Kertas itu masih teremas di dalam genggaman Angga ketika Lisa kembali masuk ke ruangan.
“Pak, satpam sudah memeriksa buku tamu. Paket itu tidak datang dari kantor pusat.” Wanita itu berbicara dengan hati-hati, seolah takut suaranya sendiri akan menambah amarah atasannya. “Katanya diantar oleh seorang kurir yang tidak memakai seragam. Kamera di lobi hanya merekam punggungnya.”
Angga tidak menjawab.
Pria paruh baya itu masih menatap kotak di atas meja, dengan rahang yang mengeras dan urat yang menonjol di pelipisnya. Beberapa pegawainya berdiri di belakang, tidak ada satu pun yang berani bersuara.
“Becca,” panggil Angga akhirnya, dengan suara yang sudah kembali tenang. Terlalu tenang.
“I-iya, Pak?”
“Tolong bereskan kotak itu. Jangan dibuang di tempat sampah kantor. Bawa keluar.” Ia menoleh ke arah Lisa. “Lisa, hubungi kepolisian. Katakan saya ingin melaporkan ancaman. Kalau mereka bertanya siapa terduganya, sebutkan nama Pramono Pradipa.”
Lisa membeliak. “Pak, itu … adik Bapak sendiri.”
“Saya tahu.” Angga memutar kursi rodanya menghadap jendela. “Justru karena saya tahu, saya tidak mau menunggu.”
Ruangan itu hening beberapa saat lamanya. Lalu, satu per satu pegawainya pamit keluar dengan wajah yang masih pucat.
Setelah pintu tertutup, Angga menunduk. Bahunya turun. Dan barulah terlihat bahwa sejak tadi kedua tangan pria itu bergetar hebat.
Apa kabar, Kakakku?
Empat kata. Hanya empat kata. Namun, Angga tahu betul apa artinya.
Pramono tidak pernah mengirimkan apa pun tanpa maksud. Dulu, ketika mereka masih kecil, adiknya itu selalu meletakkan sesuatu di depan pintu kamarnya sebelum melakukan hal yang jauh lebih buruk. Kelereng. Ketapel yang patah. Sekali waktu, seekor burung yang mati.
Selalu ada peringatan lebih dulu. Selalu.
Angga meraih ponsel di atas meja dengan tangan yang masih gemetar, lalu mencari satu nama di dalamnya.
Sambungan itu diangkat pada deringan ketiga.
“Arsen,” ucapnya cepat. “Kau sedang di rumah sakit?”
••••••••
Arsen menghentikan langkahnya di tengah koridor.
Ia menempelkan ponsel lebih rapat ke telinga, lalu berjalan menepi, menjauh dari kerumunan perawat yang sedang mendorong troli.
“Iya, Pak. Saya jaga malam ini. Kenapa?”
Beberapa detik kemudian, laki-laki berkacamata itu menegakkan tubuhnya.
“Kapan?” tanyanya. Suaranya berubah. “Sejak kapan, Pak?”
Ia mendengarkan. Sesekali melenggut, walau ia tahu lawan bicaranya tidak bisa melihat.
“Baik. Bapak jangan ke mana-mana malam ini. Jangan buka pintu untuk siapa pun, walau orang itu mengaku kenal. Saya pulang setelah operan pagi.”
Panggilan itu berakhir.
Arsen menurunkan ponselnya perlahan-lahan, lalu berdiri diam di koridor selama beberapa saat, menatap lantai tanpa benar-benar melihatnya.
“Kau kenapa? Wajahmu seperti orang yang baru saja ditagih utang.”
Arsen mendongak. Siska berdiri di hadapannya sambil memegang segelas kopi, dengan alis yang terangkat sebelah.
“Sis,” panggil Arsen. “Aku mau minta tolong.”
“Wah, gawat. Kau tidak pernah memanggilku begitu kecuali sedang butuh sesuatu.”
“Pasien di kamar ujung itu.” Arsen menurunkan suaranya. “Aku mau namanya diganti di papan.”
Siska mengerutkan kening. “Diganti bagaimana?”
“Diganti saja. Inisial. Nomor. Apa pun. Yang penting jangan nama aslinya.” Arsen membenarkan letak kacamatanya. “Dan tolong, jangan izinkan siapa pun masuk ke sana. Termasuk keluarga. Termasuk yang mengaku keluarga.”
Siska meletakkan gelas kopinya di atas meja perawat.
“Arsen,” ucapnya pelan, “kau mau menjelaskan, atau aku harus menebak sendiri?”
“Ada orang yang sedang mencarinya.”
“Orang seperti apa?”
Arsen bergeming.
“Orang yang pernah mencoba membunuhnya,” jawabnya akhirnya.
Siska membeliak. Gelas kopi di atas meja itu tidak lagi disentuhnya sampai pagi.
••••••••
Arsen menghabiskan sepanjang malam itu berjalan mondar-mandir di koridor.
Bukan karena pekerjaannya. Melainkan karena ia sedang mencari seseorang.
Ia berhenti di setiap sudut. Ia menengok ke atas lemari arsip. Ia bahkan menyempatkan diri naik ke roof top dua kali, berdiri di sana sambil menatap ke sekeliling, seolah sedang menunggu seseorang muncul dari udara.
Namun tidak ada siapa-siapa.
“Ke mana arwah itu?” gerutunya sambil menuruni tangga darurat. “Sudah berminggu-minggu tidak menampakkan batang hidungnya. Apa dia pikir dunia ini akan menunggunya?”
Arsen mendesah panjang.
Sungguh, ia tidak habis pikir. Dari semua arwah yang pernah ia temui seumur hidupnya, hanya satu yang paling suka menghilang tanpa kabar tepat ketika sedang paling dibutuhkan.
“Awas saja kalau kau muncul nanti,” gumamnya. “Akan kuomeli kau sampai puas.”
••••••••
Di sebuah rumah yang baru ditinggali, Raya masih menggenggam ponselnya erat-erat ketika akhirnya benda itu bergetar.
“ANDRA!” pekiknya begitu panggilan itu tersambung.
“Astaga, kenapa? Ada apa?”
“Kenapa kau tidak mengangkat teleponku, huh? Aku sudah menghubungimu belasan kali!”
“Tadi ada rapat. Ponselku kutinggal di meja.” Suara Andra terdengar bingung. “Sayang, kau kenapa? Suaramu bergetar begitu.”
Raya menarik napas. Ia menatap layar televisi yang masih menyala di depannya, tempat wajah pria paruh baya itu terpampang bersama satu kata yang membuat dadanya sesak.
“Andra, paman Bintang kabur dari penjara.”
Hening beberapa saat di seberang sana.
“Kau yakin?”
“Ada di televisi. Fotonya. Namanya. Semuanya.” Raya meremas ujung baju rumahnya. “Andra, aku takut. Bagaimana kalau dia datang ke sini? Bagaimana kalau dia mencari Ayah Bintang?”
“Raya, dengarkan aku. Kunci semua pintu. Jangan buka untuk siapa pun. Aku pulang sekarang.”
“Tapi rapatmu—”
“Persetan dengan rapat.”
Panggilan itu berakhir.
Raya meletakkan ponselnya, lalu menoleh ke sekeliling ruangan yang kosong.
“Bintang,” panggilnya.
Tidak ada jawaban.
“Bintang, kalau kau di sini, jawab aku.”
Hanya suara televisi yang menjawabnya.
Raya menghela napas panjang, lalu memeluk kedua lututnya di atas sofa. Sudah lama sekali arwah itu tidak datang ke rumahnya. Ia tahu betul ke mana laki-laki itu pergi, dan ia tahu betul betapa keras kepalanya orang yang sedang jatuh cinta.
“Dasar bodoh,” gumamnya. “Di saat seperti ini, kau malah tidak ada.”
Empat puluh menit kemudian, terdengar suara mobil berhenti mendadak di halaman, lalu suara pintu yang dibanting.
“Raya!”
Andra masuk dengan dasi yang sudah longgar dan napas yang tersengal. Ia langsung memeriksa seisi rumah, mengunci pintu belakang, menutup semua tirai, baru setelah itu menghampiri istrinya di sofa.
“Kau tidak apa-apa?”
“Aku baik-baik saja. Aku hanya kaget.”
Andra duduk di sampingnya, lalu menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
“Besok pagi aku akan menelepon Om Angga,” ucapnya. “Dan mulai malam ini, kau tidak boleh sendirian di rumah. Kalau aku pulang malam, kau menginap di rumah Ibumu. Mengerti?”
Raya hendak membantah. Namun, ketika ia mendongak dan melihat wajah suaminya, ia mengurungkan niatnya.
Sebab, untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, ia melihat Andra benar-benar ketakutan.
••••••••
Pada saat yang sama, di seberang kota, sesosok arwah sedang duduk bersila di atap sebuah mobil yang terparkir di depan toko buku.
Bintang menyandarkan dagu ke telapak tangannya, memandangi pintu kaca toko itu dengan tatapan bosan.
Sudah empat puluh menit gadis itu berada di dalam sana.
“Empat puluh menit hanya untuk memilih pulpen,” gerutunya. “Dulu kau memilih pulpen tidak sampai lima detik.”
Beberapa saat kemudian Bunga keluar sambil menenteng kantong kertas kecil. Gadis itu berjalan melewati mobilnya, melewati arwah yang duduk di atapnya, tanpa menoleh sedikit pun.
Bintang melompat turun dan berjalan mengekorinya, seperti yang ia lakukan hampir setiap hari sejak malam penghargaan itu.
“Bunga, kau tahu, kau bisa saja berhenti sebentar. Satu detik saja. Aku tidak akan minta lebih.”
Gadis itu terus berjalan.
“Baiklah, baiklah. Aku mengerti.” Bintang mengangkat kedua tangannya, lalu tertawa kecil dengan getir. “Aku memang yang pergi lebih dulu. Aku pantas mendapatkan ini.”
Ia terus berjalan di samping gadis itu, menyusuri trotoar yang ramai, di bawah langit malam Jakarta yang berwarna jingga kecokelatan.
Dan di sepanjang jalan itu, tidak sekali pun terlintas di benaknya untuk menoleh ke belakang, atau bertanya-tanya mengapa sudah beberapa hari ini Raya terus memanggil namanya dari kejauhan.
••••••••
Malam semakin larut ketika sebuah bayangan berdiri di ujung gang yang tidak terlalu sempit.
Pria itu mengenakan topi baseball yang diturunkan rendah dan jaket yang kebesaran. Ia bersandar pada tembok, mengunyah sesuatu, dan menatap sebuah gerbang berwarna hitam di kejauhan.
25 A.
Sudah tiga malam ia berdiri di tempat yang sama.
Dan selama tiga malam itu pula, yang ia lihat hanya hal yang sama. Seorang pria di kursi roda. Seorang pemuda berkacamata yang selalu mendorongnya. Lampu ruang tengah yang menyala sampai pukul sepuluh, lalu padam.
Tidak ada yang lain. Tidak ada yang datang. Tidak ada yang pergi.
Pramono berdecih.
“Ke mana bocah itu?” gumamnya. “Kalau dia memang masih hidup, seharusnya dia di sini. Di rumahnya sendiri.”
Ia meludah ke aspal, lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh dari gang itu.
Beberapa ratus meter setelahnya, langkahnya melambat di depan sebuah warung yang sudah tutup. Di sampingnya, sebuah sepeda motor tua terparkir sembarangan, dengan kunci yang masih tergantung di lubangnya.
Pramono menoleh ke kanan. Lalu ke kiri.
Sepi.
Sebuah senyum licik perlahan mengembang di sudut bibir pria paruh baya itu.
“Sepertinya aku salah mencari,” gumamnya sambil menaiki motor tersebut. “Bukan di rumah. Tapi di tempat orang sakit dirawat.”
Mesin itu menyala pada putaran yang ketiga.