Hari itu, hujan deras membasahi sebagian bumi. Aku berjalan pulang dari sekolah menuju rumah. Jalanan yang sepi dan licin sengaja aku lewati untuk mempersingkat waktu. Ya, jalan ini aku temukan di internet sebagai jalan pintas menuju rumah.
Karena aku baru di lingkungan ini, aku tak tahu daerah ini adalah daerah yang rawan kejahatan.
Waktu berlalu cukup lambat. Mungkin karena keadaan sedang hujan. Walaupun tidak besar, tapi cukup untuk membuat jalanan menjadi basah dan susah dilewati.
Hari semakin sore, aku merasa banyak pasang mata mulai memperhatikanku saat itu. Perlahan mereka mulai mengusikku. Menungguku merespon keberadaan mereka.
Aku mencoba tetap tenang dan mempercepat langkahku. Sekali saja aku merespon mereka, akan sangat merepotkan nantinya.
Sama halnya dengan sebelumnya. Aku selalu mendapat gangguan dari mereka, entah itu di rumah, sekolah, atau tempat umum lainnya. Aku selalu mencoba menghindar, tapi mereka tetap mengikutiku.
Pernah di tempat tinggalku yang dulu, sepasang suami istri mengikutiku hingga ke rumah. Aku selalu menghindari tempat sepi, tapi tetap saja mereka terus mengikutiku. Walaupun itu sangat mengerikan, mereka tetap saja memaksaku untuk menuruti keinginan mereka.
Aku tak mau itu sampai terjadi lagi di sini. Aku ingin membuang kisah lama yang menyakitkan tetang berhubungan dengan mereka.
Dan saat itulah aku bertemu Jaka. Pemuda berkulit hitam yang manis dan sopan.
Srak!
Suara langkah kaki dari balik semak-semak. langkah kaki lebih dari satu orang itu semakin mendekat. Seperti sedang mengendap-endap, perlahan semakin dekat.
Aku berhenti sejenak. Aku sedikit yakin, suara langkah kaki itu pasti langkah kaki manusia. Aku mematung, menunggu makhluk apa atau siapa yang berada di depanku itu.
Tiba-tiba semak-semak itu menyembul keluar dan memperlihatkan dua sosok lelaki dewasa dengan jambang dan pakaian khas preman datang ke arahku.
Saat keluar mereka sudah menunjukkan gelagat yang aneh. Melirik ke arah sekitar seperti mengecek apakah ada orang lain selain kami.
Kemudian seorang dari mereka menodongkan sebuah pisau ke arahku dengan tiba-tiba.
"Serahkan semua barang-barang berhargamu kalau kau ingin selamat!" titah lelaki dewasa berjambang itu.
Aku memundurkan langkahku, menghindari dua orang laki-laki dewasa itu. Aku berbalik hendak berlari, tapi, jalanan begitu licin. Belum sempat aku menjauh, aku sudah terjatuh dan tersungkur di hadapan mereka.
Mereka pun tertawa, rasa takut yang aku aku rasakan saat itu telah memuncak. Aku sempat berpikir tak akan bisa selamat dari mereka.
"Mau ke mana kau?"
"Kau tak akan bisa lari dari kami!" gertak mereka.
Tiba-tiba saja angin kencang berhembus ke arah kami. Membuat dua orang laki-laki itu menutup mata mereka bersamaan.
Di sisi lain, aku melihat siluet seorang pemuda tinggi tengah berada di hadapanku. Namun, kakinya tak menapak tanah. Melayang dengan sorot mata tajam, suaranya pun bergema.
"Pergilah! Sebelum aku membunuh kalian."
Pemuda itu mengeluarkan sinar terang, hingga aku pun tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Para bandit itu pun pergi lintang pukang sembari berteriak ketakutan. Bahkan salah satu dari mereka awalnya terlihat tak bisa bergerak alias membatu.
"Hahaha ...!"
Pemuda itu lantas tertawa puas, melihat kedua orang itu berlari ketakutan.
Aku yang masih tertegun dan tak bisa bangkit dan hanya bisa melihat pemuda itu terbang mendekat ke arahku sambil membisikkan sesuatu.
"Pulanglah! Sekarang kau sudah aman." Senyum pemuda itu merekah.
"Aku pergi dulu, ya," ucapnya sembari memalingkan wajahnya.
Dia sepertinya berpikir aku tak bisa melihatnya.
Tuk!
Sebuah batu kerikil kecil sengaja aku lemparkan ke arah pemuda itu, dia pun terlihat kaget dan menoleh kembali padaku.
"Terima kasih," ucapku malu-malu.
Sambil menundukkan kepala, aku mencoba bangun dan berjalan ke arah berlawanan dengan pemuda itu.
Srakk!
Suara ranting pohon yang kuinjak menimbulkan suara yang beradu dengan rintik air hujan. Pemuda itu lantas mengikutiku karena penasaran.
"Apa kau bisa melihatku?"
Pemuda itu bertanya sambil mengikutiku dari samping.
Aku bergeming, aku tak bisa bicara lebih banyak lagi. Kesalahan yang aku buat dulu juga berawal dari kejadian seperti ini.
"Hei, jawab aku! Apa kau bisa melihatku?" tanya pemuda itu terus-menerus.
Lagi-lagi aku hanya diam, aku tak mau mengulangi kesalahanku lagi.
"Kau bisa melihatku, kan? Iya, kan?"
"Halo! Nona manis, apa kau dengar aku?"
"Hei, aku sedang bicara padamu!"
"Kau tahu, tidak sopan bila kau tak menjawab pertanyaan dari orang yang lebih tua darimu."
Ocehan pemuda itu semakin berisik. Aku sungguh tak tahan lagi.
"Kalau iya, kau mau apa?" jawabku kesal.
Sekarang giliran pemuda itu yang terdiam, dengan gesit pemuda itu sudah berada di hadapanku dan menatapku dalam.
"Apa aku tampan?" tanya pemuda itu.
Seketika ucapan pemuda itu membuatku kembali terdiam. Sungguh konyol. Aku lantas buru-buru berlari meninggalkannya. Berharap dia tak mengikuti ke mana aku pergi.
***
Hari berikutnya, pemuda itu sungguh telah menungguku di jalan yang biasa aku lewati sebelumnya.
"Nah, begitu, dong. Jangan melewati jalan yang kemarin lagi, ya. Apalagi sendirian. Itu sangat berbahaya," celotehnya.
Aku mencoba tak menggubrisnya dan berlalu pergi meninggalkannya.
Hari berikutnya pun begitu, dia kembali menungguku di jalan sepulang sekolah.
"Kau sendirian lagi? Di mana teman-temanmu?"
"Apa perlu aku temani?"
"Oh, ya. Siapa namamu?"
Dasar pemuda yang berisik. Aku sengaja tak menggubrisnya lagi. Aku sungguh tak ingin jika ada yang mengetahui kemampuanku ini.
Hari-hari yang aku lewati berikutnya tak jauh berbeda. Pemuda itu kembali menungguku untuk hanya sekedar menyapaku.
"Kau belum memberitahuku siapa namamu?"
"Oh, ya. Namaku Jaka, Jaka Laksana. Kau bisa memanggilku Jaka."
Lagi-lagi aku hanya mengacuhkannya.
"Kau pasti mempunyai banyak pertanyaan tentangku. Ayo, tanyakan saja. Aku akan memberitahukan semuanya padamu, Janis."
Ucapannya membuatku menghentikan langkahku, dari mana dia tahu namaku?
Aku mencoba menahan tak bertanya padanya. Aku tahu, akan jadi kesalahan yang besar untukku bila aku mulai ingin mengenalnya.
"Namamu Janis, kan? Itu tertulis di seragammu. Hehe ...."
Dia pun menghilang seketika.
Dasar pemuda yang aneh.
***
Beberapa hari pun telah berlalu. Namun, pemuda itu kini tak terlihat lagi. Kenapa aku merasakan sepi? Padahal aku pun tak mengenalnya.
Sudah beberapa hari ini dia tidak datang. Aku jadi sedikit merasa sedih. Mungkin karena dia sering menggangguku akhir-akhir ini.
Aku pun kembali ke rumah pada pukul tiga sore. Dan betapa terkejutnya aku saat melihat Jason tengah bermain dengan seorang pemuda yang terlihat tak asing. Ya, pemuda itu adalah Jaka.
Kini dia menungguku di rumah, bukan lagi di jalanan sekolah.
Tak terasa aku pun tersenyum, aku merasa senang bisa melihatnya lagi. Walaupun kami tak pernah benar-benar saling menyapa, tapi aku lega bisa melihatnya kembali tertawa.
"Janis, kemarilah! Bermainlah bersama kami," teriak si kecil Jason.
Aku hanya tersenyum dari kejauhan. Aku berjalan di tengah rumput hijau di taman rumahku. Jason dan Jaka tengah berlari mengelilingiku. Mereka benar-benar terlihat gembira.
"Jason, bermainlah dulu tanpa aku. Aku akan beristirahat sejenak," jawabku pada Jason.
"Baiklah," angguk Jason.
Aku kemudian berjalan menuju rumah, di teras rumah telah ada Lastri tengah duduk dan memainkan rambut panjangnya.
"Siapa pemuda itu? Apa kau mengenalnya?" tanya Lastri ketus.
"Tidak. Biarkan saja dia bermain dengan Jason."
"Aku ke kamar dulu, ya."
Aku pun meneruskan langkahku menuju kamar. Merebahkan tubuhku sejenak.
"Ah, memang menjadi kaum rebahan itu sangat menyenangkan!"