RAVIN melangkahkan kedua kakinya kembali ke belakang panggung dengan perasaan bahagia yang membuncah luar biasa di daadaanya. Akhirnya, Ravin bisa mewujudkan keinginan terbesarnya dan juga Lucy untuk tampil pada acara American Fashion Week yang sangat bergengsi ini. Perasaan lega dan juga bangga membekap dirinya secara bersamaan. Bahkan, perasaan itu semua bercampur menjadi satu di dadaa hingga membuat Ravin tak bisa berkata apapun. Selain, rasa syukur yang tak terkira kepada Tuhan-nya. Ya, seburuk apapun perlakuan Ravin, tetapi sebagai seorang insan, bukankah ia juga harus mengingat Tuhan-nya di saat situasi seperti ini? Setidaknya, sekali seumur hidupnya, Ravin bisa mengingat Tuhan-nya itu.
“Ravin, se—“
Bunga tertegun. Ia mematung di tempat kala ucapannya terputus, karena laki - laki