Bunga terbangun di lantai kamarnya, dengan laptop yang masih menyala di atas meja dan matahari yang sudah meninggi di balik tirai.
Ia bangkit terlalu cepat hingga kepalanya berdenyut. Kedua netranya langsung menyapu seisi ruangan. Sudut demi sudut. Balkon. Ambang pintu. Bahkan kolong meja belajarnya.
“Bintang?”
Tidak ada jawaban.
“Bintang, aku tahu kau masih di sini. Jangan main-main.”
Yang menjawab hanya suara burung dari halaman.
Bunga membuka pintu balkon lebar-lebar. Angin pagi masuk, menerbangkan tirai putih itu tinggi-tinggi. Ia berdiri di sana lama sekali, memandangi jalanan kompleks yang mulai ramai, dengan kedua tangan mencengkeram pagar balkon.
Semalam laki-laki itu memeluknya. Ia merasakannya. Hangat itu nyata, ia yakin sekali. Ia bahkan sempat melihat wajahnya, walau samar.
Lalu, ke mana dia sekarang?
“Kau bilang kau tidak membenciku,” gumam Bunga lirih. “Kalau begitu, kenapa kau pergi lagi?”
••••••••
“Jadi begitu ceritanya.”
Raya duduk bersila di atas ranjangnya sambil memeluk bantal, menatap arwah yang duduk di atas lemari pakaian dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.
“Kau memelukmu—maksudku, kau memeluknya, lalu kau kabur pagi-pagi buta seperti maling?”
“Aku tidak kabur.”
“Lalu apa namanya?”
Bintang membuang muka. “Pergi. Dengan kesadaran penuh.”
“Itu namanya kabur, Bodoh.” Raya melempar bantalnya, yang tentu saja menembus tubuh Bintang dan mendarat di lantai. “Astaga. Aku baru sadar, ternyata kau ini lebih pengecut daripada yang kukira.”
“Aku tidak pengecut.”
“Gadis itu memanggil namamu sampai serak. Gadis itu bilang dia bisa menjelaskan. Dan kau? Kau menembus dinding.” Raya menyilangkan kedua lengannya. “Kau tahu, kau ini selalu mengeluh tentang betapa menyiksanya berbicara kepada orang yang tidak mau mendengar. Sekarang kau sendiri yang melakukannya kepada orang yang kau cintai.”
Bintang bergeming.
Sungguh, dari semua hal menyebalkan yang dimiliki Raya, yang paling menyebalkan adalah kemampuannya menemukan tepat di mana letak luka orang lain, lalu menekannya tanpa ragu.
“Kau tidak mengerti,” ucap Bintang akhirnya.
“Kalau begitu buat aku mengerti.”
Bintang melompat turun dari lemari. Ia berjalan ke arah jendela, menatap ke luar, memunggungi gadis itu.
“Bunga dijodohkan, Raya. Sudah sejak lama, bahkan sejak sebelum aku mati. Semalam aku mendengar sendiri orang tuanya berkata bahwa rencana itu tetap dilanjutkan.” Ia menjeda ucapannya. “Dan aku ini apa? Sesosok arwah. Aku bahkan tidak bisa memegang gelas.”
“Lalu?”
“Lalu, kalau aku terus datang ke kamarnya setiap malam, kalau aku terus berbicara kepadanya, apa yang akan terjadi pada gadis itu?” Bintang berbalik. Matanya memerah. “Dia akan menghabiskan seluruh hidupnya menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang. Dia akan menua sambil berbicara kepada udara. Dan orang-orang akan mengira dia gila.”
Raya membuka mulut, hendak membantah, lalu menutupnya kembali.
“Aku pernah melihat itu,” lanjut Bintang dengan suara yang jauh lebih pelan. “Ada seorang nenek di dekat rumahku dulu. Setiap sore dia menyiapkan dua cangkir teh di terasnya. Satu untuk dirinya, satu untuk suaminya yang sudah meninggal dua puluh tahun sebelumnya. Semua orang di kompleks menyebutnya nenek gila.”
Bintang menunduk.
“Aku tidak mau Bunga menjadi seperti itu, Raya. Aku lebih baik dibencinya karena pergi, daripada membuatnya menghabiskan hidupnya menungguku.”
Kamar itu hening cukup lama.
“Kau bodoh,” gumam Raya akhirnya.
“Aku tahu.”
“Kau sangat, sangat bodoh.”
“Aku tahu, Raya.”
Gadis itu turun dari ranjang, mengambil bantalnya yang tergeletak di lantai, lalu memeluknya lagi.
“Setidaknya, pamitlah,” ucapnya. “Kalau kau memang mau pergi, pamit dulu. Jangan seperti Ayah dan Ibuku yang selalu berangkat saat aku masih tidur, lalu meninggalkan catatan di kulkas.”
Bintang menatap gadis itu.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu di koridor Kampus yang gelap, ia menyadari bahwa Raya Putri tidak pernah benar-benar berbicara tentang orang lain.
••••••••
Bintang kembali ke rumah itu untuk yang terakhir kalinya, tiga malam kemudian.
Ia berdiri di balkon, di balik tirai putih yang sedikit transparan, dan tidak masuk ke dalam.
Bunga sedang duduk di depan laptopnya. Rambutnya diikat asal-asalan. Ada cangkir kopi yang sudah dingin di samping tangannya. Jari-jemari gadis itu bergerak cepat di atas papan ketik, berhenti sebentar, lalu bergerak lagi.
Bintang mendekat perlahan-lahan hingga bisa membaca layar itu dari balik bahunya.
Dan dadanya berdenyut hebat.
Kau adalah malaikat tanpa sayap yang tertutup oleh tubuh manusia.
Ia membaca baris demi baris. Tentang seorang gadis yang bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Tentang sesosok arwah yang keras kepala dan menyebalkan. Tentang koridor kampus yang gelap, tentang balkon, tentang tangan yang selalu menembus udara.
Semuanya ada di sana. Semua yang pernah mereka lalui.
Bunga sedang menulis dirinya.
Bintang mengangkat tangannya. Ia mengarahkan telapak tangan itu ke puncak kepala gadis di hadapannya, sedekat mungkin, walau ia tahu betul tidak akan ada yang terjadi.
“Tulis sampai selesai,” bisiknya. “Tulis sampai kau tidak perlu lagi mengingatku setiap malam. Dan setelah itu, hiduplah.”
Bunga berhenti mengetik.
Gadis itu mengangkat wajahnya, menoleh ke belakang, ke arah balkon.
Namun, di sana sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Hanya tirai putih yang bergerak pelan tertiup angin malam.
“Bintang?” panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Bunga menatap balkon itu beberapa saat lamanya, lalu mengembuskan napas panjang dan kembali menghadap layar. Jari-jemarinya bergerak lagi. Kali ini lebih cepat. Kali ini disertai air mata yang jatuh ke atas papan ketik.
Dan di luar sana, di atap rumah tetangga, sesosok arwah duduk memeluk lutut, mendengarkan suara ketikan itu sampai jauh melewati tengah malam.
••••••••
Menjelang subuh, Bintang tidak pulang ke rumah Raya.
Kedua kakinya membawanya ke sebuah gang yang tidak terlalu sempit, ke sebuah gerbang berwarna hitam dengan tulisan 25 A, Angga Pradipa. Ia berdiri di sana beberapa saat lamanya, lalu melangkah menembus pagar itu seperti biasa.
Lampu ruang tengah masih menyala.
Ayahnya duduk di kursi roda, di depan meja, dengan sebuah buku jurnal terbuka dan bolpen di tangannya. Pria paruh baya itu menulis perlahan-lahan, berhenti, lalu menulis lagi.
Di sudut ruangan, Arsen tertidur di sofa dengan kacamata yang masih bertengger di hidungnya dan sebuah buku tebal tertelungkup di dadanya. Rupanya laki-laki itu ketiduran lagi saat menunggui ayahnya.
Bintang mendekat, berlutut di samping kursi roda itu, lalu membaca apa yang sedang ditulis ayahnya.
Hari ini aku bermimpi lagi tentang Bintang. Dia marah karena aku lupa minum obat.
Bintang tertawa kecil. Air matanya jatuh bersamaan.
“Aku memang marah, Ayah,” gumamnya. “Obatnya di laci sebelah kanan. Yang warna putih itu diminum setelah makan, bukan sebelum.”
Angga berhenti menulis. Pria itu menoleh ke samping, ke arah ruangan yang kosong, lalu mengernyit heran. Beberapa detik kemudian ia menggeleng pelan sambil tersenyum sendiri, seolah menertawakan pikirannya yang mulai suka mengarang.
Kemudian, ia menutup jurnal itu, memutar kursi rodanya, dan mengambil selimut dari sandaran sofa. Dengan susah payah, pria itu menyampirkan selimut tersebut ke tubuh Arsen yang sedang tertidur.
“Anak ini,” gerutu Angga pelan. “Sudah kubilang jangan menungguiku.”
Bintang menatap keduanya dari tempatnya berlutut.
Dan untuk pertama kalinya sejak kematiannya, ia merasa lega melihat ada orang lain yang menempati kursi di rumah ini. Bukan iri. Bukan pula cemburu.
Melainkan lega.
“Jaga dia, Arsen,” bisiknya. “Jaga dia seperti aku menjaganya. Tidak, lebih baik dari itu. Karena kau punya tangan, dan aku tidak.”
••••••••
“Kau tidak pamit, kan?” tanya Raya keesokan paginya.
“Tidak.”
“Sudah kuduga.”
Bintang tidak menjawab. Ia hanya duduk di pinggiran balkon kamar Raya, memandangi langit Jakarta yang berwarna kelabu.
Dari halaman bawah terdengar suara klakson motor yang dibunyikan dua kali. Pendek-pendek. Sudah menjadi kebiasaan yang sama setiap pagi selama dua minggu terakhir.
“Itu Andra,” ujar Bintang tanpa perlu menoleh.
“Aku tahu.” Raya bangkit sambil merapikan rambutnya. “Dia keras kepala sekali. Sudah kubilang aku bisa naik angkot sendiri, kepalaku sudah tidak sakit lagi.”
“Lalu kenapa kau tetap turun setiap pagi?”
Raya melirik arwah itu dengan tatapan tajam. “Diam kau.”
Bintang terkekeh. Ia mengamati gadis itu mengambil tas dan memasukkan kamus Kanji yang tebal ke dalamnya. Sungguh, pemandangan sesederhana ini pun terasa seperti keajaiban baginya. Beberapa minggu lalu, gadis itu masih terbaring dengan selang di wajahnya.
“Bintang, kau mau ke mana sekarang?”
“Entahlah.”
“Jawaban macam apa itu?”
“Jawaban yang jujur.” Bintang menoleh, lalu menyunggingkan senyum kecil. “Aku masih punya urusan yang belum selesai. Ayahku masih duduk di kursi roda. Dan masih ada satu pertanyaan yang belum kutemukan jawabannya sejak dulu.”
“Pertanyaan apa?”
Bintang terdiam sejenak.
“Kenapa aku masih di sini,” ucapnya akhirnya. “Kalau semuanya sudah selesai, kalau orang itu sudah ditangkap, kenapa aku belum juga pergi dari dunia ini, Raya?”
Raya tidak menjawab. Sebab, itu adalah satu-satunya pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh siapa pun di antara mereka berdua.
Angin berembus. Di kejauhan, terdengar suara azan yang bersahut-sahutan.
“Bintang.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari nanti kau benar-benar pergi,” ucap Raya sambil menatap lurus ke depan, “kali itu saja, tolong pamit padaku.”
Bintang menoleh ke arah gadis itu.
Lalu, ia melenggut pelan.
“Mengerti,” jawabnya.