Raya melihat bayangan wajahnya sendiri di depan cermin yang ada di kamarnya. Tiba-tiba ia merasakan angin lembut berdesir melewati tengkuknya. Raya berdecak kecil sambil tersenyum mengejek.
“Apa yang kau lakukan Bintang?” ucapnya santai.
Tidak lama setelah kata-kata itu keluar, sesosok laki-laki dengan pakaian serba putih pun akhirnya muncul di sisi Raya. Sementara Bintang melipat tangannya di depan d**a sambil tersenyum lebar.
“Mau ke mana kau hari ini?”
“Tentu saja kuliah. Kenapa? Kau mau meminjam tubuhku?”
Bintang menggeleng pelan. “Tidak, aku belum membutuhkannya,” jawabnya disertai anggukan Raya.
“Oke, aku akan berangkat!” kata Raya lalu mengambil tas slempangnya dan pergi dari tempat itu.
Bintang mendengkus kesal. “Dasar dia masih saja menunjukkan keangkuhannya!”
•••••••
Raya berjalan lurus di sepanjang lorong kampusnya. Sebenarnya hari ini ia malas untuk berangkat ke kampus. Ia ingin beristirahat dalam tidur dan membiarkan Bintang yang memakai tubuhnya. Namun, apa daya, ia tidak mungkin memaksa laki-laki itu.
“Pagi!” seru sebuah suara lucu yang tiba-tiba menghampiri Raya.
Raya terkejut. Lalu, ia menoleh dan mendengkus kesal ketika melihat sesosok Arsen yang kini sedang tersenyum lebar padanya.
“Kenapa? Kenapa wajahmu begitu?” tanya Arsen masih mempertahankan wajahnya yang ceria.
“Bukan urusanmu,” tukas Raya acuh tak acuh.
“Tapi aku ingin tahu.”
“Tidak boleh.”
“Kenapa?”
“Jangan banyak bertanya!”
“Tapi aku tahu semua rahasiamu, Raya,” cetus Arsen membuat Raya terpaksa membalikkan tubuhnya. Sementara Arsen kembali memamerkan deretan giginya yang rapi melalui senyumnya.
Raya melengos. Ia menyerah. “Oke, aku menyerah. Apa maumu?”
•••••••
“Kenapa kau membawaku kemari?” tanya Raya heran saat ia harus mendudukkan dirinya di salah satu kursi perpustakaan. Ia juga melihat Arsen hanya tersenyum sambil menaruh posisi duduk di hadapannya.
“Kau boleh menebaknya,” balas Arsen sambil menopang dagu dengan kedua tangannya.
Raya mendesah sebal. “Sudahlah, aku sedang tidak mood untuk bercanda, Arsen.”
“Kau tidak mau?”
Raya memutar kedua bola matanya. Kalau saja laki-laki itu tidak tahu tentang rahasia besarnya, ia tidak akan meladeninya sejauh ini.
“Apa kau mau membacakan sebuah dongeng untukku? Atau memprivatku menulis kanji?”
“Bukan keduanya.”
“Lalu?”
“Bisakah kau mengundang Bintang kemari?” cetus Arsen akhirnya sukses membuat Raya membulatkan kedua matanya.
“Apa maksudmu?”
“Tempat ini sepi. Aku hanya ingin berkenalan dengannya. Bisakah kau melakukannya?” pinta Arsen dengan santainya.
“Aku tidak bisa memanggilnya. Ia datang dan pergi sesuka hatinya,” aku Raya.
Arsen mengembangkan sebuah senyum manis di wajahnya. Senyum yang sangat menawan, seperti pangeran yang sering muncul dalam dongeng.
“Kurasa aku sudah merasakan kehadirannya. Auranya baik sekali.”
Raya mencari-cari sekelilingnya. Tepat, di depan pintu perpustakaan ia melihat sesosok laki-laki dengan pakaian serba putih sedang berjalan ke arahnya. Ia mendengkus kesal. “Kenapa dia harus datang sih?”
“Dia juga mempunyai urusan denganku, Raya.”
“Apa?”
“Jadi, kau yang bernama Arsen?”
“Hai. Bintang.”
•••••••
“Jelaskan padaku, bagaimana kau bisa menjadi anak angkat di keluargaku?” tanya Bintang tanpa buang waktu. Ia menatap tajam kedua mata Arsen, seolah laki-laki berwajah polos itu adalah makanannya.
“Mereka mengangkatku sebagai anak setelah nenekku meninggal dunia. Aku mengenal mereka saat menolong ayahmu yang pingsan di tempat umum dengan mengantarkannya ke rumah sakit” jawab Arsen dengan tenang. Sama sekali tak menunjukkan kegelisahan.
“Pingsan?”
Arsen mengangguk, menjawab keraguan Bintang. “Ayahmu begitu terpukul mendapati kenyataan bahwa kau, anak kesayangannya meninggal begitu saja. Ia sangat tidak terima. Ia menyesal, kenapa tidak mencegahmu pergi saat itu.”
“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Bintang hati-hati.
“Masih sama. Sakit, hingga harus duduk di kursi roda.”
Bintang menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Perasannya begitu hancur saat mendengar semua itu. Bagaimana tidak, seseorang yang sangat ia sayangi dan menjadi panutannya selama ini, harus menderita karena kehilangannya. Dan sialnya, lagi-lagi penyesalan itu kembali menjalari otaknya.
Arsen terkekeh kecil saat melihat wajah Bintang yang begitu menyedihkan. “Aku tidak menyangka ternyata kau selemah ini, Bintang.”
“Kau mau mencari masalah denganku?” Bintang mulai naik pitam. Kedua matanya memancarkan kemarahan yang berkilat-kilat.
“Bintang, hentikan. Aku pikir Arsen mengundangmu karena ingin membahas sesuatu yang lebih penting. Kendalikanlah dirimu,” lerai Raya sebelum semuanya bertambah rumit. “Arsen, katakan apa yang ingin kau terangkan.”
Arsen tidak begitu saja menyanggupi suruhan Raya. Kedua matanya yang cerah menatap bergantian seorang manusia dan sesosok arwah di depannya itu. Lalu, ia mengembuskan napas pendek, seolah mengambil ancang-ancang.
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan ayahmu. Karena bagaimanapun beliau sudah menjadi ayahku juga. Jadi, aku akan bertanggung jawab menggantikanmu untuk merawatnya. Kalian hanya perlu fokus untuk mencapai tujuanmu, Bintang.”
Bintang dan Raya saling berpandangan sekilas, berusaha menyamakan pikiran satu sama lain. Dan hasilnya mereka paham dengan apa yang Arsen bicarakan.
“Bagaimana selama ini kalian hidup setelah ayah tidak bisa bekerja lagi?” Bintang mencoba bertanya.
“Ayah masih memiliki sedikit tabungan untuk kami bisa bertahan hidup dan juga paman Pramono selama ini sudah berbaik hati menolong ekonomi keluarga kami, dengan memberikan uang bulanan kepada ibu. Sekarang paman Pramono telah menjadi seorang Direktur menggantikan posisi ayah.”
Bintang tertunduk. Ia menghela napas lega setelah mendengar pengakuan dari Arsen. Sungguh, ia sangat bersyukur memiliki paman yang sangat baik hati seperti Pramono.
“Aku harap kalian tidak akan membuang-buang waktu untuk menemukan pembunuh itu,” ujar Arsen terakhir kali. Lalu, ia mengangkat backpack-nya dan segera pergi dari hadapan Raya dan Bintang.
Raya mendesah berat. Ia menatap tubuh Arsen yang semakin lama semakin menjauh dengan tatapan penuh harap. Tiba-tiba ia berbalik dan melihat Bintang. “Apa yang harus kita lakukan?”
Bintang terdiam. Pikirannya sudah dipenuhi benang-benang rumit yang mau tidak mau harus ia selesaikan sebelum waktunya habis.
“Jangan sia-siakan waktu. Aku harus menyelidikinya lagi.”
•••••
“Apa? Andra? Kenapa kau bisa mencurigainya? Tidak mungkin dia yang menyebabkan kecelakaan itu,” bela Raya setelah Bintang mengutarakan pikirannya.
Bintang mendesah kecil dan menatap Raya dengan lembut. “Kau tahu, kemarin kakaknya Andra menceritakan kalau Andra pernah mengalami kecelakaan mobil kurang lebih beberapa minggu yang lalu.”
“Lalu apa hubungannya? Memang hanya ada satu atau dua kecelakaan lalu lintas di Jakarta ini? Kenapa pikiranmu begitu sempit Bintang?” balas Raya.
Bintang mengigit bibir bawahnya sambil berkacak pinggang. Ia tahu sangat sulit jika harus menjelaskan pada Raya mengenai dugaannya itu. Entahlah, mungkin semenjak ia tidak menjadi manusia lagi, pikirannya mulai berubah ke sesuatu yang berada jauh dari pikiran manusia normal.
“Kenapa kita tidak menyelidikinya saja? Toh kita tidak langsung menghakimi Andra, kan? Siapa tahu dugaanku yang salah. Kita tidak punya banyak waktu, Raya.”
Raya terdiam. Ia merasa seliter air yang terasa hangat telah membanjiri pelupuk matanya. Entah kenapa ia merasa sakit ketika Bintang menuduh Andra seperti itu. Baiklah, ia memang tidak tahu kenyataan yang sebenarnya. Mungkin ini hanya kecurigaan Bintang belaka.
“Apakah kau yakin dengan itu? Dia sahabat baikmu, Bintang.”
“Jangan khawatir, aku hanya memastikan saja. Aku juga tidak mau terus berburuk sangka padanya,” jawab Bintang mantap dan Raya telah kehabisan kata-kata untuk membela Andra.
“Bagaimana? Kau mau, kan, meminjamkan tubuhmu?”
Raya tidak menjawab apapun. Ia menatap Bintang dengan tatapan yang sulit dimengerti. Seperti memohon sesuatu yang tampak samar-samar. Ya, walaupun Raya tidak sepenuhnya menyetujui semua ini, akan tetapi … wajahnya telah menjawab pertanyaan itu secara tidak langsung.