"Baru saja, Mbok."
Sejak Jaka meninggal, Mbok Sum hanya tinggal seorang diri karena ayah Jaka telah lebih dulu meninggal karena penyakit yang sama dengan dirinya.
"Ini, Janis belikan obat untuk Mbok Sum. Tolong diterima, ya."
Aku memberikan sebuah kantong plastik berwarna putih. Isinya obat-obatan yang biasa Mbok Sum konsumsi. Semua itu resep yang diberitahukan Jaka padaku.
Jaka terlihat begitu sangat khawatir pada Mbok Sum yang sering sakit-sakitan. Sesekali dia terlihat menyeka air matanya, memandang ibunya dengan perasaan sedih karena tak bisa berada di sisinya.
Jaka merasa tak bisa tenang untuk meninggalkan Mbok Sum sendiri dan aku pun telah berjanji akan membantu mengurus keperluannya.
***
Malam hari adalah waktu yang sangat menyebalkan bagiku. Betapa tidak, mereka yang sedari tadi sudah mengawasiku kini mulai berani mendekat. Mulai dari memainkan rambut, melempar buku, hingga menunjukkan wujud mereka yang menyeramkan.
Untung saja ada Bang Is yang selalu melindungiku. Dengan membawa sebuah s*****a api laras panjang, Bang Is berhasil menakut-nakuti hantu perempuan yang menggangguku.
"Jangan hiraukan mereka. Mereka hanya ingin mengganggumu. Mereka memang sangat usil."
Bang Is mencoba menenangkanku. Dia kemudian kembali mengawasi komplek seperti biasanya.
"Kau baik-baik saja, Janis?" tanya Jaka yang sedari tadi bersembunyi di dalam lemari pakaianku.
"Kau dari mana saja?" tanyaku dengan ekspresi cemberut.
"Maafkan aku, Janis. Aku tak bisa melindungimu dari mereka. Mereka sangat membuatku takut," jawab Jaka polos.
"Hahaha!"
Dengan spontan aku tertawa.
"Mana mungkin hantu takut hantu," ledekku.
"Ishh ... kau ini. Seperti tak tahu saja secentil apa mereka padaku? Aku merasa geli," jawabnya sambil bergidik.
"Janis, besok aku ikut ke sekolahmu, ya," pinta Jaka.
"Untuk apa?" tanyaku sembari terus memainkan ponsel.
"Aku penasaran dengan keadaan temanmu yang bernama Suci, apakah hantu itu masih mengikutinya?"
Jaka terlihat sangat penasaran. Sembari berpikir dia terus mengayunkan kedua kakinya maju mundur.
"Percuma saja, dia tak akan percaya padaku."
Aku mencoba membuat Jaka mengurungkan niatnya, toh percuma saja dia ingin membantu Suci yang notabenenya tidak percaya pada hal ghaib. Apalagi hantu yang nyeleneh seperti Jaka.
"Baiklah. Tapi, aku akan menunggu Janis di gerbang sekolah. Tidak apa-apa, kan?" pintanya manja.
"Terserah," jawabku masih cuek.
***
Di pagi hari yang terasa masih sangat dingin, aku telah siap dengan seragam putih abu-abu. Tas ransel berwarna merah pun sudah aku kenakan di punggungku. Lumayan berat, karena hari ini aku membawa seragam olahraga yang akan aku kenakan di pelajaran kedua nanti.
"Ibu, aku berangkat," ucapku, seraya meneguk s**u hangat yang telah tersedia di meja.
"Sarapan dulu, Janis," pinta ibu.
Sebagai seorang guru di salah satu sekolah dasar, ibu juga terlihat sibuk membereskan barang bawaanya pada sebuah tas hitam miliknya.
"Tidak perlu, nanti sarapan di kantin sekolah saja."
"Baiklah. Maaf, ya, Ibu tidak bisa mengantarmu hari ini, karena ada rapat bersama ketua yayasan."
Kali ini ibu menatapku sembari tersenyum, dia terlihat merasa tak enak hati padaku.
"Tidak apa, Janis bisa naik bus ke sekolah," jawabku menenangkan.
Ibu hanya tersenyum, lalu mengecup keningku.
Saat berjalan di teras rumah, si kecil Jason ternyata telah mengikutiku dari belakang.
"Ada apa?" tanyaku.
"Apakah kita akan bermain lagi?" tanya Jason.
"Tentu saja. Saat aku pulang sekolah nanti, kita akan bermain lagi. Jadi, tunggulah aku. Jangan mengganggu orang lain lagi, kau mengerti?"
"Hmm ...," angguk Jason dengan imutnya.
***
Bel sekolah rupanya sudah berbunyi saat aku memasuki gerbang sekolah.
"Ah, untung saja," ucapku lega.
"Janis!" teriak Serra, teman sekelasku.
Aku menoleh, tersenyum hanya seperlunya.
Serra segera berlari dan menghampiriku. Dia merangkul bahu dan mencubit pipiku seenaknya. Aku hanya terdiam. Mencoba tak menarik perhatiannya.
"Kenapa diam saja? Ayo kita ke kantin!" ajaknya.
Aku berhenti, pandanganku masih menunduk ke tanah.
"Maaf, Ra. Aku sedang tak ingin pergi ke kantin," jawabku.
Padahal hari ini memang aku belum sempat sarapan di rumah dan berencana ke kantin sekolah untuk sarapan.
Serra segera mengerutkan keningnya, dia berdiri di depanku kali ini. Menatapku dan menarik daguku dengan paksa.
"Apa kau bilang? Kau murid baru sudah berani membantahku, ya?" gertak Serra.
Kini aku tak bisa menjawab.
"Cepat!" titahnya.
Serra merangkulku sekali lagi dan memaksaku berjalan bersamanya.
Aku masih berdiri mematung, kembali menunduk.
Serra yang telah berjalan selangkah di depanku kembali berhenti, melihatku yang masih tak bergerak dari tempatku berpijak.
"Benar-benar, ya, kau ini ...."
Tangannya mengepal, mulai diangkatnya ke atas kepalaku, seperti akan melayangkan sebuah pukulan ke arahku.
"Hei ... sedang apa kalian? Cepat masuk!"
Perintah salah seorang guru yang melihat kami masih berada di ambang gerbang sekolah.
Aku buru-buru berlari saat ada kesempatan.
"s**l!"
Terdengar u*****n Serra saat itu.
***
Bel pun berbunyi tanda pelajaran pertama telah usai. Aku bersiap untuk memulai pelajaran kedua dengan mengambil baju olahraga dan menuju ruang ganti.
Di sana sudah banyak siswa perempuan yang tengah berganti pakaian, termasuk Serra dan temannya, Intan.
Tiba-tiba saja Serra dan Intan menatapku dari kejauhan.
"Mau apa lagi dia?" batinku berbisik.
Serra menatap sinis padaku, tangannya mengayun mengisyaratkan panggilan terhadapku.
Dengan gugup, aku terpaksa mendekat padanya. Mungkin kali ini aku tak akan selamat dari amukannya.
"Jangan senang dulu. Lain kali, kau tidak akan bisa selamat," bisik Serra.
Aku tahu, dia tidak berani macam-macam karena ini masih di lingkungan sekolah. Tapi, entah apa yang akan dia perbuat bila bertemu denganku di luar sekolah.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Miya, setelah Serra dan Intan Pergi.
"Ya."
Aku berlalu pergi dan tak menghiraukan Miya, gadis manis dengan rambut sebahu.
Miya adalah teman sebangkuku. Dia gadis yang baik, tak jarang Miya sering menanyakan keadaanku setelah Serra dan Intan menggangguku.
Sejak awal kepindahanku ke sini, aku memang bertekad tidak terlalu akrab dengan teman sekelasku. Aku hanya ingin menyelesaikan sekolah secepatnya dan pergi dengan tenang dari sini.
Pukul sebelas siang, matahari tengah berada di atas kepalaku. Kali ini aku tangah berlari mengelilingi lapangan bersama beberapa teman sekelasku.
Pluk!
Sebuah bola basket jatuh tepat di depanku. Bola itu berasal dari sekumpulan siswa laki-laki yang tengah bermain basket di ujung lapangan.
"Apa kau bisa melemparnya kemari?" tanya seorang pemuda dari jauh.
Sinar matahari yang terik membuatku tak bisa dengan jelas melihat wajahnya. Aku pun berpaling dan meneruskan langkahku untuk berlari tanpa memedulikannya.
"Enak saja menyuruhku. Apa dia tidak memiliki tangan untuk mengambilnya sendiri?" gerutuku dalam hati.
Dari jauh, aku melihat pemuda itu hanya tersenyum, lalu mengambil bola itu segera.