Peluh keringat membasahi tubuh Ravin selepas pulang dari suatu tempat untuk membuang mayat wanita yang telah dibunuhnya. Kali ini, ia membiarkan jasadnya tergeletak di tepi jalan, di sekitar area konstruksi. Ia sengaja meletakkannya di sana supaya jasad itu dapat dengan mudah ditemukan. Sebab, ia jengah jika harus berurusan lama dengan arwah wanita itu yang terus mengganggunya. Ditambah lagi, wanita itu sangat mirip dengan seseorang yang dibencinya.
Kedua kaki Ravin melangkah masuk ke dalam ruang pribadinya. Lalu, melepas jaket hitam dan membuangnya sembarang di atas lantai. Setelah itu, mendaratkan b****g di atas kursi dengan netra yang menatap ke arah patung manekuin yang masih tampak baru di depannya.
Kedua tangan Ravin terkepal erat seiring dengan ingatannya yang telah menembus batas