VIRA terkejut mendengar teriakan papanya yang sangat keras. Ia segera membuka pintu kamar dan buru-buru mencari papanya. Saat keluar kamar, ia berpapasan dengan Vini dan Vino.
“Ada apaan siy, Kak? Heboh banget kayaknya Papa,” kata Vini.
“Nggak tahu, gue juga heran,” balas Vira.
Vino tidak berkata apa-apa, selain mengangkat kedua bahunya. Ketiganya segera bergegas menuju areal kolam renang.
“Kenapa siy, Pa?” tanya Vino begitu sudah dekat dengan orang tuanya.
“Kenapa, kenapa!! Coba lihat itu!” seru papanya menunjuk kolam renang yang kosong melompong. Kering tanpa air. Vino dan Vira pun memperhatikan apa yang ditunjukkan papanya.
“Haaaa…?!” spontan Vira dan Vini berteriak.
“Ya ampun, Jason, lo sungguh kelewatan! Kali ini gue nggak bisa diem aja. Ini gegara lo, bikin Papa Mama nggak bisa renang! Gue harus cari penangkap hantu!” seru Vira dalam hati.
“Kok kosong lagi?!” seru Vini heran.
“Kosong lagi? Jadi tadi kalian sudah mengosongkan kolam renang?” Mama ikutan nimbrung.
“Bukan gitu, Ma… itu…,” Vino tiba-tiba merasa kesulitan menjelaskan. “Jadi gini, Ma, Pa… tadi pagi kan Vino sama Kak Vini renang. Terus Kak Vira juga nyusul. Nah, tahu-tahu kok itu… air kolam berkurang.”
“Coba sekarang kamu cek saluran pembuangan air!” seru Papa.
Vino pun segera bergegas menuju tempat pembuangan air. Saluran pembuangan air itu tertutup, tidak terbuka. Vino seketika bingung. “Aduh, terus air sekolam itu ke mana?” pikir Vino dalam hati.
“Bener, Pa. Sama Vino dikira bocor. Eh, ternyata ada yang membuka saluran pembuangan air. Jadi Vini tutup lagi dibantuin Vino. Terus kita isi air lagi sampai penuh,” terang Vini. Dia pun meneriaki adiknya yang ada di dekat saluran pembuangan air. “Gimana, Vin? Saluran buang terbuka lagi?” teriaknya.
“Enggak, Kak Vini. Nggak tahu ke mana air kita sekolam!”
“Lalu ke mana air sekolam?” tanya Mama ikutan bingung.
“Nggak tahu deh, Pa, Ma. Aneh aja ini,” kata Vini.
“Betul begitu, Vira? Apa yang dikatakan Vini dan Vino itu kamu juga tahu?” tanya Papa pada anak sulungnya yang sedari tadi diam.
“Eeh, iya, betul begitu, Ma, Pa. Cuman kalau sampai habis kosong melompong gini, Vira juga bingung kenapa.”
“Jadi maksud kalian ini apa siy?” Mama mulai terlihat tidak sabar. “Saluran pembuangan tertutup. Terus air nggak ada. Memangnya air bisa keluar sendiri dari kolam ini?” tanya Mama kesal.
“Tahu deh, Ma…,” kata Vino asal.
Papa memeriksa saluran pembuangan air. “Barangkali penutupannya tidak sempurna, sehingga air habis,” pikirnya. Papa kembali menghampiri Mama.
“Sudah, Ma. Kita renang besok saja. Malam ini biar kita isi lagi,” kata Papa menyalakan kembali pompa air.
INSIDEN Papa dan Mama Vira, membuat Vira bertekat untuk mencari penangkap hantu di rumahnya. Kalau setiap kali Jason membuang air di kolam renang, lama-lama tagihan listrik di rumahnya pasti akan melonjak drastis.
Malam itu Vira mencatat beberapa nama dan contact yang didapatnya dari internet. Vira tidak mengetahui kalau saat itu Jason tidur bermalas-malasan di tempat tidur Vira. Ia sedang enggan untuk menyapa atau bermain-main dengan Vira. Ia hanya memperhatikan segala sesuatu yang dilakukan Vira tanpa mengusiknya.
“Took… took… toook…!”
Terdengar ketukan pintu di kamar Vira. “Siapa?”
“Gue, Kak!” seru Vino dari luar.
Vira membuka pintu. Melihat adiknya dan mempersilakan masuk. Vino duduk di tepi tempat tidur kakaknya. “Kak, kayaknya emang ada yang aneh dari rumah kita, kok.”
“Huush…,” kata Vira tidak mau Vino takut.
“Iya. Karena gue pikir, pas air kolam tiba-tiba berkurang itu pasti ada yang buka salurannya. Terus pas Mas Roni datang, pasti ada orang yang nimpuk dan mukul tangannya. Lalu cerita Kak Vini soal pengirim pizza. Sama kejadian barusan ini. Kayaknya yang dibilang Pak Joyo itu ada benernya, Kak.”
“Maksudmu rumah ini ada hantunya?” usik Vira.
“Iyo.”
“Uhmf…”
“Kayaknya Kakak sudah tahu kan kalau hantu itu bernama Jason?” tanya Vino dadakan.
“Haaah?! Appaa?!” tanya Vira kaget.
Vino tertawa. “Soalnya, nggak mungkin Kakak sampai lupa nama tokoh utama di cerita drama. Kak Vini bilang, di naskah itu nggak ada nama Jason.”
“Ituuu…”
“Udah deh, Kak. Gue siy maklum kalau rumah ini ada hantunya. Kan orang-orang bilang rumah di komplek ini harganya sepuluhan ke atas. Kenapa coba Papa bisa dapat murah banget. Ya, kali karena kosong bertahun-tahun nggak laku. Ada hantunya.”
“Uuuhmf….”
“Beneran Kakak udah liat hantunya?!”
Vira terpaksa mengangguk. “Iya. Gue lihat siy dia usil aja. Nggak jahat gitu kayaknya. Terus tampangnya emang nggak serem. Cuman kalau buang-buang air kolam renang terus, bisa bangkrut kita!”
“Oh, dia pelakunya? Makanya Kakak marah-marah waktu di kolam renang tadi pagi?”
“Ho’oh. Sungguh kelewatan.”
“Ya wes, Kak. Kita tangkep aja. Biar dibuang ke laut atau mana kek, yang penting nggak tinggal di rumah kita!”
“Puuuk….!” Jason yang semula berbaring di tempat tidur Vira, seketika duduk dan menepuk kepala Vino.
“Enak aja mau buang aku! Aku yang lebih dulu tinggal di rumah ini! Kenapa harus diusir pergi? Kan kalian yang datang belakangan!” kata Jason tidak terima.
“Aduuuh, kenapa ini kok ada yang nimpuk gue?” kata Vino sambil memegangi kepalanya.
Vira tertawa. “Dia pasti ada di sekitaran sini. Entah di mana,” kata Vira sambil memperhatikan sekeliling, tetapi ia tidak melihat keberadaan Jason.
“Dia nggak usil sama Kakak?”
“Tahu tuh. Gue siy nggak takut sama hantu. Biarin aja dia sana-sini, asal nggak nggangguin gitu lho. Cuman si Jason ini sudah mulai bikin kerugian!”
“Kira-kira siapa yang bisa nangkep ya, Kak?”
“Kagak tahu.”
“Kali aja Pak Joyo tahu, Kak.”
“Ah, ya?! Kalau ngelihat dandanannya, mestinya dia suka yang gitu-gitu deh.”
“Ho’oh.”
“Siip. Besok aja kita cari dia!”
Vino mengangguk. “Oke deh, Kak. Gue tidur dulu. Kakak ati-ati, jangan sampai dikerjain sama si hantu.”
“BENERAN, Vin?” tanya Vini kepada adiknya. Mereka berdua sudah berada di halaman depan. Masing-masing membawa sepedanya.
“Iyo. Si Jason itu hantu yang dilihat Kak Vira.”
“Gue juga udah liat, tahu. Nha itu si pengantar pizza. Konyol banget, gue bisa kehilangan gambar selfie. Jelas-jelas gue foto sama dia,” kata Vini.
“Yo wes, nanti kita ikutin Kak Vira aja. Cari penangkap hantu.”
“Mama Papa nggak dikasih tahu?”
“Sementara belum.”
“Terus kalau penangkap hantunya minta bayaran gimana?” tanya Vini.
“Entah. Kak Vira nggak bilang. Kayaknya kita liat situasi dulu deh. Lagipula Pak Joyo juga belum tentu tahu penangkap hantu.
“Kalian sudah siap?” tanya Vira yang baru datang dengan sepedanya. Di keranjang sepedanya ada bungkusan tas kertas. “Ayok, segera kita pergi. Mumpung Papa hari ini nggak ke kantor.”
Mereka bertiga pun segera meninggalkan halaman rumah mereka. Ketiganya menyusuri jalan komplek yang besar dan lengang. Kiri kanannya penuh dengan pohon-pohon palem yang besar dan hijau. Di sepanjang taman ada berbagai tanaman dengan bunga berwarna-warni. Kawasan yang asri.
Komplek perumahan megah dengan cita rasa pemukiman perdesaan yang asri. Di seberang komplek ada persawahan yang menghijau. Kawasan tersebut masih berupa kawasan perdesaan dengan perkampungan penduduk.
“Rupanya Pak Joyo ini cukup kaya. Rumahnya ternyata di komplek,” kata Vino saat mereka sudah sampai di depan rumah Pak Joyo. Mereka memarkir sepeda dan segera memencet bel gerbang.
PAK JOYO membuka pintu gerbang dan melongok keluar. “Eh, kalian… yang tinggal di rumah berhantu itu kan?”
“Ahaaa… iya, Pak Joyo. Bapak hafal aja sama kita. Boleh kita mampir bertamu?” tanya Vini.
“Oh, boleh-boleh. Saya juga pingin dengar cerita kalian beberapa hari tinggal di rumah itu!” seru Pak Joyo sambil membuka gerbangnya lebih luas.
Vira dan saudaranya segera membawa masuk sepeda mereka. Setelah itu mereka pun pergi ke teras rumah Pak Joyo. Vira memberikan bungkusan berisi buah-buahan kepada Pak Joyo. “Oleh-oleh dari kami, Pak.”
“Oh, repot-repot segala. Terimakasih, ya!”
Bu Joyo, seorang perempuan dengan dandanan Jawa muncul dengan minuman dan camilan. Dia menggunakan kain batik dan kebaya lurik. Rambutnya disanggul sederhana model sanggul rumahan. Walaupun sudah paroh baya, masih terlihat kalau Bu Joyo memiliki wajah yang menarik perhatian.
“Wah, saya senang sekali ada tetangga mau main ke sini. Ayo, ayo dinikmati. Mumpung pisang gorengnya masih hangat,” kata Bu Joyo.
Vira, Vini, dan Vino saling memandang. Namun Vino segera makan dan minum, mencairkan suasana. Sementara Vini dengan enteng menceritakan apa yang telah dialaminya.
Pak Joyo manggut-manggut. “Sudah saya duga. Kalau begitu, hantu itu memang harus diusir,” kata Pak Joyo.
“Nha, itu dia. Apa Pak Joyo tahu siapa yang bisa mengusirnya?”
“Panggil Ki Joglo Semar aja. Dia kan sering mengusir hantu,” usul Bu Joyo.
“Bener katamu, Bu,” sahut Pak Joyo. Dia pun segera mengambil handphonenya dan menelepon.
“Wah, jadinya nggak bisa ya, Ki. Tolonglah, ini penting biar komplek saya juga aman dari gangguan hantu.” Jeda. “Ya baiklah, ditunggu ya, Ki.”
Pak Joyo meletakkan handphonenya. Ia menatap Vira dan kedua saudaranya bergantian.
“Dia lagi sibuk. Katanya nanti akan kirim contact asisten dukun untuk menangkap hantu,” terang Pak Joyo.
“Berapa kita harus bayar dukun itu, Pak?” tanya Vira.
“Murah. Biasanya hanya dua juta sekali datang.”
“Haah?! Kalau buat ngusir hantu itu lama, tiap dia datang kita harus bayar dua juta?” usik Vini.
“Iya. Di luar persiapan yang harus disediakan. Kembang, menyan, dupa, telur ayam, ingkung komplet, minyak wangi. Biasanya siy, sekali sudah pergi hantunya.”
“Oh, baiklah. Kapan dukun itu bisa datang?”
“Kalian maunya kapan?”
Vira, Vini, dan Vino berpandangan. Mereka berhitung. Sampai akhirnya Vira bicara. “Besok aja deh, Pak Joyo. Dia suruh beli sekalian peralatan dan kebutuhannya. Ntar kita ganti sama bayaran dua juta itu.”
“Oh, siap-siap. Nanti saya bilang. Besok pagi saya antar ke rumah kalian deh,” kata Pak Joyo kelihatan senang.
Setelah dirasa selesai, Vira dan kedua adiknya segera meninggalkan rumah Pak Joyo. Mereka terlihat lebih lega. Kini mereka mengayuh sepeda menuju rumah dengan penuh harapan.
“VINOOO….!” Seru seseorang dari seberang.
Vino dan kedua saudaranya segera mendekat. Roni tersenyum pada Vira. Sementara Vira biasa saja. Vini yang belum tahu siapa sosok itu, hanya memperhatikan.
“Hai, Mas Roni…. Mau ke mana?” tanya Vino melihat Roni memakai sepeda juga.
“Mo ke depan situ. Cari garam sama telur. Eh, ini semua saudara kamu?”
“Iya. Ini Kak Vini. Kemarin belum jumpa kan?”
Vino menatap Vini. “Ini Mas Roni, tetangga seberang rumah kita, Kak.”
Vini mengulurkan tangannya pada Roni. “Hai, Mas. Gue Vini!” kata Vini sambil mengulurkan tangannya pada Roni. Vini memperhatikan betul sosok cowok di depannya.
“Hai Vin, berarti kamu kakaknya Vino, adiknya Vira?” tanya Roni.
“Betul.”
“Kalian dari mana ini?”
“Muter komplek aja, Mas,” kata Vino.
“Ya udah deh, kita terusan dulu ya, Mas Roni. Masih ada banyak pe-er,” kata Vini tiba-tiba. “Daaah….” Vini mendahului mengayuh sepedanya.
“Cabut kita, Mas….” kata Vino mengikuti kakaknya. Vira pun hanya tersenyum dan mengikuti kedua adiknya.
PAGI itu di rumah Vira hanya ada Vira dan kedua adiknya. Papa dan mama mereka sudah berangkat pagi-pagi. Mereka sedang menunggu Pak Joyo dan dukun pengusir hantu. Vira sudah menyiapkan uang yang akan digunakan untuk membayar si dukun.
“Kali aja nanti hantunya langsung ilang ya, Kak? Dua jeti yeee… gila, jadi dukun cepet tajir ini. Itu Pak Joyo dapet komisi enggak ya?!” tanya Vino sambil ngikik. “Apa gue jadi dukun aja kali?”
Vira dan Vini tertawa. “Yang ada, sebelum ketemu hantu, elonya sudah kabur.”
“Ho’oh. Ini aja gue rada takut. Gimanapun itu Jason tetep hantu. Dianya lihat kita. Kita nggak selalu bisa lihat dia.”
Jason yang ada di sekitar mereka tersenyum. “Nha, itu kelebihan hantu,” kata Jason senang. “Aku mau lihat seperti apa kehebatan pengusir hantu yang dibawa lelaki tua itu. Nggak kapok-kapok dia cari gara-gara sama aku!” seru Jason.
“TIIING… TOOONG…. TIIING… TOOONG…”
“Nah, kayaknya itu dukunnya, Vin! Sana kamu bukain!” seru Vira pada Vino. Biar ini meja kakak rapiin!”
Vino pun segera berlalu. Tidak terlalu lama, ia sudah kembali bersama Pak Joyo dan seorang lelaki muda. Dia mengenakan pakaian Jawa, bersurjan, dan mengenakan blangkon khas Jogja. Memakai kaca mata hitam. Memakai anting di kedua telinganya. Kakinya pun memakai sandal selop. Terlihat sangat Jawa, tapi nyentrik. Dia membawa aneka barang di dalam tas yang cukup besar.
“Ini dukun yang dikirim Ki Joglo Semar. Namanya Dukun Gunting. Biar bisa menggunting semua makhluk halus yang mengganggu manusia,” kata Pak Joyo dengan mantap.
Vira, Vini, dan Vino hanya tersenyum. Vino sebenarnya ingin tertawa melihat penampilan si dukun, tetapi ditahannya saja.
“Ritualnya mau dilakukan di mana?” tanya si Dukun Gunting.
“Di sini, saja Mbah…,” kata Vira. “Meja ini boleh digunakan untuk meletakkan semua barang ritual.”
Sang Dukun pun segera mengeluarkan dan menata barang-barangnya. Ada berbagai bunga, kemenyan, dupa, minyak wangi, telur ayam, satu nampan ingkung utuh, dan berbagai perabotan kecil ritual mengusir hantu. Dia segera meletakkan barang-barang tersebut pada tempatnya. Lalu membakar dupa dan kemenyan.
“Kalian bersiap-siaplah menyaksikan penangkapan hantu paling heboh!” seru Dukun Gunting dengan penuh rasa percaya diri.
Dia pun meletakkan satu botol kaca yang terbuka. “Ini untuk mengurung si hantu.”
Tidak lama kemudian, si Dukun segera bersiap dengan sikap seperti semedi. Mulutnya berkomat-kamit membaca mantra entah apa. Pak Joyo menyaksikan dalam diam. Demikian pula Vira dan saudara-saudaranya.
Sementara itu, Jason yang ada di ruangan itu hanya tersenyum meremehkan. “Kalau cuman begitu saja, nggak bisa lah menangkap aku!” serunya.
Lalu Jason pun mulai usil. Dia meniup dan mematikan semua dupa dan kemenyan.
Dukun Gunting menyalakan dupa dan kemenyan lagi. Jason pun mematikan lagi. “Gitu aja kalah, kok mau nangkep aku!” seru Jason.
Sekali lagi Dukun Gunting menyalakan kemenyan dan dupa. Tiba-tiba Jason menendang p****t Dukun Gunting, sehingga sang dukun jatuh bergulingan. Vira dan saudaranya tidak bisa menahan tertawa.
“Adooow…. Siapa yang nendang aku?!” seru Dukun Gunting heran.
“Kamu yang kurang ajar! Sudah tahu ini rumahku, mau pakai nangkep aku segala! Apa mau ganti kamu yang aku tangkap?!” balas Jason. Hanya terdengar suara Jason, tanpa terlihat wujud.
Jason lalu mengangkat tubuh Dukun Gunting itu hingga melayang-layang di udara. Kemudian menjatuhkan tubuh Dukun Gunting di sofa.
“Nah sono, lebih bagus kamu pergi! Nggak usah minta bayaran segala. Kerjaan kok dukun palsu!” seru Jason marah.
“Haaaah… haaaah…. Haaan… tuuuuu….” Dukun Gunting itu pun segera bangkit dari kursi dan lari terbirit-b***t meninggalkan rumah Vira.
Sementara Pak Joyo nampak kesal. “Astaga… rupanya hantu di rumah kalian ini kuat sekali. Sampai Dukun Gunting aja nggak bisa mengatasi. Sini, kasih saya uang komisi. Besok saya carikan dukun yang lebih bagus!” seru Pak Joyo kesal.
“Buuuk…!” tiba-tiba Jason menggebuk tubuh Pak Joyo. Tubuh lelaki paroh baya itu hampir oleng dan nyaris terjatuh.
“Kakek tua mata duitan. Sana, cari dukun asli dulu sebelum minta uang!” seru Jason sambil berkacak pinggang di depan Pak Joyo. Sesekali dia melompat-lompat dari sisi kanan ke kiri.
“Kaa… muuu…. Kamuuu… Haann… tuuuu….!” Pak Joyo bangkit dan segera berlari terbirit-b***t meninggalkan rumah Vira.
“Haaa…. Haaa… sana pergilah jauh-jauh!” seru Jason dengan senang hati.
Dia pun duduk di depan nampan yang penuh makanan. “Sekarang lebih bagus aku makan telur ayam dan ingkung ini!” Jason pun segera menghabiskan makanan yang dibawa Dukun Gunting.
Vira, Vini, dan Vino hanya melihat makanan yang ada di nampan semakin sedikit dan habis. Mereka hanya bisa melotot syok, ketika akhirnya dupa dan kemenyan pun ikut lenyap dari nampan.
BERSAMBUNG