"Tidak. Kau tidak boleh mati, Bintang! Kau harus bertahan. Aku mohon …."
Arsen terus fokus membantu Siska yang tengah melakukan intubasi. Melakukan hal yang sama saat dua tahun silam. Peluh keringat perlahan mulai merebak di keningnya. Tidak bisa dipungkiri jika saat ini rasa panik sekaligus takut akan kehilangan membekapnya secara bersamaan.
Mendadak tubuh Arsen terlemas. Ia mundur beberapa langkah ke belakang hingga punggungnya membentur ke dinding. Tubuhnya merosot jatuh ke lantai dan tak lama kristal bening itu mengalir di sudut kedua netranya. Ia tak sanggup jika harus kehilangan Bintang. Ia pun tidak pernah mengira jika kejadian dua tahun silam akan terulang kembali. Namun, kali ini siapa yang melakukannya?
Arsen memeluk kedua lututnya diiringi oleh isakan tangis yang mungkin terdengar begitu memilukan. Ia merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi kakak angkatnya itu. Apa yang harus dikatakan kepada ayahnya nanti jika Bintang benar-benar sudah mati? Ia menggeleng kuat. Bintang harus selamat! Ya, sebab jika tidak, ayahnya sudah pasti akan sangat terpukul. Bagaimana pun juga Bintang adalah anak kebanggan pria itu.
"Bintang kau harus bertahan."
•••••••••••
Awan mendung di langit kota Jakarta menjadi penghias di acara sebuah pemakaman. Mendadak angin berdesir lembut menerpa keluarga kecil yang tengah menangisi kepergian anak laki-lakinya.
Arsen berlutut di samping batu nisan dan mengusapnya. Nama Bintang Pradipa tertulis di sana. Ia menatap pilu batu nisan itu. Tanpa emosi dan tanpa ekspresi. Terlalu lelah untuk terus menangisi kepergian laki-laki yang menyebalkan itu.
Pandangan Arsen menyapu sekitar area pemakaman, ketika rintik gerimis mulai turun dan membasahi tanah yang masih tampak segar itu. Netranya hanya mendapati ayah dan ibunya saja, orang yang hadir di pemakaman. Sebab, bukankah semua orang telah mengira jika Bintang sudah meninggal dunia? Ya, oleh sebab itu tidak ada orang lain yang datang ke pemakaman untuk melihat Bintang yang terakhir kalinya. Ditambah lagi, selama dua tahun ini tidak ada yang mengetahui jika Bintang masih hidup.
Sayangnya, hari ini Bintang benar-benar telah mengembuskan napas terakhirnya. Ya, Bintang Ardiansyah telah meninggalkan keluarga tercintanya.
Tatapan Arsen kembali ke arah pusara Bintang. Ia tertunduk. Namun, detik setelahnya menyeringai kecil. Sebab, ia menyadari akan kedatangan sosok pria yang sedari tadi ditunggunya. Pramono.
"Kau bodoh, Pramono!" umpatnya lirih.
Tidak jauh dari tempat Arsen berada, Pramono bersembunyi di balik pohon rindang. Tubuhnya yang terlihat semakin kurus itu terlindungi oleh pohon di hadapannya. Sedari tadi, ia bisa melihat dengan jelas proses pemakaman. Di mana ia melihat dengan mata kepalanya sendiri seseorang telah dikebumikan. Berbeda halnya dengan dua tahun silam, di mana ia hanya bisa melihat sebuah peti yang dikebumikan tanpa boleh melihat jenazahnya.
Sungguh, Pramono bisa tersenyum puas saat ini, ketika melihat semua orang tengah menangisi kepergian anak itu. Ia juga bisa menikmati kebebasan dengan tenang dan damai. Sebab, keinginannya untuk menghabisi Bintang sudah terwujud sesuai dengan rencananya. Sudah pasti sebentar lagi Angga akan ikut menyusul anaknya ke alam baka sana. Ya, ia yakin itu.
Pramono menengadahkan kepala ke atas seraya merentangkan kedua tangannya. Ia memejamkan kedua manik matanya. Menikmati setiap rintik gerimis yang jatuh mengenai wajahnya dengan diiringi oleh senyum kepuasaan.
Sebuah senyum kemenangan.
••••••••••
Angga terduduk lemas di kursi dengan tatapan kosong memandang tubuh putranya yang begitu lemah. Ia sudah tidak sanggup untuk menangisinya lagi. Walau pada kenyataannya, hatinya memberontak dan penuh akan letupan amarah kepada Pramono. Kenapa pria itu masih berusaha untuk membunuh Bintang? Mungkinkah yang Pramono inginkan hanyalah nyawanya? Jika memang seperti itu, ia rela untuk menyerahkan nyawanya untuk pria itu. Asalkan jangan menyentuh anak kesayangannya.
Sungguh, Angga masih belum bisa memercayai semua ini. Kenapa kejadian dua tahun silam harus terulang kembali? Haruskan ia menemui Pramono?
"Ayah kau harus pulang. Biar aku yang menjaga Kakak di sini," ucap Arsen lembut. Ia sungguh tidak tega melihat ayahnya terus menatap Bintang yang terbaring koma di atas ranjang.
Namun, Arsen tercekat ketika malah mendapati sang ayah menatapnya dengan tajam. "Aku tidak akan meninggalkan Bintang sendirian. Mengerti? Karena aku sudah tidak percaya denganmu lagi, Arsen!" geramnya.
Bagai godam yang meluluh lantakkan rongga d**a. Ucapan sang ayah berhasil menghentakkan d**a Arsen. Ngilu. Ya, begitulah rasanya. Walau apa yang dilakukan ayahnya terbilang cukup normal. Mengingat apa yang telah Arsen lakukan kepada Bintang. Tidak seharusnya ia meninggalkan laki-laki itu seorang diri. Terlebih saat itu ia tidak tahu menahu akan Pramono yang melarikan diri. Ah, apa yang harus dilakukannya sekarang?
"Ayah. Aku mohon pulanglah. Temani ibu di rumah. Kali ini aku berjanji akan menjaga Bintang." Arsen berusaha untuk meyakinkan sang ayah.
"PERGI! Aku tidak ingin melihatmu lagi, Arsen!" bentak Angga tiba-tiba.
Arsen tercengung. Ia tidak pernah mengira jika sang ayah begitu marah kepadanya. Walau berat, ia melangkahkan kedua kakinya dengan gontai keluar kamar. Tertunduk, hingga tanpa sangka lelehan air bening perlahan merebak. Ia menyapunya dengan telapak punggung tangan kanan. Setelah itu, membetulkan letak kaca mata dan mengangkat kepalanya. Berjalan cepat dengan pikiran yang berkecamuk. Sebab sedari tadi ia tak henti menyalahkan dirinya sendiri.
••••••••••
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Siska kepada Arsen yang memecah keheningan di antara keduanya. Sedari tadi laki-laki itu tampak begitu frustrasi dengan terus menatap layar komputer yang memperlihatkan rekaman CCTV.
Arsen bergeming. Sungguh, jika ditanya seperti itu, ia juga tidak tahu harus menjawab apa. Benaknya selalu memikirkan jika semua ini mustahil. Bagaimana bisa kejadian yang sama terulang kembali dalam rentan waktu yang cukup lama? Apa ada kehidupam seperti itu?
Kini, benaknya telah menembus batas waktu tiga hari yang lalu. Di mana Arsen kembali memanipulasi kematian Bintang dari Pramono. Saat kejadian malam itu, Pramono tampak terekam oleh kamera dengan menggunakan pakaian perawat. Situasi yang lengang, membuat pria keji itu dengan mudah melancarkan aksi kejahatannya.
"Arsen! Kenapa kau diam saja! Bantu aku!" Siska geram ketika mendapatkan laki-laki berkaca mata itu tampak murung dengan menyardarkan punggung di dinding. Oh, apa sebenarnya yang telah dipikirkan laki-laki itu? Padahal, sekarang ia sedang berusaha menyelamatkan nyawa saudaranya. Mungkinkah ia menyesal? Oh, tidak! Jangan disituasi genting seperti ini.
Arsen tercengung. Ia melihat Siska yang masih sibuk dengan tugasnya. Ia pun memilih bangkit dan menghampiri. Setelah itu kembali membamtu Siska. Cukup lama gadis itu melakukan prosedur intubasi kepada tubuh Bintang. Hingga pada akhirnya layar EKG berhasil memunculkan kurva detak jantung Bintang.
Arsen tidak henti menitikkan air matanya dengan seyum menghias wajahnya. Senang bercampur sedih. Entah apa yang saat ini dirasakannya. Ia begitu bersyukur sebab nyawa Bintang masih bisa tertolong. Ia pun tidak sadar hingga memeluk Siska. Membuat gadis itu hanya mematung di tempatnya.
Plaaakk!
Sebuah pukulan keras di area pipi kanan Arsen berhasil meninggalkan warna kemerahan di sana. Arsen meringis, memegangi pipinya yang telah dihantam oleh Angga. Ia baru saja menceritakan akan kejadian yang telah menimpa Bintang, hingga membuat Angga naik pitam.
"Kenapa kau membiarkan Bintang seorang diri, huh? Bukankah kau telah berjanji untuk melindungi kakakmu itu?" Angga yang geram menaikkan nada suaranya. Amarahnya telah memuncak hingga tidak sadar akan perbuatannya itu.
"Maafkan aku, Ayah," lirih Arsen bergetar. Sungguh, ia begitu menyesal saat ini. Mungkin kata maaf pun tidak akan bisa membuat ayahnya tersenyum lagi.
Arsen mendesah pelan seiring dengan kesadarannya yang telah kembali. Ia menoleh ke arah Siska. Gadis itu masih betah menunggu jawabannya.
"Kita ikuti permainan yang telah kubuat dua tahun yang lalu," jawab Arsen akhirnya.
•••••••••••••
Revisi setelah daily update