Di saat semua pasangan di dunia ini berbahagia di bulan pertama menikah. Merayakan cinta dengan suka cita, rela mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk menikmati bulan madu keluar negara. Bahkan, minimalnya, di masa bulan madu begitu indah. Hari-hari pertama menjalani rumah tangga selalu hidup dan berwarna. Tapi, tidak untuk pasangan yang baru mengadakan pesta besar-besaran di jantung kota radja ini, Lian dan Naina. Justru dari malam pertama, aura keduanya seperti tertekan penuh kebimbangan. Mereka seperti sedang menanggung beban berat. Sehari setelah menikah, Lian sudah masuk kantor. Demikian juga dengan Naina, hari pertama setelah menikah dia sudah pergi ke kampus untuk mengikuti perkuliahan.
“Lho, kok pengantin baru sudah ke kampus? Nggak bulan madu, Nai?” tanya Rahmayuni salah satu dosen yang baru meraih Ph.d itu.
“Ibu …..” Naina menyalami Bu Rahma sambil tersenyum malu-malu.
“Nai, saya bangga sekali menghadiri pesta kalian kemarin. Karena pengantin perempuannya mahasiswi saya,” tambahnya lagi. “ Kenal dimana sama suaminya?”
Naina tercekat, dia tahu kalau sebentar lagi akan banyak orang menanyakan soal latar belakang perkenalannya dengan Lian.
“Sa-saya karyawannya, Bu,” sahut Naina terbata-bata. Dia merasa ambigu dengan jawaban yang baru dia lontarkan. Tapi, begitulah pesan Lian kemarin padanya.
“Oh, pernah bekerja di perusahaan besar itu?” Bu Rahma berjalan beriringan dengan Naina menuju gedung fakultas.
“I-Iya, Bu,” Naina berusaha setenang mungkin.
Beberapa langkah kemudian datang beberapa dosen lain, menyalami Naina dengan penuh semangat. Wajah mereka berbinar. Sempat Naina sendiri mendengar dari obrolan beberapa orang itu.
“Naina rot lam paruk peng.” (Naina jatuh dalam kantong uang.) Mereka semua beranggapan betapa bahagianya hidup Naina saat ini. Dia berusaha tenang dan santai, bahkan kadang terasa geli saat kawan-kawannya menggoda dengan sebutan nyonya dari direktur Adi Cipta Group. Sebuah perusahaan ternama di lintas sumatera ini.
“Nai kamu ngapain makan di sini?” tanya Sari teman kuliahnya saat melihat Naina duduk di bawah pohon sambil menikmati bakso goreng yang di jual di pinggir jalan.
“Emangnya kenapa? Bukannya kamu tahu aku suka bakso goreng?” jawab Naina sambil menyodor tusuk bakso goreng ke muka kawannya.
“Sekarang kamu ‘kan sudah jadi orang kaya?” Sari menempel punggungnya ke akar kayu yang melengkung itu.
“Apaan sih, Sar? Aku nggak suka kamu ngomong gitu!” Naina menghentikan makannya.
“Lho, emang benar ‘kan?” Sari menoleh ke kawannya sambil tersenyum.
“Iya, tapi aku masih seperti dulu, tidak ada bedanya,” Naina menatap kawannya lekat-lekat.
Sar, andai kamu tahu. Aku terpaksa menikah dengan Lian. Dan aku juga tidak menjadi perempuan sespesial yang kalian kira? ucap Naina dalam hati.
Tapi, dia kulum semuanya seorang diri. Andai semua orang tahu atau minimalnya temannya, Sari, tahu. Kalau malam pertama mereka saja dilalui dengan keadaan tegang dan menakutkan. Bahkan, Naina harus tidur mengenakan hijab. Meletakkan bantal tiga buah di samping sebagai pembatas.
“Awas kalau kamu berani-beraninya menyentuhku!” bentak Lian setelah itu dia sama sekali tidak berani menoleh ke arah suaminya. Di saat tengah malam, Naina tahu diam-diam Lian bangkit dari tempat tidurnya. Lalu tidur di sofa sampai pagi. Laki-laki itu sama sekali tidak tertarik padanya.
Naina merasa tercekam bagai sedang berada di tempat yang asing dan mengerikan. Dia tidak tahu akan bertahan sampai kapan pernikahannya. Bukan dia ingin dilayani, dipenuhi nafakah biologisnya. Tapi, dari sikap Lian yang dingin dia sangat ketakutan. Pagi itu, saat melihat Lian bersiap-siap ke kantor Naina juga minta izin mau ke kampus. Lian sama sekali tidak bersikap manis, bahkan dia hanya mengangguk tanpa khawatir sedikitpun istrinya yang harus naik becak ke kampus.
“Lho kalian mau kemana?” tanya Yuni mamanya Lian.
Beberapa saat Naina dan Lian saling bertatapan.
“Itu, Ma. Naina harus ngejar bimbingan dia. Lian juga banyak kerjaan di kantor,” jelas Lian.
“Tapi, kalian itu pengantin baru. Di rumah aja ya!” Yuni menatap putranya yang keras kepala itu. “ Lagian Naina masih ada Mamanya di sini, kasian adik-adiknya tu ditinggalin!”
“Sebentar aja, Bu,” sahut Naina.
“Jangan panggil ibu dong sayang, panggil Mama seperti Lian!” Yuni mendekati menantunya yang tampil sederhana dengan pakaian muslimah.
“Iya, Ma. “ Naina sekilas melihat ke arah Lian.
“Ma, Lian pergi dulu! Udah telat,” Lian menyalami ibunya.
“Terus Naina pergi sama siapa?” Ibunya membiar Lian mencium punggung tangannya. “Diantar ‘kan?”
Lian menatap Naina sekilas, “ iya, Ma. Lian antar!” Lalu Lian segera pergi.
Naina juga menyalami ibu mertuanya, dia seperti salah tingkah. Karena dia tidak tahu harus bagaimana. Apalagi Lian tiba-tiba bilang mau mengantar. Sekejap Naina berlari ke kamar tamu tempat ibu dan kedua adiknya menginap, untuk minta izin. Dia bahkan belum sempat bercakap-cakap dengan ibunya.
Dengan napas-napas ngos-ngosan Naina berlari ke mobil. Setelah mendengar klakson bertubi-tubi di halaman rumah. Dengan canggung Naina duduk di samping Lian.
“Aku tidak suka orang lelet,” ucap Lian tanpa menoleh ke arah Naina.
“Ma-maaf,” sahut Naina seperti ketakutan. Tanpa jawaban reaksi apapun dari Lian. Sepanjang perjalanan sepuluh menit itu, Naina hanya mematung dengan keringat dingin di tempat duduk. Dengan ragu-ragu, saat tiba di kampus, Naina meraih tangan Lian lalu menciumnya. Lian juga sama sekali tidak bersikap ramah padanya, tidak juga menolak saat tangannya dicium oleh Naina.
“Ya sudahlah. Yang penting aku sudah berusaha menjadi istri yang baik,” ucap Naina sendirian setelah mobil lian meninggalkannya di depan kampus.
***
“Lian kita akan ke sabang beberapa hari ya!” ujar Yuni sambil tersenyum pada putranya.
“Ngapain, Ma?” tanya Lian sambil menguyah makanan kesukaannya.
“Main-main. Kamu berdua honeymoon, kami yang lain liburan.” Yuni bersuara dengan mata berbinar-binar. “Ya, kan, Pa?” Sekilas Yuni menoleh ke arah Faisal yang sedang membaca buku.
“Iya, semuanya ikut. Nanti kita akan nyeberang ke Pulau Weh juga,” Faisal ikut tersenyum mengedarkan pandangan pada semuanya.
“Lian tidak bisa, Ma, Pa. Banyak pekerjaan di kantor,” sahut Lian sambil mengedar pandangan Ke Naina. “ Naina juga lagi ngejar skripsi ‘kan?” tambah Lian lagi.
“I-iya, Ma, Pa,” Naina menguatkan pernyataan Lian.
“Lian kamu ini bos lho? Masak nggak bisa libur?” Yuni menatap anaknya dengan kening berkerut.
“Lian, Papa sudah booking homestay di Pulau Sabang dan Pulau Weh untuk kita. Jadi kalian harus tetap ikut?” tambah Faisal.
Naina hanya terdiam, sedangkan Lian menghembus napas kasar lalu menjawab, “Oke.”
“Oke berarti sudah deal ya sayang?” tanya Yuni pada menantunya.
“Iya, Ma,” jawab Naina kurang bersemangat.
“Kak Fatimah, Mila dan Dewi juga ikut ya!” tambah Yuni dengan penuh semangat.
“Kami ikut juga?” sahut Dewi kegirangan.
“Ikut dong, nanti di sana kalian bisa belajar diving juga,” Yuni menunjukkan kegembiraannya atas keberadaan keluarga Naina di rumahnya.
***
Di bawah pepohonan angin-angin membelai wajah, Naina duduk terdiam seorang diri. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia juga tidak tahu harus sampai kapan seperti ini. Menjadi istri pajangan bahkan sekadar memandang saja tidak boleh. Lian sama sekali tidak menunjukkan sikap lembut kepadanya. Naina tahu, dia memang tidak menarik untuk suaminya itu. Dia juga terkejut melihat kamar khusus untuk dia dan Lian. Kamar dihiasi dengan bunga-bunga hidup yang semerbak wanginya. Ya kamar untuk pengantin baru. Khusus dipesan untuknya dan Lian oleh mertuanya.
Sudah dua malam mereka di sabang. Saat di kamar mereka saling diam. Saat tidur memberi batas dengan bantal-bantal. Tengah malam Lian memilih tidur di sofa. Lian sering meninggalkannya di kamar. Seromantis apapun kawar yang dipersiapkan. Mereka tetap orang asing saat di kamar.
Dia melempar seluruh pandangannya ke laut. Tidak ada siapa-siapa di sana selain ombak yang bercanda lembut dengan bibir pantai.
“Naina,” panggil Fatimah yang tiba-tiba memeluk putrinya dari belakang.
“Bu, yang lain kemana?” tanya Naina. Dia menenggelamkan kepalanya dalam dekapan ibu. Ingin dia sampaikan semua yang sedang dirasakannya. Tapi, memilih diam seorang diri. Bukankah semua itu konsekuensi atas apa yang telah diputuskannya.
“Dewi dan Mila ikut suamimu katanya mau keliling. Mertuamu lagi istirahat,” sahut Fatimah sembari duduk di samping Naina.
“Na, Ibu merasa perputaran waktu begitu cepat. Baru saja mengendongmu, mengajar berdiri di rumah kita yang serba kecukupan. Tiba-tiba kita terdampar ke rumah kontrakan dengan masalah hidup yang jungkir balik. Dan sekarang Naina sudah kembali memiliki kehidupan yang lebih baik,” ucap Fatimah sambil tersenyum.
Naina menyenderkan kepala ke bahunya. Kembali merenungi nasib mereka yang diombang-ambing oleh takdir kehidupan. Dan kini, sebenarnya dia masih di fase itu. Hanya saja, ibunya tidak tahu.
“Bu, bagaimana kalau ibu dan adik-adik Naina carikan kerja di Banda Aceh? Nggak usah pulang lagi ke sana?” tawar Naina. Dia teringat kalau Lian berjanji akan memberikan penghidupan yang layak untuk keluarganya.
“Ayahmu?” Fatimah agak kecut menyebut ‘ayahmu’ apalagi mengingat kelakuan laki-laki yang diketahui Naina adalah ayahnya. Dia juga sama sekali tidak mengkhawatirkan suaminya pula.
“Bu, Naina khawatir nasib ibu, Mila dan Dewi. Bagaimana kalau ayah nekat menjual mereka? Lebih baik ibu di sini bersamaku?” ujar Naina lagi.
“Mana mungkin ibu berlama-lama di rumah mertuamu, Nak?” keluh Fatimah.
“Nanti Naina carikan rumah untuk ibu,” tambah Naina.
“Iya, Nak, Ibu mau. Ibu mau adik-adikmu tetap sekolah seperti dulu,” Fatimah terisak. “Apa suamimu tidak keberatan?”
“Akan Naina usahakan, Bu,” sahut Naina sambil memeluk ibunya erat-erat.
Pagi hari saat semuanya pergi diving, hanya tinggal Fatimah dan Faisal di homestay. Faisal tiba-tiba mengetuk pintu kamar Fatimah. Perempuan berkepala lima terkejut melihat Faisal di depan pintu kamarnya.
“Boleh kita bicara sebentar di belakang?” tanya Faisal.
“Bo-boleh,” sahut Fatimah.
Di belakang homestay tersedia beberapa kursi kayu yang enak untuk santai. Tanpa saling memandang Faisal dan Fatimah berbicara pelan, tapi dari raut wajah terlihat tegang.
“Kemana saja kalian selama ini?” tanya Faisal pelan.
“Usahaku habis di meja judi akibat ulah temanmu itu,” sahut Fatimah dengan ketus.
“Apa?”
“Iya, bahkan aku sekarang tidak punya apa-apa lagi.”
Faisal melempar pandangan penyesalan ke laut lepas.