Raya berjalan masuk ke dalam kamar dan langsung meletakkan tas slempang di atas meja belajarnya. Ia pun mendaratkan bokongnya di kursi. Lalu, merentangkan kedua tangannya tinggi-tinggi, menghilangkan penat setelah seharian berada di kampus. Kini, ia menurunkan kedua tangannya dan diletakkan di atas meja. Ia tersenyum ketika benaknya teringat akan ucapan Andra melalui telepon saat dirinya berada di taksi tadi.
“Nanti malam aku akan menjemputmu. Ada sesuatu yang ingin kuberikan kepadamu.”
Raya terkekeh. Kenapa ia merasa begitu bahagia saat ini? Mungkinkah ia telah jatuh cinta kepada Andra? Entahlah. Ia sendiri pun masih belum mengerti akan isi hatinya terhadap laki-laki itu. Ia hanya sedang mengikuti jalannya waktu, hingga sampai pada akhirnya bisa menemukan jawabannya sendiri.
Raya memilih bangkit. Namun, saat yang sama tangannya tidak sengaja menjatuhkan sebuah buku kecil. Raya terpegun. Ia membungkukkan tubuh untuk mengambil buku itu dan kembali berdiri saat telah mendapatkannya. Keningnya mengerut ketika pada sampul tertulis nama Bintang. Mungkinkah buku itu milik Bintang?
Raya kembali terduduk. Penasaran. Ia mulai membuka lembar demi lembar buku kecil itu. Dan netranya terpegun saat menemukan sebuah benda berbentuk bintang berwarna cokelat emas tertempel di dalamnya. Di lembar sebelah kanannya, ia juga menemukan ciri-ciri fisik orang yang telah menabrak mini bus yang ditumpangi Bintang sekaligus orang yang telah membunuhnya.
“Bertubuh tinggi, berkulit putih, di telinga kiri terdapat lubang bekas tindik anting, berjaket hitam, memakai topi base ball, dan juga masker.” Raya membacanya pelan.
Detik setelahnya, ia mengerutkan keningnya samar. “Ada lubang bekas tindik di telinga kiri,” ulangnya kemudian. Lalu, mengangkat kepalanya sedikit ke atas seraya berpikir. “Bukankah Andra juga memiliki lubang bekas tindik di telinga kiri?”
Entah kenapa Raya teringat akan ucapan Bintang jika laki-laki itu mencurigai Andra. Dan sialnya ucapan laki-laki itu kini telah memengaruhi benak Raya dan membuatnya ikut mencurigai.
Namun, detik setelahnya Raya menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Tidak. Aku yakin di Jakarta ini ada banyak orang yang memiliki lubang bekas tindik di telinga kirinya,” ucapnya menepis praduganya kepada Andra.
Raya mengangguk mantap. Kemudian, membuka lembaran buku itu lagi. Kini, ia tergemap saat membaca sebuah tulisan jika kasus kecelakaan yang menimpa mereka telah ditutup.
Asumsiku ada seseorang yang memiliki kekuasaan berhasil menyuap pihak kepolisian.
Raya menggeleng tidak percaya setelah membaca asumsi yang Bintang tulis. Kini, benaknya mulai bertanya-tanya. Siapa orang yang telah menyuap pihak Kepolisian hingga bisa menutup kasus itu?
Raya pun memilih untuk membuka lembaran selanjutnya. Ia terpegun saat melihat sebuah sketsa jaket yang tertulis berwarna hitam. Begitu jelas dan rapi, membuatnya tertegun akan gambar sketsa yang telah dibuat oleh Bintang. Netranya saat ini bisa melihat ada tiga buah benda berbentuk bintang di atas saku kiri pada jaket tersebut. Namun, salah satu bintang tertulis ‘HILANG’.
Raya berdesis seraya meletakkan jari telunjuk di dagu. “Aku seperti pernah melihat jaket ini. Tapi, di mana? Dan siapa yang telah memakainya?” tanyanya bermonolog dengan sepi. Kemudian, ia bergedik dan meletakkan buku itu di atas meja. Ia tidak ingin membuat otaknya bekerja lagi setelah seharian telah digunakan untuk mengikuti mata kuliahnya.
Raya mengambil ponsel yang disimpan di dalam tas slempangnya. Ia ingin mengirim pesan kepada Andra untuk menyuruh laki-laki itu menjemputnya pukul tujuh malam. Sebab, saat ini ia ingin bersantai terlebih dulu sebelum mulai bersiap. Ia menarik layar lock screen ponselnya ke atas dan ….
Raya melotot. Mendadak tubuhnya bergetar hebat saat menemukam foto Andra dan dirinya yang tengah tersenyum bahagia terpampang pada layar. Bukan. Bukan itu yang membuat Raya begitu syok. Sebab, saat ini netranya melihat Andra yang sedang menggunakan jaket seperti pada gambar sketsa milik Bintang. Di mana hanya terdapat dua buah bintang di atas saku kiri, sedangkan satu buah bintang hilang dan hanya meninggalkan bekas berwarna putih saja di sana.
Kedua netra Raya berkaca-kaca. Ia langsung menjatuhkan ponsel yang ada dalam genggamannya. Napasnya tercekat dan tenggorokannya terasa tercekik saat ia melihat wajah kekasihnya sendiri yang menggunakan jaket itu. Raya tidak bisa memikirkan apapun saat ini. Pikirannya benar-benar dibuat beku dan kaku. Air matanya pun tidak bisa menetes sama sekali. Apakah ini kenyataan? Atau hanya mimpi buruknya belaka? Lalu, bisakah ia terbangun lagi? Dan … melupakan semuanya?
Raya merasakan seluruh tubuhnya mendadak lemas dan penuh keringat dingin. Tiba-tiba ia terjatuh ke lantai, tatapannya nanar. Pikirannya benar-benar kosong dan kalut. Sekarang semua yang ada di depan matanya terlihat hitam dan buram. Mendadak semua menjadi gelap.
••••••
Andra tersenyum-senyum sendiri sambil memandang buket bunga yang ada di genggamannya. Ia berniat untuk memberi kejutan untuk kekasihnya itu. Dengan cara datang ke rumahnya dan mengajaknya berkencan. Ah, membayangkannya saja sudah membuat hatinya terbang.
Andra pun menepikan mobil sedannya di depan rumah Raya. Kemudian tanpa buang waktu lagi ia berjalan ke dalam dan menekan belnya. Andra menunggu sebentar. Beberapa detik kemudian ia menekan lagi hingga puluhan kali tanpa adanya jawaban.
Andra mengerutkan kening. Apa Raya tidak ada di rumah? Namun, ia yakin sekali jika gadis itu sedang di rumah. Sebab, beberapa jam yang lalu ia sempat menelponnya. Lalu, Andra memutuskan untuk menghubungi ponsel Raya. Ternyata gadis itu pun tidak mengangkat telponnya. Andra mulai merasa khawatir. Ketika ia tidak sengaja mendorong pintu, dan ternyata pintu rumah Raya tidak terkunci. Ia semakin bingung. Apa yang terjadi dengan Raya?
Andra melangkahkan kedua kakinya ke dalam rumah Raya. Ia melihat sekeliling ruangan itu. Ini memang pertama kalinya ia memasuki rumah Raya. Dan baru kali ini ia bisa melihat sedikit bagian dari kehidupan Raya. Ia melihat foto kedua orang tua Raya, kebahagiaan keluarga kecil itu, bahkan foto yang diambil ketika Raya masih kecil. Andra tersenyum kecil, ternyata Raya memang seorang gadis yang terlihat cantik dari kecil.
Perlahan kedua netra Andra tertuju pada sebuah pintu yang sedikit terbuka. Andra mengerutkan keningnya samar. Dalam hati ia bertanya apakah itu adalah kamar Raya? Akhirnya, ia memberanikan diri untuk mendekatinya. Selangkah demi selangkah ia jalani hingga kini berdiri di depan pintu itu.
Andra berusaha menyapukan pandangannya ke dalam ruangan itu. Tiba-tiba ia menemukan sebuah tubuh tergeletak di lantai. Tanpa berpikir lagi, ia langsung menerobos pintu itu dan merengkuh tubuh gadis itu.
“Raya!” panggilnya sambil menepuk-nepuk pipi Raya. “Raya bangunlah, Raya!” serunya lagi tetapi kedua mata kekasihnya itu masih terpejam erat. Andra semakin panik. Ia sangat mencemaskan keadaan Raya.
“Raya, aku mohon bangunlah. Ini aku Andra!” serunya semakin keras. “Aku Andra. Aku ada di sini Raya,” ucapnya lirih dan kali ini ia mulai melihat adanya kehidupan dalam diri Raya. Gadis itu menggerakkan bola matanya hingga perlahan membuka kelopak matanya.
“Raya?” panggil Andra sambil tersenyum lebar. Ia menatap kedua mata Raya yang tampak lemah dan lelah. “Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau pingsan?”
Kedua mata itu masih terdiam tenang menatapnya. Diam, tak berkata apa-apa. Namun tiba-tiba Raya terbangun dan langsung menampar Andra hingga darah mengalir di sekitar bibir laki-laki itu.
Andra pun menatap Raya dengan pandangan bertanya, “Kenapa kau menamparku?” tanyanya berusaha setenang mungkin.
Air mata Raya keluar merebak dari pelupuk matanya. Hatinya benar-benar terbakar saat ini. Terlebih ketika ia melihat wajah seseorang yang menyebabkan semua penderitaannya selama ini.
“KENAPA KAU MASIH BERTANYA PADAKU?” bentaknya sekeras mungkin di depan wajah Andra.
“Apa maksudmu?”
“DASAR PENJAHAT! KAU PEMBUNUUUHHHH!!!!” seru Raya menghakimi Andra. Di matanya, ia tak lagi melihat Andra sebagai kekasihnya. Ia sudah melupakan semua itu. Satu-satunya perasaan yang ada di lubuk hatinya hanyalah kebencian.
Andra begitu terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Raya. Namun, ia masih belum mengerti ke mana arah pembicaraan gadis ini.
“Tunggu, tenangkan dirimu Raya. Kita bisa bicara pelan-pelan, kan?”
“Tidak perlu!” tolak Raya keras. “Apa dulu kau membunuh sahabatmu sendiri dengan pelan-pelan, huh? Apa yang ada di pikiranmu saat melakukannya?”
“Siapa yang membunuh? Siapa yang melakukannya?”
“KAU!” teriak Raya sambil menatap Andra tajam. “Kecelakaan satu bulan yang lalu, di Bogor. Bukankah kau si pengemudi mobil sedan itu? Dan kau juga yang telah menyuap pihak kepolisian hingga kasus itu ditutup.”
Deg! Andra merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Pikirannya yang kacau tiba-tiba saja memutar kaset peristiwa itu. Ketika mobil yang dikemudikannya menabrak pembatas jalan hingga oleng dan membuat sebuah bus yang berusaha menghindarinya berguling-guling tidak keruan. Andra sangat mengingat semua itu. Peristiwa yang membuatnya hampir mati ketakutan.
“Kau sudah ingat?” kata Raya lirih.
Andra menggerakkan matanya pelan ke arah Raya. Gadis itu masih menatapnya dengan penuh kemarahan. Bibirnya terasa kaku dan dingin. Seolah ia sudah berada di dalam es selama bertahun-tahun.
“Ma-maaf.”
“Maaf? Apa hanya itu yang bisa kau lakukan?” ucap Raya dengan suara bergetar. “Apa kau masih tidak sadar kalau kau telah menghilangkan nyawa sahabatmu sendiri, Bintang?”
Andra langsung menegakkan kepalanya menatap Raya. “A-apa?”
“Bintang berada dalam bus ituuu!” hardik Raya lalu menangis sejadi-jadinya. Ia pun memukul-mukul kepala Andra saking marahnya pada laki-laki itu.
“Kau pembunuh! Kau penjahat! Kau PEMBUNUUUH!” teriaknya tak terkendali.
Andra menumpahkan air matanya saat itu juga. Ia melindungi kepalanya sambil terus mengucapkan kata maaf. Ia merasa seperti diadili oleh ribuan orang dan dijatuhi hukuman mati. Kenapa semua ini terjadi padanya? Kenapa ia harus mengalami semua ini?
Raya pun akhirnya berhenti memukuli Andra. Ia terduduk lalu menghela napas panjang. Air matanya masih menetes dan hatinya masih terasa perih. “Pergi. Aku tidak mau melihat wajahmu lagi,” usirnya tanpa pikir panjang.
Andra menundukkan kepalanya. Ia pun mengepalkan tangannya dan pelan-pelan berdiri. “Maaf, maafkan aku,“ ucapnya tetapi Raya tetap mengacuhkannya.
Langkah Andra terasa begitu berat saat ia meninggalkan gadis itu sendiri. Semuanya kacau. Semuanya, termasuk perasaan dan kenangannya bersama gadis itu. Ia tidak yakin bisa membuat Raya memaafkannya, bahkan sekarang semua itu terlihat amat jauh. Jauh, sejauh yang tidak bisa ia bayangkan sekalipun.
•••••••
“Tak seharusnya kau menghakimi Andra seperti itu. Sekarang semua orang membencinya, ia pasti sangat terpukul,” ujar Bintang menasihati Raya. Namun, yang diajak bicara malah asyik membaca buku yang ada di hadapannya.
“Raya, apa kau sangat membencinya? Kau tidak bisa memaafkannya?”
Raya langsung menutup buku bunpou-nya dengan kasar membuat Bintang sedikit terkejut. Ia menatap lurus ke depan tanpa berkata apa-apa. Hingga akhirnya ia berdiri dan berjalan keluar kelas. Sementara Bintang mengikutinya.
“Kau mau ke mana?” tanya Bintang.
Raya masih mengunci mulutnya rapat-rapat. Ia sama sekali tidak memedulikan Bintang.
“Tunggu, Andra?” ucap Bintang membuat Raya refleks menghentikan langkahnya. Lalu ia menoleh ke arah yang dilihat Bintang juga.
Raya merasakan hatinya seperti tertusuk ribuan pisau saat melihat Andra sedang dibawa oleh beberapa orang Polisi. Raya memang tidak melihat wajahnya, tetapi sejujurnya ia merasa tidak tega pada laki-laki itu. Kalau ditanya, ia juga tidak sanggup melihat semua ini. Mana ada orang yang mau melihat kekasihnya sendiri menjadi tersangka sebuah kasus kecelakaan dan pembunuhan?
Bahkan seandainya sekarang semua orang menutup matanya, maka ia akan berlari kepada Andra dan memeluknya erat. Menenangkan laki-laki itu dan memberikannya seluruh kasih sayangnya. Ia ingin mengatakan pada laki-laki itu jika ia masih mencintainya, walau belum sepenuhnya memaafkannya.
Namun, rasanya semua itu hanya khayalannya saja. Ia dan Andra sudah menjadi sebuah kenangan masa lalu. Yang tidak akan pernah kembali dilihatnya walau hanya sedetik.
“Raya, kau menangis?”
Tanpa menatap Bintang, Raya langsung menyeka air matanya dan berlari dari tempat itu. Kenapa ia tidak bisa menahannya? Kenapa ia harus terlihat lemah seperti ini? Kenapa?
“Raya! Raya!”