Kerumunan paparazzi serta sorot lampu kamera tak henti memancarkan kilauannya kepada seorang gadis yang duduk di hadapan mereka. Gadis itu tertunduk dengan jari-jemari lentik yang lihai memberikan sebuah tanda tangan di atas sebuah novel yang ditulisnya. Sebuah novel yang telah mengangkat namanya menjadi seorang penulis terkenal di negara tercinta ini.
"Mbak Bunga, bagaimana perasaan anda menjadi penulis terkenal sekarang?" tanya salah seorang wartawan, menyodorkan mikrofon ke arah gadis itu.
Bunga mengangkat wajahnya, menatap sorot kamera. Seulas senyum terbit di wajahnya yang menawan. Pun, dress berwarna biru selutut dengan dihiasi oleh manik-manik nan cantik, serta rambut hitam panjang yang tergerai sebahu, menambah anggun penampilannya. Ia meletakkan bolpen di atas meja dan menutup buku. Kemudian diberikan kepada para pembaca yang telah mengular di sampingnya.
Malam ini merupakan hari bahagianya. Sebab, novelnya yang berjudul Ghost Love Story telah sukses terjual sebanyak 5000 eksemplar. Jumlah yang begitu fantastis, mengingat dirinya yang baru terjun di dunia kepenulisan. Dan ia sangat mensyukurinya.
"Tentu saja aku begitu senang. Aku tidak mungkin bisa berada di acara malam Writer Award ini jika bukan karena kalian semua." Bunga mulai menjawab satu-persatu pertanyaan wartawan dengan senyum yang terus mengembang.
"Bagaimana kau bisa menulis tentang kisah cinta sesosok arwah dan manusia?"
"Apa yang membuat Anda menulis cerita itu?"
Bunga terpegun saat puluhan rentetan pertanyaan dari para wartawan dilontarkan untuknya. Namun, ia mencoba menjawabnya dengan senyum dan penuh keyakinan.
"Apakah kisah di dalam novel anda merupakan kisah anda sendiri?"
Seketika Bunga termangu. Ia membisu. Ada sesuatu di dadanya yang berdesir ngilu saat pertanyaan itu terlontar untuknya. Ya, kisah di dalam novelnya memang merupakan kisahnya sendiri. Dan entah kenapa, tiba-tiba ia merindukan sesosok tokoh utama yang berada di dalam novelnya. Bintang. Dua tahun berlalu, ia sungguh rindu. Laki-laki itu pergi begitu saja tanpa memberi kabar kepadanya. Mungkinkah ia bisa kembali bertemu dengannya? Entahlah. Sepertinya keinginannya kali ini begitu sulit. Sebab, ia yakin jika laki-laki itu telah kembali ke alamnya. Dan menikmati kebahagiaannya di sana.
"Ya, kisah di dalam novel yang aku tulis sebagian besar merupakan kisah yang kualami sendiri, terlepas dari sesosok arwah yang jatuh cinta kepada manusia," ungkapnya kemudian.
Suara riuh rasa kagum para penggemar terucap dari bibir mereka. Kendati begitu, banyak yang bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya sosok Bintang. Apa yang menyebabkan laki-laki itu meninggal dunia? Namun, tidak sedikit dari mereka yang memberikan tepuk tangannya, karena merasa bangga akan sosok penulis favorit mereka.
Netra Bunga menjelajah ke sekitar kerumunan seraya melempar senyum termanisnya. Namun, mendadak pandangannya terhenti saat netranya menangkap sesosok laki-laki yang sedari tadi dibicarakan olehnya. Bintang. Ya, arwah laki-laki itu ada di antara kerumunan para penggemarnya. Benarkah apa yang ia lihat? Manik mata Bunga mengerjap. Berkali-kali Bunga mencoba untuk menepisnya, akan tetapi arwah itu tetap berada di sana. Tengah berdiri dan menatapnya.
Tidak bisa dipungkiri jika saat ini jantungnya berdegup dengan kencang saat laki-laki itu mencoba berjalan, mendekatinya. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
"Aku merindukanmu, Bintang."
•••••••
"Bunga, apa kau tidak merindukanku?"
Bintang berlari mensejajarkan diri, mengikuti sepasang sepatu high heels yang terus saja berjalan tanpa mau melihat ke arahnya. Gadis itu baru saja turun dari mobilnya dan melangkahkan kaki ke sebuah mini market. Bintang hanya bisa mendesah pelan. Bukankah tadi Bunga mengatakan jika apa yang ditulisnya merupakan kisahnya? Ya, ia tidak salah mendengarnya. Pun, ia tahu apa yang ditulis oleh kekasihnya itu. Tentang sesosok arwah yang telah meninggal, akan tetapi masih mencintai kekasihnya. Dan seharusnya Bunga bisa melihatnya, kan?
Bintang terus mengikuti langkah Bunga yang saat ini tengah mengambil banyak mie instan pada rak. Bintang berdecak kesal. "Apa kau akan memakan itu semua sendiri? Kenapa kebiasaan burukmu itu masih terus saja melekat padamu? Dulu aku sudah pernah mengatakan jangan terlalu banyak makan-makanan seperti itu. Bukankah sekarang kau sudah menjadi orang yang terkenal? Seharusnya kau bisa makan-makanan enak, Sayang," ocehnya panjang lebar. Sementara gadis yang diajak bicara olehnya tetap saja diam membisu dengan terus mengambil mie instan yang kini telah penuh di keranjangnya.
"Bunga apa kau benar-benar tidak bisa mendengarku, huh?" Bintang terus berusaha meyakinkan dirinya jika kekasihnya itu bisa mendengar ocehannya. Ya, ia begitu yakin jika Bunga bisa melihatnya.
"Terima kasih," tutur Bunga setelah memberikan uang belanjaannya ke meja kasir. Setelah itu ia berjalan keluar untuk menuju ke mobilnya.
Bintang mengekori. Ia menggeleng sambil mendesah frustrasi.
"Bunga, tunggu aku!" Bintang menghela napas pendeknya saat Bunga tak kunjung berhenti. Tak bisa dibiarkan terus seperti ini, ia harus menghadang jalan gadis itu. Ya, ia harus.
Bintang mulai berlari dan saat telah berada tepat di samping gadis itu, ia merentangkan kedua tangannya di depan. Membuat Bunga seketika menghentikan langkahnya. Bintang termangu saat manik mata itu menatapnya. Ia meneguk salivanya dengan susah payah sebelum memanggil namanya. "Bunga?"
Bunga mendesah pelan. Ia merasa begitu lelah berjalan dengan menggunakan hak tinggi seperti ini. Kemudian, ia kembali melanjutkan perjalanannya. Dan saat yang sama Bintang terpegun ketika tubuh gadis itu mampu menembusnya. Ia hanya bisa mematung dan membeku di tempat, mengingat kenyataan jika dirinya hanyalah sesosok arwah.
••••••
Andra terus mengembangkan senyumnya. Sungguh ia masih belum bisa memercayai jika Raya telah menjadi istrinya sekarang. Semuanya terjadi begitu cepat dan mengalir begitu saja. Wanita itu tak hanya baik, tetapi selalu memberikannya perhatian di setiap hal yang dilakukannya. Wanita itu selalu membangunkannya setiap pagi, membuatkannya sarapan dan secangkir kopi, memasakkan makan malam yang enak sampai menunggunya di ruang tamu ketika dirinya harus pulang larut malam. Sungguh, Andra merasa sangat beruntung memiliki seorang pendamping hidup sepertinya.
“Ini tasmu,” ucap Raya sambil mengulurkan tas kerja Andra.
Andra tersenyum menerimanya. Di matanya Raya selalu terlihat cantik di pagi hari. Terlebih ketika wanita itu memasak. Dan ia suka sekali ketika Raya memakai apron dengan berbagai motif yang lucu.
“Terimakasih,” balas Andra lalu mencium kening istrinya. Suatu kebiasaan yang selalu mereka lakukan.
“Kerja yang benar, ya? Jangan tidur di kantor!” kata Raya pura-pura memarahi sang suami. Lalu ia tersenyum lebar. Sementara Andra mengusap puncak kepala wanita itu.
“Mengerti. Oh ya, nanti malam aku pulang pukul setengah tujuh. Siapkan makanan yang enak untukku,” jelasnya kemudian.
“Siap, captain!” seru Raya dengan lagak hormat.
Kami pun tertawa. Setelah itu, Andra langsung berjalan keluar dan memasuki mobil mini cooper yang setia menunggu di halaman rumah.
“Dah ... sayang!” ucapnya sambil melambaikan tangan.
“Dah...,” balas Raya akhirnya.
Raya terus memperhatikan mobil Andra hingga akhirnya menghilang di kejauhan. Ia menghela napas pendek dan masuk kembali ke dalam rumah yang baru ditinggali bersama laki-laki itu. Andra begitu baik padanya. Bahkan, laki-laki itu jauh lebih baik dari yang pernah dipikirkan selama ini. Ia tak pernah bisa menebak akan kebaikan-kebaikan yang selalu Andra berikan padanya. Laki-laki itu tak pernah memaksa, berbicara dengan nada tinggi, menyela omongannya bahkan selalu membiarkannya berbicara lebih dulu.
Ya, Raya sangat bahagia memiliki seorang suami sepertinya.
Tapi, sejujurnya Raya selalu merasakan kekosongan dalam dirinya. Entah, seperti ada sesuatu yang hilang dan tak pernah terisi sampai sekarang.
Bintang. Posisi Bintang di hatinya memang tak pernah tergantikan oleh siapapun. Bintang adalah sahabat dan kakak yang paling ia sayangi di dunia ini. Mungkin Bintang pernah membuatnya kecewa dan sedih selama bertahun-tahun. Namun Bintang juga berhasil menebusnya dengan baik. Laki-laki itu telah mengubahnya menjadi seorang manusia yang lebih baik dan mempertemukannya dengan Andra, laki-laki yang sangat baik pula.
Sayangnya, Raya tak bisa memberinya apa-apa. Meski Bintang selalu berkata sebaliknya, tetapi ia masih sedikit merasa bersalah.
Sesekali Raya merindukan Bintang. Ia teringat akan masa-masa kecil kami yang begitu bahagia. Andai ia bisa kembali ke dunia dan menjaganya seperti kala itu, maka ia akan merasa sangat bahagia.
Raya mendaratkan bokongnya di sofa. Ia mengambil remote control dan menekan tombol berwarna merah untuk menyalakan TV-nya. Namun, seketika netranya terbelalak saat menemukan foto seorang pria yang dikenalinya sebagai paman Bintang terpampang pada layar. Ia syok ketika membaca sebuah tulisan di sana. Buronan.
Bergegas Raya mencari ponsel yang diletakkan di atas meja, di sampingnya. Lalu, mengambil dan menekan nomor suaminya. Rasa cemas seketika membekapnya saat beberapa menit tak ada jawaban. Oh astaga, apa yang harus ia lakuakn sekarang?
Berkali-kali Raya mencoba untuk terus menghubungi sang suami. Namun, hanya sunyi yang menemani.
••••••
"Ayolah, Bunga. Apa kau tidak lelah terus berpura-pura seperti ini? Aku tahu jika kau selama ini bisa melihatku. Berbicaralah kepadaku Bunga. Apa kau tidak merindukanku?"
Bintang tak henti mengutarakan apa yang ingin diucapkannya kepada gadis yang sedari tadi terus berjalan tanpa arah. Ya, walau ia sudah tahu jika gadis itu memang selalu berjalan kaki seperti ini. Namun, yang menjadi pertanyaannya ialah kenapa pagi-pagi seperti ini ia sudah berjalan dengan pakaian rapi?
"Bunga, seharusnya kau tidak perlu menggunakan high heels itu lagi. Aku tahu jika kakimu merasa sakit dan tidak nyaman."
Langkah kaki Bunga tiba-tiba terhenti tepat di depan sebuah toko bunga. Awalnya ia ragu, tetapi detik setelahnya melangkah maju menghampirinya. Sementara Bintang merasakan ada sesuatu yang menjalar ngilu di ulu hati saat teringat dirinya membeli bunga di toko ini untuk diberikan kepada gadis itu. Lalu, untuk apa Bunga datang ke tempat ini?
Netra Bunga menyapu memilih-milih bunga di hadapannya. Sesekali ia juga menyentuh dah sedikit mencium kelopak pada bunga seraya tersenyum menikmati aroma wanginya. Hingga tidak menyadari seseorang tengah berjalan cepat dan tidak sengaja menabrak tubuhnya.
Bunga tergemap, saat bunga yang berada di genggamannya terjatuh dan terinjak oleh orang berkemeja putih yang saat ini berada di hadapannya. Ia pun membungkukkan sedikit tubuhnya dan mengambil bunga itu.
"Maaf. Saya buru-buru," ucap orang itu kepada Bunga dan langsung membalikkan tubuh untuk segera pergi.
Bintang hanya menatap miris saat bunga yang disukai kekasihnya itu harus rusak. Kini, tatapannya pun beralih ke arah seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan wajah yang lumayan tampan. Namun, saat yang sama entah kenapa langkah orang itu terhenti tepat di hadapannya. Bintang mengernyit heran saat tatapan mata orang itu seolah tengah menatapnya.
Mungkinkah orang ini bisa melihat dirinya?