat dingin. Namun ia berusaha tegar dan menjelaskan kepada pimpinannya.
“Tapi Pak Adam… saya sungguh tidak merasa melakukan penggelapan. Pertama, saya tidak melakukan markup harga atas apapun, kecuali yang telah diajukan dalam tender. Kedua, saya tidak pernah merasa menerima transferan sepuluh milyar. Jangankan sepuluh milyar, Pak, satu milyar aja nggak pernah. Transfer yang saya hanya gaji, bonus, dan fasilitas lain dari kantor, Pak.”
“Alaaa, Pak Bagas bisa aja bilang begitu. Mana ada siy maling yang ngaku?” sengit Pak Rudi. “Nyatanya bukti transfer sepuluh milyar itu ditemukan ke rekening Bapak. Lalu Pak Bagas melakukan penarikan tunai. Masih kurang bukti apalagi? Jelas-jelas Pak Bagas korupsi uang perusahaan!”
“Betul, Pak Bagas. Bapak bisa saja berkelit, tidak mengaku, toh bukti transfer itu benar. Pak Rudi sudah konfirmasi ke bank kalau uang tersebut memang masuk ke rekening Pak Bagas dan diambil tunai,” kata Pak Bayu.
“Tidak, tidak. Saya tidak tahu menahu soal ini,” kata Papa Vira.
“Ini lho, Pak!” Pak Rudi menyodorkan copy bukti transfer tersebut kepada Papa Vira.
Papa Vira melihat dan memperhatikan dengan seksama. Nama dan nomor rekening tersebut memang miliknya. Uang yang tertera di pengiriman tersebut memang sepuluh milyar. Namun jelas ia tidak menerima uang itu, karena saat transaksi pembelian rumahnya, uangnya hanya dua milyar lebih sedikit. Hanya pas untuk membeli rumahnya. Itupun hasil ngumpulin emas bertahun-tahun dan kemudian ditukarkan dengan uang, saat hendak membayar rumah.
“Kami dengar Pak Bagas baru beli rumah baru,” usik Pak Adam. “Kita juga tahu harga rumah di komplek Bapak itu kisaran dua puluhan milyar. Bisa diduga kuat, Pak Bagas menggunakan uang tersebut untuk membeli rumah.”
“Tidak, Pak. Rumah saya harganya hanya dua milyar. Bukan dua puluh milyar!” seru Papa Vira tegas. “Saya akan cek bukti transaksi ini dan konfirmasi ke bank. Saya tidak pernah merasa melakukan kesalahan pada kantor.”
“Tidak perlu, Pak. Kami sudah menyerahkan persoalan ini kepada pihak kepolisian. Sementara sampai kasus ini dibereskan, saya menonaktifkan Pak Bagas. Setelah kasus ini jelas, baru kita bisa ambil keputusan atas perbuatan Pak Bagas. Saya sungguh kecewa, Pak Bagas kan sudah bekerja dengan saya lebih dari lima belas tahun. Kalau perlu uang sepuluh milyar, Bapak bisa pinjam pribadi kepada saya. Tidak perlu melakukan penggelapan.”
“Tapi Pak Adam…” kata Papa Vira.
“Sudah. Kita masih banyak pekerjaan. Hari ini silakan bereskan meja dan di rumah saja dulu. Saya harap Pak Bagas mau bekerja sama dengan pihak kepolisian dan jangan mempersulit penyelidikan,” kata Pak Adam.
Pak Adam, pria dengan pembawaan kalem itu menatap Pak Rudi dan Pak Bayu bergantian. “Pak Rudi, Pak Bayu, bantu terus agar kasus ini segera jelas.”
“Siap, Pak!” seru Pak Bayu dan Pak Rudi hampir bersamaan. Keduanya segera meninggalkan ruangan Pak Adam.
“Pak Adaaam…!” seru Papa Vira.
“Sudah, Pak Bagas. Saya masih banyak urusan,” Pak Adam tidak mau disela lagi dengan pembicaraan Papa Vira.
Akhirnya Papa Vira melangkah meninggalkan ruangan Pak Adam dengan muka lesu. Sungguh mati, tak pernah sedikitpun ia berniat untuk menggelapkan uang perusahaan. Apalagi sepuluh milyar. Uang sebanyak itu pun, ia belum pernah melihat. Apalagi memegangnya.
Papa Vira kembali ke ruangannya diikuti dengan tatapan mencemooh dari beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya. Semua orang seperti sudah tahu kalau ia melakukan penggelapan uang perusahaan. Dan buruk sekali asumsi mereka, bahwa uang penggelapan itu untuk membeli rumah mewah. Rumah barunya yang baru dua hari ditinggali.
“Tidak… tidak… aku tidak akan membiarkan ini terjadi. Aku tidak melakukan perbuatan buruk itu!” seru Papa Vira dalam hati.
Papa Vira pun segera memeriksa e-banking nya dan memeriksa transaksi selama tiga bulan berturut-turut. Sungguh menyesakkan hati bahwa transaksi itu hanya tertulis penerimaan transfer sepuluh milyar dan penarikan tunai sepuluh milyar. Bagaimana bisa orang melakukan hal jahat ini kepadanya?
Papa Vira segera membereskan mejanya dan memutuskan untuk ke kantor istrinya. Lebih baik membicarakan persoalan itu kalau sudah bertemu. Tidak terlalu menyenangkan membicarakan hal buruk lewat telepon.
Setelah mengemasi barang-barang pribadinya, Papa Vira segera meninggalkan ruangannya. Kepergiannya pun diikuti dengan tatapan sinis dan cemoohan beberapa karyawan yang berpapasan dengannya. Tidak ada satu pun yang menyapanya seperti biasanya.
“Duh, Tuhan… dosa apa yang kulakukan sampai kena kasus begini?” batin Papa Vira. Namun ia tetap kelihatan tenang.
Saat di jalanan, tiba-tiba Papa Vira memutuskan untuk pergi ke masjid saja. Jam kerja istrinya masih lama. Lagi pula, membicarakan masalahnya bisa mengganggu pekerjaannya.
Papa Vira pun memarkir mobilnya di Masjid Istiqal dan kemudian dengan langkah perlahan masuk ke masjid agung tersebut.
“SUDAHLAH, Sil. Kamu nggak perlu menganggap serius hubunganku sama Vira. Ntar juga kita pasti putus. Aku cuman main-main aja kok sama dia,” kata Zacky pelan. “Aku tuh cintanya cuma sama kamu,” tambahnya.
“Aku nggak suka kamu terus-terusan nempel sama dia!” tegas Sisilia.
“Yach, kan untuk latihan. Mau pentas drama kita.”
Gadis cantik berambut panjang itu menatap Zacky lekat. “Kenapa kamu nggak putus aja sekarang?”
“Enggaklah. Vira itu pemain drama andal. Kalau aku bisa pacarin dia, paling enggak nama aku juga ikut keangkat saat main pentas. Dari pentas drama itu aku mau cari jalan jadi artis kondang!”
“Alasan!” seru Sisilia.
“Ya ampun, Sil. Kenapa kamu jadi emosian begini, siy? Kita kan sudah pacaran sejak kecil. Terus aku juga sudah bilang sama kamu waktu mau pedekate sama Vira. Kamu oke-oke aja. Jangan ngambek dong,” kata Zacky sambil meremas tangan Sisilia.
“Masalahnya aku jadi tersingkir. Setiap kali aku cari, kamunya sama dia. Aku merasa diduakan,” kata Sisilia.
Zacky tertawa. “Enggak lagi deh. Aku akan atur waktu sebaik-baiknya. Lagi pula kan sekarang rumah Vira jauh banget di ujung Depok sana. Nggak perlu bolak-balik ngapel,” kata Zacky sambil mencium tangan Sisilia. “Udah dong, jangan ngambek lagi ya!”
Sisilia tersenyum. “Iya deh, aku nggak marah kok. Cuma perlu penjelasan aja,” tambahnya.
Zacky dan Sisilia pun saling pandang. Muka mereka hangat oleh cinta dan perhatian. Saat itulah Roni masuk ke Kafe Ceria. Ia sedikit tersenyum melihat kelakuan pacaran kedua sahabatnya ini.
“Hai, Ron! Jangan bengong gitu, dah! Ayo, segera pesan makan minummu, baru kita kerjain tugas kelas kita!” seru Sisilia yang melihat kecanggungan Roni. “Lagipula elo kan sudah sama kita sejak kecil. Tumben keik canggung gitu.”
“Eeh, iya. Ngerasa gue datang di waktu yang nggak pas.”
“Ya pas lah, kan gue sama Zacky nggak sedang pacaran. Mo ngerjain tugas kuliah sama elo,” kata Sisilia.
“Betul, Ron. Makanya lo segera cari cewek. Biar kita bisa double date,” usik Zacky.
“Ahaa… iya niy… belum ketemu aja yang nyantol,” kata Roni. Namun tiba-tiba melintas bayangan Vira di benak Roni. Lalu ia tersenyum sendiri.
“Eh, lo kok senyum-senyum gitu. Udah ada gebetan ya?!” usik Sisilia.
“Apaan siy?! Belum. Enggak. Cuman inget sesuatu.”
“Pasti cewek kan?” usik Zacky.
“Ah, lo sok tahu aja, Bro!” seru Roni sambil melambaikan tangannya pada pelayan.
“Cantik ya?” usik Sisilia.
Roni tidak menggubrisnya. Ia memperhatikan menu dan mencatat pesanannya.
“MAMA masih deg-degan nggak percaya dengar kasus Papa ini. Kenapa nggak telepon dari siang tadi siy, Pa?” usik Mama Vira, saat Papa Vira menceritakan kejadian yang dialami kepada istrinya.
Mobil mereka sedang membelah jalanan malam Jakarta, yang meskipun masih diberlakukan pembatasan sosial besar-besaran, toh tetap macet dan sibuk.
“Papa mau tenang dulu, Ma. Lagipula papa pikir kalau mama dengar dari siang, pasti akan terganggu kerja sepanjang hari.”
“Iya, betul juga,” kata Mama Vira. “Terus sekarang apa yang harus kita lakukan, Pa?”
“Papa juga belum tahu, Ma. Tadi papa juga sudah telepon bank, katanya pengambilan uang tunai itu menggunakan surat kuasa valid. Setelah itu, mereka tidak bisa lagi melacak siapa dan ke mana uang tunai itu.”
“Ada-ada aja ya, Pa. Baru aja kita gembira bisa pindah rumah besar, kini dapat ujian kasus gini. Aah, tiba-tiba mama nggak laper lagi, Pa.”
Papa Vira tertawa. “Ya jangan, Ma. Nanti kalau mama kurus, kurang cantik lagi!” serunya. Keduanya pun tertawa.
“Ahaaa. Ya sudah, kita terima saja dengan lapang. Tuhan kan nggak tidur. Masa kita nggak pernah jahatin orang kena kasus gini nggak dibantuin.”
Papa Vira menoleh pada istrinya. “Nah, itu baru istri Papa. Wanita yang optimis dan selalu semangat.”
Mama Vira tersenyum. “Kita nggak usah cerita ke anak-anak ya, Pa. Kasihan kalau mereka ikut mikirin.”
“Iya. Papa yakin kok, pelaku sebenarnya pasti akan ketangkap. Kalau kita nggak bisa tahu siapa yang ambil uang tunai itu. Tapi pihak kepolisian bisa minta CCTV untuk ngecek siapa orangnya. Dari sana mestinya bisa dilacak semuanya.”
“Betul. Kita berdoa aja kasus ini sampai selesai. Cuman Papa bilang apa kalau anak-anak nanya papa di rumah terus?”
“Kebetulan masih pandemi. Tinggal bilang kerja dari rumah saja.”
“Ahaha…. Ya ada untungnya juga masa pandemi ini,” kata Mama Vira tenang.
Sebenarnya Mama Vira masih resah memikirkan kasus suaminya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau kasus itu tidak terbukti. Lalu suaminya tetap menanggung semua beban tersebut? Mengembalikan uang sepuluh milyar? Uang siapa yang mau dipakai? Suaminya mendekam di penjara? Sungguh ia tidak pernah memikirkannya. Apalagi nanti dampaknya pada anak-anak!
Tiba-tiba Mama Vira menoleh pada suaminya. “Kita mampir beli makan matang aja, Pa. Mama ngerasa nggak ada energy lagi buat masak.”
“Coba WA anak-anak saja. Biar mereka pesan makan online.”
“Oh iya, betul. Mama kadang terlalu lola ---loading lama, untuk mikirin sesuatu.”
Papa Vira tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya tersenyum dan kemudian berkonstrasi penuh pada setir. Jalanan sudah mulai lega saat sudah keluar dari Jakarta.
VIRA tampak serius membaca situs-situs tentang penangkapan hantu. Ia merasa tidak bisa kompromi lagi dengan perbuatan Jason. Sayangnya, para penangkap hantu itu kebanyakan berada di luar negeri. Bukan di Indonesia. Kalau di Indonesia adanya dukun, paranormal, tukang santet, dll yang setipe dengan dunia supranatural.
Para penangkap hantu itu bisa dipanggil untuk menangkap hantu penasaran yang berkeliaran dan mengganggu. Tentu penangkapan hantu tersebut tidak gratis. Mereka meminta bayaran. Jumlah bayarannya tergantung sulit atau mudahnya menangkap hantu.
Dalam berbagai situs itu dijelaskan, para penangkap hantu akan datang melihat tempat keberadaan hantu. Baru setelah dari sana, mereka bisa memutuskan hendak minta bayaran berapa dan berapa lama bisa menangkap hantu tersebut.
“Kayak detektif nangkap penjahat aja,” kata Vira dalam hati.
Tapi dipikir-pikir oleh Vira, menangkap hantu memang seperti itu. Tidak ada yang tahu keberadaan si hantu, kecuali mereka yang bisa melihatnya. Itu pun terbatas. Dan tidak setiap orang pula bisa berinteraksi dengan hantu.
Jangankan berinteraksi, bertemu muka saja sudah sangat ketakutan. Apalagi kalau di Indonesia, kebanyakan hantu diwujudkan dengan wajah-wajah yang seram dan mengerikan.
Begitu seriusnya Vira mencari artikel tentang penangkap hantu, ia seolah tidak menyadari keriuhan yang terjadi di rumahnya. Mama dan papanya sudah pulang. Adik-adiknya pun keluar dari kamar masing-masing. Mereka sudah bersiap diri hendak makan malam.
“Kak Viraaa…. Makan malam sudah siap!” teriak Vini dari ruang makan.
“Hussh, Vini… kamu tuh anak perempuan, teriak-teriak. Sana to, ke kamar kakakmu ajak makan!” seru mamanya.
“Duuh, Kak Vira ini emang manja. Sedari tadi ngurung diri aja di kamar. Heran, apa kerjaannya!” seru Vini rada kesal.
“Bikin disain cover sama latihan drama, Kak Vin,” sahut Vino sambil tertawa.
“Elo tuuuh… nggak pernah belain gue. Mesti Kak Vira aja yang dibelain,” kesal Vini.
“Iya, iya. Ini gue udah keluar. Ayo makan,” kata Vira yang tahu-tahu sudah nongol di ruang makan.
“Kirain masih mo teriak-teriakin nama Jason,” balas Vini masih kesal.
“Siapa Jason?” tanya Mama dan Papa Vira bersamaan.
“Itu… uhm…,” Vira kebingungan.
“Biasa Ma, Pa…. tokoh di drama Kak Vira,” sahut Vino.
“Aha… ya itulah, Ma, Pa,” kata Vira. Vino tertawa. Vira pun toss dengan adiknya Vino.
“Tuh kan, kalian berdua emang penuh rahasia,” usik Vini. Vira dan Vino hanya tertawa mendengar perkataan Vini.
“Ya sudah, kalian makanlah dulu. Mama Papa masih cukup kenyang.”
Vira, Vini, dan Vino pun segera makan. Mereka berceloteh dan bercerita apa saja satu sama lain. Orang tuanya menanggapinya dengan tenang. Kebersamaan di keluarga itu memang dibangun setiap sarapan pagi dan makan malam. Waktu yang sekurangnya semua orang ada di rumah.
PAPA dan mama Vira sudah siap dengan kostum renangnya. Mereka sudah berada di areal kolam renang. Seketika mata papa dan mama Vira melotot. Kolam renang itu kosong melompong. Kering bersih tidak ada airnya.
Seketika Papa Vira berteriak menggelegar. “VIRAAA… VINIIII… VINOOO...!”
BERSAMBUNG