Bintang memperhatikan Raya yang sedang terduduk di ranjang Rumah Sakit sambil mengelus lututnya yang di perban. Sementara Raya balas menatapnya tajam, seolah ingin membunuh Bintang saat ini juga. Ia sangat kesal, tentu. Karena seenaknya saja laki-laki itu menggunakan tubuhnya dalam keadaan yang membahayakan. Dan yang semakin membuatnya kesal adalah, kenapa Bintang merelakan tubuhnya hanya untuk seorang gadis yang ada di hadapannya sekarang? Yang bahkan Raya sudah lupa siapa namanya.
“Mm, kau sudah baikan?” tanya Bunga memastikan.
“Oh …,” ucap Raya menggantung karena ia sendiri bingung harus menjawab apa. Ia pun menatap Bintang yang sekarang berdiri di belakang gadis itu.
“Namanya Bunga, dia lebih tua darimu. Dan kemarin aku sudah menggunakan tubuhmu untuk menemuinya, ingat? Kau harus bersikap baik padanya,” terang Bintang sejelas-jelasnya.
Raya mencibir sejenak sebelum ia kembali kepada obrolannya dengan Bunga. “Ah … Ya. Aku sudah merasa baikan, Kak,” jawab Raya akhirnya.
“Maaf ya, gara-gara aku kau jadi seperti ini,” tutur Bunga sambil menunduk.
Raya menatap Bunga tidak mengerti. Sebenarnya apa yang dilakukannya di tengah jalan tadi? Apa ia ingin bunuh diri? Namun, walaupun benar seperti itu, ia sendiri pun tidak akan menolongnya jika bukan karena Bintang yang merasuki tubuhnya.
“Hei, jangan melamun! Tanyakan kenapa ia berniat bunuh diri?” suruh Bintang seenaknya. Melihat tatapan tolakan dari Raya, Bintang langsung mengatupkan tangannya dan memasang ekspresi memelasnya.
Akhirnya Raya menurutinya lagi.
“Kak, apa boleh aku bertanya satu hal padamu?”
Bunga mengangkat kepalanya dan melihat Raya sambil tersenyum. “Kau mau bertanya apa?”
“Mmmv… apa kau tadi mau bunuh diri? Kenapa?”
Bunga tertegun. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan itu tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Sementara Bintang menunggunya penuh antusias. Ia sangat ingin tahu, sebenarnya apa yang telah terjadi pada kekasihnya ini.
“Aku … aku tidak mau menikah dengan Raja,” akunya sambil meneteskan air mata. Sementara Raya terkejut akan sikap gadis di depannya itu.
“Hei, jangan pasif begitu! Lakukan apapun yang membuatnya releks!” Bintang kembali memerintah lagi.
Raya mengigit bibir bawahnya. Sungguh, ia sangat benci disuruh-suruh seperti ini! “Mm, Kak. Kau tenang, ya. Kau bisa menceritakan padaku semuanya. Aku bisa jadi pendengar yang baik,” ujarnya sambil menatap Bintang dengan kesal. Sedangkan Bintang hanya tersenyum puas.
Perlahan Bunga menatap Raya sambil menyeka air matanya. Ia menghela napas panjang sebelum menceritakan sesuatu yang besar. “Sebenarnya, aku tidak mencintai Raja. Kau tahu, kedua orang tuaku menjodohkanku dengan paksa karena semacam perjanjian yang tidak aku mengerti. Dan memang benar, pertunangan itu diadakan satu bulan yang lalu. Sehingga aku terkesan telah berselingkuh di belakang Bintang. Tapi kenyataannya tidak, mati-matian aku berusaha menolak akan tetapi tidak bisa. Keluargaku terlalu keras, aku tidak sanggup melawannya,” terang Bunga panjang lebar.
Walaupun awalnya Raya tidak tertarik, tetapi pada akhirnya ia mulai suka mendengar Bunga bercerita. Entahlah, ia ingin mendengar ceritanya sampai akhir. “Lalu?”
“Aku masih sangat mencintai Bintang meskipun ia sudah meninggal. Aku tidak bisa melepaskan hatiku untuk mencintai laki-laki lain. Aku pernah berusaha untuk mencintai Raja setelah Bintang meninggal, tapi tidak bisa. Bagaimana ini Raya? Apa yang harus kulakukan? Aku ingin menyusul Bintang ke surga, aku ingin bersamanya…,” rengek Bunga. Membuat Raya sedikit bingung akan apa yang harus dilakukannya.
“Peluk dia,” ujar Bintang, membuat Raya membelalakkan matanya.
Raya kembali menatap gadis di depannya itu. Bagaimana ini, apakah ia harus memeluknya? Namun, ia tidak pernah memperlakukan orang seperti ini. Rasanya begitu aneh.
“Raya,” tegur Bintang membuyarkan lamunan gadis itu.
Akhirnya dengan gerakan yang sedikit kaku, Raya pun memeluk Bunga yang balas memeluknya erat. Ia tidak tahu apa yang dibuatnya ini benar apa tidak, akan tetapi saat ini dirinya mengelus punggung Bunga.
Bintang tersenyum. Ia terharu ketika melihat pemandangan di depannya. “Raya, ikuti apa yang kukatakan. Kak Bunga, kau tidak perlu melakukan itu.”
“Kak Bunga, kau tidak perlu melakukan itu.”
“Hiduplah dengan baik. Lanjutkan hidupmu meski tanpa kakakku."
“Meski kau tidak mengetahuinya, akan tetapi aku yakin kak Bintang selalu bahagia setiap kau bahagia.”
“Jangan pernah menangis dan merasa putus asa lagi. Percayalah, Kak Bintang akan selalu mencintaimu dan menunggumu di surga.”
Bunga melepas pelukannya dan menatap Raya dengan matanya yang sembap. “Terima kasih Raya, kau benar-benar gadis yang baik,” ucapnya kemudian.
Raya termangu. Ia menatap Bunga dengan tatapan yang sulit digambarkan sendiri. Sementara hatinya berdesir lembut, ia tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Dan ia tidak pernah mendengar kalimat itu dari siapapun. Ia adalah orang yang baik? Benarkah?
“Raya, kenapa kau melamun?” tanya Bunga menyadarkan Raya dari lamunannya.
“Ah, tidak,” jawab Raya sambil tersenyum. Lalu ia menatap Bintang.
Sementara Bintang membalasnya dengan sebuah senyuman hangat. “Bunga benar. Kau adalah gadis yang baik Raya.”
••••••••
Raya berjalan keluar kelas. Lalu, melangkahkan kedua kakinya menuruni anak-anak tangga, menuju ke taman belakang Kampus. Netranya langsung disambut hangat oleh silau terik matahari yang mencoba mengintip dari balik pepohonan rindang. Raya langsung mengangkat tangan kanan, melindungi kedua netra dari silau cahaya itu. Kemudian, ia berjalan dan mendaratkan bokongnya di kursi di bawah pohon rindang.
Kini, benaknya telah berkelana memikirkan kata-kata Bunga kemarin sore. Apa yang gadis itu katakan adalah sebuah kejujuran? Benarkah ia sebaik itu sampai Bunga berkata sedemikian rupa? Lalu, sekarang ia harus bagaimana? Senangkah? Puaskah? Atau terharu?
“Kenapa kau tersenyum sendiri?” kata Bintang yang tiba-tiba saja sudah ada di samping Raya.
“Bintang, apa begini rasanya menjadi orang baik?” tanya Raya sambil menerawang jauh ke depan. Seolah ada yang menarik di depannya.
“Mm … jadi kau tersenyum sendiri karena teringat ucapan Bunga kemarin?” tanya Bintang memastikan yang hanya dianggukan saja oleh Raya.
“Ya, seperti itulah menjadi orang baik,” tutur Bintang berpura-pura berpikir keras.
“Hmm … sebenarnya aku pernah menjadi orang sepertimu,” ucap Raya tanpa menatap ke arah Bintang.
Bintang mengernyit heran. “Maksudmu … kau pernah menjadi orang baik juga?”
“Mm,” ungkap Raya sambil mengangguk sekali. “Bahkan semua orang menjulukiku berhati malaikat. Lucu, kan? Aku yakin kau tidak percaya,” kenang Raya di sisipi dengan tawa kecil di tengahnya.
Bintang menatap Raya dengan tatapan tidak percaya. Ia tidak pernah tahu bagaimana kehidupan Raya dulu. Jangankan dulu, dua tahun terakhirnya saja ia tidak tahu. Dan ia tidak pernah memedulikan hal itu karena memang tidak tertarik pada gadis ini.
“Tapi, karena seseorang yang sekarang sangat aku benci, aku menjadi berubah, aku memang gadis yang bodoh dan begitu naif. Kenapa aku merelakan kebaikanku untuknya? Padahal ia pun tidak pernah mengatakan sepatah kata terima kasih untukku,” cerita Raya yang nadanya berubah kesal tiba-tiba.
Kemudian Raya menendang kerikil di depannya. “Bintang, aku bodoh, kan? Jadi apa untungnya menjadi orang baik?” seru Raya sambil memandang wajah Bintang. Namun, anehnya Bintang malah sedang melamun. Entah apa yang dipikirkannya. “Kau kenapa Bintang?”
“Oh, tidak,” sangkal Bintang akan tetapi terlihat jelas jika wajahnya habis melamun. “Aku hanya membayangkan kau menjadi seorang gadis yang baik. Haha, tapi itu tidak cocok dengan wajahmu?” ledek Bintang lalu menjulurkan lidahnya.
“HEI!” teriak Raya yang tidak terima dengan ucapan Bintang. Sementara laki-laki itu masih terus mengejeknya.
“Bintang, apa ada sesuatu yang ingin kau lakukan? Sudah berapa hari waktumu terbuang percuma?” tanya Raya akhirnya.
Bintang menatap Raya tidak percaya. Kenapa tiba-tiba Raya peduli padanya? Biasanya gadis itu selalu masa bodoh. “Kenapa kau menanyakan hal itu? Bukankah kau tidak tertarik?”
“Ck,” decak Raya. “Aku hanya ingin tahu, Bodoh!”
“Hei! Aku lebih pintar darimu, Mengerti?”
“Mengerti, mengerti! Jawablah pertanyaanku, Bintang!”
Bintang berhenti bicara dan tidak menjawabnya langsung. “Aku, ingin membebaskan Bunga dan membahagiakan keluargaku.”
“Keluarga? Apa yang akan kau lakukan?” tanya Raya bingung.
“Bagaimana jika kita cari waktu yang tepat untuk pergi ke rumahku?”
“Tidak masalah.”
“Apa kau sedang berlatih drama?”
Raya dan Bintang sama-sama menoleh ke samping, tempat suara itu muncul. Dan kini terlihatlah seorang laki-laki kurus berkaca mata di samping Raya. Laki-laki itu tersenyum, menandakan jika ia adalah orang yang ramah.
“Hai!” sapa laki-laki itu riang.
Sekilas, Raya menilai laki-laki ini masih kekanak-kanakan. Ya, walaupun ia tidak tahu nanti.
Raya tidak menjawab apa-apa. Ia hanya memasang wajah penuh pertanyaan.
“Oh aku lupa memperkenalkan diriku. Halo, namaku Arsen!” ucap laki-laki itu sambil memperkenalkan diri.
Raya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Lalu kenapa kau malah kemari?”
“Kenapa kau tidak mau memperkenalkan dirimu dulu?” dalih Arsen tersenyum kecil. Ia hanya sedang berpura-pura saja menanyai nama gadis itu. Walau sebenarnya ia sudah mengenalnya. Dan ia yakin jika gadis itu tidak mengingat pertemuannya dengannya saat itu.
“Raya Putri. Kenapa kau ke taman belakang Kampus?” tanya Raya.
“Sepertinya aku tersesat, hehe … Bisakah kau menunjukkan padaku di mana ruang rektor?” dustanya lagi.
“Kau keluar dulu dari taman ini. Setelah kau melihat lorong Kampus, maka jalan lurus lalu belok kiri. Mengerti?”
Arsen berpikir sejenak. Seperti berusaha menghafal jalan itu. “Ahv… mengerti, terima kasih, Kak!” jawabnya lalu berjalan pergi meninggalkan Raya yang menatapnya aneh. Seketika Arsen membalikkan tubuhnya lagi. “Maaf aku lupa. Semangat!”
“Bintang, apa kau yakin dia manusia?” tanya Raya begitu Arsen telah berjalan jauh darinya. Entah kenapa ia seperti pernah melihat laki-laki tadi. Namun sayangnya, ia lupa kapan dan di mana.
Bintang melipat tangannya di depan d**a sambil melenggut. “Entahlah. Yang aku tahu dia penjaga Perpustakaan. Saat aku masih menjadi manusia, aku pernah bertemu dengannya dan tidak sengaja menabraknya,” cerita Bintang panjang lebar.