“Arsen? Ada apa? Ini sudah malam sekali.”
Bintang melompat turun dari lemari pakaian, lalu berjalan mendekat ke arah ranjang. Ia menajamkan pendengarannya, walau sebenarnya percuma, sebab suara di seberang sana terlalu pelan untuk bisa ditangkapnya.
“Iya … iya, aku sudah makan.” Raya memutar bola matanya. “Astaga, kalian ini kompak sekali, ya? Kau dan Ibuku pasti bertukar jadwal untuk memarahiku.”
Bintang menyeringai.
Namun, beberapa detik kemudian senyum Raya menghilang.
“Apa?” Wanita itu menegakkan tubuhnya. “Kapan?”
Bintang langsung berhenti bergerak.
“Berapa tahun?” Suara Raya berubah serak. “Hmm … begitu.”
Hening cukup lama.
“Tidak, aku tidak apa-apa. Sungguh.” Raya menghapus sudut matanya dengan cepat. “Aku hanya … entahlah, Arsen. Aku pikir aku akan senang mendengarnya. Ternyata tidak.”
Bintang berdiri kaku di samping ranjang.
Ia tahu sekarang. Ia tahu berita apa yang sedang disampaikan oleh laki-laki berkacamata itu.
Percakapan itu berlangsung beberapa menit lagi. Setelah sambungan diputus, Raya meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu duduk diam sambil memeluk lututnya sendiri.
“Sudah diputus?” tanya Bintang akhirnya.
Raya melenggut.
“Berapa?”
“Lama. Sangat lama.” Wanita itu menatap ke arah dinding. “Arsen bilang, kemungkinan besar dia tidak akan keluar lagi sampai tua.”
Bintang mengembuskan napas panjang.
Ia menunggu sesuatu datang. Rasa puas, mungkin. Atau lega. Atau apa pun yang seharusnya dirasakan oleh seseorang ketika orang yang menghancurkan hidupnya akhirnya mendapatkan ganjarannya.
Namun, yang datang justru kekosongan yang sama seperti dulu.
“Bintang.”
“Hm?”
“Kenapa rasanya tidak ada yang berubah?”
Arwah itu duduk di tepi ranjang, walau tubuhnya tenggelam sedikit ke dalam kasur.
“Karena memang tidak ada yang berubah,” jawabnya pelan. “Hukuman itu untuk dia, bukan untuk kita. Yang hilang tetap hilang.”
Raya menunduk.
“Aku benci sekali kalau kau berkata sesuatu yang benar.”
“Aku tahu.”
Malam itu, keduanya tidak berbicara lagi. Raya akhirnya tertidur menjelang pukul tiga pagi, dengan lampu kamar yang tetap menyala.
Dan Bintang duduk di atas lemari pakaian, seperti biasa, sampai matahari terbit.
••••••••
Pagi harinya, Bintang pergi ke gang yang tidak terlalu sempit itu.
Rumah bernomor 25 A tampak lebih sepi daripada biasanya. Tirainya tertutup. Pot-pot kecil di teras belum disiram.
Ayahnya duduk di kursi roda di ruang tengah, menghadap ke arah televisi yang menyala tanpa suara. Di layar itu terpampang sebuah foto lama, foto seorang pria paruh baya dengan seragam tahanan, disertai tulisan besar di bawahnya.
Bintang melangkah masuk, lalu berdiri di samping kursi roda itu.
Ayahnya tidak menangis. Namun, kedua tangan pria itu bertaut di atas pangkuannya, dan sudah begitu sejak entah berapa lama.
“Ayah,” panggil Bintang, walau ia tahu tidak akan ada jawaban.
Beberapa saat kemudian, Angga menghela napas panjang.
“Kau tahu, Mono,” gumam pria itu kepada layar televisi, “dulu kau yang paling takut kalau lampu mati. Kau selalu masuk ke kamarku sambil menangis.”
Bintang membeku.
“Ayah selalu bertanya-tanya, di bagian mana Ayah salah,” lanjut Angga. Suaranya bergetar. “Apakah karena Ayah terlalu sibuk? Apakah karena Ayah tidak pernah menoleh saat kau memanggil? Apakah kalau dulu Ayah berhenti sebentar saja, semuanya tidak akan menjadi seperti ini?”
Arsen muncul dari arah dapur sambil membawa segelas teh. Laki-laki berkacamata itu meletakkannya di atas meja, lalu berlutut di samping kursi roda tersebut.
“Pak, tehnya diminum.”
Angga tidak bergerak.
“Pak Angga.”
“Arsen, apa Ayah orang yang jahat?”
Arsen menoleh ke atas, dan tatapannya bertemu dengan tatapan sesosok arwah yang berdiri di sisi lain kursi roda itu.
Keduanya sama-sama diam.
“Tidak, Pak,” jawab Arsen akhirnya. “Bapak hanya orang yang terlalu lama berharap adiknya akan berubah.”
Angga akhirnya menoleh. Pria itu menatap wajah pemuda berkacamata di sampingnya cukup lama, lalu mengangguk pelan dan meraih gelas tehnya dengan tangan yang bergetar.
Bintang berbalik dan melangkah keluar menembus dinding.
Sebab, ada hal-hal yang bahkan tidak sanggup ditonton oleh sesosok arwah.
••••••••
“Kau menghilang lagi kemarin.”
Bintang menoleh. Arsen berdiri di ambang pintu ruangannya sambil membawa dua tumpuk berkas.
“Aku tidak menghilang. Aku hanya berjalan-jalan.”
“Berjalan-jalan ke mana?”
“Ke tempat yang tidak penting.”
Arsen meletakkan berkasnya di atas meja, lalu duduk. Ia menatap arwah yang bersandar di dinding itu beberapa saat.
“Bintang, kau sudah dua minggu seperti ini.”
“Seperti apa?”
“Seperti orang yang sedang berpura-pura baik-baik saja di depan Raya, lalu menghilang setiap kali wanita itu tidur.”
Bintang membuang muka.
“Aku tidak berpura-pura.”
“Bintang.”
“Baiklah!” Arwah itu mengangkat kedua tangannya. “Baiklah. Dia mengusirku. Puas kau?”
Arsen tidak menjawab.
“Dia bilang aku harus berhenti datang.” Suara Bintang perlahan melemah. “Dia bilang setiap kali aku ada di rumah itu, dia jadi tidak bisa belajar hidup. Dan dia benar, Arsen. Dia selalu benar. Itulah yang paling menyebalkan darinya.”
Bintang menunduk, menatap kedua telapak tangannya sendiri.
“Aku sudah pergi. Aku tidak akan kembali ke sana lagi.”
Arsen membenarkan letak kacamatanya.
“Lalu sekarang kau mau ke mana?”
“Entahlah.” Bintang mengangkat bahu. “Mungkin aku akan menghabiskan sisa keabadianku dengan mengomeli Raya supaya makan.”
“Itu pekerjaan yang mulia.”
“Diam kau.”
Keduanya terdiam. Kemudian, tanpa direncanakan, keduanya tertawa kecil pada saat yang bersamaan.
“Bintang,” ucap Arsen setelah tawanya reda. “Aku serius. Jangan menghilang terlalu lama. Kali ini bukan karena aku butuh bantuanmu.”
“Lalu kenapa?”
“Karena kalau kau menghilang, aku tidak bisa tahu apakah kau masih ada.” Arsen membuka berkasnya, lalu berpura-pura sibuk. “Dan aku tidak mau suatu hari nanti aku baru sadar bahwa kau sudah pergi berminggu-minggu yang lalu tanpa sempat berpamitan.”
Bintang menatap punggung laki-laki itu.
Sungguh, entah sejak kapan bocah berkacamata yang dulu ia tabrak di perpustakaan itu berubah menjadi orang yang paling ia takuti kehilangannya.
“Mengerti,” jawabnya pelan.
••••••••
Pada saat yang sama, di sebuah ruangan yang lain, seorang wanita muda berkacamata sedang berdiri di depan papan putih yang penuh.
Ruangan itu sempit dan berbau kertas. Lampunya berkedip sesekali. Di atas meja, berserakan berpuluh-puluh berkas, sebagian sudah menguning, sebagian masih beraroma tinta.
Elis menyilangkan kedua lengannya, lalu memiringkan kepalanya sedikit.
Ada empat foto yang tertempel di papan itu.
Empat wanita muda. Semuanya berbeda pekerjaan. Semuanya berbeda tempat tinggal. Semuanya ditemukan di lokasi yang berjauhan, dalam rentang waktu yang tidak beraturan.
Dan justru itulah yang mengganggunya.
“Elis, kau belum pulang?”
Seorang rekannya mengintip dari balik pintu sambil menenteng tas.
“Sebentar lagi.”
“Kau bilang begitu sejak tiga hari yang lalu.” Rekannya melangkah masuk, lalu ikut menatap papan itu. “Kau masih memikirkan yang ini? Bukankah berkasnya sudah ditutup? Kasus-kasus itu tidak berhubungan.”
“Itu yang tertulis di berkas.”
“Lalu?”
Elis mengambil salah satu foto, lalu meletakkannya bersebelahan dengan foto yang lain.
“Lihat ini.”
Rekannya mengerutkan kening. “Apanya?”
“Rambutnya.”
“Rambut?”
“Panjang. Hitam. Lurus. Semuanya.” Elis menggeser foto ketiga dan keempat ke posisi yang sama. “Tinggi badan mereka juga hampir sama. Selisihnya tidak sampai tiga sentimeter.”
Rekannya menatap papan itu lebih lama.
“Elis, di negara ini ada jutaan perempuan berambut panjang dan hitam.”
“Aku tahu.” Elis meletakkan fotonya kembali. “Tapi tidak ada jutaan perempuan berambut panjang dan hitam yang ditemukan di tempat terbuka, dalam posisi yang rapi, dan sengaja diletakkan supaya cepat ditemukan.”
Ruangan itu hening.
“Kau serius?”
“Aku selalu serius.” Elis melepas kacamatanya, lalu mengusap kedua matanya yang terasa perih. “Lihat lokasinya. Tepi jalan. Area konstruksi. Tepi danau. Semuanya tempat yang pasti dilewati orang. Kalau memang ingin menyembunyikan mayat, kenapa justru diletakkan di tempat yang mudah dilihat?”
Rekannya membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
“Kau punya dua kemungkinan,” lanjut Elis. “Yang pertama, pelakunya terburu-buru dan panik.”
“Dan yang kedua?”
Elis memakai kacamatanya lagi.
“Yang kedua, dia memang ingin kita menemukannya.”
Rekannya bergedik.
“Elis, kalau kau membawa teori itu ke atasan, mereka akan menertawakanmu.”
“Aku tahu.”
“Kau tetap akan membawanya?”
“Belum.” Elis mulai memasukkan berkas-berkas itu ke dalam tasnya satu per satu. “Aku butuh sesuatu yang lebih dari sekadar rambut dan tinggi badan. Aku butuh satu benang yang menghubungkan mereka semua.”
“Dan kalau tidak ada?”
Elis menyampirkan tasnya ke bahu, lalu mematikan lampu ruangan itu.
“Selalu ada,” jawabnya. “Orang seperti ini tidak pernah cukup rapi. Mereka selalu meninggalkan satu hal, karena di dalam hati mereka, mereka justru ingin dipuji.”
Ia menutup pintu ruangan itu.
“Masalahnya hanya satu. Aku belum tahu di mana mereka menaruh pujiannya.”
••••••••
Malam itu Elis tidak langsung pulang.
Ia berhenti di sebuah kafe kecil yang buka sampai larut, memesan kopi latte hangat kesukaannya, lalu membuka laptopnya di meja dekat jendela.
Berkas-berkas itu ia bentangkan lagi.
Empat nama. Empat tanggal. Empat lokasi.
Ia menyeruput kopinya, lalu menatap ke luar jendela, ke arah jalanan yang basah dan lengang. Seorang pengendara motor melintas cepat, memercikkan air ke trotoar.
Dan satu pertanyaan yang belum juga menemukan jawabannya sejak berminggu-minggu terakhir.
Siapa yang ingin ditemukan?
Elis menuliskan pertanyaan itu di sudut buku catatannya, lalu melingkarinya dua kali.