Angga POV
Aku masih merinding ketika berjalan melewati parkiran. Pikiranku masih dihantui oleh sesuatu yang menggangguku pagi tadi.
"Ngeri. Masa pagi-pagi udah ada hantu aja." Batinku.
Aku pun mempercepat langkahku menuju tempat dimana mobilku terparkir. Tapi aku kembali menghentikan langkahku saat melihat Raka, cowok yang kubenci bukan tanpa alasan. Niat isengku pun muncul kembali. Aku berjalan mendekatinya dan tanpa basa-basi, aku menariknya ke halaman belakang kampus dan menghajarnya disana.
***
Author POV
"Lo rasain nih!" Angga kembali melancarkan pukulannya ke perut Raka.
"Ukh!" Keluh Raka.
"Ayo balaslah! Balas! Ternyata lo bukan apa-apa ya, cowok pengandal beasiswa!"
Mendengar cibiran Angga yang sudah keterlaluan, Raka pun melancarkan sebuah pukulan keras ke wajah Angga yang membuat Angga terhuyung.
"Puas kan? Sudah gue balas pukulan lo! Dasar senior b*****t!" Geram Raka.
Mata Angga berkunang-kunang menerima pukulan keras dari Raka.
"Kita belum selesai! Ayo lanjut!" Ucap Angga yang sempoyongan.
Alief kembali mengepalkan tinjunya dan hendak melancarkan kembali pukulannya saat sebuah sentuhan lembut menahan tangannya tersebut.
"Kamu? Ngapain kamu muncul tiba-tiba?" Tanya Raka.
"Sudah cukup kamu membalasnya. Lihatlah dia sudah tidak berdaya." Ucap Yola.
Raka melihat ke arah Angga yang sempoyongan.
"Kali ini lo beruntung. Gue akan membalas yang lebih di kemudian hari!" Ucap Raka meninggalkan Angga.
Angga yang sudah tidak tahan dengan rasa pusing di kepalanya pun akhirnya jatuh terduduk.
"Apa yang barusan terjadi?" Batinnya.
***
Di dalam perjalanan pulang, Yola terus saja memeluk pinggang Raka yang memboncengnya.
"Tumben kamu gak terbang hari ini ngikutin aku." Ucap Raka.
"Aku pengen begini." Jawab Yola singkat.
Keduanya kembali terdiam saat motor Raka menelusuri jalan.
"Mau berhenti di sebuah tempat gak?" Tanya Raka.
"Kemana?" Yola bertanya balik.
"Kamu pegangan. Aku mungkin akan sedikit ngebut." Ucap Raka.
Yola mengencangkan pelukannya pada pinggang Raka.
***
Yola POV
Raka membawaku ke sebuah pemakaman. Awalnya aku sempat bingung kenapa dia membawaku kemari. Tapi, akhirnya aku mengetahui alasan dia membawaku kemari.
"Aku merindukan kakakku." Ucapnya saat turun dari motor tadi.
Aku mengikuti langkahnya ke sebuah nisan yang terpampang namadari 'Reva Ardyani Setiawan'
"Ini makam kakakmu?" Tanyaku.
Raka hanya menganggukkan kepalanya. "Sudah 2 tahun sejak kejadian itu. Dan aku sangat merindukan kakakku. Aku selalu berharap kakakku tidak meninggalkanku dan keluargaku. Tapi, takdir berkata lain." Ucapnya.
Ceritanya membuatku sedikit tersentuh.
***
Author POV
Raka Flashback
"Raka!" Panggil Reva.
"Ya kak?"
"Kakak mau keluar bentar. Kamu jaga rumah ya. Ingat, jadi anak yang baik. Nanti pulang kakak bawain oleh-oleh deh."
"Elah kak. Udah kayak Mama aja cerewetnya." Ledek Raka disertai tawanya.
"Ih serius! Kamu jangan kemana-mana. Kakak mau ada keperluan. Pulangnya tidak lama kok."
Raka pun memberi tanda ok melalui tangannya. Reva tersenyum sebentar sebelum akhirnya tubuhnya menghilang dari balik pintu.
***
Sorenya...
Ayah dan Ibu dari Raka sudah sampai di rumah. Sementara Reva masih belum sampai.
"Kakak kemana, ka?"
"Tadi katanya sih keluar bentar, Pa. Ada urusan mendadak." Jawab Raka.
Sang Ayah hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Tak lama kemudian, terlihat ada seorang polisi dan beberapa warga datang memberitahukan sebuah kabar buruk untuk keluarga Raka.
***
Rumah Sakit. Raka dan kedua orang tuanya tampak berlari dan berusaha menemukan dokter untuk meminta kejelasan.
Tampak rona kecemasan di wajah mereka.
"Dokter!" Panggil sang Ayah begitu dokter ditemukan.
"Tenang dulu, Pak, Bu. Jangan berlari-lari seperti itu."
"Anak kita! Bagaimana dengan kondisi anak kita?"
"Kecelakaan itu menyebabkan anak Bapak dan Ibu kehabisan banyak darah. Dan sekarang kita mau mencari pendonornya."
"Lakukan apa yang harus dilakukan, dok." Kedua orangtua dari Raka sudah panik sementara Raka masih terdiam dan seolah tidak menyangka yang ada di dalam kamar itu sekarang adalah kakaknya.
Flashback END
***
Yola mendengar cerita Raka dengan seksama. Digenggamnya tangan Raka seraya menghiburnya.
"Terus, kakakmu kenapa bisa meninggal?" Tanya Yola.
"Penyebab utamanya adalah, kakakku sudah kehabisan banyak darah. Dan penyebab keduanya adalah, karena detak jantungnya yang semakin lemah." Jawab Raka lirih.
Yola mengusap punggung Raka untuk menenangkannya.
"Andai waktu dapat diputar kembali,aku tidak ingin kakakku pergi meninggalkan rumah." Lanjut Raka.
"Kamu yang kuat ya. Aku yakin kakakmu selalu perhatiin kamu kok dari atas sana. Dan dia pasti bangga punya adik seperti kamu." Hibur Yola.
Raka mengusap air matanya dan kembali menarik tangan Yola untuk kembali ke motornya.
"Kita... Mau kemana lagi?" Tanya Yola.
"Pulang. Udah malem." Jawab Raka.
Setelah memastikan Yola naik dengan sempurna, Raka pun menghidupkan motornya dan beranjak pulang.
***
Kediaman Eka...
Eka baru saja sampai di rumah saat kedua orangtuanya dan seorang adik laki-lakinya sedang menikmati makan malam.
"Aku pulang!" Ujar Eka.
"Darimana aja kamu malam gini baru pulang?"
"Habis dari jalan-jalan, Ma." Jawab Eka santai.
"Ya sudah! Sini, gabung makan dulu. Habis itu mandi dan tidur. Karena besok pagi-pagi sekali kita harus berangkat." Eka yang baru saja duduk di kursi terkejut mendengar ucapan dari Papanya.
"Besok kita mau kemana, Pa?" Tanya Eka.
"Singapure. Besok kita jenguk nenekmu. Dia masuk rumah sakit lagi."
"Nenek sakit lagi? Kenapa tadi Papa sama Mama gak telpon aku? Untung besok gak kuliah."
"Gak usah kaget gitu, Eka. Papa juga baru tadi dapet kabarnya."
Setelah mendengar penjelasan dari Papanya, Eka pun menghabiskan makanan yang ada di depannya.
"Oh ya Mama lupa bilang. Itu, anak laki-laki temen Papa mau dijodohin sama kamu." Eka tersedak mendengar ucapan dari sang Mama.
"Dijodohkan? Apa maksudnya?" Tanya Eka bingung.
"Iya. Papa sudah menjodohkan kamu sama anak temennya Papa. Namanya Rama. Kamu akan bertemu dengannya setelah kita pulang dari Singapure nanti.
"Tapi, Pa..."
"Tidak ada tapi-tapi. Sekarang, habiskan makananmu."
Eka yang memang tidak bisa membantah perintah kedua orangtuanya ini pun hanya menurut.
***
Eka POV
Hari ini aku dikejutkan dengan pernyataan Papa dan Mama bahwa aku akan dijodohkan. What?! Aku paling anti dengan kata itu. Kenapa mereka tidak membiarkanku memilih pilihanku sendiri saja? Kenapa mereka harus ikut campur dalam urusan jodohku? Aku mengambil ponsel yang berada di meja riasku dan membukanya.
Terlihat wajah Raka menghiasi wallpaper ponselku. Aku tersenyum menatap layar ponselku.
"Andai aku terlahir sebagai cowok, dan kamu terlahir sebagai cewek, pasti kamu sudah menjadi milikku sekarang." Batinku
DRRRRTTTTT
Getaran ponsel mengejutkanku.
Kulihat nama yang tertera di layar.
"Mia? Elah nih orang napa sih? Merusak pemandangan ponsel gue aja." Akupun menggeser tombol hijau untuk menjawab telpon dari Mia.
"Nape, Om?"
"Ish! Suka banget diledekin!"
"Lagian lo sih malem-malem gini telpon. Emang ada hal penting apaan sih?"
"Gapapa. Gue cuma pengen aja curhat sama lo."
"Sudah kudagu. Kenapa gak sama Rara aja sih lo curhatnya? Gue udah mau tidur!"
"Elah say, santai dulu dong. Gue bukan mau curhat soal gue. Tapi guemau curhat tentang calon pacar lo itu." Mendengar ucapan Mia barusan, membuatku penasaran apa yang akan Mia curhatkan tentang Raka.
"Emang kenapa dengan Raka?" Tanyaku.
"Gue rasa, dia tidak akan aman jika terus-terusan diancam sama Angga. Kemarin gue liat Angga bawa dia ke belakang pekarangan kampus. Gak tau deh mereka ngapain."
Penjelasan Mia membuatku terdiam dan berpikir sejenak.
"Angga Prasetya. Gue harus bisa menjauhkannya dari Raka." Batinku.
***
TBC