Eka terlihat masih memejamkan matanya saat sang Ibu memanggilnya untuk bangun dan bersiap-siap.
"Pesawat kita jam berapa, Ma?" Tanya Eka sambil mengucek matanya.
"Jam 06.00. Sekarang kamu bangun dan siap-siap gih. Papa, Mama sama adik nunggu kamu di bawah ya." Eka hanya mengangguk.
Setelah itu, dia mengambil handuknya dan menghamburkan dirinya ke kamar mandi.
***
Kediaman Raka.
Yola tersenyum ketika melihat Raka yang masih berada di alam mimpinya.
"Jadi begini rasanya jatuh cinta." Batin Yola.
Tangan lembut Yola terangkat dan reflek mengelus pipi dari Raka. Senyum terus mengembang di wajah cantiknya tersebut.
"Aku bersyukur bisa bertemu dengannya."
Yola melepaskan tangannya dari pipi Raka dan berjalan menuju beranda kamar Raka.
Dia melihat lingkaran di telapak tangannya."Hmm... Masih cukup waktu. Aku tidak mau kehilangan momen ini terlalu cepat."
Yola kembali menatap wajah Raka yang damai saat tertidur.
***
Pagi pun menjelang. Sinar mentari pagi menembus jendela kamar Raka dan membangunkannya. Untungnya ini hari sabtu. Jadi dia tidak perlu terburu-buru untuk bangun.
"Sudah bangun?" Raka melihat ke arah suara yang sudah diingatnya.
"Pagi, Yola!"
"Pagi, Raka." Balas Yola tersenyum.
"Gimana tidurmu? Nyenyak?" Lanjut Yola.
"Ya begitulah." Jawab Raka singkat.
Raka pun beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
***
Yola POV
Hari ini hari sabtu. Aku senang karena pasti aku akan berdua terus bersama Raka sepanjang hari ini. Tapi dugaanku salah. Aku yang mengetahui bahwa Raka yang hobi bermain futsal saat ini sedang bermain bersama temannya. Aku hanya bisa mendengus jengkel.
"Kenapa sih selalu begini. Waktu untuk kita berdua itu tidak pernah ada." Batinku.
"Oi! Bengong aja!" Suara Raka mengagetkanku.
"Raka! Kok kamu bisa ada disini? Bukannya kamu...."
"Aku yang meminta istirahat." Jawab Raka.
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Entah kenapa aku senang. Senang akhirnya dia bisa di sampingku dan berduaan lagi.
"Jangan senyum. Nanti aku diabetes." Ucap Raka.
"Kamu ih! Suka banget ledekin aku!"
"Habisnya kamu itu orangnya Lucu sih kalok digodain, malu-malu kucing." Timpal Raka dengan cengirannya.
Aku hanya bisa tersenyum dan terkekeh mendengar ucapan Raka. Akupun mencoba memegang tangannya dan merasakan kehangatan sentuhannya.
Raka memandangku dan menunjukkan senyumnya. Sontak, wajahku langsung merona melihatnya tersenyum seperti itu.
***
Author POV
"Ka, ngapain lo senyum-senyum sendiri? Ngeliatin cewek cantik mana lo?"
"Ayam! Kaget gue anjir! Lo itu hobi ya selalu buat gue terkejut!" Gerutu Raka.
"Elo sih, ngomong sendiri, senyum sendiri. Lo ini sebenernya kenapa sih?"
Raka tersadar bahwa temen-temennya tidak bisa melihat wujud Yola walaupun dia dalam bentuk manusia sempurna.
"Eh, guys gue cabut dulu ya. Udah ditelponin nyokap. Halo, Ma?" Pamit Raka berpura-pura mengangkat telponnya.
Tak lupa, ia menggandeng Yola untuk ikut dengannya.
***
Sesampainya di parkiran, Raka menghela napasnya sejenak.
"Raka, kamu kenapa?" Tanya Yola khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Beruntung tadi aku nggak keceplosan bilang kalok lagi tersenyum sama kamu." Jawab Raka.
"Hahaha!"
"Kok kamu ketawa sih?!"
"Habisnya kamu sih. Udah tau cuma kamu yang bisa ngeliat aku, tapi masih aja hampir keceplosan."
Raka terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Pulang yuk! Nanti sore aku mau ke makam kakakku bareng kedua orangtua aku." Ajak Raka.
Yola hanya mengangguk dan naik ke motor Raka.
"Pegangan yang erat. Nanti kamu terbang." Ucap Raka.
Yola tersenyum. Dia pun memeluk pinggang Raka dan menyandarkan kepalanya ke punggung Raka.
Keduanya pun meninggalkan parkiran lapangan futsal dan pulang.
***
Kediaman Angga.
Di sabtu pagi yang cerah ini, Angga hanya sendirian di rumahnya. Kedua orangtuanya sedang ada bisnis ke luar negeri sehingga dia ditinggal.
"Huft! Bosen! Main game ah!" Angga pun mengubrak abrik sebuah kotak yang berisi kaset gamenya.
"Hampir semuanya udah pernah dimainkan sih. Mana yang belum ya."
Pandangan Angga berhenti pada sebuah CD game yang bertuliskan 'Call of Duty: Ghost'. Dengan segera, Angga pun menghidupkan PSnya dan memasukkan CD tersebut ke dalam consolenya. Game dimulai. Dengan tingkat konsentrasi tinggi, Angga berusaha menamatkan game tersebut.
KRING
Sebuah telpon masuk menghampiri ponselnya. Diliriknya layar ponselnya.
"Daffa? Ngapain dia nelpon?" Batin Angga.
Angga mempause gamenya dan mengangkat telpon dari sahabatnya tetsebut.
"Napa, Fa?"
"Keluar lo, cepetan!" Angga terkejut mendengar suara Daffa yang sepertinya lagi emosi.
Tanpa membalas telpon dari Daffa, Angga pun berjalan keluar dari rumahnya dan menjumpai Daffa yang tengah berdiri di luar pagar rumahnya.
"Ada apa, Fa?" Tanya Angga.
Daffa menunjukkan sebuah foto kepada Angga.
"Lo jujur sama gue, ini perbuatan lo kan?!" Angga menatap foto itu dan mengernyitkan dahinya.
"Fa, lo tenang dulu. Bukan gue yang melukai adik lo."
"Terus kalok bukan elo siapa lagi?! Hanya elo yang bisa bertindak kejam ke orang yang lo benci!"
"Daffa, sebenci-bencinya gue sama adik lo, gue juga gak berani nyelakain dia."
"Trus ini perbuatan siapa?!"
Angga menghela napasnya sejenak.
"Coba kemarikan hp lo."
Daffa pun menyerahkan ponselnya kepada Angga. Angga kembali melihat foto itu dengan seksama.
"Fa, liat kembali fotonya baik-baik." Ucapnya kemudian.
Daffa mengepalkan tinjunya saat telah mengetahui siapa yang mencelakakan adiknya.
"Sialan! Aku tidak akan memaafkannya!"
"Sekarang lo percaya kan sama gue?"
Daffa menganggukkan kepalanya lalu pergi dari rumah Angga.
"Tch! Gue dilawan. Liat aja, tuh bocah bakal mampus!" Batin Angga dengan senyum sinisnya.
***
Makam Reva..
Terlihat Raka dan kedua orangtuanya sedang menabur bunga di sekitar makam Reva. Mereka juga memanjatkan doa untuk Reva.
"Kak, Raka kangen sama kakak. Kenapa kakak harus pergi secepat itu sih?" Lirih Raka.
Sang Ibu hanya bisa mengusap punggung Raka dan mencoba menghiburnya.
"Andai waktu itu dapat diputar kembali, Ma. Raka nggak ingin liat kakak menderita."
"Kamu yang sabar ya, nak. Ini semua sudah takdir yang diatas."
Raka menangis lirih di pelukan sang Ibu.
"Ka, sekarang anak Papa dan Mama hanya tinggal kamu seorang. Papa dan Mama nggak mau liat kamu larut dalam kesedihan terus karena kematian kakakmu."
Raka hanya mengangguk dan menghapus air matanya.
"Raka janji, Pa. Raka akan menjadi orang yang kuat agar bisa melindungi keluarga Raka."
Sang Ayah dan Ibu hanya tersenyum mendengar ucapan anak mereka.
Setelah selesai menabur dan membersihkan makam Reva, Raka dan kedua orangtuanya pun pulang.
***
Kediaman Raka..
Yola yang tidak diperbolehkan Raka pergi bersamanya hanya bisa mendengus kesal. Rasa bosan saat tidak ada suara Raka pun datang menghampiri dirinya.
"Yah, kalau dipikir-pikir, semalam Raka juga udah membawaku ke makam kakaknya kok. Jadi aku tidak perlu terlalu posesif juga padanya." Batin Yola.
Senyum Yola mengambang ketika melihat sebuah mobil klasik memasuki perkarangan rumah dari Raka.
Dengan senang, dia pun turun kebawah dan menyambut Raka.
"Selamat datang!" Ucap Yola yang mengagetkan Raka.
Raka membiarkan kedua orangtuanya masuk ke dalam rumah dulu barulah dia menghampiri Yola.
"Kamu ngapain sih?!"
"Nyambut kamu." Ucap Yola tersenyum.
"Kamu lupa kalok kedua orangtuaku gak bisa ngeliat kamu?"
"Tahu kok! Aku kan hanya nyambut kamu doang."
Raka menghela napas kasarnya. Pandangannya kembali tertuju pada Yola.
"Lalu, apa maksud dari tangan yang dibentangkan itu?" Tanya Raka.
Yola berdecik saat Raka tidak mengetahui maksudnya.
"Dasar, tidak peka!" Gerutu Yola.
Raka tersenyum saat melihat wajah kesal Yola. Raka berjalan menghampiri Yola dan memeluknya.
"Baru ditinggal beberapa jam aja kamu udah kangen begini. Gimana kalok ditinggal berhari-hari?" Ucap Raka.
"Pastinya aku bakal kangen banget."Jawab Yola.
Mereka berpelukan beberapa saat sebelum akhirnya Raka menyudahinya.
"Masuk yuk." Ajak Raka.
Yola menganggukkan kepalanya tersenyum. Baru saja Raka dan Yola melangkah, terdengar sebuah suara yang menghentikan langkah mereka berdua.
"Woi, anak baru!"
Raka menoleh ke arah suara tersebut.
"Keluar lo! Gue mau ngomong sesuatu sama lo!"
"Tunggu-tunggu. Dari mana lo tahu alamat rumah gue?" Tanya Raka bingung.
"Gak usah banyak bacot! Keluar lo! Kita ada urusan yang harus diselesaikan!"
Yola menahan tangan Raka agar tidak pergi, tapi Raka meyakinkan Yola kalok dia bisa menangani ini semua.
Setelah Raka menghilang dari pandangannya, Yola pun mulai menunjukkan wajah khawatirnya.
"Apa gara-gara kejadian semalam ya?" Batinnya.
***
TBC