Setelah dua puluh satu tahun, Faisal tidak lagi melihat Fatimah apalagi berbicara layaknya dua teman akrab yang pernah saling bahu membahu dalam menanjaki karir. Meskipun mereka kerap memilih jalan curang dan menzalimi orang lain. Semua itu, sudah sangat disesali Fatimah semenjak dia terkatung-katung oleh nasib. Sedangkan Faisal baru merasa khawatir sejak hari pernikahan Lian. Karena hanya Fatimah yang tahu kejahatannya di balik kesuksesan bisnisnya hari ini.
“Fat, aku kehilangan jejak kalian? Aku juga tidak tahu kalau Herman punya kebiasaan buruk seperti itu?” ucap Faisal datar. Tapi, dia menekan saat mengatakan tidak tahu.
“Sudahlah, sekarang kamu sudah kaya raya. Untuk apa memikirkan nasibku lagi. Aku juga tidak ada manfaat apa-apa lagi untukmu,” Fatimah meremas ujung bajunya. Menatap laut yang terhampar luas di depan mata.
“Aku akan memberikan kamu pekerjaan dan menyekolahkan anak-anakmu sebagai tembusan permintaan maafku, Fat,” ujar Faisal. “Tapi, bagaimana dengan Herman?” Faisal menautkan alisnya, setelah memutar wajah sembilan puluh derajat ke arah Fatimah.
“Saat aku dan anak-anak pergi dari rumah dijemput oleh orang suruhan Lian, Herman sedang pergi. Dan aku juga tidak memberi tahu siapa-siapa tentang pernikahan dan keberangkatanku. Aku takut, jika dia tahu, dia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menguras Naina lagi.” Fatimah nampak gemetar saat menjelaskan keadaan mereka pada Faisal.
Hening.
“Naina sudah cukup menderita oleh kelakuan Herman selama bertahun-tahun.” Fatimah mulai terisak.
Faisal hanya terdiam mengingat nasib Fatimah yang malang. Peran perempuan lima puluh tahun di depannya ini sangat besar sebelum dia menjadi orang hebat seperti sekarang. Bahkan, Fatimah rela mengkhianati laki-laki baik yang sangat mencintainya. Demi kepuasaan sendiri memiliki aset kekayaan berlimpah ruah.
Setelah lama hening, hanya terdengar sesakali napas kasar dihembus dengan berat.
“Fat, siapa Naina? Apakah dia anaknya Yusuf atau anaknya Herman?” tanya Faisal.
“Dia anaknya Yusuf, laki-laki yang telah kamu lenyapkan itu,” tegas Fatimah membuat darah Faisal berdesir.
“Hanya kamu yang tahu ini, Fat. Aku tidak mau masalah ini sampai merusak kebahagiaan anakku hari ini. Kamu tahu, Naina sangat berarti untuk Lian sekarang?” Faisal menegaskan sambil menghadapkan ke arah Fatimah. Jika saja kasus itu sampai ke polisi bukan hanya Naina yang akan membencinya. Tapi, popularitasnya yang telah mencapai puncak kesuksesan akan hancur berantakan dirongrong oleh Media. Tentu Faisal sangat mengkhawatirkan itu.
“Aku hanya berharap Naina sudah menemukan kehidupan baru saat ini. Tidak lagi terjerat dengan masa lalu yang kelam,” tambah Fatimah dengan sorot mata yang tajam. “Dan kamu jangan gampang melupakan dosa terbesarmu itu?”
“Fat, sebenarnya …..” ucapan Faisal terpotong.
Fatimah membalikkan badan menatap Faisal, ada gurat khawatir di sana.
“Sebenarnya, Yusuf masih hidup,” ucap Faisal seketika. Membuat Fatimah bergetar.
“Maksudmu apa?” Fatimah tercekat menatap Faisal dengan wajah pucat.
“Sebenarnya Yusuf masih hidup,” ucap Faisal lagi.
Fatimah tercekat di tempat dia tidak percaya dengan kata-kata Faisal. Bagaimana mungkin laki-laki yang jelas-jelas sudah tewas dalam kecelakaan maut paling sadis tahun 1996 itu masih ada. Dia sendiri yang mengurus pemakaman jenazah Yusuf yang wajahnya hancur berantakan.
“Bu, di sini kok?” tiba-tiba Mila muncul. Semuanya menjadi cair yang semulanya tegang.
“Sudah siap divingnya? Yang lain kemana?’ tanya Faisal.
“Nggak jadi, tapi kita langsung Pulau Weh, kata Abang. Di sana lebih enak divingnya” jelas Mila.
“Oh begitu,” sambung Faisal.
“Yok, Om kita ke sana!” ajak Mila.
“Yok.”
Semuanya pergi. Semuanya bersiap-siap pergi untuk ke Pulau Weh.
***
Di Pulau Weh Naina dan Lian kembali mendapati kamar yang terdekor dengan nuansa romantis. Tapi, mereka tetap saja tidak terbawa oleh suasana yang menggelora itu. Mereka tetap tidak saling berbicara di dalam kamar. Saling sibuk dengan urusan masing-masing. Lian yang sibuk membaca buku, sedang Naina sibuk dengan laptopnya. Semua itu di lakukan untuk membuat dia lebih relax di kamar yang sangat canggung itu. Kamar yang hening tanpa ada pembicaraan sama sekali.
Saat tidur mereka memberi batas di atas keduanya. Lalu tengah malam, Lian bangun tidur di atas sofa yang tersedia di kamar tersebut. Naina berusaha menjaga apa yang Lian pesan, agar tidak pernah membuka aurat di depan Lian. Bahkan rambutnya saja Lian belum pernah melihatnya.
Pagi kamis, Mereka semua bersiap-siap untuk diving mengelingi Pulau Weh. Menyelam ke dasar lautan untuk melihat keindahan di bawah laut. Naina tidak bisa mengendalikan diri, dia sangat terpesona dengan keindahan Pulau Weh. Mereka berpose kegirangan. Saat menyelam diam-diam Lian tetap mengawasi Naina. Dia tidak membiarkan Naina lepas kendali. Bahkan, sempat-sempat Lian dan Naina saling mengambil gambar saat di dasar laut. Di bawah air sana, karena melihat ikan yang besar Lian menarik tangan Naina agar lebih dekat dengannya.
Naina ketakutan cepat-cepat ingin naik ke dart. Di atas perahu di depan semua orang, Lian juga sempat bersikap hangat pada Naina dengan memayung istrinya. Menawarkan minum, memberi kacamata, mengingatkan ini itu. Sebenarnya kehangatan itu, bukan pura-pura. Beberapa kali, Naina melihat Lian sedang memandangnya.
Naina seorang perempuan, dia mulaimerasa baper saat Lian memperhatikannya, itu wajar. Apalagi oleh lelaki setampan Lian. Wanita mana yang tidak keteteran. Perhatian-perhatian kecil itu, membuat Naina nyaman dan tenang. Dan membuat dia merasa kalau Lian akan selalu melindunginya.
Sampai di kamar, saat Naina memakai sunscreen di wajah. Lian masuk, segera mendekati istrinya.
“Aku perlu bicara!” ujar Lian.
“Ada apa?” tanya Naina.
“Bisakah kamu bersikap lebih manis di depan semua orang?” ungkap Lian sambil melepaskan kaosnya sehingga menampakkan badannya yang kekar. Naina segera berpaling.
“Maksudmu?” ujar Naina sambil berpura-pura berkaca.
“Kalau di depan semua orang aku mau kamu bersikap manis seperti istri-istri lain,” Lian mengulang lagi pernyataannya. “Aku tidak mau orang mengira aku tidak bahagia sesudah menikah?”
Naina terdiam. Perasaannya meringis kesakitan, barangkali memang mengharapkan agar Lian mencintainya dengan tulus adalah impian paling konyol. Karena tidak akan pernah, lihat saja perhatian-perhatiannya saat di boat adalah sandiwara belaka. Begitulah pikir Naina, dia menyesal sudah merasa baper untuk perhatian kecil Lian barusan.
“Oleskan sunscreen itu di badanku!” perintah Lian sambil duduk snagat dekat dengan Naina. Membuat Naina gugup. Dia belum terbiasa bersama laki-laki. Tapi, dia berusaha agar tidak terlalu berpikir jauh. Agar dia tidak kembali merasa kecewa.
“Oleskan sebentar!’” Lian menyodorkan punggungnya lebih dekat dengan Naina. Dengan pelan-pelan Naina mengusap punggung Lian yang kekar itu. Lalu ke lengannya.
Tiba-tiba mata mereka bertemu cukup dekat. Naina segera menunduk.
“Kamu kenapa?” tanya Lian. “Kamu belum pernah melihat laki-laki tampan sepertiku?” tanya Lian dengan wajah serius. Membuat Naina jengkel dalam hati.
“Nai!” seru Lian lagi.
“Iya,” jawab Naina sambil menghentikan tangannya.
“Kamu pernah pacaran?” tanya Lian tiba-tiba.
Naina terkejut. Bingung, tidak tahu harus menjawab apa.
“Pernah nggak?” Lian mengulangi lagi pertanyaannya.
“Pe-pernah,” sahut Naina ragu-ragu.
“Sama orang mana?” Lian menautkan alisnya.
“Teman waktu SMA,” Naina menunduk lebih dalam.
“Pernah menyentuhmu?” tambah Lian lagi dengan penuh curiga.
“Tidaklah,” sahut Naina sewot.
“Yaudah, thanks sunscreennya, Nai.” Lian segera bangkit dari samping Naina.
Kenapa laki-laki ini jadi tanya-tanya tentang aku?
***
Pukul sembilan pagi, Mei tiba di kantor Lian. Dengan langkah cepat dia langsung menuju ke ruang direktur utama. Tapi, security dan resepsionis langsung menghalangi jalan Mei.
“Maaf, Bu, kami diperintahkan untuk tidak mengizinkan siapapun ke ruang, Bos,” ujar Hasan Satpam lantai tersebut.
“Apa-apaan ini? Kamu tidak tahu saya ini siapa?” Jawab Mei marah sambil melepas kacamata besarnya,.
“Bekas tunangan Bos,” sahut Sintia spontan.
“Jaga mulutmu itu!”
“ Lho, emang benarkan. Ibu yang yang terhormat ini bekas tunangan bos, yang lari di hari pernikahannya. O,o,” tambah Sintia lagi dengan kecentilan sambil menutup mulut.
Mei tidak sabar ingin menampar perempuan yang bekerja sebagai resepsionis itu. Tapi, tujuan dia ke sana ingin berjumpa Lian bukan untuk berantem tidak jelas dengan karywannya.
“Aku tidak ada urusan dengan kalian,” sahut Mei sambil mencondongkan wajahnya.
Tiba-tiba muncul Randi di sana.
“Randi, stop!” panggil Mei.
Randi menyuruh semuanya pergi, agar dia yang mengurus Mei.
“Dimana Lian?” tanya Mei dengan mata berkaca-kaca.
“Dia tidak ada,” sahut Randi sambil melipat tangan.
“Aku perlu sekali berjumpa dengannya, Di. Please tolong aku,” Mei meminta setengah merengek.
“Aku tidak mau ikut campur urusan pribadi, Bos. Apalagi sekarang dia sudah punya istri,” Sahut Randi tanpa menoleh ke arah Mei.
“Ndi, please, tolong aku. Aku akan membayar kamu berapapun …” ucapan Mei langsung terpotong.
“Kamu gila!” Randi berucap sambil menyilangkan tangannya di jidat.
“Ya, aku gila karena Lian,” sahut Mei dengan mata berkaca-kaca. “Sekarang dimana Lian?” Mei menarik lengan Randi seperti merengek.
“Bos sedang honeymoon,” ucap Randi langsung berlalu pergi meninggalkan Mei .
Mei berdiri putus asa di ballroom kantor. Dia mengabaikan semua mata yang sedang memperhatikannya. Lalu dia keluar dengan rasa dongkol.
“Awas kamu perempuan, aku akan membuat kamu menyesal karena sudah mengambil Lianku,” sumpah Mei seorang diri di dalam mobil. Mei tidak menyangka jika dia benar-benar akan kehilangan Lian selamanya.
Berhari-hari Mei tidak keluar kamar, tidak mau makan. Dia hanya ingin Lian. Kedua orang tuanya khawatir terhadap keadaan Mei. Meskipun mereka menyadari kalau itu semua memang salah anaknya. Tapi, mereka tidak bisa membiarkan anaknya seperti itu terus menerus.