“Raya? Hei, kenapa kau tidak menjawab? Raya?” Andra mengulangi kata-kata yang sama, akan tetapi tetap tidak ada tanggapan. Beberapa detik kemudian teleponnya terputus. Andra langsung merasa khawatir dan kacau. Apa yang terjadi pada Raya? Kenapa seperti ada suara kaca pecah?
“Pak Polisi, bolehkah aku keluar? Hanya sebentar, aku ingin memastikan sesuatu,” pinta Andra pada seorang Polisi.
“Tidak, Nak. Sebelum pengacaramu datang,” jawab si Polisi tanpa mengalihkan tatapannya dari layar komputer.
Andra memukul batang jeruji besi dengan keras. Hatinya belum tenang sebelum ia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ya Tuhan, apa yang terjadi pada Raya? Apa gadis itu baik-baik saja?
“AAARRRGGKKKHHH!!!” seru Andra sambil menjambak rambutnya kasar. Apa yang bisa dilakukannya sekarang? Bagaimana caranya agar ia bisa keluar dan menemui Raya?
•••••••
Suasana jalanan kala itu mendadak berubah ramai dan mencekam. Beberapa mobil terhenti tanpa arah yang jelas. Sebuah truk besar berhenti di tengah jalan dan di depannya terdapat sebuah taksi yang sudah terbalik. Semua orang membicarakan apa yang terpampang di depan mata mereka. Ada yang menatap ngeri sampai diam karena takut. Bahkan ada pula yang mengambil gambar.
Tangan seorang gadis tiba-tiba tergerak pelan. Tidak lama kemudian gadis itu mulai menggerakkan kelopak matanya. Ia merasa begitu pusing seolah ditimpa benda yang amat berat. Gadis itu pun akhirnya dapat melihat keadaan di depannya meski masih berkunang-kunang. Ia merasa semua nyawanya terkumpul satu persatu. Bahkan ia dapat merasakan jantungnya yang mulai berdetak, darahnya mulai mengalir dan paru-parunya yang kembali bekerja.
Gadis itu mengerutkan keningnya samar. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia pun mencoba untuk bangkit. “Aaah,” rintihnya pelan saat dirinya terjatuh. Ia merasa badannya begitu lemas dan sakit.
“Raya!” teriak sebuah suara memanggil.
Gadis itu menyipitkan matanya karena penglihatannya belum sepenuhnya sempurna. Setelah ia berhasil terduduk, barulah ia menyadari siapa sesosok laki-laki tinggi yang berlari ke arahnya.
“Bintang,” panggilnya lemah.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Bintang cemas. Ia melihat kening Raya mengeluarkan banyak darah. “Raya, kepalamu berdarah,” beritahunya.
Raya mengangguk sekilas sambil memegang kepalanya. “Aku tahu,” jawabnya singkat. Kemudian, ia mulai memikirkan sesuatu. “Bintang, aku tidak mati, kan?”
“Tentu saja tidak. Buktinya, kau masih di sini,” jawab Bintang yakin.
Seulas senyum lebar perlahan terlukis di wajah pucat Raya. Bahkan kini ia bisa tertawa. “Bintang, aku masih hidup! Aku berhasil lolos dari kematian itu! Haha,” serunya senang.
Bintang yang baru menyadari hal itu pun juga ikut tertawa bahagia. “Raya, kau memang hebat! Kau berhasil! Sekarang tak ada lagi, kan, yang kau takutkan?”
Raya mengangguk mantap. Lalu ia melihat ke arah orang-orang yang sedang mengerubungi taksinya. Raya pun menghampiri mereka.
“Pak, aku selamat! Aku tidak mati! Bapak!” teriaknya tapi tidak ada satu pun yang menoleh. Raya termenung sejenak. Namun, sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya dan memanggil orang-orang itu lagi.
“Pak, aku di sini! Tidak ada gadis di dalam taksi itu. Aku selamat!” serunya lebih keras dan tetap tidak ada yang peduli padanya.
Raya pun menoleh pada Bintang dan menghampirinya. “Kenapa mereka tidak mendengarku? Apa mereka pikir, taksi itu tidak membawa penumpang?”
Bintang mengernyitkan dahi. “Seharusnya tidak seperti ini. Kau terlempar keluar dan mereka pasti tahu.”
Raya mengangkat bahu dan kedua tangannya. Ia pun kembali berjalan ke arah taksinya. Raya terus memanggil-manggil orang-orang itu. Dan keadaannya tidak berubah.
Bintang berusaha mengingat-ingat apa yang sedang terjadi. Sampai ia menemukan sebuah jawaban pasti. “Raya!” panggilnya dan gadis itu langsung berjalan mendekatinya.
“APA?” tanyanya bingung.
Bintang mengirup napas terlebih dahulu seolah mengambil ancang-ancang. Kemudian, ia menggerakkan tangannya mendekati bahu Raya dan ….
“Bintang?” ucap Raya menatap laki-laki itu khawatir.
Bintang membelalakkan kedua matanya. Tangannya bergemetar ketika ia benar-benar mengetahui bagaimana keadaannya. “Ta-tanganku bisa menyentuhmu?” gumamnya sambil melihat telapak tangannya sendiri. Sesaat kemudian ia langsung menatap Raya. “Raya, kau?”
Raya menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca. “Tidak mungkin,” katanya singkat dan berlari ke arah taksinya lagi.
“Pak! Pak! Ini aku! Aku tidak mati. BAPAK!” teriaknya sekencang mungkin. Namun tetap saja, tidak ada yang menghiraukannya.
“Raya, tenanglah. Kau tidak boleh seperti ini,” ujar Bintang menenangkan Raya dengan memegang bahunya.
Raya menepis kedua tangan Bintang. “Tidak. Aku tidak mati!” balasnya berapi-api. Ia benar-benar tidak bisa menerima semua ini.
Tiba-tiba terdengar suara sirine ambulance. Raya maupun Bintang pun menoleh ke belakang dan ambulance itu terparkir tepat di depan mereka. Beberapa petugas langsung turun dan dengan sigap menyelamatkan si supir taksi terlebih dahulu.
Raya menutup mulutnya karena tidak kuat melihat wajah si supir taksi yang dipenuhi darah. Ia mulai merasa mual tetapi ditahannya.
“Pak, masih ada seorang penumpang,” beritahu salah seorang laki-laki membuat Raya langsung menoleh padanya.
“Tidak, tidak ada siapa-siapa. Aku di sini, aku di sini, Pak!” serunya tidak terima.
“Raya, tenanglah,” Bintang masih berusaha menenangkan Raya, tapi gadis itu malah berlari mendekati taksinya.
Raya berusaha menyingkirkan orang-orang di sana dan ia malah mendapati kenyataan jika tangannya bahkan tidak bisa menyentuh mereka. Ia menggelengkan kepala tidak percaya. Dan ketika itu juga, ia melihat sesosok tubuh dengan mengenakan pakaian sama seperti yang dipakainya.
“Raya?” panggil Bintang lirih.
Air mata Raya pun menetes. Kini ia tidak bisa mengelak lagi setelah melihat tubuhnya sendiri yang berlumuran darah dan tergolek tidak berdaya. “Tidak mungkin ...,” gumamnya hampir tak terdengar.
“Itu bukan aku.”
“Raya, tenanglah,” kata Bintang sambil memegang pundak Raya. Ia juga melihat keadaan tubuh Raya dengan ngeri.
“Itu bukan aku, BUKAN AKU!” teriak Raya. Kemudian, ia menangis sejadi-jadinya.
“AARRRGGKKKHHH!!”
Bintang langsung memegang kepala Raya dan membenamkan ke d**a bidangnya. Ia berusaha menenangkan Raya yang sangat terpukul itu. “Sudahlah, kita bisa menyelesaikan semua ini,” hiburnya sambil mengelus puncak kepala Raya.
“Tidak mungkin. Dia bukan aku. Aku belum mati,” gumam Raya sambil terisak.
••••••••
Raya melihat tubuhnya sendiri yang tergeletak lemas di atas dipan rumah sakit. Kepalanya diperban dan diberi alat bantu pernafasan. Raya melemah, apakah keadaannya separah itu? Dan kini ... apakah ia bisa memercayai semua ini? Jika dirinya telah berubah menjadi sesosok arwah yang bisa berjalan tanpa ada orang yang bisa melihat, berbicara tanpa ada yang mendengar dan berdiri tanpa ada yang merasakan.
“Raya,” panggil Bintang lirih sambil menyentuh bahu Raya dengan lembut. Ia melihat Raya menatapnya dengan kedua matanya yang sayu.
“Sekarang, tidak ada yang bisa melihat kita, kan?” ujar Raya, kemudian tersenyum tipis. “Bahkan, tidak ada yang bisa merasakan kita. Bintang, sekarang aku sama sepertimu. Sial, aku tidak bisa mengejekmu lagi,” celoteh Raya sampai meneteskan air mata tanpa disadarinya.
“Raya, kau jangan menyerah.”
Air mata Raya tidak juga berhenti menetes. Kemudian gadis itu terduduk jatuh di lantai kamar ruang inapnya. Ia menangis tersedu-sedu.
“Aku tidak mau. Aku tidak mau mati. Aku ingin hidup!” seru Raya sambil terisak. Ia merasakan dadanya sakit sekali. Baru kali ini ia mengerti apa artinya hidup dan betapa sulit mempertahankannya. Ia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Dan sekarang matanya benar-benar terbuka.
Bintang pun berlutut di depan Raya agar tinggi mereka setara. “Mau kuceritakan sesuatu?”
Raya menatap Bintang dengan kedua matanya yang berair. Mulutnya sama sekali tidak terbuka, tetapi wajahnya lah yang menggantikannya untuk bertanya.
“Tentang kenapa aku sangat ingin kau membalas cinta Andra.”
Raya mengerutkan keningnya samar. Kedua matanya kini beralih menatap ke arah mata Bintang. Seolah ia ingin masuk ke dalam kedua bola matanya yang hangat dan tenang itu.
“Aku sangat menyayangi sahabatku, Andra. Ia telah menjadi bagian penting dalam hidupku. Mungkin kau tidak tahu bagaimana dulu aku dan Andra yang sangat dekat satu sama lain. Ia selalu membantuku, bersamaku ketika aku sedih, di sisiku ketika aku bahagia, dan ia adalah satu-satunya orang yang mau tersenyum padaku walaupun seisi dunia membenciku,” kenang Bintang tanpa menatap gadis di depannya itu.
“Aku tahu, meskipun persahabatan kami begitu dekat, kami pun tidak luput dengan adanya masalah. Suatu ketika, aku bercerita pada Andra kalau aku menyukai seorang gadis. Bunga. Aku selalu bercerita padanya tentang perkembangan hubungan kami. Semuanya, semua yang kualami bersama Bunga kuceritakan padanya.
"Dan … saat aku menyatakan cintaku pada Bunga dan memberi tahu pada Andra kalau Bunga menerimaku, entah kenapa sikap Andra sedikit berbeda dari biasanya.
"Aku juga tidak yakin dengan tebakanku, tapi aku merasa Andra seperti tidak senang dengan apa yang kuceritakan kali ini.”
“Lalu?” Kali ini Raya membuka mulutnya untuk bertanya.
“Tiba-tiba Andra menangis di hadapanku. Dia berlutut sambil mengaku kalau dia juga mencintai Bunga. Aku sangat terkejut dengan pengakuannya itu. Tentu aku merasa tidak tega telah merebut gadis yang dicintai sahabatku sendiri. Ya, walaupun Andra selalu mengatakan tidak apa-apa. Namun aku yakin apa yang dia ucapkan berbeda 180 derajat dengan apa yang dikatakan hatinya.”
“Apa Andra masih mencintai Bunga?”
Bintang terkekeh kecil. “Sebenarnya, setelah kejadian itu sikap Andra berubah. Dia menjadi senang mempermainkan para gadis. Entah itu untuk pelampiasannya atau apa dan aku sangat prihatin melihatnya seperti itu. Tapi, ketika Andra tak sengaja melihat fotomu, dia seperti tersihir oleh sesuatu yang tidak kumengerti.
"Kau tahu, kedua matanya seolah terpaku padamu, dia tak henti-hentinya tersenyum. Lalu, dia bertanya padaku siapa namamu. Aku bilang aku tidak tahu. Tapi, dia malah memaksaku untuk memata-mataimu,” kenang Bintang sambil tertawa.
Raya pun melakukan hal yang sama. Ia tidak tahu jika sampai ada laki-laki yang mengaguminya seperti itu. “Lalu?”
“Saat aku memberi tahu namamu, dia sangat senang. Sangat, sampai meloncat-loncat di kasurnya. Dan dia pun mengatakan kalau dia akan kembali ke Jakarta. Sejak itu, aku menyadari satu hal. Andra, sangatlah mencintaimu. Dia rela melakukan apapun demi kau.
"Kau ingat, dia bahkan masih setia tersenyum padamu meski kau membangun tembok kebencianmu setinggi langit.”
Raya menurunkan pandangannya. Ia kembali teringat masa itu. Ketika ia amat sangat menolak kehadiran Andra dalam hidupnya. Andra selalu mendekatinya, bahkan menolongnya saat ia disekap oleh orang asing di Jepang. Laki-laki itu begitu tulus, semua itu dilakukannya berdasar akan cintanya yang tidak bisa ia lihat seberapa dalam itu. Ya, Raya dapat merasakannya. Merasakan bagaimana rasanya dicintai, sesuatu yang tak pernah dirasakannnya kecuali dengan orang tuanya.
“Bintang, aku merindukan ayah dan ibuku. Apa mereka akan datang? Apa mereka akan menangis?”
“Raya!” Bintang langsung menarik bahu Raya dan membuat gadis itu kini menghadapnya. “Kau tahu, kau belum selesai. Kau masih bisa berusaha untuk mengembalikan hidupmu. Percayalah, Raya.”
Raya terdiam. Ia berpikir sejenak. “Apa yang bisa kulakukan?”
“Masalahnya, mungkin ada beberapa keinginanku yang belum selesai dengan sempurna,” jelas Bintang.
Raya mengerutkan keningnya lalu menatap laki-laki di sampingnya itu. “Keinginan? Lalu apa keinginanmu Bintang?”
“Ah, mungkin keluargaku. Salah satu keinginanku selama di dunia ini adalah karena keluargaku.”
••••••••
Bintang dan Raya sama-sama terdiam saat melihat keluarga Bintang yang sedang berkumpul di depan TV. Ibu Bintang yang sedang mengobrol dengan Pramono serta Arsen yang sedang asyik menonton acara di TV.
“Bintang, lalu apa keinginanmu? Keluargamu tampak seperti sebuah keluarga yang bahagia?” tanya Raya tak yakin.
“Aku juga bingung. Tunggu, apa Arsen tidak bisa melihat kita? Bukankah dia memiliki kemampuan semacam itu?”
Raya memperhatikan sosok tubuh kurus yang sedang menatap layar TV dengan seriusnya. Entah kenapa jika mengingat laki-laki itu ia menjadi kesal saja. “Ya, bukannya bagus kalau dia tidak bisa melihat kita? Lebih baik kita selesaikan masalahmu.”
“Ah, ayah, di mana ayahku?” ucap Bintang sambil mencari-cari ayahnya. “Raya, ikuti aku,” suruh Bintang, lalu berjalan ke suatu tempat.
Raya pun mengangguk. Ia berjalan di belakang Bintang sekaligus melihat-lihat bagian rumah Bintang. Tiba-tiba saja Raya merasa merindukan keluarganya. Ia ingin sekali melihat dan memeluk ayah dan ibunya. Ia ingin menangis dan menceritakan banyak hal kepada mereka. Namun, kenapa sekarang hal itu sangat jauh meski di bayangannya?
Raya hampir menabrak Bintang karena tiba-tiba laki-laki itu menghentikan langkahnya. Raya menatap punggung Bintang, lalu naik ke wajahnya. Tatapannya menanyakan sesuatu. Namun, ia tidak berani bersuara.
“Itu Ayah,” ucap Bintang lirih.
Raya mengerutkan kening. Lalu, ia mengikuti pandangan Bintang dan melihat seorang pria renta yang sedang duduk di kursi roda. Spontan Raya menutup mulutnya. Ia tidak pernah tahu jika keadaan Ayah Bintang seperti itu. Terduduk lemas di kursi roda dengan pandangan frustrasi adalah sebuah keadaan paling menyedihkan baginya.
Raya mencengkeram kerah pakaiannya, seolah hatinya bisa ikut merasakan apa yang menimpa Ayah Bintang. “Aku tahu bagaimana rasanya.”
Perlahan Bintang menoleh ke arah Raya. “A-apa?”
“Sakit, sakit sekali. Ketika kau terduduk sendirian, tak ada yang menemanimu, tak ada yang mengajakmu berbicara, dan … parahnya kau teringat akan masa lalumu yang indah. Kau sangat merindukannya tetapi kau tidak bisa berbuat apa-apa. Kau ingin memeluk orang yang sangat kau cintai, tetapi kau telah kehilangannya. Kau ingin mengulang masa-masa itu, kau terus berkhayal tanpa ada kenyataan.”
Tak terasa air mata Bintang sudah mengalir membentuk dua aliran sungai kecil di pipinya. Tiba-tiba ia terjatuh berlutut di depan kaki Ayahnya. “Ayah … Ayah ini aku Ayah. Ini anakmu Bintang. Aku di depanmu Ayah, tidakkah kau merindukanku?” serunya sambil menangis tersedu-sedu.
Bintang melihat ayahnya sedang membuka sebuah jurnal di pangkuannya. “Bintang, dasar anak nakal! Berani-beraninya kau meninggalkan Ayah tanpa pamit. Kau ke mana, nak? Kenapa kau tidak pernah kembali? Apa kau tidak merindukan Ayah?”
Bintang semakin menangis. Pelan-pelan ia pun bangkit dan berjalan ke sisi Ayahnya. Ia pun berjongkok dan melihat apa isi jurnal itu. Tiba-tiba Bintang tertegun. Isi jurnal itu adalah tulisan Ayahnya tentang kehidupannya sendiri. Dan nama yang paling banyak tertulis adalah nama Bintang. Ayah Bintang menulis semua kehidupan Bintang sejak ia dilahirkan. Saat ia menginjak usia setahun, saat pertama kalinya Bintang bersekolah hingga saat ia memenangkan olimpiade matematika.
Bintang tersenyum tipis. Ia memang tidak pernah tahu seberapa dalam kasih sayang Ayahnya terhadap dirinya. Lalu, Bintang melihat Ayahnya membuka halaman lain lagi. Ia terkejut saat di sana tertempel foto Bunga. Bintang pun membaca tulisan Ayahnya.
“Ayah ...,” ucapnya terharu saat menyadari jika bahkan Ayahnya tahu kapan pertama kalinya ia jatuh cinta.
“Ayah, kenapa kau begini? Kenapa kau membuatku sangat sulit untuk meninggalkanmu?” ungkap Bintang menyesal.
“Bi-Bintang?” panggil Angga sambil mengedarkan pandangannya.
Bintang terkejut saat Ayahnya menyebut namanya. Lalu Bintang menatap Raya dan gadis itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. “Ayah, kau bisa mendengar suaraku?”
“Bintang, kau di mana? Ayah yakin kau disini, nak.”
“Ayah, kalau kau tidak bisa melihatku maka dengarkan saja suaraku Ayah,” ucap Bintang dan Ayahnya berhenti mencari-cari. Kini Ayahnya duduk terdiam di kursi roda dan mendengarkan dengan teliti.
“Ayah, apa kau merindukanku? Apa kau selalu mengingatku bahkan ketika aku sudah tidak ada di dunia ini? Apa kau selalu melihat fotoku? Tersenyum saat mengingatku?” tanya Bintang dan melihat Ayahnya tersenyum.
“Aku juga sepertimu Ayah. Aku selalu merindukanmu setiap hari. Aku selalu melihatmu walau aku tidak bisa menyentuhmu. Aku ingin berbicara denganmu, tapi aku tidak bisa. Aku ingin kita melakukan hal-hal yang dulu kita lakukan bersama. Aku ingin melakukan itu semua Ayah.”
Bintang melihat air mata Ayahnya menetes. Ia merasa tidak tega, tetapi Bintang harus melanjutkannya sebelum suaranya tidak terdengar lagi. “Ayah, kau tahu aku sangat terpukul saat melihat kau duduk di kursi roda. Ini semua salahku Ayah. Seharusnya aku menuruti kata-kata ibu agar tidak pergi ke Bogor waktu itu. Aku menyesal Ayah, sangat menyesal.
"Ayah … kau harus sehat. Kau tidak boleh sakit seperti ini. Kau harus makan yang banyak dan menikmati kebahagiaan dalam hidupmu. Kalau mengingatku membuatmu sakit, maka lupakanlah aku Ayah. Aku tidak marah, justru aku akan merasa lega. Ayah, kini aku tahu kau sangat menyayangiku, kau adalah malaikatku. Kau mengajariku banyak hal dan memberiku banyak pengalaman berharga yang mungkin tak pernah kudapatkan.
"Ayah, aku tahu kalau kau dan Ibu mengadopsi Arsen. Maaf. Karena pada awalnya aku memang marah,” Bintang berhenti sejenak dan melihat Ayahnya mengerutkan kening dan hendak mengatakan sesuatu. Namun, Bintang melanjutkan kata-katanya lagi, “tapi sekarang tidak.
"Aku mengerti, Ayah. Arsen adalah temanku. Ia adalah anak yang baik. Aku minta, jaga dia sebaik kau menjagaku. Anggap kalau diriku berada dalam diri Arsen. Karena dengan begitu, maka kau akan bahagia. Ayah, aku yakin suatu saat nanti kita akan bertemu kembali. Ayah kau menyayangiku, kan? Lakukanlah untukku.”
Raya mengepalkan tangannya erat-erat. Ia berusaha keras menahan diri agar tidak menangis.
Bintang melihat senyum Ayahnya yang perlahan terlukis di wajah tuanya yang lelah. “Ayah berjanji, Bintang. Kau anak yang baik,” ucap Angga pelan, tetapi mampu membuat hati Bintang terasa lega.
Bintang tersenyum senang. Entah perasaan apa ini, tetapi ia tidak pernah merasakan perasaan selega ini. “Terima kasih, Ayah.”