HARI ini mendung, sedikit berangin. Elis menyesap kopi latte hangat kesukaannya dengan arah pandang menuju ke luar kaca jendela. Tak ada yang menarik matanya di sana. Hanya tampak gedung-gedung pencakar langit dan juga kantor polisi yang merupakan kantornya. Duduk di kafe seraya memecahkan sebuah kasus rumit seperti ini merupakan kebiasaan gadis bermata empat itu. Mungkin jika ada pepatah yang bilang ‘Sambil menyelam minum air’ adalah dirinya saat ini.
Elis meletakkan cangkir kopinya di atas meja. Pandangannya telah beralih ke arah laptop yang sedari tadi menyala. Juga berbagai berkas yang berisi kasus pembunuhan ada di sana.
“Elis,” sapa seseorang tiba-tiba, membuat gadis itu mendongak.
Elis tertegun saat menemukan kawan lamanya yang saat ini ada di hadapannya. “Adam?” Ia bangkit ser