Bintang keluar dari kamar itu dengan langkah yang terasa jauh lebih ringan daripada saat ia masuk.
Di balik pintu, Raya sudah menunggunya. Gadis itu bersandar pada dinding lorong rumah sakit, memeluk kedua lengannya sendiri, dengan wajah yang menunduk. Ia tidak berpura-pura tidak mendengar. Sebab, sejak tadi ia memang mendengar semuanya.
“Kau menguping,” tuduh Bintang.
“Aku tidak menguping. Aku hanya kebetulan berdiri di tempat yang salah selama dua puluh menit,” balas Raya. Ia mengangkat wajahnya, dan Bintang bisa melihat kedua netra gadis itu memerah. “Ayahmu orang yang baik.”
“Aku tahu.”
“Kau seharusnya lebih sering mengatakan itu padanya waktu kau masih hidup.”
Bintang menoleh, hendak membalas dengan kalimat yang menyebalkan seperti biasa. Namun, entah kenapa, kali ini ia tidak sanggup. Sebab, gadis itu benar. Selalu saja begitu. Kalimat-kalimat yang paling penting justru baru terasa penting setelah tidak ada lagi bibir yang bisa mengucapkannya.
“Ayo,” ajak Bintang akhirnya.
“Ke mana?”
“Ke tempat tubuhmu.”
••••••••
Lorong rumah sakit malam itu sepi. Hanya ada suara langkah perawat yang sesekali melintas, dan bunyi mesin yang berdetak teratur dari balik pintu-pintu yang tertutup.
Mereka berdua berjalan menembus semuanya. Menembus troli obat. Menembus seorang laki-laki yang tertidur di kursi tunggu sambil memeluk tas. Menembus dinding, ketika Bintang merasa jalan memutar terlalu jauh.
Raya berhenti di depan sebuah pintu.
“Kau tidak masuk?” tanya Bintang.
“Sebentar.” Gadis itu menarik napas, walau ia tahu betul jika sekarang ia tidak lagi memerlukannya. “Aku selalu merasa aneh setiap kali melihat wajahku sendiri dari luar. Rasanya seperti melihat orang lain yang sedang tidur memakai wajahku.”
Kemudian, ia melangkah masuk.
Tubuh Raya masih tergolek di sana. Kepalanya diperban. Alat bantu pernapasan terpasang di wajahnya. Layar di samping ranjang memperlihatkan garis yang naik turun dengan bunyi yang teratur.
Namun, malam ini ada yang berbeda.
Ada seorang wanita duduk di kursi di samping ranjang itu. Rambutnya disanggul asal-asalan. Kopernya masih tergeletak di sudut ruangan, bahkan label bandaranya belum dilepas. Wanita itu menggenggam tangan tubuh Raya erat-erat, menempelkannya ke pipinya sendiri, dan menangis tanpa suara.
Raya membeku di tempatnya.
“Ibu …,” gumamnya nyaris tak terdengar.
Bintang tidak berkata apa-apa. Ia hanya mundur selangkah, memberi ruang bagi gadis itu.
Raya melangkah mendekat perlahan-lahan. Ia berlutut di sisi lain ranjang, menatap wajah wanita yang selama ini selalu ia keluhkan karena terlalu sering berada di luar negeri. Wanita yang setiap kali menelepon selalu ia jawab dengan malas dan seadanya.
“Ibu, aku di sini,” ucap Raya. “Ibu, lihat aku. Aku di sebelah sini. Bu?”
Wanita itu tidak menoleh.
Tentu saja tidak.
“Sayang, Ibu sudah pulang,” bisik wanita itu kepada tubuh yang terbaring. “Ibu sudah pulang, Nak. Bangun, ya? Ibu janji tidak akan pergi lagi. Ibu janji.”
Raya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang hebat.
“Bohong,” isaknya. “Ibu selalu bilang begitu. Setiap kali Ibu pulang, Ibu selalu bilang begitu. Lalu tiga minggu kemudian Ibu pergi lagi.”
Namun, di detik berikutnya gadis itu terisak semakin keras.
“Tapi kali ini tepati, Bu. Aku mohon. Sekali ini saja tepati janjimu.”
Bintang mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Sungguh, ia sudah terlalu sering melihat pemandangan seperti ini sejak menjadi arwah. Namun, tidak sekali pun ia terbiasa.
Beberapa saat kemudian, pintu ruangan itu terbuka. Seorang dokter masuk sambil membawa map berisi berkas. Ibu Raya buru-buru bangkit dan menghapus air matanya dengan punggung tangan.
“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?”
“Tanda vitalnya membaik, Bu. Pendarahan di kepalanya sudah berhenti. Secara medis, tidak ada lagi yang menahannya.” Dokter itu menjeda ucapannya, seperti sedang memilih kata yang paling tidak menyakitkan. “Tapi pasien belum juga sadar. Kadang memang begitu. Tubuhnya sudah siap, tetapi orangnya yang belum mau kembali.”
“Belum mau kembali?” Suara wanita itu bergetar. “Maksud Dokter, anak saya tidak ingin bangun?”
“Bukan begitu. Kami juga tidak bisa menjelaskannya dengan pasti.” Dokter itu tersenyum tipis. “Yang bisa Ibu lakukan hanya terus mengajaknya bicara. Percaya atau tidak, kadang itu yang paling manjur.”
Raya berdiri kaku di sudut ruangan, mendengarkan semuanya.
Tubuhnya sudah siap. Hanya orangnya yang belum kembali.
Ia menoleh ke arah Bintang, dan menemukan arwah itu sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Bukan tatapan kasihan. Melainkan tatapan seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang tidak pernah bisa dikatakan tentang dirinya sendiri.
••••••••
Mereka berdua duduk di lorong, di bangku besi yang dingin, ketika hampir tengah malam.
“Bintang,” panggil Raya dengan suara yang serak.
“Hm?”
“Aku memanggilnya pembunuh.”
Bintang menoleh.
“Andra,” lanjut gadis itu. “Aku berteriak di depan wajahnya. Aku bilang dia pembunuh. Aku bilang dia penjahat. Aku mengatakannya berkali-kali sampai suaraku habis.” Raya menunduk, menatap kedua telapak tangannya sendiri yang tidak bisa lagi menyentuh apa pun. “Dan sekarang aku bahkan tidak bisa meminta maaf.”
Bintang bergeming beberapa saat lamanya.
“Kau tahu apa yang paling aneh dari semua ini?” ucapnya kemudian. “Aku juga tidak bisa membencinya.”
Raya mengangkat wajahnya.
“Aku sudah mencoba,” aku Bintang sambil menyandarkan kepala ke dinding. “Sungguh, aku sudah mencoba berkali-kali. Setiap malam aku berkata pada diriku sendiri, dialah orangnya. Dialah yang membuatku menjadi seperti angin. Dialah yang membuat Ayahku duduk di kursi roda. Seharusnya aku membencinya sampai mati.”
“Lalu?”
“Lalu aku teringat mi ayam.” Bintang tersenyum kecil, senyum yang terasa lebih menyakitkan daripada tangis. “Dulu, setiap kali aku tidak punya uang di akhir bulan, Andra selalu memesan dua porsi, lalu bilang dia kekenyangan dan menyerahkan satu porsinya kepadaku. Setiap bulan. Selama bertahun-tahun. Dia pikir aku tidak tahu.”
Raya menatap laki-laki di sampingnya itu dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
“Bagaimana caranya membenci orang seperti itu, Raya? Katakan padaku. Karena sejujurnya, aku tidak tahu.”
Gadis itu tidak menjawab. Sebab, ia sendiri pun tidak tahu.
••••••••
Menjelang dini hari, keduanya berdiri di sebuah ruangan yang lain, di tempat yang sama sekali berbeda dari rumah sakit.
Ruangan itu sempit dan pengap. Cahaya lampu neonnya kekuningan dan berkedip-kedip. Di balik jeruji besi, seorang laki-laki duduk meringkuk di sudut dengan kedua lutut ditekuk.
Andra.
Rambutnya berantakan. Matanya cekung dan merah. Kedua tangannya penuh luka lecet, entah karena memukul apa. Ia tidak tidur. Ia hanya duduk di sana, menatap lantai, seperti orang yang sedang menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang.
Raya mendekat. Ia berlutut tepat di depan laki-laki itu, di sisi lain jeruji, hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa jengkal saja.
“Andra,” panggilnya.
Andra tidak bergeming.
“Andra, maafkan aku.”
Tidak ada jawaban.
“Aku tidak sungguh-sungguh mengatakan itu. Aku sedang marah. Aku sedang kacau. Aku …,” Raya menjeda ucapannya, lalu tertawa getir. “Astaga, kenapa aku baru bisa jujur setelah tidak ada yang bisa mendengarku?”
Tiba-tiba, Andra mengangkat wajahnya.
Raya terperanjat. Sesaat, jantung yang sudah tidak berdetak itu seolah kembali berdenyut. Apakah laki-laki itu mendengarnya? Apakah mungkin?
Namun, ternyata Andra hanya sedang menoleh ke arah pintu, ke arah seorang petugas yang lewat sambil membawa segelas air.
“Pak,” panggil Andra serak. “Apa sudah ada kabar tentang Raya Putri?”
Petugas itu menghentikan langkahnya. “Nak, ini sudah jam tiga pagi.”
“Aku tahu. Aku hanya ingin bertanya sekali lagi.”
Petugas itu mengembuskan napas panjang, lalu menggeleng pelan. “Belum ada. Kalau ada, pengacaramu pasti langsung memberitahumu.”
Andra melenggut. Ia kembali menunduk, kembali menatap lantai.
“Terima kasih, Pak.”
Raya masih berlutut di sana. Kali ini ia benar-benar menangis tanpa suara.
Bintang berdiri di belakangnya, memandangi keduanya dalam diam. Dua orang yang berjarak beberapa jengkal, tetapi dipisahkan oleh sesuatu yang jauh lebih tebal daripada besi.
Sungguh, kalau ada satu hal yang paling ia benci dari dunia ini, itu adalah caranya mempermainkan orang-orang yang sebenarnya saling menyayangi.
••••••••
Langit di luar mulai berubah kelabu ketika mereka kembali ke rumah sakit.
“Aku akan tinggal di sini,” ucap Raya di depan pintu kamar rawatnya. “Aku ingin menemani Ibuku.”
“Dia tidak bisa melihatmu.”
“Aku tahu.” Gadis itu menyunggingkan senyum kecil. “Tapi aku bisa melihatnya. Untuk sekarang, itu sudah cukup.”
Bintang melenggut.
“Bintang,” panggil Raya lagi sebelum arwah itu sempat melangkah pergi. “Kau mau ke mana?”
“Ke atas.”
“Untuk apa?”
Bintang mengangkat bahu. “Untuk berpikir. Terlalu banyak yang harus kupikirkan, dan di bawah sini terlalu ramai oleh orang-orang yang tidak bisa melihatku.”
Raya terkekeh pelan. “Dasar arwah aneh.”
“Mengerti?”
“Mengerti, mengerti.”
Gadis itu melangkah masuk, menembus pintu, dan menghilang di baliknya.
Bintang tinggal sendirian di lorong yang sunyi itu. Ia menengadah, menatap langit-langit, lalu perlahan-lahan melayang naik. Menembus lantai demi lantai. Menembus ruang-ruang yang dipenuhi oleh orang-orang yang sedang berjuang untuk tetap hidup, dan orang-orang yang sedang berjuang untuk merelakan.
Sampai akhirnya kedua kakinya menjejak di lantai roof top rumah sakit.
Angin dini hari berembus dingin di sana. Kota di bawah sana masih berkedip-kedip oleh lampu yang belum sempat dipadamkan. Dan di atas kepalanya, langit terbentang luas dengan taburan kilau yang samar.
Bintang berdiri di tepi, memasukkan kedua tangan ke dalam saku, dan menengadah.
Sudah berapa lama ia berada di dunia ini?
Dan sampai kapan lagi ia harus bertahan seperti ini?