“Aaarrggghhh!” Andra berteriak frustrasi seraya mendorong kuat beberapa benda di hadapannya hingga mengakibatkan jatuh dan pecah.
Tidak seperti biasanya, di mana kamar milik Andra yang luas dan rapi, kini tampak begitu berantakan. Foto-foto di dinding yang telah berada di lantai, pecahan kaca, seprei dan bantal yang sudah tergeletak di atas lantai dan pajangan miniatur yang sudah tidak pada tempatnya. Sungguh, Andra sangat merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi kepada Bintang. Namun sialnya, ia tidak mengingat apapun akan kejadian itu.
Andra menyandarkan tubuhnya di dinding. Ia menjambak rambutnya kencang seiring dengan tuhuh yang merosot jatuh ke atas lantai. Ia berteriak dengan diiringi oleh tangisnya yang terdengar begitu menyesakkan. Jika boleh jujur, ia masih belum sanggup menerima semua kenyataan ini. Kenyataan jika dirinya adalah seorang pembunuh.
Andra menghentikan menjambak rambutnya. Ia duduk terlemas di atas lantai dengan pandangan tampak kosong ke depan. Kini, bayangan ucapan-ucapan Raya seakan berkelindan dengan cepat di kepala dan berhasil mengusik ruang pikirannya.
“Kau pembunuh! Kau penjahat! Kau PEMBUNUUUH!”
Andra merasakan ada sesuatu yang menghentakkan dadanya, hingga menorehkan luka yang begitu dalam di sana. Menyakitkan. Terlebih lagi kata-kata itu keluar dari bibir gadis yang sangat dicintainya. Belum hilang rasa sakit itu, memori Andra terus memutar perkataan Raya yang lainnya.
“Kecelakaan dua bulan yang lalu, di Bogor. Bukankah kau si pengemudi mobil sedan itu? Dan kau juga yang telah menyuap pihak kepolisian hingga kasus itu ditutup.”
Seketika Andra tersadar dari lamunannya. Keningnya mengerut. “Menyuap?” tanyanya heran. “Siapa yang telah menyuap kasus kecelakaan itu? Aku tidak merasa melakukannya.”
Andra menegakkan tubuhnya. Kini, ia berusaha untuk mengingat sesuatu hal yang mungkin bisa memberikan jawaban.
Andra bersiul seraya melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam rumah. Mendadak ia menghentikan langkah dan siulannya saat netranya menemukan seorang pria dengan perut buncit, berseragam Polisi, tengah berbincang-bincang dengan sang Ayah di ruang tamu. Mereka terlihat begitu akrab. Tidak heran jika Ayah memiliki banyak teman dengan bermacam-macam jabatan, termasuk Polisi, karena jabatannya sebagai seorang Presiden Direktur di Perusahaan ABC miliknya.
“Kau tenang saja. Aku akan mengurus kasus itu. Hahaha,” kata Polisi itu diiringi tawa lebarnya.
Mendadak Andra merasakan dadanya bergemuruh hebat saat ingatan itu terlintas di dalam benaknya. Ia mendengkus kasar seiring dengan gejolak amarahnya yang meletup. Netranya menatap tajam ke arah depan seraya kedua tangannya terkepal. Kini, ia tahu siapa orang yang sudah menutup kasus kecelakaan tragis itu dengan mudahnya.
••••••
“Kenapa kau melakukannya Ayah?” tanya Andra geram di hadapan Yoga, sang ayah, dengan tatapan penuh amarah.
Kini, Andra telah berada di ruang kerja sang ayah. Ia memilih untuk menorobos masuk ke dalam dan mengusir para klien Yoga saat tengah melangsungkan pertemuan kerja. Ia tidak peduli jika Yoga akan memarahinya. Sebab, emosi yang telah menguasai telah memuncak hingga tidak ada lagi akal sehat yang tersisa.
“Sudah beberapa kali ayah katakan jika ayah tidak melakukan itu, Andra,” balas Yoga. Ia menatap manik mata Andra yang tengah mengobarkan api kemarahan. Ya Tuhan, ada apa dengan anak itu?
“BOHONG!” seru Andra seraya menggebrak meja kerja sang ayah dengan kuat. “Aku sudah tahu semuanya, Ayah. SEMUANYA!” ungkapnya membuat Yoga begitu kalut dengan memundurkan tubuhnya ke sandaran kursi.
Andra mendekat ke arah wajah sang ayah dengan meletakkan kedua tangannya di atas meja. Ia menatap tajam manik mata ayahnya yang saat ini tampak begitu gusar. Ia menyunggingkan sebuah senyum kecilnya yang mungkin akan terlihat begitu menyeramkan bagi Yoga.
“Aku mendengar semua percakapan Ayah dengan Kombes Pol Adam saat itu.”
Deg! Bagai gelegar halilintar yang meremukkan d**a. Yoga tergemap hingga membuka lebar kedua netranya. Ia menggeleng. Tidak mungkin. Bagaimana bisa Andra tahu semuanya? Oh, astaga ... apa yang harus dilakukannya sekarang?
“Aaarrggghhh!” Andra berteriak seraya mendorong semua berkas-berkas milik ayahnya dan menjatuhkannya ke lantai. “KENAPA AYAH MELAKUKAN ITU, HUH?”
“Andra, kau tenangkan dirimu dulu. Ayah akan menjelaskan semuanya.”
Yoga mengembuskan napas beratnya. Pasrah. Ia sudah tidak bisa lagi menutupi semua yang telah dilakukannya. Mengingat saat ini kondisi Andra yang tengah dikuasai emosi. Ya, ia harus mengatakan yang sejujurnya.
Yoga menatap lekat kedua netra tajam Andra di hadapannya. Kemudian ia melanjutkan bercerita, “Ayah melakukan itu semua demi nama baik perusahaan kita, Andra. Ayah tidak ingin jika media sampai tahu jika kau adalah yang membuat kecelakaan itu. Bisa-bisa perusahaan ayah akan jatuh.”
Andra berdecih. Ia membuang muka ke samping dan tersenyum meremehkan. Seperti yang sudah ia duga sebelumnya, jika sang ayah akan melakukan segala cara kotornya itu demi perusahaan kesayangannya itu. Kini, pandangannya beralih menatap sang ayah kembali.
“Tapi, sayangnya kau akan merasakan runtuhnya perusahaanmu karena aku akan segera menyerahkan diri ke Polisi. Mengerti?” ungkap Andra mengintimidasi.
Yoga membeliak. Ia menggeleng keras. “Tidak. Tidak. Kau tidak boleh melakukan itu, Andra. Kau tahu aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk menyuap kasus itu kepada Adam.”
“Itu bukan urusanku.” Andra menyeringai. Kemudian berniat untuk pergi meninggalkan tempat ini ketika dengan cepat Yoga menahan lengannya.
“Andra, kenapa kau tidak mengerti juga, huh? Ini semua demi kau. Demi ibu dan semuanya.”
“Kau tidak tahu apa-apa tentang kecelakaan itu ayah!” cercanya geram. Saking geramnya ia menunjuk wajah sang ayah dengan jari telunjuk tangannya yang bebas.
“BINTANG ADA DI DALAM BUS ITU!” beritahunya kemudian yang berhasil membuat Yoga syok.
Mendadak tubuh Yoga melemas mendengar pengakuan dari Andra. Ia melepas genggaman tangannya yang melingkar di pergelangan tangan Andra. Lalu, memundurkan tubuh hingga mendarat di dinding. Ia menggeleng lemah. Tidak mungkin. Benarkah Bintang ada di bus itu saat kecelakaan berlangsung? Ya Tuhan, sungguh ia tidak bisa memercayai ini semua. Karena kecelakaan itu Bintang kehilangan nyawanya. Dan yang membuat dirinya merasa bersalah saat ini, ialah Yoga telah membuat sahabatnya, Angga, harus terluka seorang diri.
Andra memilih untuk bergegas keluar dari kantor sang ayah. Ia tidak memedulikan Yoga yang saat ini tengah mematung di tempatnya dengan tatapan yang kosong. Andra tahu jika ayahnya itu tengah merasa bersalah saat tahu kenyataannya.
Andra melangkahkan kedua kakinya menyusuri lorong rumahnya seraya mengambil ponsel untuk menghubungi pengacaranya. Ia ingin sang pengacara menemaninya bersaksi kepada para Polisi. Ya, tekadnya sudah bulat. Ia akan mengakui semua kesalahannya. Ia akan mengaku jika saat itu dirinya mengemudikan mobil dalam keadaan mabuk berat hingga mengakibatkan kesadarannya menurun. Ia hanya berharap dengan menyerahkan diri kepada Polisi bisa menebus semua dosa-dosanya kepada Bintang.
•••••••
Raya menatap jalanan dari jendela taksi yang ia tumpangi. Pandangannya kosong dan nanar, seperti tidak ada lagi kehidupan pada dirinya. Sesekali ia meneteskan air mata, entah untuk apa dan siapa. Kini ia telah kehilangan semuanya, bahkan semangat hidup yang akhir-akhir ini selalu ada dalam dirinya. Ia merasa hidupnya begitu kelam, bahkan lebih kelam dari siapa pun di dunia ini. Apakah ia akan berakhir seperti ini?
“Mbak, kau ingin pergi ke mana?” tanya supir taksi membuyarkan lamunan Raya.
Raya menghapus air matanya dan menatap si supir taksi. “Teruslah berjalan, aku akan memberitahumu kalau aku sudah bosan,” jawabnya dan kembali menatap ke jalanan di luar sana.
Benar, semua orang sedang melanjutkan hidupnya masing-masing. Mereka semua berjalan teratur, seolah tidak terjadi apa-apa. Ada yang terlihat sedih, senang, marah, tetapi mereka semua tetap berjalan. Sedangkan dirinya? Ia sudah tidak mampu melakukan semua itu. Ia sudah sampai di akhir dan episode dalam hidupnya tidak bisa diperpanjang lagi.
Raya merasakan ponselnya bergetar di tengah-tengah lamunannya. Ia pun merogoh tasnya dan menemukan benda itu. Raya menghela napas kecilnya saat membaca nama ‘Andra' terpampang di layar.
“Apa dia masih bisa menggunakan ponsel di dalam penjara?” gumamnya sambil me-reject panggilan itu.
Raya pun kembali mengamati jalanan yang dilintasinya sekarang. Namun, tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Ia mendesah berat sampai akhirnya menerima juga panggilan itu. “Bisakah kau berhenti menggangguku?” jawabnya kesal.
“Raya, aku mohon dengarkan dulu penjelasanku,” kata Andra di seberang sana.
“Penjelasan apa? Semuanya sudah jelas, kan? Kau yang menyebabkan kecelakaan itu!”
“Ya, tapi --”
“Aku tidak mau mendengar suaramu lagi,” potong Raya cepat.
Namun, saat Raya akan melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba kedua matanya terbelalak lebar. Bagaimana tidak, jika sekarang ia melihat sebuah truk besar yang hilang kendali dan akan menabrak taksi yang ditumpanginya?
Raya merasakan seluruh tubuhnya membeku dan tidak bisa berkata apapun ketika kaca-kaca di sekitarnya pecah hingga melukai tubuhnya.
“Hhhhh,” desahnya lirih.
Raya benar-benar merasakan ketakutan yang luar biasa. Baru kali ini ia mengalami sebuah kesendirian yang amat menyakitkan, seolah ia berada di dalam ruangan gelap tanpa cahaya dan orang lain. Ia meregang nyawa seorang diri, tanpa ada yang menggenggam tangannya, berdoa untuknya atau menangis di sisinya. Inikah ketakutannya selama ini?
Namun, kenapa tiba-tiba Raya memikirkan Andra? Kenapa wajah laki-laki itu mendadak muncul dalam ingatannya? Semua kenangannya bersama Andra terputar kembali di pikirannya dengan gerakan yang sangat halus. Layaknya flashback dalam film drama. Benarkah apa yang dikatakan Bintang? Apa ia sedang merindukan laki-laki itu?
“Andra!”
PRAAANNNG !
Suara yang sangat keras itu pun menghentikan semuanya. Raya tidak bisa lagi melihat atau mendengar apapun. Kedua matanya terpejam dengan tetesan air mata di pipinya. Bibirnya yang pucat kini telah terkunci rapat. Tubuhnya yang dulu kuat menahan cercaan dan kepahitan kini tergolek lemas tak berdaya. Raya memang tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Namun, jauh di dalam sana, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih menyimpan sepenggal perasaan tulusnya untuk laki-laki itu.