Beberapa hari setelahnya. Seperti biasa aku pamit pada Jason yang selalu menungguku setiap pulang sekolah untuk bermain.
Di sana juga ada Lastri yang sudah bergelantungan di pohon manggis depan rumah. Ya, pohon besar itu sudah menjadi rumah untuk Lastri berpuluh-puluh tahun yang lalu.
"Mba, Janis. Ini makan siangnya ketinggalan!" panggil Mbok Karsih.
"Oh, iya. Terima kasih, ya, Mbok."
Aku segera mengambil bekal itu dan berlari menuju mobil yang dikendarai ibuku.
Beberapa hari ini aku mulai membawa bekal makan siang ke sekolah. Kejadian tempo hari membuatku jadi lebih waspada akan kehadiran mereka.
Sesampainya di sekolah, aku keluar dari mobil setelah berpamitan dengan ibuku yang juga akan berangkat mengajar.
"Hati-hati, ya. Kalau ada apa-apa, segera telepon Ibu," perintahnya.
Aku hanya mengangguk. Itu adalah kata-kata yang selalu terucap dari mulut ibuku selama tujuh belas tahun. Ibu selalu terlihat khawatir sejak mengetahui bahwa aku memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh anak lain seusiaku.
Di rumah pun, ibu sudah tak heran bila melihatku terlihat berbicara sendiri. Entah itu dengan Jason atau Lastri.
Saat memasuki halaman sekolah, tiba-tiba saja Aiden menghampiriku.
"Apa itu Ibumu? Dia cantik sepertimu," cetus Aiden.
Aku mempercepat langkahku sembari terus melihat ke depan. Pemuda ini memang menyusahkan. Aku tak suka bila ada orang yang terlalu akrab denganku. Aku memilih menyendiri, apalagi kalau mereka tahu tentang kemampuanku.
Aiden menghentikan langkahnya dan berteriak di depan banyak orang.
"Hei, Janis. Aku tunggu di depan gerbang sekolah setelah pelajaran selesai!"
Aku terdiam sejenak, lalu melangkah lagi tanpa menjawab ocehan pemuda itu.
"Benar-benar merepotkan!" batinku.
***
Byurr!
Air kotor itu dengan sengaja disiram ke tubuhku oleh Serra dan Intan.
"Kau pantas mendapatkannya!"
Suara tertawa Serra dan Intan terdengar cukup nyaring di dalam toilet.
Sial! Ingin rasanya aku membalas perlakuan mereka padaku saat ini. Tapi, kembali pada tujuan awalku. Aku hanya ingin lulus dengan tenang dari sekolah ini.
Saat aku memasuki kelas, semua siswa mulai melihatku yang basah kuyup. Air kotor itu terus mengucur dari rambutku. Ada yang terlihat iba, dan ada juga yang terlihat acuh. Bahkan yang mengejek pun banyak.
"Sabar, Janis. Hanya tinggal setahun lagi sebelum kepindahanmu dari sini," ucapku dalam hati.
Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa tidak akan ada yang terjadi selama aku bisa menahan diri. Hanya tinggal satu tahun lagi aku di sini, menghadapi anak-anak yang menyebalkan itu.
"Kau tidak berniat melawan mereka?" bisikkan dari arah samping itu membuatku merinding.
"Kalau kau mau, aku bisa membantumu."
Aku mencoba tetap tenang, gadis di sampingku ini adalah siswa abadi yang sering aku lihat mengikuti salah satu temanku bernama Suci.
Kuraih ranselku dan pergi meninggalkan kelas. Kulihat Suci anak yang pendiam itu pun kembali murung saat hantu siswa abadi itu menghampirinya lagi.
Sungguh kasihan, dia pasti ketakutan. Tapi, aku juga tak mungkin memberitahunya kalau kita mempunyai masalah yang sama.
Aku berjalan menelusuri lorong sekolah yang sepi di pelajaran ketiga. Aku berniat akan pulang saja ke rumah yang nyaman, bermain dengan Jason, bercanda dengan Jaka dan menyisir rambut Lastri yang menyenangkan walaupun agak kusut. Yah, walaupun itu benar-benar tak nyata, tapi aku lebih senang kalau dibandingkan dengan pergi ke sekolah yang menyebalkan ini.
Tiba-tiba sebuah tangan yang berotot merangkulku, membuat aku terperanjat dan segera menghindar.
"Eh ... Kak Aiden? " ucapku heran.
Pemuda itu lantas tersenyum saat aku menyebut namanya.
"Kupikir kau tak tahu namaku. Rupanya selain tampan, aku juga terkenal, ya."
Aku mendelik, tak kuat rasanya melihat pemuda yang angkuh dan sombong sepertinya. Tanpa basa-basi aku segera melanjutkan langkahku, meningggalkan Aiden.
"Kau mau ke mana? Bukankah pelajaran belum selesai?"
"Bukan urusan Kakak," jawabku cuek.
"Kenapa kau basah kuyup?"
"Apa Serra dan temannya yang melakukannya padamu?"
"Kalau iya, bicaralah padaku. Aku akan memberikan pelajaran pada mereka," bujuk Aiden.
Aku masih dengan sikap cuek meninggalkannya tanpa menoleh.
***
Blarr!
Angin beserta kilatan petir menyambar di sepanjang komplek perumahan ini. Hujan yang sangat lebat ini turun sepanjang malam.
Aku dan Jaka yang tengah asyik menonton TV telah dikejutkan dengan padamnya listrik malam ini.
"Janis, kau di mana?" ucap Jaka.
"Aku di sini."
Dari suaranya, Jaka terdengar sudah mulai gelisah.
"Di mana?" ucapnya lagi.
"Di sini."
Aku menyalakan lilin yang baru saja aku ambil dari dapur. Suasana malam yang terasa mencekam ditambah gelap gulita dan suara petir yang menyambar membuat Jaka terlihat sangat ketakutan.
"Hei, mana ada hantu takut gelap!" ejekku.
Cahaya yang dipantulkan lilin pun menyinari wajah Jaka yang terlihat semakin pucat. Matanya berkeliling, mengawasi sekitarnya.
"Kau mencari apa?"
"Marina," ucap Jaka gemetar.
Marina adalah sosok hantu kuntilanak merah yang menghuni salah satu rumah kosong di seberang jalan. Sosok Marina ini lumayan sangat ditakuti oleh penghuni komplek lainnya, seperti halnya Jaka.
Selain wajahnya yang menyeramkan, dia memiliki aura negatif yang sangat kuat. Konon katanya dia membawa kutukan untuk orang yang dapat melihatnya. Dia akan terus menempel pada orang itu sampai orang tersebut mati dan ikut bersamanya.
Begitulah kisah yang diceritakan Bang Is pada kami.
Berbeda dengan Lastri, dia sosok hantu kuntilanak yang tak memiliki dendam. Walaupun aku sendiri tak tahu kisahnya selama dia hidup atau pun alasan mengapa dia meninggal saat masih muda.
Aku pun tak mau bertanya padanya, aku ingin dia lebih terbuka dan menceritakan semuanya padaku tanpa ada paksaan dariku.
"Kau tidak malu pada Jason dan Lastri?" tanyaku sembari melirik mereka berdua.
Jason nampak asyik duduk di pangkuan Lastri. Entah apa yang dibisikkan Lastri, Jason sesekali tertawa gembira.
Jaka mendengus, dia terlihat menahan kegelisahannya di hadapanku.
"Mba, Janis. si Mbok masuk duluan ya. Di sini auranya sungguh tak enak," bisik Mbok Karsih.
"Iya, Mbok masuk saja, temani Ibu di kamar," jawabku.
Memang Mbok karsih itu orang yang sedikit peka. Karena itu dia jadi sering merasakan kehadiran mereka.
Walaupun Mbok Karsih orang yang sangat penakut, tapi beliau tidak pernah mengeluh selama tinggal di rumah ini meskipun sering melihat kejadian aneh akibat ulah Jason atau Lastri. Ataupun melihatku yang sering berbicara sendiri, itu sudah menjadi hal yang biasa Mbok Karsih lihat di rumah ini.
Aku kembali melanjutkan perbincangan dengan Jaka. Tiba-tiba saja ponselku berdering beberapa kali.
Drrttt! Drrttt!
Beberapa pesan dan notifikasi dari media sosialku muncul bersamaan. Kulihat sesorang yang tak kukenal telah menyukai beberapa foto yang aku unggah beberapa tahun lalu.
Aku pun segera membuka pesan yang dia kirimkan padaku.
[Kau memang sudah cantik dari dulu. Aku suka padamu!]
[Balas pesanku bila kau senggang]
"Apa ini? Siapa orang ini?"
Aku mengerutkan kening, melihat lebih teliti foto yang dipasang di profilnya.
"Kak Aiden ...!" ucapku tak percaya.
***
Seperti biasa, sekolah adalah tempat yang paling menyebalkan bagiku saat ini. Bukan hanya gangguan dari Serra dan Intan, tetapi gangguan dari mereka yang merasakan aku memiliki kemampuan melihat mereka pun terus mengikutiku dari gerbang menuju gedung sekolah.
Kebanyakan dari mereka tak berani masuk ke dalam gedung. Mungkin penghuni gedung lebih menyeramkan sehingga makhluk yang berada di jalanan tak berani mengusik mereka.
Pagi ini sekolahku sudah digegerkan dengan keberadaan seorang siswa perempuan yang nekat naik ke atap gedung. Dia adalah Suci. Sepertinya Suci telah dikuasai oleh hantu siswa abadi itu.
Tatapannya tak biasa, dia terus tertawa dengan suara khasnya.
Teriakkan dari para siswa pun mulai terdengar. Mereka berteriak histeris saat menyuruhnya untuk turun. Para guru pun berlari lintang pukang, ada yang sibuk menelepon polisi, ada pula yang sibuk membaca mantra dengan menyemburkan air, dan ada juga yang terlihat menangis sembari berteriak menggunakan pengeras suara.
Beberapa murid laki-laki pun tak tinggal diam, mereka segera mengambil barang yang bisa menahan Suci bila terjatuh dari gedung empat lantai itu.
Para murid dari kelas lain pun ikut berkumpul di depan gedung untuk menyaksikan kejadian menegangkan ini.
Dengan menggunakan ponsel, mereka terus memotret dan merekam. Sungguh manusia yang tak memiliki hati.
Tapi apa bedanya denganku yang hanya melihat sekilas dan pergi begitu saja. Aku hanya tak ingin terlibat lebih jauh lagi. Jika aku menghentikan perbuatan Suci, hantu itu akan menyadari kemampuanku dan akan mulai menempel padaku. Entah apa yang akan dia lakukan saat mengetahui aku bisa melihatnya.
Aku mencoba berhati-hati kali ini. Aku tak mau masuk ke dalam situasi yang sama seperti kejadian empat tahun lalu.
Tunggu! Apa aku salah lihat? Kenapa ada Jaka di atas sana?
Aku kembali menoleh, mendongak ke atas gedung. Jaka tengah berbicara dengan Suci yang tengah kerasukan hantu siswa abadi itu.
"Astaga! Apa yang telah dia lakukan?"