Pukul dua siang, pelajaran pun telah usai. Aku segera keluar dari kelas untuk menemui Jaka. Pasti dia telah menungguku di gerbang sekolah.
Berbahaya jika dia melihat makhluk lain yang mengganggu di sekolah ini. Pasti dia selalu ingin ikut campur pada masalah orang lain.
Tiba-tiba saja, aku dikejutkan dengan seseorang yang menarik tanganku dan menyeretku pergi dari ruang kelas. Dia adalah Serra dan Intan.
"Apa yang kalian lakukan?"
Aku mencoba melepaskan genggaman Serra yang terasa sangat kasar. Namun, tenagaku rupanya tak cukup kuat untuk melawan Serra dan Intan.
"Ikuti saja kami. Jangan banyak tanya!" bentak Serra.
Rupanya Serra dan Intan membawaku ke gedung olahraga yang terlihat kosong. Gedung itu berada di barisan gedung sekolah paling belakang, jadi sangat jarang dilewati oleh murid kecuali ada pertandingan olahraga yang mengharuskan memakai gedung tersebut.
Serra dan Intan sepertinya sengaja membawaku kemari.
"Apa yang ...."
Plak!
Suara tamparan dari Serra mendarat di pipi kiriku. Perih ... itu yang saat ini aku rasakan.
Tak terasa bibirku mengeluarkan darah. Rasa perih berubah menjadi ngilu. Rasanya bibirku telah mati rasa.
"Apa salahku?"
Serra dengan mata yang melotot kembali mendekat ke arahku, menarik kerah bajuku.
"Ini pelajaran untukmu. Akan lebih parah jika kau masih tak menuruti perintahku!" ancam Serra.
Tak! Tak! Tak!
Suara pantulan bola basket mengarah pada kami. Serra segera menoleh, rupanya bola itu berasal dari pemuda yang kutemui tadi siang.
"Kak Aiden ... " ucap Serra kaget.
Serra segera melepaskan genggamannya dariku, mungkin dia takut ketahuan telah membullyku.
"S-sedang apa Kakak di sini?"
Kak Aiden hanya tersenyum. Kak Aiden adalah kakak kelasku. Dia pemuda yang lumayan terkenal di sekolah karena kepiawaiannya dalam bermain basket juga berkat wajahnya yang tampan.
"Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kalian di sini?"
"Aku ... aku, Intan dan Janis hanya sedang membicarakan sesuatu. Betulkan, Tan?"
"B-betul," jawab Intan meyakinkan.
"Oh, jadi namamu Janis?" tanya Kak Aiden sembari tersenyum.
"Apa kau baik-baik saja, Janis?"
Serra semakin gugup, dia sepertinya takut Kak Aiden melihat apa yang dia lakukan padaku.
"Apa yang Kakak katakan, aku tak melakukan apapun padanya."
Pembelaan terus terucap dari mulut Serra, dengan tangan yang masih mengepal dan juga gemetaran.
Bagitu pula Intan, dia yang sedari tadi hanya diam kini mulai membela diri.
"Benar, Kak. Aku dan Serra tak melakukan apa-apa pada Janis."
"Kau pikir aku tidak melihat tanganmu yang tengah meremas kerah baju Janis?"
"Kau kasar sekali. Tunggu saja sampai Ibu dan Ayah tahu," ancam Kak Aiden.
Ibu? Ayah? Apa maksudnya?
"Apa? Aku benar-benar tak melakukan apa-apa," bentak Serra masih menyangkal ucapan Kak Aiden.
Kak Aiden lagi-lagi hanya tersenyum, kini dia terlihat puas telah menakut-nakuti Serra.
"Baiklah. Aku mengaku, tapi aku benar-benar tak sengaja. Tolong jangan bilang pada Ayah atau pun Ibu," pinta Serra memelas.
"Apa? Kau bilang tak sengaja?"
Pemuda itu mendekat, lalu mengambil bola itu dan melemparnya ke arah Serra. Tapi, lemparan bola itu meleset.
Wajah Serra berubah pucat. Dia sepertinya sangat terkejut dengan perbuatan Kak Aiden padanya.
"Ups! Maaf, kali ini aku juga tak sengaja."
Dengan senyum puas, Kak Aiden meninggalkan Serra dengan wajah yang masih ketakutan.
Kak Aiden pun menggandeng tanganku dan membawaku keluar dari gedung sekolah. Menjauh dari Serra dan Intan.
Aku hanya bisa menurut, hanya ini yang dapat menyelamatkanku saat ini.
"Kakak bisa melepaskannya sekarang," pintaku setelah beberapa saat.
"Aku tak mau," jawab Kak Aiden enteng.
"Tolong lepaskan." Aku semakin memaksa.
"Beginikah perlakuanmu pada orang yang telah menyelamatkanmu?" ucap Kak Aiden.
"Baiklah. Kali ini kau boleh pergi. Tapi, lain kali kau harus memberiku imbalan atas bantuanku hari ini."
"Apa? Imbalan? Memang siapa yang menyuruh Kakak membantuku?"
"Aku tak menerima alasan apapun. Sampai bertemu lagi, Janis."
"Dah ...!"
Pemuda itu lantas pergi tanpa mendengar jawaban dariku. Sungguh pemuda yang aneh.
Sudahlah. Yang penting saat ini aku sudah selamat dari Serra dan Intan. Tapi, sepertinya ada yang aku lewatkan. Perasaanku belum sepenuhnya lega.
Benar, aku telah melupakan sesuatu. Jaka pasti tengah menungguku sangat lama.
Aku segera berlari ke luar dari gedung sekolah. Rupanya sekolah benar-benar telah sepi. Hanya ada beberapa orang siswa yang masih berada di lingkungan sekolah.
Aku mencari-cari di mana keberadaan Jaka. Di tempat biasa pun dia tak ada. Lalu di mana pemuda itu?
Aku berlari menuju kantin sekolah. Karena Jaka pernah bercerita padaku, dia rindu sekali makan di kantin sekolah lagi.
Sesampainya di kantin yang sudah sepi, aku mulai menelusuri tempat yang mungkin Jaka kunjungi.
Dan ternyata benar dugaanku, Jaka tengah duduk di kursi barisan kedua. Dia tellihat melamun, memangku dagunya dengan kedua tangannya sambil membelakangiku.
"Sedang apa kau di sini? Aku mencarimu ke mana-mana," ucapku dengan nafas yang terengah.
Saat pemuda itu menoleh, wajahnya berubah sangat buruk, darah mengalir dari mana-mana. Seketika aku terkejut dan berteriak.
"Siapa kau?" teriakku histeris.
"Janis!" teriak Jaka dari belakangku.
Ya. Itu pasti suara Jaka. Sosok yang menyerupai Jaka pun menghilang seketika.
"Janis, ada apa? Kenapa kau berteriak?" tanya Jaka khawatir.
Aku yang masih gemetaran tak bisa berkata. Sosok itu rupanya telah benar-benar menghilang.
Saat di rumah, aku langsung menceritakan apa yang kulihat pada Jaka. Jaka hanya terkekeh.
"Haha ... tenang saja. Aku yakin dia bukan hantu yang jahat," ucapnya yakin.
"Tapi dia mirip sekali denganmu dari belakang," tegasku.
"Mungkin dia pernah melihatmu sedang bersamaku. Sudah kukatakan, Janis. Ada sebagian dari kami yang bisa berubah wujud menjadi apapun."
"Tapi aku yakin. Dia pasti hanya ingin menakut-nakutimu saja. Kau tidak perlu takut, ada aku," ucap Jaka sombong.
Jujur, aku sangat trauma bila ada hantu yang mengikutiku kecuali Jaka. Mereka pasti menginginkan sesuatu dariku seperti halnya sepasang hantu suami istri yang menggangguku beberapa tahun lalu.
"Kemarilah, aku akan mengobati lukamu," ucap Jaka menawarkan diri.
"Yang benar saja."
Aku meringis kesakitan saat sebuah kapas yang telah di bubuhi obat kutempelkan di sisi bibirku yang terluka.
"Bicara apa, kau?" pungkasku.
"Ya, seandainya saja bisa. Aku pasti sudah menghajar anak-anak yang berani melukaimu." Jaka terlihat berapi-api, wajah pucatnya terlihat lucu bila sedang memendam kemarahan.
"Sudahlah. Kau tidak cocok menjadi pemeran antagonis," ledekku.
Kami pun tertawa bersama. Walaupun aku tahu, Jaka pasti sangat sedih karena hanya bisa melihat dan berharap bisa menyentuh dan mengobati lukaku.
"Janis. Seandainya kau tahu, aku begitu sangat ingin menyentuhmu. Seperti halnya hujan yang selalu menyentuh bumi dalam setiap bulirnya."