Orang itu menghentikan langkah tepat di hadapan Bintang. Sementara, Bintang mengernyit heran saat melihat tatapan lelaki di depannya yang seolah tengah menatapnya. Mungkinkah orang ini bisa melihat dirinya?
“Sayang kau sudah selesai? Ayo kita pergi sekarang," pinta seorang gadis cantik yang tiba-tiba masuk ke dalam toko bunga. Dilihat dari penampilannya, sepertinya ia adalah seorang artis atau model. Parasnya sangat cantik, berperawakan tinggi, kurus, dan berkaki jenjang. Ditambah lagi dengan gayanya yang modis, membuat semua orang terpaku melihatnya, tidak terkecuali Bintang.
“Tunggu sayang, tali sepatuku terlepas.” Laki-laki itu membungkukkan tubuhnya. Kemudian, melipat kedua lutut dan mulai bergegas mengikat tali simpul sepatunya.
“Selesai. Ayo kita pergi, Sayang,” ajak laki-laki berkemeja putih tersebut. Setelah itu, ia pun beranjak dan mulai meraih lengan kekasihnya. Sementara Bintang hanya memperhatikan kedua sejoli yang tampak serasi itu di hadapannya.
“Permisi ya, Mas," ucap lelaki tersebut sembari tersenyum dan berjalan menembus tubuh Bintang, menuju pintu keluar. Perilakunya normal seakan tidak terjadi apapun.
Bintang mengerutkan keningnya samar. Ia merasa ada yang aneh dengan orang itu. Namun, ia tidak tahu apa itu. Benaknya pun saat ini berusaha berpikir keras tentang apa yang membuatnya merasa seperti ini. Dan beberapa menit setelahnya, manik mata Bintang membeliak ketika sadar akan ucapan lelaki tersebut.
“Mas?” Pandangan Bintang menjelajah seisi toko dan tidak menemukan lelaki lain selain dirinya.
“Apakah dia berbicara padaku?“ gumamnya.
Bintang pun menggeleng. Lalu, menoleh ke arah punggung dua insan yang sudah jauh di depannya. Tanpa buang waktu, ia berlari mengejar lelaki itu untuk menemukan jawaban atas pertanyaannya. Namun sayang, lelaki tersebut sudah lebih dulu menaiki pajero hitam miliknya dan pergi meninggalkan Bintang.
Bintang menundukkan tubuhnya dengan kedua tangan yang bertopang pada lutut. Pandangannya tak henti menatap mobil itu yang telah melaju jauh. Ia pun mengatur irama napasnya yang terasa megap-megap. “Si-siapa …." Napasnya masih tidak beraturan. Ia pun memilih untuk bangkit dan melanjutkan ucapannya ketika sudah kembali normal. "siapa sebenarnya dia? Apakah dia benar-benar bisa melihatku?"
****
“ KALIAN BENAR BENAR BODOH!! Kenapa orang itu bisa kabur? “
“Maaf Pak komandan, kami sudah lalai menjaganya. Barusan kami hanya tertidur sebentar dan--”
Buuggh!
Sebuah pukulan keras tiba-tiba tertuju pada perut si penjaga.
"Bagaimana kalian bisa tertidur saat kerja? Lalu di mana Deni dan Gunawan? Kenapa hanya kalian berdua yang berjaga di sini?“ tegas sang Komandan. Pria paruh baya itu tampak memiliki pangkat yang tinggi. Hal tersebut terlihat pada banyaknya pin bintang di bagian pundaknya.
“Maaf, Komandan. Pak Deni saat ini sedang cuti, istrinya baru saja melahirkan. Sedangkan Gunawan sedang berduka, ayahnya hari ini meninggal. Karena itulah saya dan Agung kelelahan, sebab selama dua hari ini kami bekerja untuk dua shift,” jawab Asep selaku petugas penjaga sel.
Mendengar jawaban anak buahnya, pria paruh baya itu mengembuskan napas beratnya. Ia berusaha menahan amarahnya yang kini sedang memuncak di kepala. Ya, ia harus menahannya, sebab tidak ingin ada nyawa yang melayang.
“Kalian tahu? Media baru saja menyiarkan pemberitaan ini! Dengan adanya pemberitaan ini citra Polisi akan dipandang semakin buruk di hadapan masyarakat. Karena itulah kita harus segera menangkapnya! Kaliam mengerti??”
“Siap, Komandan,” tegas Asep dengan tubuh tegap dan sikap hormat benderanya.
“Cepat siapkan mobil! Kita berangkat sekarang!!”
"Siap, Komandan,” sahut kedua penjaga tersebut bersamaan.
***
Seorang pengendara ojek online tampak asyik mengendarai sepeda motornya di salah satu jalan yang sepi. Orang itu bersiul dan terkadang bersenandung kecil untuk mengusir kesunyian. Sebuah paket yang cukup besar tampak berada di belakang jok motornya. Ya, kini ia dalam perjalanan mengantarkan paket tersebut ke suatu alamat penerima. Namun, mendadak lajunya terhenti ketika tidak sengaja melihat seorang pria tergeletak di bahu jalan. Pria itu tampak tidak sadarkan diri dengan darah yang mengalir di pelipisnya.
Pengendara ojek online itu turun dari sepeda motor dan melepaskan helmnya yang kemudian diletakkan di kaca spion. Walau ragu, akan tetapi saat ini langkahnya surut perlahan mendekati pria itu. Rasa kemanusiaannya yang tinggi, membuat hatinya terketuk untuk segera menolong pria itu.
“Pak, apa kau bisa mendengarku?” Ojol tersebut membalikan tubuh pria itu dengan hati-hati seakan tidak ingin menyakiti. Pria itu bergeming. Ia pun mulai mengecek pergelangan tangannya untuk memastikan denyut nadi yang masih berdetak. Setidaknya, hal itu merupakan sedikit pengetahuan yang ia miliki saat ini sebelum melakukan tindakan yang lebih lanjut.
“Sepertinya kau masih hidup.“ Ojol itu pun merogoh saku untuk mengambil sapu tangan miliknya. Ia berupaya menggunakan sapu tangan tersebut untuk menekan luka pria bertubuh sedikit kurus itu supaya darah tidak terus mengalir di pelipisnya. Ia mengusap darah itu perlahan dan sedikit menekannya. Namun, detik setelahnya netranya membeliak ketika tidak menemukan bekas luka di pelipis pria itu. Bersih. Tidak ada goresan atau luka lebam di sana.
“Lalu ini darah apa? “ tanyanya bingung.
Ia memilih untuk bangkit. Lalu, perlahan menjauh dari pria dengan baju bertuliskan 'TAHANAN' itu ketika ada hal aneh yang dirasakannya. Belum juga jauh dari tubuh yang tergeletak itu, tiba-tiba ….
Buuukk!
Pria tak dikenal itu melempar keras kepala Ojol dengan batu yang sedari tadi berada digenggamannya. Hantaman keras dari benda tersebut berhasil membuat Ojol tersungkur dan mengerang kesakitan. Sementara, saat ini netra Ojol membeliak ketika melihat sang pria bangkit dan menghampirinya. Mendadak rasa panik sekaligus takut membekapnya secara bersamaan. Sebab, ia merasa jika dirinya dalam bahaya. Ia pun berusaha melawan dengan melayangkan pukulan ringan ke arah pria itu saat sudah berada di dekatnya. Sayangnya, berhasil ditangkis oleh sang tahanan.
“Kenapa? Kenapa kau lakukan ini padaku?“ lirihnya samar. Suaranya sedikit bergetar sembari menahan rasa sakit yang teramat sangat di kepalanya.
“Hahahaha. Kau bodoh! Bagaimana kau bisa tertipu dengan mudah?" ucap pria tersebut. Setelah itu, ia pun menyingkirkan bangkai kucing yang menempel dari tubuhnya. Ia memang sengaja membunuh dan menggunakan darah dari kucing liar itu sebagai pendukung aksi bejatnya. Sebelumnya, ia telah membalurkan darah tersebut pada keningnya, supaya seolah-olah memiliki luka yang cukup serius di bagian sana.
Sang Ojol berdecih. Sial, ia telah dipermainkan! Ia pun berusaha bangkit dengan sisa tenaganya dan kembali menyerang pria tersebut sekali lagi. Namun sayang, lambat laun kesadarannya mulai menjauh. Bayangan di matanya kabur dan sudah tidak mampu menangkap cahaya. Perlahan, pandangannya menjadi gelap dan ia terjatuh tidak sadarkan diri.
Pria itu melempar senyum kemenangan ketika melihat Ojol tersebut tidak sadarkan diri. Ia pun mulai melucuti seluruh pakaian Ojol tersebut dan menggunakannya. Tidak lupa, ia juga mengambil kunci motornya. Kemudian, segera bangkit dan berjalan santai menuju motor sang korban seakan tidak terjadi apapun. Bahkan, jari telunjuknya dengan asyik memutar kunci motor seraya bersiul senang.
Kening pria itu mengerut ketika mendapati sebuah paket kotak hitam yang terikat di belakang jok motor. Sebuah kotak yang memiliki logo bintang tampak tidak asing baginya.
“Hmmm ... Light Star Group, sudah lama sekali aku tidak melihatnya.” Raut wajahnya tampak sangat menggebu setelah melihat kotak itu.
“Sepertinya aku harus memberi sedikit kejutan pada Angga, kakak kesayanganku,” gumamnya dengan senyum licik yang mengembang.
***
“Terimakasih atas partisipasinya hari ini. Selamat malam,” tutup Angga dengan senyum hangatnya diiringi oleh sedikit bungkukan tubuh para pegawainya.
“Kalian sudah bekerja keras hari ini, selamat beristirahat, “ lanjut nya. Aura wibawanya sangat terasa di wajah pria paruh baya itu. Meskipun beliau seorang direktur, akan tetapi ia tidak pernah sekalipun semena-mena pada para pekerjanya. Hal tersebut yang membuat para pekerjanya menjadi sangat loyal pada perusahaan.
Tok ... Tok ... Tok ....
“Masuk.”
“Permisi, Pak. Ada kiriman paket dari kantor pusat,“ ucap seorang wanita yang merupakan Lisa, sekretaris pribadi Angga. Wanita itulah yang mengatur seluruh kegiatan Angga selama ini.
“Ah ... sepertinya paket sampel produk kita sudah sampai,” tutur Angga.
“Becca sebelum pulang tolong kau cek kembali sample barang yang dikirim. Jika ada kerusakan kita bisa langsung menghubungi kantor pusat,” lanjutnya dengan ramah kepada salah seorang pegawainya yang lain.
“Baik, Pak,” jawabnya tegas.
“Maaf, Pak. Ada hal lain yang harus saya sampaikan,” tutur Lisa. Ia pun menyodorkan layar Ipad dan memutar tanyangan berita mengenai kaburnya seorang narapidana yang diduga adalah Pramono.
“Orang itu. Aku kira dia akan tobat di dalam penjara. Ternyata kelakuannya semakin menjadi,” lirih Angga. Sebenarnya ia merasa kecewa pada dirinya sendiri, karena tak mampu mendidik adiknya dengan baik. Namun ia juga sangat marah mendapati kenyataan anak semata wayangnya yang hampir terbunuh oleh pria b***t itu.
"AARRRGGGHHHH!"
Angga tercekat ketika mendengar teriakan pegawainya yang berada di belakang tubuhnya. Sontak saja, ia membalikkan tubuh dan mendapati raut wajah pucat pasi pegawainya saat membuka paket kiriman di atas meja. Penasaran. Ia pun melangkahkan kedua kakinya, menghampiri kotak tersebut. Seketika, netranya terbelalak ketika mendapati bangkai kucing di dalam kotak tersebut dan secarik kertas di atasnya. Ia memilih untuk mengambil kertas itu. Sesaat ia mematung di tempat saat membaca tulisan dari dalam sana. Sebuah tulisan yang singkat, akan tetapi berhasil membuat amarahnya meletup kasar.
Apa kabar, Kakakku?
“Pramono ... apa kau sedang menabuh perang padaku?" geramnya seraya meremas kertas berisi pesan tersebut.