Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Dan masih belum ada tanda-tanda kalau Raka hendak bangun dari tidur nyenyaknya. Yola yang melihat Raka tertidur nyenyak pun memandang dan tersenyum.
"Dia... Manis juga." Batinnya.
Yola terus memandang wajah Raka yang sedang tertidur hingga ia dikejutkan oleh pergerakan dari Raka.
"K... Kamu udah bangun?" Tanya Yola dengan wajah merona.
"Kamu ngapain di kamar aku?" Raka bertanya dengan ekspresi terkejutnya.
"Aku mau bangunin kamu buat sarapan. Tapi kamu tidurnya pules banget." Jawab Yola dengan senyumnya.
Raka mengucek matanya sejenak dan melihat ke arah jam yang telah menunjukkan pukul 07.05.
"Udah jam segini aja. Untung terbangun." Batin Raka.
Tanpa menghiraukan keberadaan Yola, Raka mengambil handuknya dan menghamburkan dirinya ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
***
Yolanda POV
Hantu? Ya! Aku ini hantu. Tapi aku hantu yang hanya jahat ke beberapa orang saja. Masa laluku? Aku tidak ingin menceritakan masa laluku yang kelam. Dan aku juga tidak ingin mengingatnya.
Kini, aku tinggal di rumah Raka, salah satu cowok favoritku. Well, bagaimana pun juga hantu kan bisa jatuh cinta juga. Hehehe.
Aku sudah lama mengamati dia dari alam fana, tempat dimana aku bisa mengamatinya tanpa ketahuan. Tapi, suatu hari karena penasaran, aku pun merubah diriku menjadi wujud seorang gadis cantik yang bisa dilihat hanya olehnya.
"Woi, kamu ngapain bengong?" Suara itu mengagetkanku dari acara bengong.
"Raka! Sejak kapan kamu turun?" Tanyaku.
"Sejak tadi. Kamu kenapa sih? Kok tiba-tiba melamun gitu? Kesambet hantu baru tahu rasa loh." Ledek Raka.
"Kan aku hantu. Mana mungkin aku bisa kesambet hantu. Kamu ini ada-ada aja." Aku membalas ledekannya.
"Eh bisa aja kayak yang di film-film. Apa tuh namanya, hantu kesambet hantu." Ucap Raka sambil tertawa.
Aku hanya terkekeh mendengar ucapan dari Raka. Dia lucu, ngegemesin, pikirku.
Aku merasakan rona merah di wajahku. Oh tidak! Jangan katakan kalau aku menyukainya.
"Kenapa tuh muka merah? Udah kayak tomat aja." Rakw kembali meledekku.
"Apaan sih! Habisin makananmu sana!" Bentakku kesal.
"Dih! Gitu aja sewot. Gak asyik!"
Aku pun menghilangkan diriku dari hadapan Raka. Tapi sekarang, aku malah berada di kamarnya.
"Tapi, dia memang lucu sih. Jarang aku ketemu cowok yang begitu." Batinku.
Aku memegang wajahku yang merona dan tersenyum.
"Suara motor? Raka sudah mau berangkat. Aku harus mengikutinya.
"Dengan segera, akupun keluar dari kamar Raka dengan menembus pintu.
***
Author POV
Sepanjang perjalanan menuju ke kampus, Yola selalu mengikuti Raka dari belakang motornya. Sebenarnya Raka mengetahui ini karena dia sempat melihat bayangan Yola dari spionnya.
"Reseh banget sih ini orang!" Batinnya.
Raka memarkirkan motornya begitu sampai di kampus.
"Liat siapa yang baru saja sampai!"
Raka yang mengenal suara tersebut hanya mendelik malas dan memilih menghindar dari senior reseh tersebut.
"Woi! Gak sopan amat lo sama senior!"
"Gue lagi males berurusan sama lo. Mending lo minggir deh."
"Wuih! Sombong banget lo! Eh inget, lo cuma ngandelin beasiswa masuk ke kampus ini! Jadi lo gak usah belagu!"
Raka berusaha menahan emosi mendengar hinaan dari seniornya tersebut.
"Udah? Puas kan? Sekarang lo minggir deh. Gue mau lewat." Ucap Raka cuek.
Angga geram dengan ekspresi cuek dari seorang Raka Ardy Setiawan ini pun hendak melancarkan pukulannya. Tapi, pukulan itu tidak pernah mendarat di wajah Raka. Sementara itu, Raka terlihat tersenyum mengetahui siapa yang menahan tangan Angga. Yola memberi kode kepada Raka untuk segera masuk ke dalam kelas.
"Woi! Jangan lari lo! Urusan kita belum selesai!" Teriak Angga.
Angga yang tidak bisa menggerakkan tangannya akibat ditahan oleh Yola pun berusaha berontak.
"Ini apasih yang nahan tangan gue?!" Gerutunya.
Yola tersenyum licik setelah berhasil mengerjai Angga.
"Mampus lo! Siapa suruh lo ngerjain dia." Batin Yola.
Ide iseng muncul di pikiran Yola. Dia menyentil telinga dari Angga yang menyebabkan Angga merasa kesakitan. Setelah merasa cukup, Yola pun menyudahi acara jahilnya tersebut dan melepaskan Angga.
"Lain kali, kalok mau ngerjain orang itu liat-liat dulu siapa penjaganya." Ucap Yola disertai dengan tawanya.
"Kok gue merinding ya? Ah masa sih siang-siang gini ada hantu? Bodo ah! Mending gue cabut ke kelas." Batin Angga.
Karena ketakutan, Angga pun langsung ngacir menuju kelasnya. Yola tertawa puas setelah berhasil mengerjai Angga.
***
Pelajaran berlangsung. Seluruh mahasiswa serius mendengarkan dosen mengajar. Tidak terkecuali Raka. Matanya tidak beranjak dari papan tulis yang menampilkan slide demi slide bahan ajar yang dijelaskan oleh sang dosen. Yola tersenyum melihat wajah serius Raka saat lagi belajar.
***
Setelah beberapa jam, mata kuliah kelas pertama pun berakhir. Terlihat Raka yang bersiap-siap untuk beranjak ke kantin ketika Eka datang menghampirinya.
"Mau bareng?"
"Eh kak Eka! Ngagetin aja."
"Kamu mau ke kantin kan? Bareng yuk!"
"Kenapa gak sama temen-temennya aja, kak?"
"Mereka udah duluan nyosor ke kantin." Raka menghela napasnya sejenak.
Pandangannya berhenti saat dia melihat Yola berdiri di pintu kelasnya dan memperlihatkan ekspresi cemburu. Raka yang mengetahui ekspresi itu pun berniat mengerjai Yola dengan menerima tawaran dari Eka.
"Kamu senyum-senyum gitu liat apa sih?" Tanya Eka.
"Oh nggak. Eh tadi kak Eka ajak ke kantin bareng kan?"
Eka menganggukkan kepalanya dan menunjukkan senyum yang membuat para cowok mabuk.
"Ok! Kalok gitu, mari kita bareng ke kantin. Tapi, aku mau nyusun barang aku dulu."
"Ok! Aku tungguin deh."
Yola semakin cemburu melihat kedekatan Raka dengan Eka. Dia tidak terima jika cewek seperti Eka mendekati Raka.
"Ish! Jadi cewek kok ganjen banget sih! Pakek deketin Raka lagi. Dan Rakanya juga mau lagi. Nggak tahu kalok aku cemburu apa." Batinnya.
Tak berapa lama, terlihat Eka dan Raka pun berjalan keluar kelas melewati Yola. Dan Raka tidak memandang ke arah Yola. Hati Yola terasa sakit. Padahal dia tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Raka. Tapi kenapa hatinya terasa sakit?
"Apakah ini yang namanya jatuh cinta?"
Yola menggenggam erat bajunya. Sakit sekali. Dan tanpa sadar, dia menitikkan air matanya.
"Kak Eka, kamu duluan ke kantin dulu deh. Nanti aku nyusul. Aku ada ketinggalan barang di kelas." Ucap Rakw.
"Aku temani ke kelas kamu ya?"
"Nggak usah kak. Nanti aku nyusul kakak. Aku janji."
Eka menghela napasnya dan tersenyum kepada Raka. Setelah Eka menghilang dari hadapannya, Raka pun bergegas berlari menuju kelasnya.
"Semoga dia masih ada."
***
Raka POV
Aku telah sampai di depan kelasku. Tapi, kemana dia? Aku pun berusaha mencari keberadaannya. Berlari di ruang koridor sebenarnya dilarang. Tapi, ya bodo amatlah! Yang penting dia harus kutemukan.
Setelah mencari beberapa lama, aku mendengar sebuah suara isak tangis dari tangga. Aku pun mencari keberadaan suara tersebut.
"Kamu nangis?" Tanyaku begitu aku menemukan sang pemilik suara.
"Kamu jahat!"
Aku tersenyum dan mendekatinya.
"Kenapa? Kamu cemburu aku deket sama kakak kelasku?" Tanyaku menguji.
"Nggak! Aku nggak cemburu." Jawabnya terisak.
"Ok! Kalok kamu nggak cemburu, aku kembali lagi ke kantin ah. Gabung sama kakak kelasku."
"Tuh kan kamu jahat!" Isaknya.
Aku yang tahu maksudnya itupun langsung menariknya ke dalam dekapanku.
"Jangan nangis. Aku paling benci melihat gadis sepertimu menangis." Ucapku menghiburnya.
"Raka, ngapain kamu disana?" Suara itu mengagetkanku.
"Mampus!" Aku menepuk jidatku sendiri setelah melepaskan pelukanku pada Yola.
"Eh ini, anu..."
"Ini apa? Kenapa kamu lama sekali? Kamu lagi sama siapa sih?" Selidik Eka.
Duh mampus aku! Apa yang harus aku lakukan?
***