Sayup-sayup azan subuh sudah terdengar, Naina beranjak ke kamar mandi. Tapi, saat menoleh ke arah pintu, seorang perempuan berdiri di sana dengan tatapan menakutkan.
“Maaf anda siapa?” tanya Naina.
Perempuan itu mendekati Naina langsung menamparnya dengan kuat.
“Dasar perempuan murahan! Dibayar berapa kamu sehingga mau dinikahi mendadak oleh Lian?” bentak perempuan itu sambil mencengkram pipi Naina.
“Sa-saya ti-tidak ...”
Ucapan Naina terpotong karena dia mendorong tubuhnya ke lantai.
“Sekarang pergi, aku akan membayar kamu berapapun!” perintah perempuan itu.
Naina menggelengkan kepala. Dia berharap seseorang segera datang menolongnya.
“Katakan jumlahnya berapapun, aku akan membayarnya?”
“Tolongggggggggg!” teriak Naina dengan suara melengking.
Randi yang baru sampai ke depan pintu langsung mendorong pintu. Tapi, Randi tidak melihat siapa-siapa lagi selain Naina yang terduduk di lantai dengan wajah ketakutan.
“Apa yang terjadi?” tanya Randi.
“Ada orang ja-jahat .....” Naina memeluk lutut ketakutan.
Secepat kilat Randi menelepon bosnya. Dalam hitungan detik Lian sudah tiba di kamar Naina. Lian shock melihat Naina ketakutan.
“Siapa yang mengganggumu?” tanya Lian.
“Se-seorang pe-perempuan menyuruhku pergi dari sini,” ucap Naina terbata-bata.
“Seorang perempuan?” Lian dan Randi saling bertatapan. “Bagaimana ciri-cirinya?” tanya Lian lagi.
“Dia ibu-ibu bertubuh tinggi dan putih. Dia memakai jaket yang menutupi kepalanya,” jelas Naina masih dengan raut ketakutan.
“Segera lacak CCTV hotel ini!” perintah Lian.
“Baik, Bos.” Randi segera pergi.
“Tenang ya! Jangan takut lagi, aku akan menyuruh pelayan ke sini menemanimu,” ujar Lian seraya bangkit karena dia tidak nyaman lagi tinggal berdua dengan Naina.
***
Setelah salat subuh Naina mulai didandan sedemikian rupa. Wajahnya langsung dimake up oleh penata rias ternama. Sang perias berkali-kali memuji kulit dan wajah Naina yang masih sangat alami. Meskipun tidak terlalu bening, Naina memiliki kulit yang sehat. Bagaimanapun para perias itu menghiburnya, Naina masih terbayang-bayang wajah perempuan yang mengancamnya tadi.
Jam delapan pagi Naina dituntun ke masjid raya untuk melangsung pernikahan. Saat keluar dari mobil Naina terkejut melihat begitu banyak wartawan di sana yang hadir. Mereka sibuk memotretnya saat turun dari mobil. Beberapa bodyguard menahan karena wartawan yang ingin mewawancarainya. Para wartawan berebut siapa duluan yang akan memuat berita tentang pernikahan direktur muda Adi Cipta Group.
Suasana di masjid raya begitu ramai. Beberapa kelompok duduk sesuai formasi. Kelompok di sebelah kanan yang cukup ramai mereka mengenakan pakaian yang senada. Di depan mereka tertulis rombongan Linto Baro . Sedangkan di sebelah kiri ada beberapa orang mengenakan pakaian serba putih, di depan mereka tertulis rombongan Dara Baro .
Naina terkejut melihat ibunya duduk di sana dengan pakaian serba putih, demikian juga dengan kedua adiknya. Perempuan itu langsung berdiri dan menghampiri Naina dengan penuh haru. Tanpa sepengetahuannya, Lian menyuruh beberapa orang menjemput ibu dan adiknya di kampung. Dengan bermodal alamat KTP Naina yang dipegang oleh Lian.
Fatimah takjub melihat putrinya yang begitu cantik bagaikan tuan putri. Dia segera duduk di samping anaknya. Berkali-kali dia berbisik karena sangat terharu. Tapi, sesuatu membuatnya berdebar-debar, gelisah, saat melihat lelaki berseragam rapi duduk di rombong linto___Teuku Faisal.
“Cantik sekali anak Ibu!” ujar Fatimah.
Fatimah dengan kedua anak gadisnya tiba dari kampung tepat waktu subuh. Saat tiba dari kampung, Lian langsung menghampirinya. Dan menjelaskan secara terperinci kenapa dia menikahi Naina. Dia juga mengatakan kalau Naina yang tidak mau mengabari orang tuanya di kampung. Lian merasa sesak saat mendengar cerita Fatimah. Lian meminta beberapa pekerjanya untuk memberikan pakaian dan merias calon mertua dan kedua adiknya.
Di sebelah kanan, nampak keluarga besar Lian sedang memperhatikan Naina lekat-lekat penuh tanya. Siapa yang dinikahi Lian itu? Bahkan mereka belum pernah melihatnya. Mereka menerka kalau Naina adalah perempuan yang dibayar Lian untuk menutupi keraiban Cut Mei menjelang pernikahannya.
Faisal berkali-kali memastikan kalau perempuan yang berpakaian serba putih itu Fatimah. Perasaannya yang memang tidak tenang semakin kacau terhadap kehadiran Fatimah di pernikahan anaknya.
Kenapa Fatimah ada di sini? Apa calon istri Lian anaknya?
“Pa, siapa perempuan yang dinikahi anak kita itu?” bisik ibunya Lian.
“Papa juga tidak tahu, Ma. Yang penting kita tidak menanggung malu karena ulah Cut Mei,” sahut Fasial ayahnya Lian sambil meremas jemarinya. Dia masih merasa sangat kecewa atas tindakan Cut Mei pada anaknya.
“Tapi, perempuan itu nampak sangat sederhana dan polos. Apa jangan-jangan Lian sedang bermain sandiwara dengan menikahi perempuan asal-asalan untuk menutupi kemalangannya?” tambah Yuni.
“Semoga saja tidak, Ma. Semoga saja perempuan itu anak baik-baik dari keluarga baik-baik.” Mereka berbicara setengah berbisik. Faisal terus menjejali matanya ke arah Fatimah. Seketika mata mereka bertemu. Faisal sangat yakin itu Fatimah.
Acara pernikahan berlangsung khidmat. Pernikahan antara Teuku Herliansyah dengan Naina Salsabila disaksikan oleh puluhan orang yang memadati masjid Raya Baiturrahman. Sebuah masjid kebanggaan rakyat Aceh. Lian melafadkan ijab kabulnya dengan fasih.
Naina menitikkan air mata saat mendengar sahutan ‘sah’ para saksi. Dia terisak, dengan pernikahan yang begitu tiba-tiba juga bukan atas dasar sama-sama suka. Tapi, karena permasalahan masing-masing. Dia belum sempat bertanya dengan jelas apa alasan Lian menikahinya secara tiba-tiba.
Seorang perempuan menghampiri Naina lalu menuntunnya ke depan. Lian menyematkan cincin kawin di jari manis Naina. Juga seuntai kalung emas senilai lima belas mayam. Sebagai mana tradisi di Aceh. Maharnya dihitung dengan mayam. Naina menyalami Lian dengan bergetar.
“Nggak usah terharu kali,” bisik Lian.
Naina segera menyeka air matanya. Dia baru sadar ada puluhan kamera dan ratusan mata sedang memperhatikannya yang baru sah menjadi istri dari Teuku Aliansyah.
Lian menuntun Naina untuk menyalami kedua orang tuanya. Di situlah pecah tangis Faisal dan Yuni. Mereka memeluk putra semata wayangnya erat-erat. Demikian juga dengan Naina, Yuni memeluk menantunya yang tak pernah dilihat sebelumnya dengan lembut. Dia berharap Naina bisa menjadi istri yang baik untuk Lian. Siapapun dia dari manapun asalnya, Yuni berharap dia tidak mengecewakan seperti Cut Mei.
Kedua mempelai pengantin itu beranjak menyalami ibu Naina. Di dalam pelukan ibunya, Naina menumpahkan tangis. Entah bahagia atau terharu, dia hanya ingin menangis di hadapan ibunya. Lian menyalami ibu mertuanya dengan sendu.
“Jaga Naina ya, Nak!” pinta Fatimah sambil terisak. Membuat Lian terenyuh dengan suasana yang sedemikian sakral terjadi. Saat beranjak Lian masih tenggelam dalam lamunannya.
Apa yang terjadi? Bukankah aku menikahi Naina hanya untuk sandiwara di depan publik. Tapi, bisa sesakral ini? Ini bukan pernikahan main-main lagi. Tapi, sudah menikah sungguhan. Gila!
***
Mei terbangun saat notif panggilan masuk memecahkan tidurnya yang sudah hampir siang. Semalam dia mabuk berat, di sebelahnya Tomi masih tertidur pulas. Mei menjawab telpon dengan malas.
“Mei, kamu masih tidur?” teriak seorang perempuan di seberang sana. “Mei please wake up, let’s see berita terbaru hari ini!”
“Maksud lho apa?” tanya Mei masih memeramkan mata.
“Lian, Mei. Lian sudah menikah baru saja ada live di beberapa i********: lho,” jelas perempuan itu kepadanya.
“Apa?” Mei bangkit sambil membalut tubuhnya dengan sprei. “Itu tidak mungkin, Lin?”
“Mei lihat berita hari ini, segera. Kalau lho nggak pecaya!” tegas Linda lagi.
Mei segera mengakhiri panggilannya. Dia segera mengechek i********: @habaAceh yang sering menyorot tentang kehidupan Lian. Masih ada siaran langsung yang dibagikan saat akad nikah Lian. Di berandanya muncul begitu banyak postingan tentang pernikahan Lian. Mei berteriak histeris sambil melempar hapenya ke lantai. Membuat Tomi terbangun dari tidurnya.
“Hei kenapa?” tanya Romi masih dengan menguap-uap.
“Semua salah kamu, Tom?” teriak Mei sambil memukul-mukul tubuh Tomi.
“Ada apa? Hei jawab dulu?” Tomi penasaran apa yang telah terjadi.
“Kamu yang bilang kalau Lian akan ngejar aku, jika aku kabur. Lihat sekarang Lian sudah menikah dnegan wanita lain,” Mei terisak. Tomi mendekap Mei dalam pelukannya.
“Aku akan melakukan apapun untuk membahagiakan kamu, Mei!’ ucap Tomi.
“Aku mau Lian, tom?” teriak Mei lagi.
“Iya aku akan berusaha untuk mendapatkan Lian untukmu,” sahut Tomi sambil membelai rambut Mei.
Bagaimana bisa dalam waktu dua puluh empat jam Lian bisa mendapatkan calon istri? Tapi, kau boleh menang hari ini, Lian. Aku tidak akan berhenti berusaha menjatuhkanmu! Pikir Tomi sambil menekan gerahamnya.
***
Pernikahan Lian dengan Naina berjalan dengan lancar. Hampir seluruh media mengabari hari pesta pernikahan mereka. Setelah pesta usai, Mei langsung diajak pulang ke rumah orang tua Lian. Sampai di rumah, sambil mencengkeram tangan istrinya dengan kuat dia mengajak istrinya ke kamar.
“Au, sakit!” ucap Naina pelan. Lian tidak menjawab apa-apa.
Sampai di kamar, Lian menghentak istrinya di atas tempat tidur, “Duduk!” perintah Lian.
Naina duduk dengan bergetar, apalagi suaminya menatap dia dengan tatapan dingin sambil melipat tangan.
“Perlu aku ingatkan, sekarang kamu adalah istriku. Kau harus menuruti segala permintaanku. Dan ingat! Jangan pernah berpakaian tidak sopan di hadapanku. Kamu jangan coba-coba menggodaku. Dan kamu boleh tidur di kasurku tapi letakkan pembatas. Paham!” jelas Lian dengan wajah sangarnya.
Apa-apaan ini? Makin mendrama hidupku Tuhan? Naina terkejut mendengarnya.
“Paham?” bentak Lian.
“I-iya,” sahut Naina.
Jangan bermimpi Naina kamu akan dicintai sepenuh hati. Dia hanya menikahimu karena terdesak, barangkali? Pikir Naina.
“Sekarang ganti baju dan tidur di sebelah sana!” perintah Lian.
“Boleh aku bertanya sesuatu?” Naina memberanikan bertanya.
“Tanya apa?” sahut Lian masih diposisi melipat tangan di depannya.
“Kenapa tiba-tiba Bos menikahi saya? Bukankah Bos sudah punya tunangan sendiri?” tanya Naina dengan bergetar.
Lian terkejut mendengarnya.
“Aku menikahimu karena Mei kabur meninggalkanku di hari pernikahan. Dan aku tidak mau menanggung malu karena undangan sudah disebar. Makanya aku siap membayar kamu berapapun. So, kamu tidak usah merasa dispesialkan, aku hanya menikahimu karena terdesak,” jelas Lian.
Deg. Membuat hati Naina terasa sakit. Betapa tidak berartinya posisi dia sekarang.
“Aku akan memberi kebebasan kamu berkarir dan melanjutkan sekolah. Dan untuk pernikahan ini aku tidak tahu akan bertahan sampai kapan?” ucap Lian lagi yang membuat Naina semakin pilu.
Apakah aku akan menjadi janda di usia belia? Pikir Naina lagi.