BUG! BAK! DUAK!
Seiring mendaratnya pukulan ke tubuh Raka yang membuatnya lemas, darah segar juga sudah membanjiri tangan dari Angga.
"Kau harus sama seperti adikku! Kau harus masuk rumah sakit!" Bentak Daffa.
Raka tidak sanggup untuk berdiri lagi. Pandangannya sudah kabur. Dia pun jatuh terduduk dengan luka parah di sekujur tubuhnya.
Daffa hendak melanjutkan pukulan itu, namun gerakannya seperti tertahan oleh sesuatu.
"Ini siapa sih yang nahan tangan gue!" Ucap Daffa.
Ketika menoleh ke belakang, Daffa pun melihat sosok hantu seorang Yola dalam wujud yang sebenarnya.
"Ha.. Han..."
Daffa tidak mampu mengeluarkan suaranya. Mulutnya dibekap oleh tangan Yola yang pucat dan dingin. Tatapan mata Yola merubah suasana menjadi mencekam.
"Mmmpphhh!!! Mppphhhh!!"
Hanya itu suara yang mampu dikeluarkan Daffa sekarang.
Karena lokasi yang diambil Daffa untuk menghajar Raka tepat di pinggir jalan yang ramai, maka Yola pun mendorong tubuh Daffa.
BRUAK!!!
Tabrakan hebat pun tidak dapat dielak lagi. Tubuh Daffa yang tertabrak sebuah mobil yang melaju kencang pun terhempas. Darah segar mengalir dari kepala Daffa dan membuatnya tidak sadarkan diri.
Para warga yang melihat kejadian itupun turun dari motor mereka dan menolong Daffa untuk dibawa ke rumah sakit. Sementara Raka sudah tidak terlihat di lokasi.
***
Raka POV
Aku merasakan sentuhan lembut pada kepalaku. Perlahan, akupun berusaha membuka mataku.
"Kamu sudah bangun?"
Suara itu terdengar sangat halus di telingaku.
Saat mataku telah terbuka sempurna, akupun bisa melihat senyumannya yang manis tersebut.
"Aku khawatir. Makanya aku nyusul kamu." Ucapnya
.Aku tersenyum kepadanya. Dia juga membalas senyumanku.
"Kita ada dimana?" Tanyaku.
"Kita lagi ada di kamarmu." Jawabnya.
"Kenapa kamu nggak bawa aku ke rumah sakit aja, Yola?"
"Rumah sakit itu jauh. Biarlah aku membawamu kemari agar aku bisa merawatmu." Ucapnya.
Aku sedikit terharu mendengar ucapannya. Aku berusaha bangkit meskipun seluruh tubuhku masih terasa sakit.
"Kamu tiduran aja. Aku tahu badan kamu masih sakit semua." Ucap Yola yang khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Luka seperti ini sudah biasa bagiku." Balasku.
"Tapi ini luka terparah yang pernah kamu alami. Mending sekarang kamu rebahan lagi ya."
Aku menuruti keinginannya itu.
Akupun merebahkan tubuhku yang terasa amat sangat sakit sekali.
"Ngomong-ngomong, orang yang menghajarku tadi kemana?" Tanyaku.
"Aku sudah membereskannya." Jawab Yola.
Aku terkejut mendengar jawabannya. Biarpun dia cantik, tapi dia mempunyai sisi bahayanya juga.
"Kamu ini tidak boleh begitu." Ucapku.
"Biarin aja! Lagian aku kan sudah berjanji kalok aku bakal selalu ada dan jagain kamu." Balasnya.
Aku menghela napas beratku. Aku kembali menatap wajah cantiknya dalam-dalam.
"Yola, aku mau kamu jujur sam aku."
"Iya aku akan selalu jujur sama kamu kok."
"Kamu janji?"
"Janji!"
"Kalok begitu, adiknya orang yang memukulku itu, apakah itu perbuatanmu?"
Yola terdiam sejenak mendengar pertanyaanku.
"Jawab jujur Yola. Aku tidak akan marah." Ucapku.
"Janji kamu nggak akan marah?"
Aku menganggukkan kepalaku memberi jawaban. "Iya. Adik orang itu, adalah perbuatanku."
"Sudah kuduga. Kenapa kamu bisa mencelakai adiknya?"
Yola menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatapku langsung.
"Sudah lupakan. Yang terjadi biarlah terjadi. Toh udah terlanjur begini juga." Ucapku.
Aku memegang tangan Yola dan berusaha untuk menenangkannya.
***
Author POV
"Ka! Sudah saatnya makan malam, nak!"
Teriakan sang Ibu yang memanggil Raka untuk makan.
"Iya Ma. Aku segera ke bawah." Balas Raka.
"Kamu yakin bisa?" Tanya Yola masih dengan raut wajah khawatirnya.
"Bisa. Coba kamu ke lemari bajuku dan ambil kotak P3K di dalamnya." Ucap Raka.
Yola pun menuruti Raka. Diapun beranjak dari hadapan Raka dan membuka lemari serta membawakan kotak P3K tersebut kepada Raka.
"Terima kasih." Ucap Raka tersenyum.
Yola melihat Raka membuka kotak P3K tersebut dengan seksama. Dia agak sedih melihat Raka menaruh obat ke tubuhnya sendiri.
"Sini biar aku bantu." Ucap Yola saat melihat Raka akan memasang perban di kepalanya.
Setelah selesai, Raka beranjak ke kamar mandinya untuk membersihkan tubuhnya dari darah yang mulai mengering.
***
Yola POV
Sakit! Begitulah yang kurasakan sekarang melihat perjuangan Raka yang berusaha menyembuhkan lukanya sendiri.
Aneh. Kalian boleh bilang aku begitu. Meskipun aku ini hanyalah sesosok hantu, tapi semenjak mengenal Raka, aku jadi menikmati kehidupanku sebagai hantu. Seperti saat ini. Entah darimana rasa sakit dan sedih itu berasal. Tapi, rasa ini begitu nyata. Aku tidak sanggup melihatnya menderita dan terus diganggu oleh orang yang membencinya.
"Yola, kenapa kamu bengong?" Suara Raka menyadarkanku dari lamunan sesaatku.
"Emm... Tidak apa-apa." Jawabku tersenyum.
"Yasudah, aku kebawah dulu ya makan malam. Kamu disini aja." Ucapnya.
Aku menganggukkan kepalaku. Setelah itu, aku hanya bisa melihat punggungnya menghilang dari balik pintu. Aku berjalan ke arah ranjang Raka dan duduk diatasnya.
Aku memikirkan kilas balik kejadian tadi dan menunjukkan senyum sinisku.
"Satu sudah beres! Tinggal lihat aja siapa yang bakal menyusul. Pokoknya yang mengganggu Raka, akan aku habisi!" Batinku.
Akupun memutuskan untuk berbaring sejenak di ranjang Raka.
**
Author POV
"Hai, Ma, Pa." Sapa Raka begitu sampai di bawah.
"Itu kepalamu kenapa? Jatuh lagi?"
"Iya Ma. Kemarin pas main futsal gak sengaja terjatuh dan berdarah."Jawab Raka berbohong.
"Yang bener? Papa liat semalam tuh kepala gak berdarah. Kenapa sekarang diperban?"
Raka terdiam ditembak pertanyaan seperti itu oleh Ayahnya.
"Maaf, Ma, Pa. Raka tidak berbicara jujur."
Ayah dan Ibu Raka melihat ke arah anaknya sebentar dan tersenyum.
"Tidak apa-apa, Nak. Sekali-sekali berbohong untuk kebaikan itu gak apa-apa. Yang penting jangan tiap hari."
Raka hanya mengangguk mendengar nasihat dari sang Ayah.
"Sudah. Makanlah. Mama tahu kamu pasti sudah laper banget. Nanti malam sebelum tidur, Mama akan bantu kamu ganti obatnya." Raka hanya tersenyum dan segera menghabiskan makanannya.
***
Kediaman Angga.
Saat ini, Angga terlihat sedang tidur di ranjangnya. Seharian ini dia memang males keluar rumah. Yang dilakukannya kalok tidak bermain game, ya jajan.
"Huft! Aku benar-benar bosen." Batin Angga.
Teringat akan Daffa, dia pun mengambil ponselnya, menekan nomor Daffa dan menelponnya.
"Halo?" Suara diseberang telpon tapi bukan suara Daffa.
"Halo? Err... Daffanya ada?" Tanya Angga.
Tut, tut, tut!
Sambungan telpon diputus.
"Lho, kok dimatiin? Gak asik nih!" Gerutu Angga.
Angga menekan kembali nomor Daffa dan hasilnya nihil. Ponsel Daffa dimatikan oleh entah siapa. Setelah mengirim beberapa pesan pendek untuk Daffa, Angga pun mengunci ponselnya dan meletakkan kembali ke posisi asalnya.
Dia berjalan keluar kamar menuju ruang tamu dan membereskan segala sampah-sampah makanan ringannya.
"Mau ngapain ya? Rumah gede, tapi membosankan." Gerutu Angga sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Angga benar-benar merasa bosan saat tidak berada di kampus. Dia tidak bisa mengerjai murid baru yang polos yang bisa menghilangkan rasa bosannya.
"Oh ya, tuh bocah sekarang udah jadi apa ya? Gue penasaran apa yang dilakuin Daffa sama tuh bocah." Batinnya.
Saat sedang bersantai di ruang tamunya, mendadak dari arah pintu terdengar bunyi bel.
"Siapa sih! Gak tau orang lagi santai apa?!"
Dengan malasnya, Angga pun berjalan ke arah pintu tersebut dan membukanya.
"Tante!" Ucapnya terkejut begitu melihat siapa yang datang.
"Halo, Angga."
***
TBC