Angga POV
Malam ini aku berada di rumah tanteku. Sebenarnya aku tidak terlalu suka tinggal bersama tanteku ini. Tapi, karena amanat dari Papa dan Mama, aku pun terpaksa untuk tinggal bersama tanteku sementara waktu.
"Angga, makan dulu. Tante udah nyiapin makanannya di meja." Ujarnya.
"Iya, tante. Bentar lagi Angga keluar."
Aku sangat malas sekali untuk menginjakkan kakiku di luar kamar. Apalagi harus mendengarkan cerewetnya tanteku kalok lagi ngomong.
CKLEK
Pintu kamarku dibuka dan kulihat tante memandang ke arahku dengan tersenyum yang membuat matanya itu semakin tidak terlihat.
"Mau sampe kapan kamu diemin tantemu begini?"
Aku menghela napas beratku dan berjalan keluar melewatinya dan duduk di meja makan.
"Tante kenapa gak ikutan makan?" Tanyaku.
"Gak. Tante udah makan tadi. Kamu aja yang makan. Makan yang banyak ya." Jawabnya.
Aku agak kasihan sebenarnya sama tanteku yang satu ini. Suaminya sudah meninggal. Sedangkan dia harus mengurus rumah serta anaknya yang masih berusia 5 tahun.
"Tante, boleh nanya sesuatu?"
"Kamu mau tanya apa, Angga?"
"Tante capek gak kalok ngurus rumah sama anak sendirian begini? Apalagi tante juga harus ngurusin bisnis tante."
Tanteku tersenyum manis. Dia berjalan ke arah meja makan dan duduk tepat di depanku.
"Tante sudah tidak mengenal apa yang namanya capek. Awalnya mungkin iya. Tapi, tante lama kelamaan juga menjadi terbiasa." Jawabnya.
Aku menganggukkan kepalaku mendengar jawaban bijak darinya. Aku pun menghabiskan sisa makananku dan mencuci sendiri piringku.
"Biar tante aja yang cuci. Kamu pergi ke kamar kamu aja."
"Gapapa, tante. Aku gak mau membebani tante."
Akupun melanjutkan kegiatan menyuci piringku.
***
Author POV
Angga baru saja menyelesaikan kegiatan cuci piringnya. Kini dia terlihat membaringkan dirinya di ranjang kamarnya. Matanya menatap langit-langit kamarnya.
"Tanteku. Biarpun dia seorang perempuan, tapi dia sanggup menjalani kehidupannya sendirian." Batinnya.
Setelah itu, Angga pun memutuskan untuk masuk ke alam mimpinya.
***
Keesokan harinya...
Kediaman Raka.
Waktu menunjukkan pukul 07.00 yang mengharuskan setiap orang bangun dan melakukan kegiatan mereka.
"Ka, bangun nak. Udah siang."
Raka menggeliat dan bangun. Dia mengucek matanya sebentar sebelum akhirnya menghamburkan dirinya menuju kamar mandi.
"Tumben dia nggak keliatan. Kemana perginya?" Batin Raka yang tidak melihat keberadaan Yola.
Raka membuang jauh-jauh pikirannya dan melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
***
"Kenapa Ka, kok keliatan murung pagi ini?"
"Eh ini, Pa. Gapapa kok. Hahaha."
"Lagi mikirin seseorang ya kamu? Pacar atau gebetan?"
Raka yang sedang meneguk air minumnya itu menjadi tersedak mendengar pertanyaan dari Ibunya tersebut.
"Apa sih, Ma. Aku lagi gak mikirin pacar atau gebetan." Ucap Raka kesal.
Sang Ayah dan Ibu hanya bisa terkekeh melihat ekspresi kesal dari Raka.
"Oh ya Ka, nanti sehabis sarapan, Mama mau kamu kirimin paket itu ke alamat ini ya."
Setelah melihat alamat tersebut, Raka pun melanjutkan sarapannya.
***
Raka POV
Entah dimana dia berada sekarang. Sedari tadi aku tidak melihat sosok dirinya yang sangat manja tersebut. Tidak mau ambil pusing, akupun memanaskan motorku dan bersiap-siap untuk mengantarkan paket yang dititipkan Mama kepadaku.
"Ma, aku pergi dulu ya." Pamitku.
"Iya, hati-hati ya."
Aku segera menancapkan motorku ke alamat yang telah diberikan kepadaku. Di sepanjang perjalanan, diriku tak berhenti memikirkan sosok Yola.
"Dia hanyalah hantu Raka. Kenapa hantu itu bisa menguasai pikiranmu seperti ini?" Batinku.
Aku membuang jauh-jauh pikiran itu dan berusaha untuk berkonsentrasi ke jalanan.
***
Author POV
Sebuah motor terlihat berhenti di sebuah rumah mewah yang terlihat eksotis. Setelah memarkirkan motornya dengan benar, Raka pun turun dan memencet bel rumah tersebut.
"Benar ya ini rumahnya. Sesuai alamat kok." Gumam Raka.
Pemilik rumah yang ditunggu tak kunjung keluar membuat Raka kembali memencet bel. Tak lama kemudian, terlihat seorang wanita berparas cantik keluar dari rumah tersebut. Sejenak, Raka terpana akan kecantikannya.
"Cari siapa ya?"
"Eh em ini... Anu... Aduh gimana ngomongnya ya." Jawab Raka yang grogi.
Wanita itu memandang ke arah Raka dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dan pandangannya berhenti ketika melihat sebuah paket di atas motor Raka.
"Itu... Paket buat saya?"
"Eh iya. Ini paket buat Ibu." Jawab Raka mengambil paket dari motornya.
Wanita itu tersenyum. Manis sekali. Membuat Raka kembali salah tingkah. Wanita tersebut pun membuka pintu pagar rumahnya agar memudahkannya mengambil paket tersebut.
"Terima kasih ya. Udah bikin masnya repot-repot ngantar kemari."
"Mas? Dia manggil aku Mas?" Batin Raka sambil tetap berusaha tersenyum.
"Mas mau mampir ngobrol dulu?"
"Ah eh, nggak usah. Hehe. Kalau begitu, aku pamit dulu ya, Mbak." Pamit Raka.
Wanita tersebut hanya bisa mengangguk saat melihat Raka beranjak ke motornya dan pergi. Saat Raka sudah menghilang dari pandangannya, Wanita tersebut pun menutup kembali pintu pagarnya dan masuk ke dalam rumah.
"Siapa yang dateng tante?" Tanya Angga.
"Itu kurir yang nganterin paket tante."
"Kenapa gak disuruh mampir dulu?"
"Dianya gak mau. Tante juga gak bisa maksa dong."
Angga menghela napas beratnya. Lalu diapun berjalan ke arah mobilnya yang terparkir indah.
"Mau kemana kamu?"
"Mau keluar sama temen-temen aku. Gak lama kok." Jawab Angga.
"Yaudah. Hati-hati di jalan. Jangan Ngebut." Angga tidak begitu menghiraukan tantenya ini.
Diapun masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan rumah mewah tersebut.
***
Sementara itu...
Raka terlihat kembali mengunjungi makam kakaknya. Dia bersimpuh di depan makam kakaknya dan memanjatkan doa.
"Kak, gimana kehidupan disana? Apakah enak?" Ucap Raka lirih.
"Raka kangen sama kakak. Raka sudah lama tidak melihat senyuman kakak." Lanjutnya.
***
Raka Flashback
2 hari sebelum kecelakaan...
Reva, Raka dan kedua orangtuanya terlihat mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan.
"Kenapa tiba-tiba bawa kita kesini, Va?"
"Tau nih. Biasanya juga kakak yang paling males jalan-jalan." Ledek Raka.
"Sekali-sekali, kita butuh refreshing. Timbang di rumah terus. Kan bosan juga." Ucap Reva tersenyum.
Mereka pun memasuki sebuah toko baju. Reva terlihat asik memilih baju sementara Raka dan kedua orangtuanya hanya duduk di kursi yang telah disediakan.
"Ka, bantu kakak liat baju ini dong. Pas gak sama kakak." Ucap Reva menghampiri Raka.
"Ngapain sih kak? Kan fitting room ada kaca. Tinggal berkaca aja." Gerutu Raka.
"Ish! Kamu mah gitu. Bantu kakak liat bentar aja ya, ya?" Bujuk Reva.
Raka memutar malas bola matanya. Kedua orangtua mereka hanya terkekeh melihat tingkah kedua anaknya ini.
"Yaudah. Tapi cepetan." Ucap Raka kemudian.
Reva pun menarik tangan Raka untuk mengikutinya.
"Kamu tunggu di luar sini. Dan jangan ngintip!" Ucap Reva.
"Elah siapa juga yang mau ngintip kakak." Balas Raka.
Reva pun melangkah masuk ke dalam fitting room untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang diambil tadi. Setelah sekian lama menunggu.
Akhirnya....
"Ka, gimana? Cocok gak?" Tanya Reva.
Raka melihat ke arah Reva dengan tatapan malasnya. Tapi, sejurus kemudian, tatapan matanya berubah. Dia melihat kakaknya yang tidak biasa saat mengenakan pakaian pilihannya itu.
"K... Kak?! Ini kakakku bukan?"
Sebuah jitakan mendarat di kepala Raka yang membuatnya meringis kesakitan.
"Auh! Sakit tau!" Gerutu Raka.
"Makanya yang bener liatinnya. Jangan becanda." Ucap Reva yang kesal.
"Aduh. Iya, iya! Tuh baju cocok sama kakak." Ucap Raka.
"Beneran? Wah! Bener kata orang kalok pilihan yang dilihat pada pandangan pertama itu tak akan mengecewakan." Balas Reva berbinar.
"Iya cocok. Kenapa nggak dari dulu aja sih milih baju yang begini? Suka banget pakek baju yang tomboy-tomboy. Kan laki-laki jadi takut liatnya." Ledek Raka.
Sebuah jitakan kembali mendarat dikepala Raka.
"Demen banget jitakin pala orang."
"Biarin. Habisnya kamu ngeselin."
Reva pun kembali masuk ke dalam fitting room dan kembali mengganti bajunya.
Setelah membayar baju tersebut, Reva dan keluarganya pun cabut ke sebuah kafe.
***
TBC