Pramono melaju menuju ke suatu tempat dengan menggunakan motor curiannya. Kedua netranya memancarkan dendam yang menggebu. Bahkan, ia melajukan motor itu dengan sangat cepat seolah tiada hari esok untuk segera membalaskan dendamnya.
“Aku akan mengambil apa yang menurut mu paling berharga. Tunggu saja Angga.”
Beberapa menit setelahnya, ia tiba di Rumah Sakit Medika, tempat Bintang dirawat. Entah kenapa firasatnya mengatakan jika laki-laki itu masih terbaring lemah di sini. Sebab, ia telah menguntit sebuah rumah dan tidak menemukan adanya tanda-tanda Bintang berkeliaran di sana.
“Kali ini aku pasti akan membunuh anakmu!” cetus nya dengan geram sambil melangkah masuk dengan penuh keyakinan.
Pramono sengaja menurunkan topi baseball-nya menutupi sedikit wajahnya. Tak lama, ia menyeringai ketika melihat salah satu tenaga medis melewati tangga menuju bacecamp. Sebuah ide licik tiba-tiba melintas di dalam kepalanya. Tanpa buang waktu, ia mengekori tenaga medis itu untuk mencuri pakaiannya. Ya, seperti yang ia lakukan sebelumnya kepada seorang Ojek online yang tidak tahu bagaimana nasibnya saat ini.
“Permisi, Mas,“ panggil Pramono dengan menyentuh bahu pria itu ketika akan menuruni anak-anak tangga.
“Ah, iya.Ada yang bisa saya bantu, Pak? “ tanya pria itu ramah.
“Begini, Mas. Saya mau ambil obat. Apoteknya di sebelah mana, ya? Sepertinya saya juga nyasar hingga sampai ke sini,“ ungkap Pramono. Beruntung, ia juga menggunakan masker pelindung sehingga orang di depannya tidak menyadari jika sedang berbicara dengan seorang buronan.
“Apotek ada di lantai satu, Pak. Bapak bisa lewat tangga darurat ini. Kebetulan apoteknya tepat di atas tangga ini,” beritahu tenaga medis itu.
Pramono tersenyum puas saat mendengar tanggapan dari orang itu. Sebab, semua berjalan sesuai dengan rencana yang dipikirkannya.
"Bisakah kau mengantarkanku ke atas sana?" pinta Pramono terdengar memohon.
Pria itu terlihat menimbang-nimbang sebentar, hingga pada akhirnya bersedia mengantarkan Pramono ke atas. Mereka mulai menaiki tangga satu persatu dengan Pramono yang berada di belakang. Sementara, kondisi tangga darurat yang sepi membuat Pramono semakin mudah dalam melancarkan aksinya.
Buuugghhh !
Pramono memukul keras bagian kepala tenaga medis itu dengan tangan kosongnya, hingga tak sadarkan diri. Kemudian dengan cepat ia melucuti seragam tenaga medis itu dan segera memakainya.
Pramono keluar dari tangga darurat dan melangkahkan kedua kakinya menuju kamar VIP. Masih terekam jelas di dalam otaknya akan tata letak Rumah Sakit ini yang belum berubah sedikit pun. Sekali lagi keberuntungan masih berpihak kepadanya. Ia mencoba menundukkan kepala, tersenyum dan menyapa para perawat lain yang melintas di hadapannya. Setelah itu, ia memasuki lorong ruang VIP dan memeriksa satu persatu kamar hingga pada akhirnya menemukan seseorang yang dicarinya.
Dengan penuh percaya diri dan berbekal pengalamannya, ia menerobos masuk ke kamar Bintang. Setengah berlari menghampiri ranjang laki-laki yang terbaring lemah di atas ranjang. Ia celingukan, memastikan keadaan sekitarnya aman. Setelah itu, ia melucuti alat bantu pernapasan yang melekat pada tubuh Bintang.
Tutttt ... tuuut ....
Monitor EKG mulai menunjukan adanya aktifitas detak jantung yang mulai menurun. Gelombang intervalnya juga menunjukkan detak jantung yang mulai tidak stabil. Pramono sangat puas ketika melihat hal itu terjadi.
“Kali ini aku pastikan kau benar-benar mati, Bintang,” gumam Pramono akhirnya.
••••••••••
Kedua manik mata bulat Bintang masih memperhatikan gadis di depannya yang sedang sibuk dengan layar komputer. Ah, sepertinya Bintang mulai menyerah untuk berbicara kepada Bunga. Sebab, ia merasa jika Bunga benar-benar tidak bisa merasakan kehadirannya. Kendati begitu, ia sangat senang jika hanya melihat gadis itu di depannya seperti ini.
Bunga terlihat sangat lihai dalam menggeluti profesinya sebagai seorang penulis. Jari-jemarinya yang lentik terus bergerak merangkai satu demi satu kalimat menjadi sebuah cerita yang menarik. Meskipun ada kalanya Bunga diam mematung sesaat ketika mulai kebingungan dalam melanjutkan cerita yang sedang di buatnya. Di saat pikirannya buntu seperti itu, biasanya ia beranjak dan mengambil segelas air untuk membantunya kembali fokus.
Krukkk ... Kruuuuk ....
Bintang sontak terkekeh mendengar alarm alami perut Bunga yang berbunyi. Seketika raut wajah Bunga pun memerah. Ia pun refleks menutup wajahnya seakan merasa sangat malu pada sosok di depannya. Sial! Kenapa perutnya harus berbunyi di saat seperti ini? Ya, di saat ada Bintang yang tengah memperhatikannya. “Aissh ... sangat memalukan!” gerutu Bunga dalam hati.
Bunga beranjak dari meja kerjanya dan bergegas ke dapur untuk membuat makan malam. Saking terburu-buru, hingga ia tidak menyadari jika dirinya terbalik menggunakan sandalnya. Sementara Bintang kembali tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan kekasihnya itu.
“Hahaa … Aissshh … Kau itu lucu sekali. Lihat sandalmu terbalik, Sayang," beritahu Bintang yang lebih ke arah mengejek Bunga.
Mendadak wajah Bunga semakin merah padam ketika mendengar ejekan dari Bintang. Sedangkan Bintang termangu ketika melihat perubahan wajah bunga yang tampak memerah. Kini, ia semakin yakin jika sebenarnya Bunga bisa mendengar bahkan melihatnya. Jika tidak, mengapa ia merasa malu? Dan kenapa wajahnya memerah seperti itu? Padalahl tidak ada seorang pun di sini selain gadis itu dan dirinya.
“Bunga awas ada ular di depan mu!” teriak Bintang tiba-tiba, membuat Bunga dengan refleks kaget dan menjerit histeris. Gadis itu juga refleks melompat ke sofa untuk menghindari ular yang dikatakan oleh Bintang.
Bintang mematung di tempat dengan menatap kekasihnya yang masih tampak ketakutan di atas sofa. “Ternyata benar kau bisa mendengarku, Bunga," sahutnya.
Mendadak Bunga termangu. Ia menoleh ke arah arwah yang ada di depannya. Perlahan, ia turun dari sofa dengan tatapan terus tertuju ke Bintang. Sungguh, saat ini ia merasa semakin terpojok oleh laki-laki itu. Sejujurnya, ia ingin sekali mengatakan kepada Bintang jika ia memang bisa melihatnya. Namun, ia takut jika Bintang tiba-tiba kembali menghilang dari pandangannya.
“Aaarrgghhh!" Mendadak Bintang merintih kesakitan. Ia menjerit histeris merasakan panas di sekujur tubuhnya. Ya Tuhan, sekarang apalagi? Kenapa dadanya terasa begitu sesak?
Bunga sontak membelakkan kedua bola matanya menatap Bintang yang kini tengah kesakitan. Ia semakin panik saat melihat Bintang yang terus merintih kesakitan. Tanpa buang waktu, ia berlari medekati laki-laki itu dan berusaha untuk membantunya. Ia berupaya untuk memeluk Bintang, akan tetapi sekeras apapun usahanya tetap saja tidak mampu melakukannya. Tubuhnya hanya mampu menembus bayangan Bintang. Ya, bagaimana pun Bintang hanyalah seonggok arwah. Mustahil jika Bunga bisa menyentuhnya.
Perlahan bayangan Bintang mulai samar di mata Bunga. Gadis itu menggeleng keras. Netranya bergetar hingga tak kuasa meneteskan air matanya. “Bintang, aku mohon jangan tinggalkan aku lagi," pinta Bunga memohon.
“Aaarrgghhh!" erang Bintang. Hingga pada akhrinya, ia tersungkur karena tak kuat menahan sakit di sekujur tubuhnya. Ia terperungkup di lantai dan terus merintih. Seberapa kuat, ia berusaha melawan, hanya rasa sakit pada sekujur tubuh yang dirasakannya. Sungguh, ia tidak mau mati sekarang.
“Bu-Bunga, maafkan aku … sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku padamu,” lirih Bintang dengan suranya yang sedikit bergetar.
Bintang merasa kali ini dirinya tidak akan selamat. Sebelum dirinya benar-benar menghilang, ia pun bangkit menahan rasa sakitnya.
“Jangan menangis. Kematian bukanlah akhir dari segalanya. Aku akan mengalami hidup baru. Aku akan menjagamu dan menunggumu sampai saatnya kita bersama kembali,“ ucap Bintang dengan seulas senyum yang merekah di wajah tampannya.
Tanpa terasa, memori-memori indahnya bersama Bunga seakan berkelebat cepat di dalam benaknya. Ia ingat jika dirinya sering ke kamar ini untuk belajar bersama dengan Bunga. Dan saat-saat itulah merupakan momen paling membahagiakan yang tidak akan hilang dari ingatannya.
“Aku mencintaimu, Bunga," sahut Bintang. Perlahan bayangan Bintang semakin pudar dan menghilang.
Tangis Bunga pun pecah. Ya Tuhan … haruskah takdir ini terulang kembali? Jika ia menyadari jika hari ini adalah hari terakhirnya bersama Bintang, mungkin dirinya tidak akan pernah mengabaikan keberadaan laki-laki itu. Ia pasti akan menghabiskan seluruh waktunya bersama Bintang hingga saat-saat terakhir. Namun, semua telah terlambat. Kini, Bintang telah benar-benar pergi dan hanya menyisakan kesedihan dan penyesalan.
Ya Tuhan … bisakah Kau kembalikan laki-laki itu? Meskipun ia tahu jika sekarang Bintang telah sepenuhnya bersama-Nya.
••••••••
“Aahh … nikmatnya. Arsen apa kau mau kopi juga?” tanya dokter Siska yang tengah menyeruput kopinya.
“Ah, tidak. Terima kasih," jawabnya singkat.
Arsen kemudian kembali menata semua baju-bajunya ke dalam tas. Sudah hampir seminggu ini ia bermalam di rumah sakit. Pasca keadaan Bintang mulai memburuk, ia terus berjaga untuk mengawasi keadaan Kakaknya itu. Kini, keadaan Bintang mulai membaik dan ia memutuskan untuk rehat sejenak.
“Kau sudah mau pergi? “
“Hmmm … aku pergi dulu, ya. Tolong jaga kakakku," tutur Arsen sembari melambaikan tangannya pada Siska. Tidak lupa ia juga menyapa rekan kerja lainnya dengan senyum hangat yang menawan. Kemudian ia berjalan keluar.
Arsen berjalan santai menyusuri lorong rumah sakit. Ia tersenyum seraya mengirup lamat-lamat udara dingin malam ini. Pandangannya beralih ke arah kaca jendela dan mendapati hujan deras di sertai kilat dari luar sana. Namun, dalam jarak hanya beberapa meter saja, langkah kaki Arsen terhenti saat kedua netranya tidak sengaja melihat seorang perawat yang tampak terburu-buru keluar dari kamar rawat inap Bintang. Detik setelahnya, alarm kamar Bintang berbunyi. Pertanda buruk.
Arsen menggeleng. “Kumohon jangan lagi,” gumamnya dalam hati. Mendengar itu seketika Arsen berlari dengan kencangnya. Bahkan, ia tidak menghiraukan tasnya yang saat ini terjatuh di atas lantai.
Netra Arsen membeliak ketika tiba di kamar Bintang. Ia mendapati alat pernapasan Bintang yang sudah terlepas dan jatuh di lantai. Oh Tuhan ... siapa yang berani melakukan ini pada laki-laki itu? Ia pun berlari menghampiri tubuh Bintang dan berusaha memasang kembali seluruh alat pernapasan itu. Namun sia-sia, ternyata ia mendapati selang pernapasan itu telah berlubang. Sepertinya seseorang telah menarik paksa selang pernapasan itu hingga akhirnya sobek.
"Aish … sial!" gerutunya geram.
Arsen panik setelah melihat monitor EKG yang tidak menunjukan kurva detak jantung Bintang. Dengan sigap, ia langsung melakukan CPR pada tubuh Bintang dengan tangan kosongnya. Tidak lama kemudian, Siska datang.
“Arsen biar aku yang menanganinya,” pinta Siska.
Arsen tetap bungkam. Tak sedikit pun ia mendengar suara kehadiran Siska. Ia masih terus fokus melakukan CPR pada tubuh Bintang.
Siska mengecek pergelangan tangan Bintang untuk memastikan denyut nadinya. Namun, ternyata hal yang menakutkan benar-benar terjadi. Siska tidak bisa lagi merasakan denyut pada nadi laki-laki itu. Apakah kehidupan Bintang kini sudah benar-benar berakhir?
••••••••
Apa yang kau pikirkan tentang kematian?
Apakah menakutkan?
Apakah mengerikan?
Apakah menyedihkan?
Ketika waktunya tiba kita semua akan menuju ke sana. Ini hanyalah masalah waktu. Dunia hanyalah tempat singgah. Sementara di akhirat kita akan kekal di dalamnya. Janganlah terlalu bingung dan takut. Jalani saja hidup ini dengan sungguh-sungguh.
“HISTORY REPEATS IT SELF, FIRST AS TRAGEDY SECOND AS FARCE.” KARL MARK.