Hai, perkenalkan namaku Janis. Usiaku tujuh belas tahun tepat di bulan Mei mendatang. Aku tinggal bersama kedua orangtuaku di sebuah rumah dinas. Karena Ayahku adalah seorang abdi negara. Lebih tepatnya seorang prajurit tentara angakatan darat.
Saat ini kami tinggal di sebuah daerah di Jawa Tengah. Aku dan keluargaku memang sudah terbiasa berpindah rumah karena pekerjaan ayahku.
Aku memiliki 2 orang kakak laki-laki bernama Wisnu dan Bagas. Kebetulan saat ini kakak pertamaku sudah bekerja di Jakarta. Sedangkan kakak keduaku sedang menempuh pendidikan di kota Yogyakarta.
Aku sendiri adalah murid SMA disebuah sekolah swasta dekat dengan komplek perumahan militer ini. Aku anak yang cukup spesial. Aku memiliki kemampuan yang tak dimiliki orang lain sejak kecil, yaitu bisa melihat makhluk lain selain manusia.
Awalnya, aku sangat terganggu dan takut. Ingin rasanya membuang semuanya dan hidup normal. Tapi, perlahan aku mulai bisa menerimanya.
"Ah ... haus sekali."
Aku membuka pintu lemari pendingin di dapur yang terletak tak jauh dari kamarku. Terlihat Lastri sedang duduk di depan TV tabung yang menyala.
"Kau sedang apa?" tanyaku pada hantu cantik itu.
Dia hanya menoleh sesaat, lalu berpaling dan melanjutkan menonton TV.
"Baiklah. Aku tak akan mengganggumu."
Aku bangkit dan berjalan menjauh, tapi, Lastri tetap tak menghiraukan dan kembali asyik menyaksikan sinetron yang tayang setiap pagi.
"Kak. Temukan aku!"
Suara anak kecil dari samping lemari. Anak laki-laki itu bersembunyi dan tertawa sangat nyaring.
Anak itu bernama Jason, usianya sekitar lima tahun. Entah mengapa dia selalu mengajakku bermain petak umpet. Mungkin itu ingatan terakhirnya sebelum meninggal.
"Baiklah, Kakak datang!" seruku yang pura-pura tak tahu keberadaannya.
"Jangan sampai ketahuan ya."
Aku mengendap-endap berjalan menghampiri Jason yang bersembunyi di balik lemari kaca.
"Jason ... kau di mana?" seruku pelan.
"Ini dia," ucapku saat menemukannya.
Jason tertawa girang dan berkata, "Ayo tembak aku cepat!"
"Dor!"
"Hahaha."
Kami tertawa bersama, seperti tak ada kesedihan di hatinya.
Jason pernah bercerita. Dia sangat menyukai permainan ini. Saat terakhir hidupnya pun dia masih memainkan permainan ini dengan ibunya.
Aku berjalan ke luar rumah. Duduk di sebuah kursi kayu di teras rumah sembari meneguk minuman dingin. Tak terasa sudah setahun aku tinggal di rumah ini. Dan aku sudah mulai akrab dengan mereka.
Tak hanya Lastri dan Jason, masih banyak lagi penghuni yang mendiami perumahan militer ini.
Bang Is, contohnya. Dia adalah pahlawan yang gugur dalam perang melawan tentara Jepang. Bang Is dan istrinya dulu tinggal di rumah yang aku tempati saat ini. Dia tentara yang tampan. Tubuh yang tegap dan berwibawa.
Setiap malam dia berkeliling komplek untuk berjaga. Mulia sekali hatinya. Walaupun sudah tak bernyawa, dia masih setia menjaga kami.
Bang Is bilang, salah satu alasannya masih berada di sini adalah istrinya yang sedang mengandung kini tak tahu ke mana perginya.
Saat Bang Is dinyatakan gugur dalam perang, istrinya diusir dari rumahnya dan hilang tanpa kabar. Sampai saat ini, Bang Is masih berharap suatu saat istrinya akan kembali ke rumah dan mencarinya.
"Janis ...."
"Janis, cintaku!"
Suara bisikan halus terdengar di telingaku.
"Janis, sayangku!"
Suara itu kini mencoba menggodaku.
"Ah, s**l! Kenapa kau datang di saat aku sedang ingin bersantai?" gerutuku kesal.
Wajah pucat dengan senyum yang menyeringai itu mendekat ke arahku.
"Ssttt ... anak gadis tidak boleh bicara kasar. Kau mau lidahmu dipotong?" ucapnya mencoba memperingatkanku.
"Ah, kau terlalu percaya mitos," jawabku menampik.
"Jangan seperti itu, Janis. Suatu hari nanti kau akan menikah, tidak baik kalau kau terus bicara kasar seperti itu. Calon suamimu tak akan menyukainya," ucapnya kembali menasehatiku.
Entah mengapa setiap kali dia berbicara tentang pemuda lain, aku merasa tersinggung. Aku merasa tak pernah memikirkan tentang pacar apalagi calon suami.
"Ngawur! Memang siapa yang ingin cepat-cepat menikah? Aku masih sekolah. Bisa-bisa aku dibunuh oleh kedua orangtuaku," celotehku.
Sosok pemuda itu hanya tersenyum, melihatku dengan lembut. Tatapan matanya seperti mengisyaratkan perasaan lega.
Ya, kami memang telah memiliki perasaan yang sama sejak pertama kali bertemu beberapa bulan lalu. Tak seperti pertemuanku dengan hantu lain, pertemuanku dengan sosok pemuda ini sangat diluar perkiraanku.
Walau pun aku tahu, dunia kami berbeda. Tapi, aku merasakan kenyamanan yang tak pernah aku dapatkan sebelumnya. Memang hubungan kami bukan untuk sesuatu yang nyata, tapi kami berjanji akan menikmatinya selagi kami merasa nyaman. Entahlah ... tapi, aku merasa beruntung telah bertemu dengannya.
"Janiiiiis ...," senyumnya merekah.
Kedua tangannya terbuka lebar. Pelukan yang tak nyata itu dia tujukan padaku saat ini. Aku pun tersenyum dan membalas pelukannya.
"Jangan lupa, kau punya janji padaku hari ini."
Pemuda itu sungguh pandai merayu.
"Apa?" tanyaku.
Jaka tiba-tiba telah berada di hadapanku, mengangkat dagu dengan kedua tangannya.
"Kau masih bertanya? Kau sudah janji akan ke rumah Ibuku hari ini. Apa kau lupa?"
Jaka cemberut. Matanya berkelip saat menatapku seperti sedang merajuk.
"Aku ingin istirahat. Lain kali saja aku ke rumah Ibumu."
Aku berjalan masuk ke dalam rumah diikuti Jaka dari belakang.
"Ayolah. Kau kan sudah janji. Aku takut keadaan Ibuku semakin memburuk," rengek Jaka.
"Aku benar-benar lelah. Nanti saja."
"Ayolah, Janis. Kumohon!"
"Janis."
"Halo, Janis."
"Aku bilang lain kali saja. Berisik sekali. Lagi pula Ibumu sudah sakit sejak lama. Walaupun aku sering mengunjunginya, tetap tak akan merubah apapun. Tak ada yang bisa aku lakukan."
"Setidaknya, kau harus melihat keadaaanya!" pinta Jaka lagi.
Tanpa berpaling aku terus melanjutkan langkahku. Ternyata Jaka sudah tak mengikutiku lagi.
Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Memejamkan mata sesaat.
"Akhirnya aku bisa beristirahat."
Tiba-tiba, rasa kantuk datang, mataku sudah terpejam saat angin berhembus dari jendala kamar yang terbuka, melewati telingaku dan seakan membisikkan sesuatu.
"Kau jahat sekali."
Bisikan itu pasti dari Jaka.
Ah, s**l! Kenapa aku tidak bisa beristirahat walau sehari pun. Aku bangkit, mengucek mata dan menggerutu pada sosok pemuda yang tengah menatapku dalam.
"Baiklah. Aku akan menemui Ibumu. Setelah itu jangan menggangguku lagi."
"Setuju! Janis memang yang terbaik!" seru Jaka girang.
Senyum manis itu terlihat bahagia. Aku tahu, Jaka dan aku sudah berbeda dunia. Tapi, entah mengapa rasanya jantungku berdegup kencang saat melihat Jaka tersenyum padaku. Aku sangat damai saat bersamanya. Mungkin karena itu, aku selalu ingin membantunya.
***
Jalan setapak yang licin akibat hujan deras tadi malam. Aku melewatinya sembari menggerutu. Bahkan orang lain pun akan menganggapku gila bila mereka melihatku berbicara sendiri saat ini. Tapi, Jaka terus saja mengoceh tiada henti.
Kami melewati sebuah perkebunan teh. Kurang dari lima kilo meter aku dan Jaka telah sampai di sebuah rumah panggung sederhana milik ibu Jaka.
"Ibu," teriak Jaka.
Jaka berlari menuju ibunya yang tengah menimba air seorang diri. Air matanya menetes. Rasa rindu telah membuatnya lupa bahwa untuk memegang tangan ibunya saja dia tak mampu.
"Apa Ibu baik-baik saja?"
Mbok Sum melewati Jaka dan buru-buru menghampiriku.
"Eh, ada Mba Janis. Kapan sampai, Mba?" tanya Mbok Sum, ibu Jaka.