Matahari tersenyum hangat. Sinarnya memancarkan warna keemasan. Bulat, jingga yang sempurna. Menyinari pepohonan rindang yang berwarna hijau. Daun-daunnya seakan mengangguk tanda menyetujui matahari pamit dari hadapannya. Angin ikut mengantarkan kepergian sang mentari. Saat yang sama angin memberikan rasa dingin dan sunyi di hati seorang Raya.
Raya berjalan menyusuri jalan trotoar yang pada petang hari ini sudah mulai sepi. Kali ini, ia harus pulang seorang diri menuju ke rumahnya. Sebab, Bintang, makhluk astral itu sedang berkunjung ke rumah kekasihnya. Ah, entah kenapa ada sedikit rasa iri di hatinya terhadap gadis yang bernama Bunga itu. Ya, sebab gadis itu selalu mendapatkan cinta dari Bintang walau laki-laki itu telah meninggal dunia sekali pun.
Diam-diam tidak jauh di belakang Raya, Arsen mengikuti gadis itu. Walau pada kenyataannya, jalan yang dilaluinya searah untuk menuju ke Rumah Sakit. Arsen tersenyum kecil melihat gadis di depannya tampak berjalan gontai seorang diri. Ke mana arwah Bintang yang selalu menemani gadis itu? Entahlah. Mungkin laki-laki itu memiliki urusannya sendiri.
Kini, Arsen mempercepat langkahnya untuk mengejar Raya. Setelah berpura-pura berkenalan tadi, sepertinya kali ini ia ingin mengenal lebih dekat dengan gadis itu. Ya, supaya ia bisa membantu Raya sekaligus arwah Bintang dalam mencapai keinginannya.
“Hai, kau sendirian?” tanya Arsen berbasa-basi saat sudah berada di samping Raya.
Raya terkejut dan menoleh saat seorang laki-laki tiba-tiba saja menyapanya. Namun, detik setelahnya ia kembali menoleh ke depan setelah tahu laki-laki dengan wajah kekanak-kanakan itu yang menyapanya. “Hmm … kau sendiri?”
“Ya, aku masih jomlo jadi ke mana pun aku berjalan hanya seorang diri,” aku Arsen seraya terkekeh kecil.
Raya mendesah pelan. Apa maksud laki-laki itu mengatakan jika dirinya masih jomlo? Apa dia sedang meledeknya yang juga masih jomlo? Dasar anak kecil! “Apa kau juga ingin pulang?” tanya Raya sengaja mengubah topik pembicaraannya.
Arsen menggeleng. “Aku ada jadwal koas di Rumah Sakit Jakarta.”
Raya membeliak. Apa? Koas? Jadi laki-laki ini seorang dokter? Oh, astaga! Kenapa wajah laki-laki ini begitu kekanak-kanakkan? Bahkan, Raya pikir jika dirinya yang lebih tua dari pada laki-laki itu. “Kau seorang dokter?” tanyanya akhirnya.
Arsen terkekeh kecil. Sepertinya gadis ini memang memiliki ingatan yang cukup buruk, sehingga dengan mudah melupakan dirinya. Akhirnya, ia melenggut sebelum menjawabnya, “Ya, aku sedang menjalani Koas. Terkadang jika ada waktu aku menyempatkan diri untuk bekerja paruh waktu menjaga Perpustakaan di Kampus. Ya walau kenyataannya jadwal Koas ku lebih padat,” terangnya panjang lebar.
Raya melenggut. Kemudian, ia memilih untuk bungkam sembari menikmati perjalanannya.
Sementara Arsen terus membuka suara untuk menemani perjalanan keduanya supaya tidak terasa sepi. Ia bercerita apapun perihal dirinya dan sang nenek. Dan sepertinya Raya juga menikmati pembicaraan mereka. Namun, terlalu asyik bercerita, hingga Arsen tidak sadar telah mengucapkan rahasia besar yang selama ini ditutupinya.
“Kenapa kau tidak mencoba membantu Bintang untuk menemui pelaku pembunuhannya?”
Mendadak langkah Raya terhenti. Ia membeliak hingga menangkupkan mulut dengan kedua tangannya, menatap Arsen. “A-apa maksudmu? Pembunuh? Siapa yang dibunuh? Lalu, bagaimana kau bisa tahu tentang Bintang?” tanyanya bertubi-tubi setelah membuka mulut kembali.
Arsen langsung terbungkam saat itu juga. Ia memejamkan mata seraya menggigit bibir bawahnya. Oh, astaga, kenapa dengan dirinya? Kenapa ia sampai mengatakan rahasia besar Bintang? Padahal, niat awalnya hanya ingin bisa akrab dengan Raya. Namun, sepertinya ia telah melewati batas. Aissh … bodoh sekali kau Arsen! “Oh, tidak. Maksudku—"
“Jadi, penyebab kematian Bintang, karena laki-laki itu dibunuh? Sehingga dia masih berada di dunia ini untuk membalaskan dendamnya?” asumsi Raya sekaligus memastikan kembali pertanyaannya.
“Bu-bukan begitu maksudku ….” Arsen merasakan dadanya terasa sesak saat melihat gadis di depannya menangis pilu. Ya Tuhan, apa yang harus dilakukannya? Bagaimana nasib arwah Bintang nanti? Kenapa semua menjadi sulit seperti ini? Dan semua ini merupakan kesalahannya.
Air mata Raya merebak. Sungguh, ia masih belum memercayai kenyataan ini. Pun, ia tidaj pernah menyangka jika selama ini Bintang telah membohonginya.
•••••••
“Kenapa kau membohongiku, Bintang?” geram Raya diiringi oleh isak tangisnya.
Seketika Bintang melihat bola mata Raya menyemburkan kobaran api kemarahan. Dengkus napasnya bergemuruh menghantam kesadarannya. Wajah tenang itu berubah jadi badai, yang siap menerjang. Ia tidak mengira keteguhan Raya sekuat karang punah ranah dalam hitungan detik. Bintang mengurut d**a, merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya. Seharusnya, ia berkata jujur kepada gadis itu.
“Aku tidak ingin mati Bintang. Aku tidak ingin jika sampai pembunuh itu tiba-tiba datang menghampiriku dan beralih membunuhku?” Tubuh Raya merosot jatuh ke atas lantai. Ia menangis, menumpahkan semua kekesalan sekaligus ketakutannya.
Bintang berjongkok. Ia ingin sekali menenangkan gadis itu dengan memeluknya. Namun, kenapa di saat seperti ini ia tidak bisa menyentuh tubuh Raya. “Maafkan aku, Raya. Tapi, aku berjanji akan melindungimu,” ungkapnya tulus.
Namun, seketika Raya bangkit. Menatap tajam Bintang yang saat ini telah berdiri di hadapannya dengan wajah sembabnya. “Mulai saat ini aku tidak ingin bertemu denganmu lagi, Bintang! Aku tidak ingin melihatmu lagi! Pergi dari kehidupanku searang juga!” pekiknya kencang.
Bintang termangu. Ia melihat sorot mata Raya terlihat sendu. Raut wajah gadis itu menggambarkan kesedihan yang tertahan. Ia tidak mengerti apa maksudnya. Pun, tidak jarang kristal bening mengalir di wajah bulatnya. Namun, mendengar perkataan gadis itu, ia merasakan sesuatu menghentakkan dadanya. Terasa sesak. Ia tidak menyangka jika Raya akan mengatakan hal itu. Lalu, apa yang harus dilakukannya sekarang tanpa Raya? Haruskah ia pergi dari kehidupan gadis itu? Namun, bagaimana dengan penyelidikannya?
•••••
Dua minggu kemudian.
“Apa saja yang kau bawa?” tanya Nadia sambil melihat-lihat isi koper merah putrinya.
Hari ini Raya akan mengikuti study tour ke Jepang. Ya, meskipun awalnya ia sempat menolak, tapi setelah dipikirkan kembali, akhirnya ikut juga.
“Jelas yang aku butuhkan, Bu” jawab Raya sambil menyisir rambut panjangnya. Kemudian, ia memakai topi rajut dan berbalik. “Setelah aku kembali ke Indonesia, aku pasti akan membelikan Ibu oleh-oleh dari Jepang,” ungkapnya berbinar senang.
Nadia tersenyum kecil, seraya mendaratkan b****g di ranjang Raya. “Tidak perlu repot-repot, Raya. Kau pulang dalam keadaan selamat saja sudah membuat Ibu senang.”
Raya berjalan menghampiri Ibunya. Kemudian, duduk di samping Nadia dan memeluknya erat. “Baiklah, Ibu. Kalau begitu aku pamit, ya?”
Nadia membalas pelukan putrinya itu. Lalu, mencium kening. “Kau harus berhati-hati. Setelah sampai di Jepang, kau harus memberitahu Ibu dan ayahmu. Mengerti?”
“Mengerti,” sahut Raya tersenyum senang. Setelah itu, ia bangkit dan menyalami Ibunya. Lalu, bergegas menarik kopernya ke luar.
•••••••
Raya melihat ke arah Electronic Display untuk yang kesekian kalinya. Rombongan Kampusnya baru akan berangkat sekitar dua puluh menit lagi. Ah, sungguh menyebalkan jika harus menunggu seperti ini. Raya pun menggerak-gerakkan kakinya bosan.
Kini, netranya menjelajah ke arah teman-temannya yang sedang asyik tertawa dan bercanda bersama sambil menunggu. Mereka tampak begitu gembira sekali. Berbeda halnya dengan dirinya yang merasa kesepian akibat tidak memiliki teman. Raya merutuki dirinya sendiri yang memiliki sikap angkuh, sehingga ia harus rela dijauhi oleh temannya seperti ini.
Seketika, Raya teringat akan arwah Bintang. Ke mana arwah itu pergi semenjak dirinya mengusirnya? Ah, entahlah. Untuk apa ia memikirkan arwah itu. Mungkin saja sekarang laki-laki itu sudah hidup bahagia di surga.
“Raya!”
Raya menoleh ke samping dan melihat Andra sedang berlarian kecil ke arahnya. Raya langsung mendengkus kesal. Ada apa lagi sih dengan laki-laki itu? Kenapa Andra tidak pernah bosan mendekatinya?
“Hai, kau ikut juga?” tanya Andra antusias. Sementara yang ditanya malah membuang muka.
Namun, detik setelahnya Raya mau menatap Andra lagi. “Memang kenapa kalau aku ikut?” tanya Raya ketus.
Andra justru tersenyum mendengar jawaban Raya yang masih terdengar tidak menyenangkan itu. Setidaknya, Raya mau menjawab pertanyaannya. Ia yakin, Raya hanya butuh waktu.
“Aku senang kau ikut.”
Raya tidak menjawab lagi. Ia lebih memilih untuk memandang orang-orang yang berlalu lalang di bandara hari itu. Baginya, hal itu jauh lebih menyenangkan.
“Ayo!” ajak Andra yang tiba-tiba sudah menggenggam tangan Raya.
Raya melebarkan matanya. Ia ingin sekali berontak akan tetapi Andra sudah lebih dulu mengajaknya berlari. Namun, Raya semakin terkejut saat Andra mengajaknya ke antara teman-teman mereka? Apa yang akan Andra lakukan?
“Hai, apa kabar?” sapa Andra ramah pada semua temannya. Ia menatap Raya yang masih terdiam kaku. Sungguh, Raya benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan.
“Halo,” balas teman-teman mereka ramah. Mereka pun sedikit aneh ketika melihat Raya bersama Andra.
“Raya, ayo sapa mereka,” bisik Andra. Sementara Raya menatapnya dan laki-laki itu hanya menggerakkan kepala ke arah teman-temannya.
“Hai,” ucap Raya dengan yakin. Ia menjadi geli dengan dirinya sendiri. Kenapa ia harus merasa canggung?
Andra tertawa kecil untuk mencairkan suasana. Ia tahu semua teman-temannya masih menganggap Raya sebagai gadis yang angkuh. “Haha. Oh, ya. Aku ingin memberi tahu sesuatu pada kalian. Raya, dia adalah gadis yang baik. Kalian hanya belum mengenalnya lebih dekat saja. Percayalah ….”
Raya menatap Andra tajam. Untuk apa Andra berkata seperti itu pada teman-temannya? Apakah Andra sedang berusaha menyatukannya dengan teman-temannya? Oh, astaga, ia merasa dipermalukan sekali!
“Andra, aku tidak menerima perlakuan ini,” bisiknya, “aku bukan—"
Seketika, Andra merangkul Raya. “Dan dia telah menjadi teman wanita ku sejak kemarin!” dusta Andra sambil tersenyum lebar.
Raya melotot. Ia begitu syok saat mendengar pernyataan Andra yang di luar dugaannya itu. Kenapa Andra berkata seperti itu? Tidak bisa dibiarkan! Raya mengangkat tangannya untuk menampar wajah laki-laki itu, ketika tangan Andra sudah lebih dulu menahannya.
Andra tampak melempar senyum pada Raya. Senyum yang sangat memuakkan bagi Raya, dan saat itu juga satu-satunya hal yang ingin dilakukan Raya ialah, menonjok wajah Andra.
••••••
Raya melirik kesal ke arah Andra. Saat ini mereka bahkan duduk bersebelahan di pesawat. Berkali-kali Raya menghela napas berat, berusaha menerima semua kenyataan ini. Jangankan duduk berdua, barnapas satu udara dengannya pun sudah membuatnya hampir mati kesal.
“Ada yang ingin kau bicarakan?” tanya Andra memecah keheningan di antara mereka berdua.
Sekali lagi Raya mendesah malas. “Tidak.”
Andra masih menatap Raya dengan sorot matanya yang lembut. “Aku sudah menjadi kekasihmu. Tidakkah kau senang?”
Kali ini Raya menatap Andra dengan garang. “Siapa yang pernah berkata seperti itu? Kapan aku menyatakan kalau aku mencintaimu?”
“Baru saja,” jawab Andra sambil tersenyum penuh kemenangan.
Raya tertegun. Kemudian ia menutup mulutnya. “Bukan—"
“Sudahlah, aku hanya ingin bersahabat denganmu,” potong Andra cepat.
“Sahabat?” Raya berdecak sekali. Bagaimana bisa laki-laki ini mengaku ingin bersahabat dengannya? Bukankah sudah jelas jika Andra menyukainya?
“Bagaimana?”
“Tidak,” jawab Raya mantap. “Aku tidak mau bermain-main dengan laki-laki sepertimu!” lanjutnya tegas.
“Baiklah. Kita buktikan saja, Raya. Aku akan membuktikan padamu, jika aku layak menjadi sahabatmu,” tantang Andra dengan percaya diri. Lalu, ia tersenyum penuh rahasia.