Panas terik matahari seakan tidak pernah berhenti menunjukan jati dirinya. Kendati begitu, di dalam Busway yang berpendingin ini, Raya justru menarik kerah kemejanya rapat-rapat.
“Dingin sekali,” gerutunya.
“Manusia memang aneh,” sahut Bintang sambil bersedekap. “Di luar kepanasan, di dalam kedinginan. Tidak ada yang bisa membuat kalian puas.”
“Kau juga dulu manusia.”
“Justru karena itu aku tahu.”
Raya melirik arwah di sampingnya, lalu menyunggingkan senyum kecil. Beberapa penumpang di depan mereka menoleh sekilas ke arah wanita yang tampak sedang berbicara sendiri itu, lalu kembali sibuk dengan ponsel masing-masing.
“Raya, kau ditatap orang.”
“Biarkan saja. Sekarang aku sudah terbiasa.” Raya mengangkat bahu. “Lagipula, siapa yang peduli? Di kota ini, orang yang bicara sendiri itu jauh lebih banyak daripada yang kau kira.”
Bintang tertawa.
Busway itu terus melaju, melewati jalanan yang padat, melewati gedung-gedung tinggi yang berkilau tertimpa cahaya matahari. Raya menempelkan kening ke kaca jendela, menatap ke luar, dan tanpa sadar ia tersenyum sendiri.
“Kita mau ke mana, sih?” tanya Bintang untuk yang ketiga kalinya.
“Nanti juga tahu.”
“Kau ini benar-benar tidak berubah.”
“Kau juga,” balas Raya. “Kau masih arwah yang cerewetnya minta ampun.”
••••••••
Mereka turun di halte yang sudah bertahun-tahun tidak dilewati Raya.
Begitu kedua kakinya menjejak trotoar, Bintang langsung menghentikan langkahnya.
Di seberang jalan sana, berdiri sebuah gerbang tinggi berwarna abu-abu, dengan tulisan yang sudah mulai memudar di bagian atasnya. Beberapa mahasiswa berlalu-lalang di depannya sambil menenteng tas dan berbicara keras-keras.
Kampus.
“Raya,” panggil Bintang serak.
“Kenapa? Kau tidak mau masuk?”
“Bukan begitu. Hanya saja …,” arwah itu menjeda ucapannya, “sudah lama sekali.”
Raya tidak menjawab. Ia hanya menarik napas panjang, lalu menyeberang lebih dulu.
Bagian dalam kampus itu ternyata tidak banyak berubah. Kantinnya masih di tempat yang sama, hanya catnya yang sudah berganti. Papan pengumuman masih penuh oleh kertas yang saling menutupi. Ada pohon baru yang ditanam di dekat parkiran, masih kecil dan disangga bambu.
Namun, koridornya masih sama.
Raya berhenti di mulut koridor itu.
Lantai keramiknya yang selalu terasa dingin. Deretan lampu di langit-langit yang tidak semuanya menyala. Dan di ujung sana, kegelapan yang sama, yang dulu selalu membuat orang-orang enggan lewat setelah pukul lima sore.
“Kau ingat tempat ini?” tanya Raya pelan.
Bintang melenggut.
“Di sinilah kau pertama kali menghancurkan hidupku,” lanjut Raya.
“Hei! Aku menyelamatkan hidupmu.”
“Kau menakutiku sampai aku jatuh terduduk.”
“Kau yang berteriak lebih dulu.”
“Aku berteriak karena ada suara laki-laki dari tempat yang tidak ada orangnya!”
Keduanya saling menatap sesaat, lalu tertawa bersamaan.
Suara tawa itu memantul di sepanjang koridor yang kosong. Beberapa mahasiswa yang lewat menoleh, keheranan melihat seorang wanita dewasa yang tertawa sendirian sambil menatap dinding.
Raya tidak peduli. Ia melangkah masuk ke dalam koridor itu, menyentuh dinding di sebelah kanannya, lalu berjalan pelan-pelan sambil membiarkan telapak tangannya menyusuri permukaan yang kasar itu.
“Bintang, kalau waktu itu aku tidak membolos, kita tidak akan pernah bertemu, ya?”
“Kalau waktu itu kau tidak membolos, kau akan lulus tepat waktu.”
“Ck. Aku sedang berbicara serius.”
Bintang tersenyum. “Aku tahu.”
Mereka terus berjalan sampai ke ujung koridor, ke pintu kelas F yang masih memiliki papan nama yang sama. Raya mengintip melalui kaca kecil di pintunya. Di dalam sana ada belasan mahasiswa yang sedang menunduk mengerjakan sesuatu, dengan seorang dosen yang berjalan mondar-mandir di depan.
“Kuis,” bisik Raya. “Kasihan sekali mereka.”
“Kau juga dulu begitu.”
“Aku tidak pernah mengerjakannya sendiri.”
“Tepat sekali. Aku yang mengerjakannya.”
Raya terkekeh. Ia mundur dari pintu itu, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding koridor.
“Bintang, terima kasih.”
“Untuk kuisnya?”
“Untuk semuanya, Bodoh.”
Bintang tidak menjawab. Ia hanya ikut bersandar di dinding yang sama, walau tubuhnya sedikit tenggelam ke dalamnya.
Mereka melanjutkan langkah sampai ke gedung perpustakaan.
Pintunya masih berat dan berderit seperti dulu. Di dalam sana, bau kertas tua bercampur dengan bau pengharum ruangan yang terlalu menyengat. Seorang petugas muda duduk di meja depan sambil menguap lebar-lebar.
Bintang berhenti di ambang pintu, lalu menatap meja itu lama sekali.
“Aku pernah menabrak seseorang di sini,” gumamnya.
“Arsen?”
“Waktu itu aku sedang terburu-buru. Buku-bukunya berjatuhan semua. Aku hanya bilang maaf sambil lewat, lalu pergi begitu saja.” Bintang menggeleng pelan sambil tersenyum getir. “Kalau saja aku tahu bahwa laki-laki yang kutabrak itu akan menjadi satu-satunya orang yang menjaga tubuhku bertahun-tahun kemudian, mungkin aku akan berhenti dan membantunya memungut buku-buku itu.”
Raya menoleh ke arah arwah di sampingnya.
“Kau menyesal?”
“Tidak.” Bintang mengangkat bahu. “Aku hanya berpikir, ternyata orang yang paling penting dalam hidup kita itu biasanya datang di hari yang paling tidak kita ingat.”
Raya tidak berkata apa-apa. Namun, di dalam hatinya, ia diam-diam setuju.
••••••••
Taman belakang kampus masih menjadi tempat yang paling sepi.
Bangku panjangnya masih ada di sana, di bawah pohon rindang yang sekarang tumbuh jauh lebih tinggi. Catnya sudah mengelupas di beberapa bagian, dan salah satu kakinya ditambal dengan besi.
Raya duduk di sana, lalu menepuk tempat di sampingnya.
Bintang duduk.
Untuk beberapa saat lamanya, keduanya hanya diam. Angin berembus. Daun-daun bergesekan di atas kepala mereka. Dari kejauhan terdengar suara bola basket yang dipantulkan berulang kali.
“Aku dulu sering menangis di sini,” ucap Raya tiba-tiba.
Bintang menoleh.
“Sebelum kau datang, maksudku.” Raya menatap lurus ke depan. “Setiap kali aku merasa tidak ada seorang pun di dunia ini yang peduli padaku, aku duduk di bangku ini. Kadang sampai gelap. Lalu aku pulang, dan tidak ada yang bertanya aku dari mana.”
“Raya—”
“Aku tidak sedang sedih.” Wanita itu menoleh sambil tersenyum. “Justru sebaliknya. Aku sedang bersyukur.”
“Bersyukur untuk apa?”
“Karena sekarang, kalau aku pulang terlambat, ada tiga orang yang akan meneleponku sampai belasan kali.” Raya mengangkat jarinya satu per satu. “Andra. Ibuku. Dan Bunga.”
Bintang tertawa kecil.
“Kau tidak menghitungku?”
“Kau tidak bisa memegang ponsel.”
“Detail yang tidak penting.”
Raya tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang. Kemudian, perlahan-lahan, tawa itu mereda dan berubah menjadi sesuatu yang lain.
“Bintang.”
“Hm?”
“Maafkan aku.”
Arwah itu mengerutkan kening. “Untuk apa?”
“Untuk beberapa bulan yang lalu.” Raya menunduk, menatap kedua tangannya sendiri. “Aku marah padamu terlalu lama. Aku tahu kau punya alasan. Aku tahu kau tidak bermaksud begitu. Tapi aku tetap saja mendiamkanmu, dan aku membuatmu merasa bersalah setiap kali kau datang.”
“Raya, itu sudah selesai.”
“Belum selesai untukku.”
Bintang bergeming.
“Kau tahu apa yang paling kutakutkan?” lanjut Raya dengan suara yang mulai bergetar. “Aku takut suatu hari nanti kau benar-benar pergi, dan kalimat terakhir yang pernah kuucapkan padamu adalah kalimat yang buruk.”
Angin berembus lagi. Beberapa helai rambut Raya tersibak ke depan wajahnya.
Bintang mengangkat tangannya, hendak menyingkirkan rambut itu seperti yang biasa dilakukan orang-orang di dalam film. Namun, pada detik terakhir, ia menurunkannya kembali.
“Kalau begitu,” ucapnya, “jangan mengucapkan kalimat yang buruk.”
Raya mendongak. “Hanya itu nasihatmu?”
“Memangnya kau mau nasihat seperti apa? Aku ini arwah, bukan penceramah.”
Raya memukul udara di tempat bahu Bintang berada, yang tentu saja hanya menembus begitu saja. Keduanya tertawa lagi.
Dan di bawah pohon rindang itu, di bangku panjang yang catnya sudah mengelupas, seorang wanita dan sesosok arwah menghabiskan sore mereka dengan bercerita tentang hal-hal kecil yang sudah lama tidak sempat mereka bicarakan.
Tentang kuis Kanji yang dulu selalu ditakuti. Tentang Hiroshi sensei yang ternyata menikah tahun lalu. Tentang Yuki yang sekarang bekerja di sebuah perusahaan penerjemah dan masih rajin mengirim pesan setiap ulang tahun.
Tentang semua hal, kecuali satu.
Sebab, ada satu pertanyaan yang tidak berani ditanyakan oleh keduanya.
Berapa lama lagi.
••••••••
Langit sudah berwarna jingga ketika mereka keluar dari gerbang kampus.
“Aku pesan taksi sekarang, ya,” ujar Raya sambil mengeluarkan ponselnya. “Andra pasti sudah pulang.”
“Hmm.”
“Kau tidak ikut?”
“Nanti menyusul.” Bintang menatap ke arah gerbang, ke arah koridor yang mulai menyala lampunya satu per satu. “Aku mau di sini sebentar lagi.”
Raya menatap arwah itu beberapa saat.
“Bintang.”
“Apa?”
“Jangan lama-lama.”
Bintang menoleh, lalu menyunggingkan senyum. “Mengerti.”
Taksi itu datang sepuluh menit kemudian. Raya masuk, menutup pintu, lalu melambaikan tangannya melalui kaca jendela. Bintang membalasnya sampai mobil itu berbelok dan menghilang di persimpangan.
Setelah itu, arwah itu berdiri sendirian di trotoar.
Ia mendongak. Langit mulai berubah gelap, dan lampu-lampu jalan menyala satu per satu.
Entah kenapa, sejak beberapa hari terakhir ini, ia selalu merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada yang mengikutinya. Seperti ada sepasang mata yang menatapnya dari tempat yang tidak bisa ia lihat.
Bintang menoleh ke belakang.
Trotoar itu kosong. Hanya ada beberapa mahasiswa yang berjalan sambil tertawa, dan seorang pedagang yang sedang mendorong gerobaknya pulang.
“Perasaanku saja,” gumamnya. “Aku ini arwah. Siapa juga yang mau repot-repot mengikuti arwah?”
Ia terkekeh sendiri, lalu memasukkan kedua tangan ke dalam saku.
Lalu, ia melangkah pergi.