Bagi manusia, dua tahun adalah waktu yang panjang.
Ada yang lulus kuliah. Ada yang berganti pekerjaan. Ada yang pindah rumah, menikah, atau berhenti mencintai seseorang. Dua tahun cukup untuk mengubah hampir segalanya.
Namun bagi sesosok arwah, dua tahun hanyalah dua tahun.
Tidak ada rambut yang memanjang. Tidak ada tubuh yang menua. Tidak ada rasa lapar yang menandai bahwa hari sudah berganti. Yang ada hanya matahari yang terbit dan tenggelam berulang kali, sementara ia tetap berdiri di tempat yang sama, dengan wajah yang sama, dan luka yang juga sama.
Bintang menghabiskan dua tahun itu dengan berjalan kaki.
••••••••
Pada bulan-bulan pertama, ia sering berdiri di depan sebuah rumah bercat biru.
Naskah itu ditolak tiga kali. Bintang tahu, sebab ia membaca surel-surel itu dari balik bahu Bunga. Terima kasih atas kepercayaan Anda, namun untuk saat ini karya Anda belum sesuai dengan kebutuhan kami. Kalimat yang sama, hanya berbeda susunan katanya.
Pada penolakan yang ketiga, Bunga menutup laptopnya, lalu menangis selama sepuluh menit.
Setelah itu, gadis itu membuka laptopnya lagi dan menulis ulang bab pertamanya dari nol.
“Keras kepala sekali kau ini,” gumam Bintang dari balkon, tersenyum. “Pantas saja aku menyukaimu.”
Pada penolakan yang keempat, tidak ada tangis sama sekali.
Dan pada surel yang kelima, Bunga berteriak sekencang-kencangnya hingga ibunya berlari menaiki tangga sambil membawa sapu, mengira ada maling yang masuk ke kamarnya.
Malam itu Bintang duduk di atap rumah tetangga sampai pagi, sambil tersenyum sendirian seperti orang bodoh.
••••••••
Perjodohan itu tidak pernah terjadi.
Sebulan setelah Raja dinyatakan bersalah dan dibawa ke lembaga pemasyarakatan, kedua keluarga itu tidak lagi membicarakannya. Tidak ada yang berani menyinggung. Nama yang dulu diucapkan di ruang tamu dengan penuh rencana itu kini berubah menjadi nama yang tidak boleh disebut sama sekali.
Bunga sendiri hanya mengatakannya satu kali, kepada ayahnya, di meja makan.
“Ayah, kalau suatu hari nanti aku menikah, biar aku yang memilih.”
Ayahnya tidak menjawab. Namun, pria itu juga tidak membantah.
Bagi Bunga, diam seperti itu sudah cukup.
••••••••
Sementara itu, di bagian lain kota ini, seorang gadis berhasil menyelesaikan sesuatu yang dulu selalu ia anggap mustahil.
Raya Putri lulus.
Bintang hadir di sana, berdiri di barisan paling belakang aula, di antara para orang tua yang sibuk mengangkat ponsel tinggi-tinggi. Ia melihat gadis itu naik ke atas panggung dengan toga yang kebesaran. Ia melihat Hiroshi sensei menyalaminya sambil mengatakan sesuatu yang membuat gadis itu tertawa. Ia melihat Ibu Raya menangis di kursi depan, dan kali ini benar-benar menepati janjinya untuk tidak pergi ke mana-mana.
Dan ketika gadis itu turun dari panggung, ia menoleh ke barisan paling belakang.
Tepat ke arahnya.
Raya mengangkat map ijazahnya tinggi-tinggi sambil menyeringai lebar, seolah berkata lihat, aku berhasil, padahal semua orang di aula itu mengira ia sedang berpose untuk foto.
Bintang mengangkat kedua ibu jarinya.
Enam bulan setelahnya, gadis itu menikah.
Bintang berdiri di sudut ruangan sepanjang acara berlangsung. Ia melihat Andra mengucapkan ijab kabul dengan suara bergetar dan tangan yang berkeringat. Ia melihat sahabatnya itu menangis begitu selesai, ditertawakan oleh seluruh tamu undangan. Ia melihat Raya memukul lengan suaminya karena malu.
Dua orang yang paling ia sayangi di dunia ini. Duduk bersanding. Bahagia.
“Andra,” bisik Bintang dari sudut ruangan, “jaga dia baik-baik. Kalau kau membuatnya menangis, aku akan mematikan lampu rumahmu setiap malam. Mengerti?”
Tentu saja tidak ada yang mendengar.
Namun, malam itu, di tengah keramaian, pengantin wanitanya sempat menoleh ke sudut ruangan, lalu mengusap sudut matanya dengan punggung tangan.
••••••••
Sebulan sekali, Bintang selalu menyempatkan diri pulang ke gang yang tidak terlalu sempit itu.
Rumah bernomor 25 A itu tidak banyak berubah. Catnya memang sudah mengelupas di beberapa bagian, tetapi halamannya jauh lebih rapi daripada dulu. Ada pot-pot kecil berisi tanaman yang berjajar di sepanjang teras, sesuatu yang tidak pernah ada semasa ia masih hidup.
Ayahnya masih di kursi roda. Namun, pria itu sudah bisa tertawa lagi.
Setiap sore, Arsen selalu mendorong kursi roda itu keluar, mengajak ayahnya berkeliling kompleks, berhenti di warung ujung gang untuk membeli kopi, lalu pulang ketika azan magrib berkumandang. Rutinitas yang sama. Setiap hari. Tanpa pernah absen.
Suatu kali, Bintang mendengar ayahnya berkata kepada Arsen di teras.
“Nak, kau tidak perlu terus-terusan begini. Kau punya hidupmu sendiri.”
Arsen hanya membenarkan letak kacamatanya, lalu menjawab dengan santai, “Nenek saya bilang, membantu orang itu tidak ada waktu selesainya, Pak.”
Bintang tertawa dari balik pagar.
Dasar laki-laki aneh, pikirnya. Namun, entah kenapa, setiap kali pulang dari rumah itu, dadanya selalu terasa lebih ringan daripada saat ia datang.
••••••••
Waktu terus berjalan, dan Bintang tetap berada di sini.
Itulah bagian yang paling tidak ia mengerti.
Orang yang membunuhnya sudah ditangkap. Ayahnya sudah tersenyum lagi. Sahabatnya sudah menikah dengan gadis yang dicintainya. Bahkan kekasihnya sudah menemukan jalan hidupnya sendiri.
Lalu, urusan apa lagi yang tersisa?
Beberapa kali, di tengah malam, Bintang berdiri di tempat-tempat yang tinggi. Di atap gedung. Di jembatan. Di menara air. Ia menengadah, memejamkan mata, lalu menunggu.
“Aku sudah selesai,” ucapnya kepada langit. “Ambil aku sekarang.”
Namun langit tidak pernah menjawab.
Dan setiap pagi, ia masih berdiri di tempat yang sama.
••••••••
Ia menemukan buku itu secara tidak sengaja.
Sore itu Bintang sedang berjalan tanpa tujuan di sebuah pusat perbelanjaan, sekadar untuk melihat wajah-wajah manusia yang sibuk. Ketika melewati sebuah toko buku, langkahnya terhenti begitu saja.
Di etalase depan, tersusun rapi puluhan buku dengan sampul berwarna gelap. Di tengahnya ada gambar siluet seorang gadis yang sedang menengadah, dan di atasnya tertulis sebuah judul dengan huruf berwarna perak.
Ghost Love Story.
Dan di bawahnya, nama seorang penulis yang sangat ia kenal.
Bintang mendekat. Ia menembus kaca etalase itu, berdiri di antara tumpukan buku, lalu menatap sampul itu lama sekali.
Seorang pengunjung mengambil satu eksemplar dan membukanya. Bintang berdiri di sampingnya, ikut membaca dari balik bahu orang asing itu.
Dulu, aku selalu berpikir bahwa yang paling menyakitkan dari kehilangan adalah tidak bisa lagi bertemu. Ternyata bukan. Yang paling menyakitkan adalah bertemu, tetapi tidak bisa lagi disentuh.
Bintang menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Gadis itu menulisnya. Gadis itu benar-benar menulis semuanya.
Setiap malam yang ia habiskan di balkon. Setiap kalimat yang ia ucapkan kepada seseorang yang ia kira tidak mendengarnya. Semua yang selama ini ia simpan sendirian di dalam dada, kini tercetak di atas kertas dan dibaca oleh ribuan orang yang tidak pernah mengenalnya.
“Bagus juga ceritanya,” gumam pengunjung itu kepada temannya. “Tapi sedih, ya. Arwahnya tidak pernah bisa bilang apa-apa.”
“Namanya juga arwah. Mana bisa bicara.”
Bintang tertawa. Tawa yang aneh, karena keluar bersamaan dengan air mata.
“Bisa,” gumamnya. “Kami bisa bicara. Hanya saja tidak ada yang mau mendengarkan.”
••••••••
Lima ribu eksemplar.
Bintang mengetahuinya dari sebuah wawancara di televisi yang ia tonton dari balik kaca sebuah toko elektronik. Nama Bunga disebut-sebut sebagai penulis pendatang baru paling menjanjikan tahun ini. Wajah gadis itu terpampang di layar, tersenyum, jauh lebih anggun daripada yang ia ingat.
Lalu, pembawa acara itu menyebutkan sesuatu yang membuat langkah Bintang terhenti.
Malam penghargaan. Writer Award.
Bintang berdiri di depan toko itu sampai siarannya berakhir.
Sebenarnya, ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak lagi mendekati gadis itu. Sudah dua tahun ia menepatinya. Dua tahun ia hanya melihat dari kejauhan, dari seberang jalan, dari atap rumah tetangga, dan tidak pernah sekali pun berdiri cukup dekat untuk bisa dilihat.
Namun malam ini berbeda.
Malam ini, semua yang pernah mereka lalui berdua akan berdiri di atas panggung dan diberi nama. Dan entah kenapa, ia merasa ada bagian dari dirinya yang juga berhak berada di sana.
“Sekali saja,” gumamnya kepada dirinya sendiri. “Hanya melihat. Tidak lebih.”
••••••••
Malam itu, gedung tempat acara berlangsung dipenuhi oleh mobil-mobil yang mengular di halaman depan.
Bintang melangkah masuk menembus pintu kaca, melewati petugas keamanan yang tentu saja tidak menyadari apa pun. Di dalam sana, ratusan orang berkumpul. Ada yang membawa buku untuk ditandatangani. Ada yang mengantre sambil berfoto. Ada pula yang hanya berdiri sambil berbisik-bisik.
Dan di tengah semua itu, di bawah sorot lampu yang terlalu terang, duduk seorang gadis dengan dress berwarna biru selutut.
Bintang berhenti melangkah.
Rambut hitam panjang yang tergerai sebahu. Jari-jemari lentik yang bergerak lihai di atas halaman pertama sebuah novel. Senyum yang sudah dua tahun tidak pernah ia lihat dari sedekat ini.
Dadanya berdenyut hebat.
Kerumunan itu bergerak. Seorang wartawan menyodorkan mikrofon. Kilatan lampu kamera mulai bersahut-sahutan dari segala arah, memantul di dinding, memenuhi seluruh ruangan.
Bintang berdiri diam di antara para penggemar yang berdesakan, dengan kedua tangan di dalam saku, dan hanya menatap.
Sekali saja, katanya tadi. Hanya melihat. Tidak lebih.
Sungguh, ia benar-benar berniat menepatinya.