Bunga tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.
Ia bahkan tidak sempat berpikir. Yang ia tahu, satu detik yang lalu ia sedang berjalan menghampiri laki-laki itu sambil membawa sebotol air, dan pada detik berikutnya sebuah tangan sudah melingkar di pinggangnya, menariknya mendekat, dan bibir laki-laki itu sudah menempel di bibirnya.
Botol air di tangannya jatuh ke lantai.
Dunia di sekelilingnya seolah berhenti bergerak.
Suara riuh dari balik panggung. Suara para stylist yang berteriak memanggil satu sama lain. Suara sepatu yang berlarian. Semuanya menjauh, meredup, berubah menjadi dengungan yang tidak jelas.
Bunga membeku.
Ia tidak mendorong. Ia tidak juga membalas. Kedua tangannya hanya menggantung kaku di sisi tubuhnya, sementara otaknya berusaha keras memahami apa yang sedang terjadi.
Dan di antara semua kekacauan yang berputar di dalam kepalanya saat itu, ada satu hal kecil yang justru paling ia sadari.
Bahwa sudah lama sekali tidak ada yang menyentuhnya.
Bukan sentuhan seperti ini. Melainkan sentuhan apa pun. Sentuhan yang benar-benar terasa. Sentuhan yang hangat, yang memiliki berat, yang tidak menembus begitu saja.
Air matanya jatuh tanpa ia sadari.
••••••••
Di ujung lorong sana, di antara rak-rak pakaian yang berjajar, seseorang berdiri diam.
Bintang datang ke tempat ini bukan tanpa alasan.
Ia sudah menempuh perjalanan yang tidak masuk akal untuk sesosok arwah. Ia mengikuti pesawat itu. Ia berdiri di antara ribuan orang asing di bandara yang bahasanya tidak ia mengerti. Ia berjalan kaki menyusuri jalanan kota ini selama berjam-jam, tersesat berkali-kali, hanya untuk sampai di gedung ini.
Dan ia melakukan semua itu hanya untuk satu hal.
Untuk berkata selamat.
Ia sudah menyusun kalimatnya sejak berhari-hari yang lalu. Kalimat yang sederhana. Kalimat yang tidak akan membuat gadis itu merasa bersalah, tidak akan membuatnya menoleh ke belakang, dan tidak akan menahannya sedikit pun.
Selamat, Bunga. Aku selalu tahu kau bisa sampai ke sini.
Hanya itu. Setelah itu ia berjanji akan pergi.
Sebenarnya, ia sudah berada di gedung ini sejak beberapa jam yang lalu.
Ia menonton seluruh acara itu dari barisan paling belakang, berdiri di antara para tamu yang mengenakan pakaian mahal dan berbicara dengan suara yang ditahan-tahan. Ia melihat lampu-lampu itu menyala. Ia mendengar tepuk tangan yang menggemuruh.
Dan ia melihat gadis itu.
Bukan di atas panggung, melainkan di sisi kanan belakang layar, berdiri sambil memeluk map berisi entah apa, dengan wajah yang berbinar-binar seperti anak kecil yang sedang menonton kembang api.
Bintang berdiri di sana cukup lama hanya untuk memandanginya.
Sungguh, gadis itu berubah banyak sekali. Cara berdirinya. Cara ia berbicara kepada orang asing. Cara ia tertawa tanpa menutupi mulutnya lagi.
Dulu, gadis itu adalah orang yang paling takut berbicara di depan lebih dari tiga orang.
Sekarang ia berdiri di gedung ini, di kota ini, di negara yang bahkan tidak pernah ia bayangkan akan didatanginya.
“Kau berhasil,” gumam Bintang waktu itu, sambil tersenyum sendirian di antara kerumunan. “Kau benar-benar berhasil, Bunga.”
Dan pada saat itu, untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, ia merasa lega.
Sebab, ia yakin sudah membuat keputusan yang benar ketika dulu memilih pergi. Sebab, kalau ia tetap tinggal, mungkin gadis itu tidak akan pernah berada di tempat ini sekarang.
Namun, kalimat itu tidak pernah sempat diucapkan.
Bintang berdiri di sana, di ujung lorong, dengan kedua tangan yang menggantung di sisi tubuhnya dan mulut yang sedikit terbuka.
Ia melihat semuanya dari tempat itu.
Ia melihat tangan laki-laki itu di pinggang gadisnya. Ia melihat botol air yang jatuh dan menggelinding di lantai. Ia melihat gadis itu tidak mendorong, tidak berteriak, tidak melakukan apa pun.
Dan ia melihat air mata di pipi gadis itu.
Yang tidak ia mengerti adalah, air mata itu air mata apa.
Dadanya terasa remuk. Sesuatu yang panas menghujam ulu hatinya, naik ke tenggorokan, lalu menetes keluar melalui kedua matanya tanpa benar-benar ia sadari.
Kemudian, laki-laki itu membuka matanya.
Dan menatap lurus ke arahnya.
Bintang tercekat.
Sebab, tatapan itu bukan tatapan orang yang terkejut karena ketahuan. Bukan pula tatapan orang yang tidak sengaja menoleh.
Melainkan tatapan orang yang sejak awal memang tahu ada yang sedang menonton.
Sudut bibir Ravin terangkat sedikit. Hanya sedikit. Cukup untuk membuat sesuatu di dalam diri Bintang runtuh sampai ke dasarnya.
“Kau …,” gumam Bintang.
Ravin melepaskan ciuman itu.
••••••••
“Ravin!”
Bunga mundur selangkah sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan. Wajahnya merah padam, entah karena marah, malu, atau keduanya sekaligus.
“Apa yang kau lakukan?”
“Sesuatu yang sudah ingin kulakukan sejak lama.”
“Ini di tempat kerja! Ada puluhan orang di sini!”
“Tidak ada yang melihat.” Ravin mengangkat bahu, lalu menoleh sekilas ke arah lorong. “Hampir tidak ada.”
Bunga mengikuti arah pandangnya.
Lorong itu kosong. Hanya ada rak-rak pakaian yang berjajar dan sebuah pintu darurat yang perlahan menutup dengan sendirinya.
Kening gadis itu berkerut samar.
“Bunga.”
“Jangan.” Ia mengangkat satu tangannya. “Jangan katakan apa-apa dulu. Aku … aku butuh waktu.”
“Aku bisa menunggu.”
“Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang kutunggu!” Suaranya meninggi, lalu langsung menurun lagi ketika dua orang staf lewat sambil menoleh. Bunga menarik napas dalam-dalam. “Ravin, aku minta maaf. Aku harus pergi.”
“Bunga—”
Gadis itu sudah berbalik dan berjalan cepat menuju ke arah ruang ganti.
Ravin tidak mengejarnya.
Ia hanya berdiri di sana, di tengah kegaduhan orang-orang yang masih sibuk membereskan panggung, sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.
Kemudian, ia menoleh sekali lagi ke arah pintu darurat yang sudah tertutup rapat itu.
“Bagaimana rasanya?” gumamnya pelan, terlalu pelan untuk didengar oleh siapa pun yang masih hidup di ruangan itu.
Ia tersenyum.
“Masih betah di dunia ini?”
••••••••
Bunga mengunci pintu ruang ganti, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi di depan cermin.
Wajah di dalam cermin itu menatapnya balik. Riasan yang masih rapi. Rambut yang masih tertata. Dan sepasang mata yang merah dan basah.
Ia menunduk, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Kenapa aku menangis?” bisiknya kepada dirinya sendiri.
Ia tidak tahu jawabannya.
Ia hanya tahu bahwa selama beberapa detik tadi, untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, ia merasa menjadi seseorang yang benar-benar ada di dunia ini. Bukan seseorang yang berbicara kepada ruangan kosong. Bukan seseorang yang menyiapkan dua cangkir teh setiap sore.
Dan justru itulah yang membuatnya merasa seperti pengkhianat.
Bunga mengangkat wajahnya, lalu menatap pantulan dirinya lagi.
“Bintang,” bisiknya. “Kalau kau melihatnya, tolong jangan salah paham.”
Ia berhenti.
Lalu, ia tertawa getir kepada bayangannya sendiri.
“Bodoh sekali kau ini. Dia sudah pergi berbulan-bulan yang lalu. Kau sendiri yang mengusirnya.”
Ruangan itu sunyi.
Tidak ada hawa dingin. Tidak ada tirai yang bergerak. Tidak ada suara yang menjawabnya.
Sama seperti setiap malam sejak hari itu.
Bunga mengambil tisu dari atas meja rias, lalu mulai menghapus riasan di wajahnya dengan gerakan yang kasar sekali, seolah dengan begitu ia bisa sekalian menghapus beberapa menit terakhir dari hidupnya.
Namun tentu saja tidak bisa.
Beberapa menit itu sudah terjadi. Dan yang lebih menakutkan lagi, ada bagian kecil di dalam dirinya yang tidak sepenuhnya menyesalinya.
Justru bagian itulah yang membuatnya menangis paling lama.
••••••••
Pintu darurat gedung itu menuju ke sebuah lorong sempit, lalu ke tangga besi, lalu ke sebuah pintu lain yang langsung menghadap ke jalanan.
Bintang berjalan melewati semuanya tanpa benar-benar melihat.
Ia sempat berhenti sekali, di tengah tangga, sambil berpegangan pada pagar besi yang sebenarnya tidak bisa ia pegang. Kepalanya menunduk. Bahunya berguncang.
Ia berusaha menyusun kembali apa yang baru saja terjadi, satu per satu, seperti orang yang berusaha membaca ulang sebuah kalimat karena tidak percaya pada yang ia baca pertama kali.
Namun, setiap kali ia mengulanginya, hasilnya selalu sama.
Tangan itu. Botol yang jatuh. Air mata itu.
Dan senyum laki-laki itu.
“Tidak,” gumamnya. “Tidak, Bunga. Katakan padaku itu bukan apa-apa.”
Tentu saja tidak ada yang menjawab.
Bintang menegakkan tubuhnya, lalu melanjutkan langkahnya menuruni tangga. Satu anak tangga. Dua anak tangga. Tiga.
Sampai akhirnya ia sampai di pintu terakhir, dan menembusnya begitu saja.
Udara kota itu menyambutnya dengan dingin yang tidak bisa ia rasakan.
Di hadapannya, jalanan terbentang lebar, dipenuhi oleh manusia yang berjalan tergesa-gesa ke segala arah. Ada yang membawa gelas kopi. Ada yang berbicara di telepon dengan bahasa yang tidak ia mengerti. Ada yang tertawa bersama temannya.
Ribuan orang. Dan tidak satu pun dari mereka yang bisa melihatnya.
Sebuah taksi berwarna kuning membunyikan klakson panjang di persimpangan. Seorang laki-laki berteriak memanggil temannya di seberang jalan. Lampu-lampu papan iklan raksasa berkedip di atas kepala, memantulkan warna-warna terang ke wajah orang-orang yang lewat.
Kota ini terlalu ramai, dan justru karena itulah ia terasa paling sepi.
Bintang melangkah turun dari trotoar, lalu berjalan lurus ke depan, menembus kerumunan itu tanpa peduli ke arah mana kedua kakinya membawanya pergi.