Bintang menatap langit yang bertabur kilau bintang dari roof top Rumah Sakit. Seperti siluet kebesaran semesta di atas sana. Indah dan membuat senang yang memandang. Ia juga ingin memiliki ingatan hidup yang indah seperti siluetnya semesta di angkasa. Namun nyatanya, ingatannya terlalu memilukan untuk diingat.
Bintang mendesah pelan. Jujur saja, ia sudah lelah jika harus menjalani kehidupan seperti ini terus. Ia ingin secepatnya menyelesaikan urusannya. Dan setelah itu pergi dari dunia ini. Namun kenyataannya, hingga sampai saat ini dirinya masih berada di dunia ini. Entah sampai kapan. Padahal sebagai arwah, ia juga ingin hidup bahagia di surga. Mungkinkah ia tidak bisa kembali ke asalnya? Lalu, urusan apa yang belum terselesaikan olehnya? Mengingat ia telah berhasil menemukan siapa sang pelaku, yang tidak lain ialah Andra. Mirisnya, tetap saja ia tidak bisa membenci laki-laki itu.
Kini, pandangan Bintang menerawang hingga sukses menembus batas waktu saat dirinya menemukan sosok Andra tengah berdiri mematung di depan makamnya.
Siang merangkak sore di iringi hujan gerimis yang tipis. Beberapa orang memilih untuk menggunakan payung, tetapi ada juga yang setia berjalan membiarkan kemejanya basah oleh rintik-rintik gerimis.
Seorang laki-laki dengan pakaian serba hitam berjalan perlahan melintasi rerumputan di bawah kakinya. Laki-laki itu ialah Andra. Pandangannya menunduk ke bawah, menikmati langkah demi langkah yang dilewati. Beberapa helai rambut hitamnya tersibak angin lembut dan menimbulkan kesan dramatis pada dirinya.
Akhirnya langkah laki-laki itu terhenti di depan sebuah makam bertuliskan ‘Bintang Pradipa’.
“Apa kabar?” ucapnya dengan nada rendah. Kemudian ia berlutut dan meletakkan sebuah buket bunga di atasnya.
“Apa kau bahagia? Sebahagia apa kau di surga?” gumamnya lagi. Seolah ia sedang bercerita pada temannya itu. “Aku ke sini karena aku merindukanmu, Bintang. Kenapa kau pergi secepat ini?” tuturnya yang tanpa sadar lelehan air bening itu merembes di pipinya.
Andra terisak perih. Ia meremas rerumputan yang sudah mulai tumbuh di atas makam sahabatnya itu dengan kuat seakan rasa penyesalan hinggap pada dirinya.
“Maafkan aku Bintang. Karena aku baru tahu jika kau telah tiada. Aku sangat menyesal. Seharusnya, setelah tiba di Indonesia aku langsung menemuimu,” akuinya lalu menepis setitik air mata di sudut matanya.
“Aku harap kau akan bahagia di surga,” ucapnya lagi sambil mengelus batu nisan di hadapannya.
Sayangnya, Andra tidak tahu jika sedari tadi Bintang ada di sisinya. Melihatnya menangis sendu di depan makamnya hingga membuat d**a Bintang terasa begitu sesak.
Bintang mengernyit heran saat tersadarkan dari lamunannya. Ia merasa ada yang mengganjal dengan tangis Andra. Kenapa Andra menangis pilu seperti itu di depan makamnya? Seolah-olah laki-laki itu tidak tahu menahu akan pembunuhan yang dilakukannya. Saat itu Bintang bisa melihat dengan jelas raut wajah kehilangan dari Andra. Tidak mungkin, kan, jika Andra yang membunuhnya kemudian menangis pilu seperti itu?
Kini, Ingatan Bintang berhasil menembus batas waktu yang lainnya. Kini, ia teringat akan ucapan kakak Andra saat dirinya menjenguk laki-laki itu di rumahnya.
“Kau tidak tahu? Jadi Andra tidak pernah menceritakannya padamu?” ujar Liana dan Bintang hanya mengangguk kecil. “Ya, Andra pernah mengalami kecelakaan saat ia baru saja kembali ke Jakarta.”
“Kurang lebih satu bulan yang lalu saat dia pergi untuk menginap ke rumah Raja dan di saat itulah dia mengalami kecelakaan itu. Mobilnya berusaha menghindari sebuah bus, akan tetapi nahas nasibnya malah tidak lebih baik. Sehingga dia harus dirawat selama satu minggu di Rumah Sakit. Walaupun lukanya tidak begitu parah, tapi mobilnya sukses menghancurkan pembatas jalan,” jelas Liana panjang lebar.
“Jadi, Andra sempat dirawat selama satu minggu setelah kecelakaan itu terjadi?” gumam Bintang bermonolog dengan angin yang berdesir lembut.
Tunggu dulu! Jika memang benar laki-laki itu dirawat. Itu artinya bukan Andra yang melakukan pembunuhan itu. Mungkinkah ada seseorang yang mengkambing hitamkan Andra? Lalu jika bukan Andra siapa yang telah membunuhnya? Kenapa semua menjadi rumit seperti ini? Rasanya kepala Bintang mau pecah saja jika terus dipaksa untuk memikirkan hal ini yang tidak kunjung usai. Pun, Bintang ingin berteriak sekencang mungkin, menumpahkan semua emosi di dalam kepalanya.
Bintang mengembuskan napas beratnya. Saat yang sama sebuah adegan di malam pembunuhannya tiba-tiba saja berputar di dalam ingatannya dan menampilkan sesosok orang berjaket hitam di hadapannya.
“Cih! Rupanya kau masih hidup!”
Bintang terlonjak kaget. Suara itu? Bukan suara ayahnya. Lantas, siapa orang itu? Ia mencoba untuk memperhatikan kembali. Samar-samar. Ia melihat sebuah lubang bekas tindik di telinga kiri orang itu. Beralih dari sana, sedikit ke bawah, ia juga melihat tiga buah benda kecil berbentuk bintang berwarna cokelat emas, yang melekat di atas saku kiri pakaiannya. Kini, ia yakin jika orang itu memang bukanlah sang ayah. Namun, dari postur tubuhnya, ia seperti … mengenali orang itu. Bahkan, juga pakaian dan suaranya. Tapi … siapa? Dan di mana ia pernah melihatnya?
Orang yang memiliki perawakan tinggi itu, kini telah berada tepat di samping ranjangnya. Ia tercenung, ketika orang berjaket hitam itu membelai rambutnya dengan lembut. Ia menoleh ke samping dan melihat orang itu tengah menyeringai menatapnya. Pun, ia mencoba mengerjap, supaya penglihatannya yang tampak samar itu bisa terlihat lebih jelas. Tidak lama kemudian, kedua matanya berhasil melihat sebuah tahi lalat di telinga kiri orang itu.
Bintang membeliak, saat yang sama ingatan itu lenyap dalam hitungan sepersekian detik. Ya, ia ingat sekarang. Jika saat itu dirinya melihat orang berjaket hitam memiliki tahi lalat di telinga kiri. Bukan lubang bekas tindik. Oh, astaga. Kenapa dirinya bisa melupakan hal yang begitu penting seperti itu? Hingga sampai ia salah mengira akan orang itu yang memiliki lubang bekas tindik di telinga kiri. Kini, ia semakin yakin jika bukan Andra pelakunya. Lantas, jika bukan Andra siapa orang yang telah membunuhnya?
Tatapan Bintang menerawang jauh ke depan, kini ia berusaha mengingat orang berjaket hitam itu yang seperti dikenalinya. Cukup lama otaknya berpikir. Hingga pada akhirnya, benaknya berhasil mengingatnya.
“Tidak salah lagi. Aku yakin jika dia adalah sang pelaku. Sebab, hanya ada satu orang yang kukenal memiliki tahi lalat di telinga kiri,” ungkapnya penuh dengan amarah hingga kedua tangannya terkepal erat.
“Kau tunggu saja! Aku akan datang menghampirimu dan membalaskan dendamku kepadamu.”
••••••••
Raja berjalan mengikuti Bapak berseragam di sampingnya, seraya menundukkan kepalanya. Ia tidak sanggup melihat para warga yang saat ini tengah menatapnya tajam akibat telah mendengar desas-desus akan kasus pembunuhan yang telah dilakukannya. Sungguh, ia tidak bisa berbuat apapun saat ada Polisi tiba-tiba datang ke rumahnya dan menangkap dirinya. Ia hanya bisa pasrah saat mereka membawanya ke kantor dengan kedua tangannya yang diborgol.
“KENAPA KAU MELAKUKAN ITU KEPADAKU, RAJA?” geram Andra setelah Raja sampai di kantor Polisi. Ia sudah tidak bisa mengontrol emosinya ketika melihat wajah temannya itu.
Raja hanya bisa menatap nanar wajah Andra yang telah dipenuhi oleh amarah. Dadanya terasa sesak ketika mengingat apa yang telah diperbuatnya kepada laki-laki itu. Jika ia bisa memutar ulang waktu, maka dirinya tidak akan mau melakukan hal bodoh itu kepadanya. Sayangnya, demi menjalani hidup, ia rela mengkambing hitamkan orang yang telah dianggapnya sebagai adik.
“KENAPA KAU DIAM SAJA, RAJA!” Andra hampir saja meninju wajah Raja ketika sang pengacara menahan kepalan tangannya.
“Aku mohon, tenangkan dirimu Andra. Biar para penyidik yang akan menangani kasus ini. Lebih baik kau kembali ke tempatmu. Aku janji akan membebaskanmu setelah Raja mengakui semua kesalahannya,” beritahu Jaka—sang pengacara—sekaligus menenangkan kliennya itu.
Andra menepis tangan Jaka. “Tidak bisa, Ka. Aku harus tahu kenapa dia membunuh Bintang?” sahutnya dengan tatapan tajam tertuju ke arah laki-laki di hadapannya itu.
Kedua netra Raja membeliak. Apa? Membunuh? Sepertinya Andra salah mengira akan hal itu. Tidak. Bukan dirinya yang telah membunuh Bintang. “Asal kau tahu. Aku tidak membunuh Bintang,” sangkalnya akhirnya.
“BOHONG! Bukankah kau meminjam jaketku saat aku dirawat di rumah sakit? Dan jejakmu saat keluar dari kamar rawat Bintang dengan menggunakan jaketku terekam oleh kamera CCTV. Kau tidak bisa mengelak lagi Raja.”
Raja menggeleng kuat. Rasa panik tiba-tiba saja membekapnya. Apa yang harus dikatakannya sekarang? “Itu bukan aku,” akunya kemudian membuat semua orang di ruangan itu tampak terkejut.
Raja meneguk salivanya. Keringat dingin seketika menjalar di sekujur tubuhnya. Haruskah ia mengatakan semuanya? Hingga pada akhirnya ia kembali membuka mulutnya. "Ada orang lain yang menyuruhku. Dia menyuruhku untuk mengkambing hitamkan kau supaya semua aksinya tidak akan diketahui oleh Polisi. Sebab, dia sudah bisa memprediksi jika ayahmu akan menyuap kasus kecelakaan ini. Bintang memang incarannya sejak awal. Namun, karena ia mendapat kabar jika Bintang masih hidup sehingga orang itu mendatangi Bintang ke Rumah Sakit dan membunuhnya. Orang itu mengatakan akan memberikan jabatan kepadaku sebagai supervisor jika aku mau membantunya," aku Raja dengan suara bergetar.
Kini, Raja memberanikan diri menatap netra Andra yang tengah menatapnya tidak percaya dengan semua pengakuannya. "Maafkan aku Andra. Kesulitan beban hidupku membuatku menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan jabatan itu. Aku butuh uang, Andra! Aku tidak ingin terus menerus hidup susah seperti ini."
Andra merasakan ngilu di ulu hatinya ketika mendengar semua pengakuan dari Raja. Ya, Tuhan sungguh ia tidak tahu jika Raja telah mengalami kesulitan seperti itu dalam hidupnya. Kendati begitu, tetap saja laki-laki itu salah.
"Katakan! Siapa orang itu?" tanya sang penyidik kepada Raja.
•••••••
Seorang pria paruh baya terduduk di ruangan kerjanya yang begitu luas. Sesekali ia membaca berkas di atas meja lalu menandatanganinya. Bekerja sebagai seorang Direktur Perusahaan memang sudah menjadi keinginannya sejak lama. Ia beruntung, sebab Yoga--sahabatnya sekaligus Presiden Direktur Perusahaan ABC--memilih dirinya untuk menggantikan posisi Angga yang merupakan ayah Bintang.
Pria itu tersenyum senang, seraya tangan kanannya dengan lincah menandatangani banyak berkas. Ia tidak pernah mengira jika hidupnya berubah drastis saat menjadi seorang Direktur. Rumah mewah, mobil mewah, dan banyak wanita yang mengelilinginya. Oh sungguh itu semua sangat menyenangkan.
Namun, tidak lama kemudian, pria itu menghentikan aktivitasnya. Tiba-tiba saja, ia merasakan daerah tengkuknya terasa dingin. Ia berdesis, lalu mengusap tengkuk lehernya. Ia mengernyit heran. Kenapa tubuhnya terasa dingin seperti ini? Padahal, pendingin di ruangan menunjukkan suhu normal. Mungkinkah mesin pendingannya rusak? Mungkin saja.
Orang itu pun menggedikkan bahunya. Kemudian, kembali bekerja. Namun, tiba-tiba ….
Jleb!
Mendadak listrik padam hingga membuat ruangan gelap gulita. Entah kenapa bulu kuduknya meremang saat ini. Ditambah suara desisan seseorang yang begitu jelas terdengar berada di belakang tubuh, membuatnya terasa panik. Suara apa itu? Bukankah di ruangan ini hanya ada ia seorang diri?
"Si-siapa di sana? Jangan bermain-manin denganku," ancamnya ketakutan. Kini, keringat dingin telah merebak pelan.
Sungguh, ia ingin bangkit dan pergi dari tempat ini sekarang juga. Namun, kenapa tubuhnya terasa kaku dan tidak bisa digerakkan?
"Kenapa kau melakukan itu semua kepadaku, Pramono? ucap sebuah suara tiba-tiba.
Pramono celingukan. Suara itu? Ia seperti mengenalinya. Namun, terlalu gelap sehingga netranya tidak menemukan siapapun kecuali pekatnya ruangan.
"Si-siapa kamu? Tunjukkan wajahmu!" tantang Pramono dengan masih berusaha untuk bangkit dari duduknya. Sayangnya, usahanya itu sia-sia saja. Sebab, tubuhnya seperti terasa mati hingga ia tidak sanggup untuk bergerak.
"Hahaha. Kau yakin ingin melihat wajahku?" kata suara itu dengan diiringi oleh gelegar tawanya yang begitu memekak telinga Pramono.
Pramono berusaha menutup telinganya rapat-rapat sebelum gendang telinganya pecah. Ia merintih merasakan sakit pada kedua telinganya. Dan seketika tawa itu terhenti. Sesaat ruangan hening. Napas pria itu megap-megap seiring dengan keringat dingin yang kian merebak deras. Ia mencoba untuk membuka telinganya kembali. Saat yang sama lampu menyala dan membuat netranya terbelalak lebar.
"Bi-Bintang? Ti-tidak mungkin. Ka-kau sudah mati. Ba-bagaimana kau bisa ada di sini?" tanyanya bertubi-tubi saat kedua netranya menemukan sesosok laki-laki berpakaian serba putih di hadapannya. Laki-laki itu tengah mematapnya tajam saat ini membuat degup jantung Pramono terasa ingin berhenti berdetak sekarang juga.
Bintang menyeringai. Ia telah dikuasai oleh amarah saat mengingat apa yang telah dilakukan oleh pria di hadapannya itu kepada dirinya. Pria itu yang telah berhasil membuatnya menjadi seperti angin. Dan saat ini, ia sangat ingin menuntut balas dendamnya. Haruskah ia melakukan hal yang sama kepada pria itu?
"Kau salah Pramono. Aku belum mati. Aku masih hidup. Hahaha."
Pramono membeliak tidak percaya mendengar pengakuan dari Bintang. Bagaimana mungkin? Ia begitu yakin jika saat itu Bintang sudah tidak bernapas.
"Kau terkejut?" tanya Bintang yang saat ini kedua netranya tengah memancarkan sileut kemarahan berwarna merah.
"Ti-tidak Bintang. Jangan sakiti aku! Aku mohon…," mohonnya saat melihat semua benda di hadapannya telah melayang tepat di atas tubuhnya.
Sungguh, Pramono merasakan takut luar biasa saat ini. Kenapa bibirnya terasa begitu kelu hanya untuk berteriak meminta pertolongan? Ke mana semua pegawainya saat ini? Kenapa begitu sepi sekali?
Bintang menyeringai. Ia mulai mengangkat tangan kanannya ke depan, mengendalikan meja kerja pria itu supaya berada tepat di atas kepalanya. "Apa ada kata-kata perpisahan sebelum kau pergi meninggalkan dunia ini?"
Pramono gelagapan. Ia pun menangkupkan kedua tangannya? Memohon kepada Bintang supaya tidak membunuhnya. "Aku mohon Bintang. Jangan lakukan itu. Tolong maafkan aku. Aku memang bodoh. Demi sebuah jabatan ini hingga aku rela melakukan hal sekeji itu."
Bintang berdecih. Di dalam benaknya saat ini tidak ada kata maaf untuk seorang pembunuh seperti pamannya itu. Ia hanya ingin semua kesedihannya selama ini terbayar dengan kematian pria itu. Bukankah nyawa harus dibayar dengan nyawa?
Bintang tersenyum mengejek. Ia berniat untuk menjatuhkan meja besar itu, ketika beberapa orang Polisi datang dan masuk ke dalam ruangan.
"Anda kami tangkap atas kasus pembunuhan yang telah anda lakukan! Silakan ikut kami!"
Pramono hanya bisa tercenung. Ia terlalu syok akan peristiwa yang baru saja dialami. Ruangan yang pada awalnya tampak begitu berantakan, akan tetapi kenapa saat ini terlihat begitu rapi? Seperti tidak terjadi apapun. Mungkinkah ia sedang berhalusinasi?
Akhirnya, Pramono hanya bisa pasrah saat para Polisi itu membawanya dan memborgol kedua tangannya.