Aku menunggu Raya merapikan rambut panjangnya itu dengan kesabaran tingkat tinggi. Bagaimana tidak, aku sudah menunggunya selama lima belas menit lebih dan gadis itu belum juga berhenti.
“Kau sudah sangat cantik, Raya,” ucapku berusaha meyakinkannya agar gadis itu segera berhenti.
Raya membalikkan badannya dan menatapku kesal. “Aku tidak mau keluar dalam keadaan jelek?” balasnya tidak mau tahu. Sementara aku hanya mendengkus sebal. “Lagipula, memang kau mau menyelidiki apa sih? Aku tidak mengerti?”
Aku mendesah pelan. “Sesuatu yang tidak ku ketahui juga.”
Raya tertawa kecil di depan cermin. “Kau seperti aktor-aktor di film barat yang sering ku tonton, Bintang,” ledeknya dan aku masih berusaha untuk bersabar. Sampai akhirnya gadis itu membalikkan badannya.
“Oke, aku siap!”
“Nah, begitu dong!” Bintang dengan cepat mengambil alih tubuh Raya
••••••
Aku menyusuri lorong kampus seraya memandang luas sekitarku. Aku mencari-cari sesosok Andra yang belum juga kutemui hingga sekarang. Rasanya aneh, biasanya laki-laki itu selalu menghampiri Raya kapan pun ada waktu. Namun, kenapa sekarang tiba-tiba dia menghilang?
“Maaf, apa kau melihat Andra?” tanyaku pada seorang gadis yang aku yakin ia teman sekelas Andra. Aku harap dia mengetahui ke mana jejak anak itu.
“Andra tidak masuk kuliah hari ini. Dia sakit,” jawab gadis itu membuatku membelalakkan mata lebar-lebar. Andra sakit? Sakit apa? Aku baru tahu kalau sahabatku yang satu itu bisa sakit juga.
“Benarkah? Baiklah. Terima kasih,” ucapku dan gadis itu pun pergi. Aku berdiri sambil memikirkan sesuatu. Lalu sekarang aku harus apa? Ke rumahnya kah?
•••••••
“Apa kau mau kuantar ke kamar tuan muda?” tanya pelayan di rumah Andra yang tadi membukakan pintunya untukku.
Aku mengangguk sekilas. “Terima kasih," jawabku dengan sopan.
Aku pun dibawa menyusuri rumah Andra yang besar dan mewah ini. Sebenarnya aku pernah ke sini sekali. Andra memang anak Presiden Direktur di perusahaan ABC tempat di mana ayahku bekerja. Bahkan, yang aku tahu jika mereka--ayahku, pamanku, dan ayahnya Andra--bersahabat dan membangun perusahaan bersama. Jadi, tidak heran kalau rumahnya bisa dikatakan seperti istana. Namun sayangnya, laki-laki itu termasuk dalam daftar anak yang kurang mendapat perhatian dari orang tuanya.
“Kita sudah sampai. Silakan,” kata pelayan itu ketika kami berdiri di depan sebuah pintu berwarna putih.
“Terima kasih," balasku. Setelah pelayan itu menjauh, aku langsung mengetuk pintunya.
“Masuk,” seru Andra dari dalam. Aku mendengar suaranya serak dan tidak sehat. Aku mengerutkan kening sambil membuka pintunya.
“Oh, Raya?”
Aku merasa kasihan ketika Andra melihatku dengan tatapan lelah seperti itu. Apa yang terjadi padanya? Kenapa wajahnya begitu pucat dan tubuhnya begitu lemah? Atau jangan-jangan telah terjadi sesuatu antara Raya dan Andra?
“Darimana kau tahu alamat rumahku?” tanya Andra dengan suara serak.
Tentu saja aku tahu, bodoh. Apa kau lupa sudah berapa tahun kita berteman? “Hehe. Tadi aku menyanyakannya pada temanmu di kampus. Kau sakit apa?” tanyaku balik mengalihkan topik pembicaraan.
“Hanya demam biasa. Aku baru tahu kalau kau bisa seperhatian ini padaku?”
Aku tidak menjawabnya. Aku memilih untuk memperhatikan seisi kamar Andra. Tidak banyak berubah, hanya ada beberapa perabot baru. Aku jadi teringat saat kami berdua mengerjakan tugas saat masih sekolah bersama di kamar ini. Aku merindukanmu Andra, sebagai sahabatku yang paling dekat.
Tok, tok, tok ....
Tiba-tiba pintu kamar Andra diketuk oleh seseorang. “Masuk,” seru Andra dan tak lama kemudian aku memperhatikan handle pintu yang bergerak. Siapa yang datang? Aku berusaha menebak-nebak sampai ....
“Bunga?” gumamku lirih. Mataku membulat seketika saat melihat sesosok gadis berambut pendek nan cantik yang begitu lekat dalam ingatanku selama ini. Aku selalu merindukannya setiap hari bahkan sampai aku mati. Namun, kenapa sekarang aku melihatnya dalam keadaan seperti ini?
“Bunga?” ucap Andra sambil setengah bangkit dari sandarannya.
Bunga sedikit terkejut ketika melihat ke arahku. “Raya? Kenapa kau bisa ada di sini?” tanyanya heran.
Sial, bisa-bisa dia membuatku pusing mencari alasan! “Haha. Aku hanya main ke rumah temanku kok,” jawabku asal.
“Loh, kalian sudah saling kenal?” sekarang giliran Andra mengajukan pertanyaannya seperti hakim yang mengadiliku.
“Sudahlah, tidak usah dibahas. Kak, apa kau mau menjenguk Andra?” Aku berusaha keras membelokkan arah pembicaraan mereka. Untunglah, sepertinya mereka menurut saja.
“Hm,” jawab Bunga seraya meletakkan keranjang apelnya ke meja kecil di sisi tempat tidur Andra.
Apel merah? Bukankah itu adalah buah kesukaan Andra? Apa selama ini hubungan Bunga dan Andra sudah sedekat itu?
“Kau sudah baikan Andra?” tanya Bunga ramah lalu duduk di tepi ranjang Andra, tepatnya membelakangiku. Aku langsung berdiri karena merasa tidak enak dengan posisi itu. Apa-apaan ini?
“Ah, ya,” jawab Andra sambil tersenyum terpaksa. Ia melirik kepadaku sekilas.
“Hmm ... bagus kalau begitu. Andra, apa aku boleh berbicara sesuatu padamu?” tanya Bunga terdengar serius. Aku mengerutkan kening, apa yang akan dibicarakannya?
“Bicara apa?” tanya Andra tidak mengerti.
Bunga tidak langsung menjawab. Ia malah menolehkan kepalanya kepadaku. “Maaf. Raya, bisakah kau meninggalkan kami berdua?”
“Ya?” aku terkejut bukan main. Meninggalkan mereka berdua? Sebenarnya apa yang akan mereka katakan? Kenapa aku harus pergi?
“Ah ... baiklah,” jawabku pasrah. Lalu dengan berat hati aku meninggalkan dua manusia itu berbicara di dalam kamar. Hanya berdua, dan sialnya aku tidak bisa mengetahui apapun. Dan tentu saja, semua ini begitu membuatku kesal!
“Maaf, apa kau adalah pacar Andra yang sekarang?” tanya seseorang ketika aku baru saja menutup pintu.
Aku membalikkan tubuh dan melihat seorang wanita bertubuh mungil sedang berdiri tepat di depanku. Aku mengerutkan kening samar. Kalau tidak salah, dia adalah Kakaknya Andra. Aku memang jarang melihatnya karena selama ini wanita itu ada di Jepang bersama suaminya. “Ya,” jawabku sekadarnya.
“Saya, Liana. Apa kita bisa bicara sebentar?”
•••••••
“Apa kau tahu, kalau Andra pernah mengalami kecelakaan belum lama ini?” tanya Liana setelah menyesap kopi dalam cangkir hijau itu. Nada suaranya terdengar begitu hati-hati, seolah satu kata saja bisa merusak semuanya.
“Kecelakaan? Kecelakaan apa?” tanyaku balik. Aku tidak pernah tahu jika Andra mengalami kecelakaan. Kenapa ia tidak pernah cerita?
“Kau tidak tahu? Jadi Andra tidak pernah menceritakannya padamu?” ujar Liana dan aku hanya mengangguk kecil.
“Ya, Andra pernah mengalami kecelakaan saat ia baru saja kembali ke Jakarta.”
Kembali ke Jakarta? Kapan? Bahkan aku tidak tahu kapan tepatnya ia menginjakkan kaki di tanah kelahirannya ini.
“Kurang lebih satu bulan yang lalu saat dia pergi untuk menginap ke rumah Raja dan di saat itulah dia mengalami kecelakaan itu. Mobilnya berusaha menghindari sebuah bus, akan tetapi nahas nasibnya malah tidak lebih baik. Sehingga dia harus dirawat selama satu minggu di Rumah Sakit. Walaupun lukanya tidak begitu parah, tapi mobilnya sukses menghancurkan pembatas jalan,” jelas Liana panjang lebar.
Aku terdiam tanpa menjawab sepatah katapun. Entah kenapa, ingatanku melayang ke arah yang tidak jelas. Kenapa aku jadi teringat akan kecelakaanku sendiri? Bukankah tidak ada hubungannya sama sekali? Tidak mungkin hanya ada satu bus di Jakarta ini, kan?
“Tapi Andra sempat memberi tahuku apa tujuan utamanya pulang ke Jakarta.”
“Apa itu?”
“Dia mencari seorang gadis, yang dicintainya entah karena apa. Gadis yang sangat menarik perhatiannya sejak pertama kali dia melihatnya. Meskipun hanya melalui selembar foto. Aku ingat, aku menertawainya karena dia seperti anak kecil yang baru pertama kali jatuh cinta. Tapi ternyata, sekarang aku bisa memercayainya,” tutur Liana, lalu menatapku sambil tersenyum.
“Terima kasih. Karena kau, aku melihat Andra bisa mencintai seseorang dengan tulus.”
Aku tertegun. Selama ini aku pun tahu jika Andra hanyalah tipe seorang laki-laki yang suka mempermainkan para gadis. Ia sering memperlakukan gadis dengan seenaknya tanpa pernah memikirkan bagaimana perasaan gadis itu. Namun, ketika ia bertemu Raya, aku sempat melihat sinar ketulusan lewat matanya.
“Raya, apa kau juga mencintai adik ku itu dengan tulus?”
•••••••
“Apa? Maksudmu aku harus melakukannya juga?” seru Raya dengan mata terbelalak, menunjukkan kekesalannya yang teramat sangat pada Bintang.
“Memangnya kenapa? Bukannya kau sudah mulai menyukai Andra?” balas Bintang berusaha membujuk.
Raya mendengkus kesal. Ia menatap sebuah kaleng di depannya lalu menendangnya keras-keras sampai terdengar bunyi nyaring di seberang sana. Raya memandang luas ke depan. “Aku hanya berusaha, belum sepenuhnya bisa mencintai laki-laki itu,” akunya tanpa menatap lawan bicaranya sedetikpun.
“Oke, kalau begitu kau bisa bersikap seolah kau mencintainya. Anggap saja kau sedang berusaha mencintainya.”
“Tidak, kau tidak mengerti Bintang.”
Bintang mengerutkan keningnya. “Kenapa?”
“Andra telah mencintai orang yang salah. Bukan aku, aku bukan gadis yang pantas untuknya.”
Bintang tidak serta merta menjawabnya. Ia berusaha memahami apa yang dirasakan Raya. Gadis itu benar, walau bukan berarti Bintang menjelek-jelekkan Raya juga. Namun, jika di banding dengan Bunga, Raya memang jauh dari kata setara.
“Aku tidak sebaik itu, kan?” gumam Raya dengan suara bergetar.
Bintang pun menoleh ke arah Raya. Ia melihat gadis itu meneteskan air matanya. Bintang tidak sanggup menyembunyikan rasa kasihannya. Baru kali ini ia melihat air mata Raya keluar karena ketulusan. Ketulusan yang murni dan tidak dibuat-buat.
Sekarang Raya menatap Bintang dengan kedua matanya yang sudah basah. “Maaf,” tuturnya pelan.
“Maaf apa?”
“Karena telah membuatmu seperti ini. Kau sudah sangat baik padaku. Tapi aku malah menyia-nyiakan semuanya. Aku memang bukan orang yang baik.”
Bintang tersenyum. “Terima kasih, karena kau telah memperlihatkan padaku sesuatu yang tidak pernah ku alami. Kau tidak perlu menjadi orang sebaik orang lain. Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Percayalah,” ucap Bintang dengan senyum yang tidak lepas dari wajahnya.
Raya tidak berkata apa-apa. Ia hanya melihat wajah Bintang dengan kedua matanya yang sembap.