Malam sudah membungkus kota radja dengan lekat. Naina masih terbalut dengan mukena sehabis mengerjakan salat magrib. Pelupuk matanya terasa berat karena menahan desakan air mata yang hampir tumpah. Sebuah pesan yang cukup membuat hatinya remuk dan khawatir.
Jika kamu tidak mau menikah dengan Jack aku akan menjual adik-adikmu!
Entah sudah berapa kali ayahnya mengancam untuk menikah dengan Jack bos mafia itu. Lelaki bertubuh bonsor dan beristri dua itu, terus menambah bunga utang ayahnya sehingga membengkak ratusan juta. Alih-alih untuk bisa menikahinya, tapi Naina berhasil menolaknya dengan cara selalu mengicil utang ayahnya.
Belum lagi semenjak kedua adiknya tumbuh belia. Tak jarang ayahnya mengancam akan menjual kedua adiknya yang jelita itu. Entah kemana rasa belas kasih seorang ayah yang dititipkan Tuhan pada naluri ayah-ayah di dunia ini?
Naina sangat tertekan dengan keadaan yang menjepitnya sana-sini. Utang, pernikahan paksa, rasanya terdengar bagai cerita-cerita fiktif belaka. Hanya ada dalam novel-novel dan sinetron. Tapi, itu semua nyata dirasakan oleh Naina Salsabila. Hidupnya rasa fiksi tapi nyata.
Apakah aku harus menikah dengan lelaki beristri untuk menghentikan kekejaman ayah? Ah, tapi sepertinya itu bukan jalan keluar yang tepat. Entah-entah nanti aku semakin terjepit tidak bisa membantu ibu dan adikku lagi?
Terngiang ucapan Lian tadi sore. Kalau dia akan membayar utang-utang ayahnya dan memberikan penghidupan yang layak untuk keluarganya. Barang kali inilah salah satu jalan yang dapat ditempuh Naina untuk membawa jauh kedua adik dan ibunya dari jeratan sang ayah yang kejam. Naina membolak-baliK hapenya, sepuluh menit lagi menuju tiga jam dari waktu yang diberikan Lian.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Naina bergegas membuka pintu kontrakannya yang sederhana. Matanya membola di balik pintu sudah berdiri Lian dan Randi menatapnya dengan tatapan dingin.
“Bagaimana Naina? Tiga menit menuju waktu yang saya berikan tadi. Apa kamu sudah menyiapkan jawaban yang tepat?” Lian langsung membuka suara tanpa menunggu Naina bernapas setelah membuka pintu.
Nana terdiam, sejenak dia berpikir.
Dari pada harus menikah dengan si Jack yang sudah punya dua istri. Lebih baik menikah dengan Lian, setidaknya dia masih lajang.
“Halo?” panggil Lian yang melihat Naina melamun tercegak di depan mereka.
“I-iya, Bos,” sahut Naina terbata-bata.
“Apanya yang ya?” tanya Lian lagi.
“Saya bersedia menikah dengan Bos,” sahut Naina dengan ragu-ragu.
Lian dan Randi melebarkan matanya saat mendengar penuturan Naina.
“Kamu jangan bermain-main dengan saya. Apa kamu serius ingin menikah dengan saya?” tanya Lian lagi karena melihat Naina seperti tidak serius.
“Benar Bos. Saya bersedia menikah dengan Bos. Tapi …” ucapan Naina terhenti.
“Tapi, apanya?” tanya Lian.
“Bisakah Bos memberikan uang malam ini terus?” pinta Naina. Dia sudah menyingkirkan rasa malu. Yang dia pikirkan saat itu adalah keselamatan adik-adiknya.
“Oh tentu. Berapa kamu butuhnya?” tanya Lian.
“Tiga ratus juta,” jawab Lian sdengan cepat.
“Baik, Randi akan mengurus semuanya,” sahut Lian. “Sekarang juga kamu siap-siap harus ikut kami ke hotel tempat digelar pesta untuk besok,” tambah Lian.
Naina mengangguk, lalu masuk ke dalam untuk mengemaskan beberapa kebutuhannya. Tangannya bergetar. Dia tergesa-gesa mengambil pakaian, satu sisi dia ingin segera mengirim uang untuk ayahnya. Di sisi lain, dia takut entah apa yang akan terjadi setelah menikah nanti.
Di dalam mobil yang sedang berjalan, Naina duduk membeku di samping Lian. Dia terpekur, terhadap nasibnya yang harus rela menikah hanya demi uang. Kasarnya dia sudah menjual dirinya secara tidak langsung untuk membayar uang.
Kemarin-kamarin aku menbaca cerita pernikahan tiba-tiba karena tekanan ekonomi di platform online. Besok aku akan merasakannya. Sungguh, hidup ini penuh kejutan yang jungkir balik.
Tiba-tiba pelupuk matanya menjadi panas. Dia akan menikah besok, tanpa sepengetahuan ibunya. Siapa yang akan menjadi wali nikahnya? Naina sama sekali tidak ingin mengabari ayahnya kalau dia akan menikah besok.
Lian memperhatikan Naina yang terpekur di sepanjang jalan. Dia bisa melihat tangan Naina bergetar. Entah apa yang sedang ditanggung perempuan yang masih berstatus mahasiswa itu. Tapi, Lian tidak mau memikirkan tentang itu. Yang penting, Naina harus siap untuk menerima segala keinginannya.
Sampai ke hotel, seorang pelayan wanita langsung mengarahkan Naina ke sebuah kamar yang tertata rapi dan mewah. Perempuan tersebut menunjukkan gaun yang akan dipakai besok. Naina akan memakai dua pakaian. Waktu akad nikah, Naina akan memakai gaun putih. Sedangkan saat pesta Naina akan mengenakan pakaian adat Aceh. Semuanya sudah tersedia sesuai dengan ukurannya di kamar itu. Belum lagi sejumlah pakaian untuknya sudah ada di lemari.
Kapan laki-laki itu mempersiapkan semua ini? Pikir Naina.
Tiba-tiba pintu tebuka, Lian dan Randi muncul di sana. Mereka mendekati Naina. Pelayan perempuan tersebut diperintahkan Randi untuk meninggalkan mereka.
“Ini adalah bukti transfer sejumlah uang yang telah kamu minta,” ujar Lian dengan tatapan dingin.
“Dan kamu ingat aku sudah melunaskan utang ayahmu. Sekarang giliran kamu mengikuti semua permintaanku,” tambah Lian lagi.
Naina mengangguk, sambil mengambil struk pengiriman uang sebesar tiga ratus juta untuk ayahnya.
“Kamu hanya perlu mempersiapkan diri untuk mengikuti segala macam prosesi pernikahan besok. Dan aku meminta kamu menghadirkan wali atau yang bisa memberikan wakilah untuk menikahimu besok?” pinta Lian.
Naina terdiam. Dia tidak tahu harus mengabari siapa. Dan dia sama sekali tidak ingin menunjukkan ayahnya sebagai wali nikah.
“Ayahmu?” tanya Lian.
“Dia bukan ayahku,” sahut Naina gusar.
“Lalu ayahmu yang mana?” tanya Lian.
“Dia sama sekali tidak pantas menjadi wali nikahku,” ujar Naina dengan suara berat. “Aku ingin wali hakim yang menikahiku,” tambah Naina.
Lian menautkan alisnya. Dia bingung dengan sikap Naina. Perempuan dua puluh satu tahun ini mau mengirimkan uang dalam jumlah yang banyak untuk melunaskan utang ayahnya. Lantas untuk menjadi wali nikahnya dia tidak ingin mengabari ayahnya?
“Apa kamu tidak mengabari keluargamu?” tanya Lian.
Naina menggelengkan kepala.
“Aku bisa meminta bawahanku untuk menjemput orang tuamu. Kalau kamu mau mereka menghadirnya,” tawar Lian lagi.
“Ti-tidak perlu. Kampungku jauh, tidak akan terkejar untuk sampai ke sini besok pagi,” kilah Naina.
“Oh. Oke kalau begitu. Tapi setidaknya ada kerabatmu besok yang hadir,” tambah Lian lagi.
“Ya aku akan mengabari teman-teman dan kerabatku yang ada di sini,” sahut Naina.
“Jadi, jika ada yang bertanya atau mewawancaraimu. Dimana kita kenal? Sejak kapan? Katakan saja, kita sudah lama kenal, karena kamu karyawanku. Katakan saja begitu,” jelas Lian.
Naina mengangguk.
“Dan ingat, jangan coba-coba untuk kabur,” tegas Lian sambil menghunus tatapan dingin. Lalu meninggalkan Naina sendirian di kamarnya.
Naina segera mengambil ponselnya, mengirim sebuah pesan.
Tolong jangan apa-apakan adik-adikku. Uang tiga ratus juta sudah kutransfer. Segera lunaskan utang-utang, Ayah.
Ingin sekali Naina menulis pesan dalam bentuk ancaman atau dengan bahasa yang kasar. Tapi dia masih menganggap kalau itu adalah ayahnya bagaimanapun buruknya sikap dan perlakuannya.
***
Di dalam rumah petak semi permanen. Seorang lelaki berkepala lima menunjukkan hape pada istrinya.
“Lihat ini, anakmu sudah menjual diri. Kalau tidak, dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu?” ucapnya dengan raut sinis.
Fatimah merampas hape di tangan suaminya dengan kasar. Matanya berkaca-kaca. Dia takut sesuatu yang berburuk telah terjadi pada putri sulungnya. Tapi, Herman menyembunyikan ke belakang. Membuat Fatimah semakin kesal.
“Anakku tidak akan melakukan hal-hal keji seperti itu,” sahutnya. Meskipun dia ragu, dari mana anaknya mendapatkan uang sebanyak tiga ratus juta.
“Lalu dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu kalau bukan dari menjual diri?” bentak Herman.
“Kamu seharusnya berterima kasih. Anakku sudah bersusah payah melunaskan utangmu itu!” teriak Fatimah dengan wajah memerah.
“Bersyukur kamu bilang? Aku menginginkan dia menikah dengan si Jack agar kita bisa mendapatkan uang lebih banyak lagi. Tapi, dia malah memilih menjadi p*****r di kota sana,” Herman langsung pergi meninggalkan istrinya yang masih mengulum amarah.
Fatimah menatap sendu lelaki yang berjalan menyusuri gelap dengan kaki. Betapa terlunta-lunta hidup mereka gara-gara ulahnya. Andai dulu, dia tidak meninggalkan Yusuf ayahnya Naina. Mungkin hidupnya dan Naina tidak semelarat sekarang. Tiba-tiba dia bernostalgia dengan masa lalunya yang kaya raya dan bahagia. Tapi, kini semua hartanya telah lenyap di meja judi oleh Herman, suaminya. Andai Naina tahu kalau itu bukan ayahnya mungkin Naina tidak akan mau mengorbankan apapun untuk mereka. Belum lagi kalau Naina tahu, jika dulu dia meninggalkan ayah kandungnya demi Herman laki-laki j*****m itu. Fatimah terisak di muka pintu dengan penuh penyesalan. Dia mengkhawatirkan Naina putrinya.
Andai aku punya hape, ingin sekali mendengar suara Naina yang jauh di luar kota sana!