Raka POV
Hari berlalu dengan sangat cepat. Tidak terasa, aku harus kembali menjalani rutinitasku sebagai mahasiswa kembali. Tapi, yang ada di pikiranku sekarang bukanlah kampus atau semacamnya. Melainkan Yola. Sudah dua hari ini aku tidak melihat sosoknya. Kemana dia sebenenarnya.
"Nak, kok bengong gitu? Habisin gih sarapannya."
Tegur Mamaku."Eh iya, Ma." Balasku.
Akupun menghabiskan sisa sarapan pagiku dan memanaskan motorku sejenak.
"Aku berangkat dulu ya, Ma." Pamitku.
"Iya. Hati-hati, ya."
Setelah memastikan mesin motorku sudah agak panas, akupun menancapkan motorku menuju kampus.
***
Author POV
Universitas Gajah Mada. Setelah berjibaku dengan macetnya lalu lintas, Raka pun sampai juga di kampusnya. Diliriknya jam tangan yang terselip di balik jaket kulitnya.
"Masih pagi." Gumamnya.
Dengan perasaan yang campur aduk, Raka pun melangkah masuk ke dalam kampusnya.
"Hai?"
Sapa sebuah suara yang dikenal oleh Raka. Raka memandang kesal pada orang yang berada di hadapannya sekarang.
"Wih sombong amat lo sama senior."
"Gue lagi gak mood buat ngeladenin lo."
"Elah! Cuma nyapa doang. Belum juga gue ajak ke taman belakang lo."
Rama tidak menghiraukan orang menyebalkan yang sedang berbicara dengannya ini.
"Ngomong-ngomong, sudah dua hari lo buat gue ngerasa bosan di rumah. Gimana kalok sekarang, kita sedikit bersenang-senang?" Ucap Angga dengan cengirannya.
"Gue udah bilang, gue lagi gak mood." Balas Raka berjalan pergi.
Langkah Raka terhenti saat merasakan tangannya di tahan oleh senior reseh tersebut.
"Lo gak diajarin sopan santun sama keluarga lo ya?!" Bentak Angga agak kasar.
Raka menghempaskan tangannya untuk melepaskan genggaman Angga. Diapun membalikkan tubuhnya dan....
BUK!
Sebuah tinju mendarat telak di wajah Angga yang membuatnya sempoyongan.
"Jangan mancing gue, atau lo bakal mampus!" Ancam Raka.
Angga memperlihatkan senyum sinisnya memperhatikan ekspresi Raka.
"Menarik juga! Ayo!"
Angga yang hendak melancarkan tinjunya mendadak berhenti saat ada yang memanggil namanya.
"ANGGA PRASETYA!"
Angga pun menoleh ke sang pemilik suara tersebut.
"Eka! Tumben lo pagi-pagi udah dateng." Ucap Angga yang menyimpan kembali tinjunya.
"Kenapa?! Gak suka?!" Bentak Eka.
"B... Bukan begitu." Angga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Eka melanjutkan langkahnya ke arah Raka. Dia memegang pipi Raka dan melihat lekat-lekat wajahnya.
"Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Eka dengan wajah khawatirnya.
"Kamu?"
Raka sedikit terkejut dengan ucapan Eka.
"Kenapa? Aku gak boleh panggil dengan sebutan 'kamu'?" Tanya Eka.
Raka menjadi salah tingkah melihat wajah Eka yang dekat sekali dengannya.
"Bu... Bukan begitu. Tapi..." Raka menggantung kalimatnya.
"Tapi apa?"
"Tapi... Terdengar aneh aja." Jawab Raka.
Eka menghela napas kasarnya. Dia meraih tangan Raka, menggenggamnya erat dan kembali menatap wajah Raka.
"Aku... Dijodohkan oleh orangtuaku." Ucap Eka kemudian.
Raka sama sekali tidak menunjukkan ekspresi terkejutnya.
"Ish! Kok ekspresi kamu kayak nggak terkejut gitu?" Tanya Eka kesal.
"Ya habis aku harus gimana ekspresinya?" Raka bertanya balik.
"Seenggaknya terkejut kek, apa kek! Jangan diem doang!"
Raka tersenyum melihat sikap Eka yang berubah seperti anak kecil tersebut.
"Ya udah, maaf. Emang orang tua kamu mau menjodohkan kamu sama siapa?" Tanya Raka.
"Namanya Rama. Aku belum tahu wajahnya seperti apa. Tapi dia itu, anak teman Papa aku." Jawab Eka.
Raka bernapas lega. Dengan begini, dia sudah mempunyai alasan untuk menolak Eka.
Eka melepaskan genggaman tangannya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Ini ada oleh-oleh buat kamu." Ucap Eka tersenyum.
"Oleh-oleh?" Tanya Raka bingung.
"Iya! Kemarin aku ke Singapure jenguk nenek aku. Jadi sekalian jalan-jalan dan beli ini buat kamu. Lucu kan?" Ucap Eka panjang lebar.
Raka pun menerima oleh-oleh tersebut dan tersenyum seraya mengucapkan terima kasih pada Eka.
"Lalu, laki-laki itu kapan datang?" Tanya Raka.
Eka mendengus kesal mendengar pertanyaan dari Raka.
"Kok kamu malah nanyain itu sih bukan nanya gimana liburan aku ke Singapure?!"
"Lho, itu kan hal yang setiap orang pasti sudah tahu. Jadi aku tidak perlu menanyakan lagi." Jawab Raka dengan muka tak berdosanya.
Eka kembali mendengus kesal.
"Kamu hari ini pulang jam berapa?" Tanya Eka kemudian.
"Kenapa?"
"Ish! Jawab dong!"
"Iya-iya. Elah, galak amat sih. Aku hari ini pulang jam 12.00."
"Aku ikut kamu ya hari ini?"
Raka membelalakkan matanya. Dia tahu orang sekaya Eka pasti mengendarai mobilnya sendiri ke kampus.
"E... Emang mobil kamu?"
"Aku numpang Rara hari ini." Jawab Eka.
Raka menghela napasnya sejenak.
"Tapi aku cuma bawa motor." Ucapnya kemudian.
"Gapapa. Asal bisa bersama denganmu, aku tidak masalah." Balas Eka.
Raka menghela napasnya sekali lagi. Pandangannya tertuju pada Angga yang berdiri layaknya patung yang memperhatikan kemesraan mereka berdua.
"Oi, kaleng curut! Ngapain lo bengong?"
Pertanyaan Raka membuat Angga tersadar dari lamunannya.
"Lo kalok ngomong suka keterlaluan ya! Sama sekali gak ada hormatnya sama senior!" Bentak Angga.
"Terus mau lo apa? Mau lanjut? Ayo!" Tantang Raka.
"Siapa takut?!S Angga menjatuhkan tasnya dan berjalan mendekati Raka dengan emosi yang memuncak.
"Lo makan nih bogem!"
"Angga, mau apa lo?!" Bentak Eka.
Angga yang kembali mendengar bentakan Eka, seketika kembali berhenti melancarkan tinjunya.
"Elah, ganggu aja sih lo, Ka!" Gerutu Angga.
"Gue gak suka ya liat lo sok berkuasa! Gue rasa gue udah mengucapkan kalimat ini beberapa kali!"
"Iye-iye. Lah gitu aja sewot!" Gumam Angga.
"Apa lo bilang?!"
"Gak! Elah! Galak amat ini Ibu-ibu satu." Angga pun berjalan kembali ke posisinya dan mengambil tasnya.
"Lo udah gue habisin kalok gak ada Eka!" Ancem Angga.
"Gue gak takut sama senior cemen kayak lo!" Ledek Raka.
Raka menghela napas kasarnya dan berjalan meninggalkan Eka.
"Eh tungguin aku!"
***
Sementara itu...
Terlihat Yola sedang mengerjakan sesuatu. Senyuman terlihat terpancar dari wajah cantiknya.
"Sudah jadi!" Gumamnya.
Dia membuat sebuah gelang dari bunga-bunga yang dipetiknya.
"Aku menghilang selama dua hari ini, kira-kira dia ada nyariin gak ya?" Batin Yola.
Dengan senyum sumringah, Yola pun membawa gelang hasil karyanya untuk diberikan kepada Raka.
***
Yola POV
Hari ini, perasaanku sangat senang sekali karena aku berhasil menyelesaikan hasil karyaku selama dua hari ini. Tapi, perasaan senangku itu hanya sementara saat aku melihat dia sedang berduaan di area parkir. Hatiku seketika terasa sakit sekali.
"Kenapa?! Kenapa aku harus melihat pemandangan seperti ini disaat aku sedang merasa senang dan bahagia?!" Air mata menetes jatuh di pipiku.
Aku tersadar saat merasakan cairan yang turun dari mataku ini. Baru kali ini aku benar-benar merasa sakit. Sakit sekali. Aku memegang dadaku yang terasa sesak.
"Kenapa dia tidak melihat ke arahku sedikitpun?!"
Aku yang terlanjur sakit ini pun membalikkan badanku hendak meninggalkan tempat ini. Namun, sentuhan itu menahan langkahku untuk tidak pergi.
"Yola, tunggu!"
***
Author POV
Jam kuliah baru saja selesai. Karena Raka yang memang sudah janji akan pulang bareng Eka pun menunggunya di parkiran. Senyum seketika terlukis di wajahnya saat melihat diri Eka berjalan ke arahnya.
"Ka, beneran lo gak bareng kita?" Tanya Rara.
"Gak. Gue udah janji sama calon pacar gue untuk pulang bareng dia." Jawab Eka tersenyum.
"Elah! Paling juga ditolak lagi lo." Ledek Mia.
"Mulut lo makan cabe ya, Mi? Kok bisa pedes gitu sih omongan lo?!" Ucap Eka kesal.
Ucapan Eka hanya dibalas tawa oleh kedua sahabatnya.
"Ka, inget yang gue omongin ke lo." Pesan Mia sebelum meninggalkan Eka.
Eka hanya mengangguk dan segera berlari kecil ke tempat dimana Raka sudah menunggunya.
"Sudah siap mau naik motor bareng aku?" Tanya Raka.
Raka hanya mengangguk. Jantungnya berdegup kencang. Wajahnya memerah.
"Kenapa tuh muka? Merah amat kayak tomat." Goda Raka diselingi kekehannya.
Raka menyerahkan helm pada Eka untuk dipakai. Setelah bersiap, Pandangan Raka mendadak tertuju pada seseorang yang dikenalinya.
"Yola!" Ujar Raka.
"Kenapa Raka?" Tanya Eka yang bingung.
"Eh gapapa. Kak Eka, tunggu bentar disini ya. Aku mau kesitu bentar." Ucap Raka berbohong.
Eka mengangguk kemudian mengeluarkan ponselnya.
"Yola, tunggu!" Ucap Raka saat berhasil menggenggam lengan Yola.
Yola membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Raka.
"Kamu kemana aja selama dua hari ini? Aku khawatir tau!" Lanjut Raka.
Tanpa bisa ditahan lagi, Yola pun memeluk tubuh Raka dan melepaskan seluruh tangisannya dalam pelukan Raka.
***
TBC